Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Agustus 28, 2009

Bercermin pada Sistem Pendidikan di Jepang

Bercermin pada Sistem Pendidikan di Jepang

Oleh :  Christianus I Wayan Eka, MA.
(Asisten pengajar pada Faculty of Policy Studies and Faculty of Information Sciences and Engineering, Nanzan University, Japan)

Pesatnya perkembangan teknologi dan industri di negeri matahari terbit, sudah tak bisa disangkal lagi. Berbagai negara berdatangan hendak mencontoh kesuksesan sistem pendidikan yang selama ini dikembangkan di negeri ini. Catatan performa para siswa Jepang terutama dalam bidang matematika dan ilmu alam selama dua dekade terakhir senantiasa menjadi tolok ukur kesuksesan itu.

Namun sebetulnya dibalik kesuksesan itu, Jepang sendiri sempat mengalami kekurangpuasan dengan sistem pendidikan yang mereka miliki, khususnya antara tahun 1980an sampai sekitar tahun 1990an. Akibatnya, kementrian pendidikan berupaya melakukan serangkaian reformasi yang berpengaruh pada kebijakan-kebijakan pendidikan yang berkembang saat ini. Meski begitu, kebijakan-kebijakan atas reformasi itu sendiri masih sering menjadi bahan perdebatan di kalangan para stakeholder dan pemerhati pendidikan.

Menurut catatan Christopher Bjork dan Ryoko Tsuneyoshi, berbagai penelitian yang dipublikasi selama periode dua dekade dari abad ke 20 banyak mengetengahkan isu komparatif guna mengetahui kelebihan dan kekurangan sistem pendidikan di Jepang dibanding dengan negara-negara yang lain. Hasilnya secara umum hanya menggarisbawahi aspek-aspek yang unggul dari sistem pendidikan tersebut, misalnya dasar yang kuat yang ditanam pada para siswa untuk bidang studi matematika dan ilmu pasti, komitmen masyarakat yang kuat pada keunggulan akademik, keselarasan hubungan antara pengajar dan peserta didik, serta budaya pengajaran yang sarat perencanaan dan implementasi yang matang.

Seiring dengan melimpahnya kekaguman berbagai bangsa luar, termasuk Indonesia atas sistem yang dikembangkan tersebut berbagai perdebatan seputar hakikat dan tujuan sistem itu beserta dampak-dampak yang ditimbulkannya mewarnai dinamika pendidikan di negara ini.

Perdebatan ini banyak terjadi antara mereka yang tamat dari sekolah-sekolah dalam negeri dan mereka yang tamat dari luar negara. Selain itu, selama bertahun-tahun sistem pendidikan di negeri sakura ini dinilai terlalu kaku dalam mengaplikasikan ujian masuk bagi para calon siswa baru serta semata-mata menekankan kemampuan ingatan terhadap fakta-fakta yang ada.

Fenomena inilah yang kemudian menggugah kementrian pendidikan, budaya, olahraga, ilmu pengetahuan serta teknologi (MEXT) untuk memelopori “Yutori Kyoiku”, suatu reformasi pendidikan guna meredam intensitas tersebut.

Namun demikian, aplikasi pada reformasi ini bukannya membuat perdebatan reda, tetapi justru menyulut berbagai percikan kritikan baru. Di satu pihak, ada yang berupaya mengembalikan sistem pendidikan Jepang pada agenda awal dengan mengembalikan fungsi kurikulum secara penuh. Di lain pihak ada yang bersikukuh mendorong Jepang makin meningkatkan standar akademik, seiring dengan pengembangan program “Super Science” untuk siswa-siswi sekolah lanjutan atas, yang notebene untuk mereka dengan kemampuan di atas rata-rata.

Kecenderungan sosial akademik ini tidak bisa dibendung dan sejumlah sekolah lokal mengembangkan kebijakan orientasi pada pasar (market-oriented policies) seperti misalnya berlomba-lomba untuk menjadi sekolah pilihan.

Berbagai perdebatan yang muncul tersebut seakan-akan mempertanyakan sistem pendidikan yang sedang berkembang di Jepang saat itu, bahkan ada beberapa dari mereka berpendapat bahwa sistem pendidikan Jepang saat itu ada dalam suatu titik genting. Di tengah-tengah tantangan untuk mengurangi beban tekanan akademis bagi para siswa, pengembangan motivasi belajar, kemampuan berpikir kritis ada sejalan dengan upaya untuk membekali para siswa pada kemampuan-kemampuan akademik dasar.

Para pendidik pun disibukkan untuk menggali berbagai pendekatan yang sekiranya tidak hanya bisa menjawab pertanyaan para stakeholder tersebut, namun juga bisa tetap berada pada jalur kurikulum yang telah mereka sepakati.

Perkembangan dalam sistem pendidikan Jepang modern, yang sebetulnya sudah dimulai semenjak akhir Perang Dunia II membawa berbagai dampak dalam kehidupan masyarakatnya. Seiring dengan pesatnya perkembangan ekonomi negara ini, memungkinkan hampir seratus persen warganya bisa mengenyam pendidikan dasar dan tercatat 90 persen dari orang muda Jepang berkesempatan melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang pendidikan menengah atas.

Disinilah fenomena ujian masuk menjadi suatu mekanisme utama guna menyalurkan para siswa muda tersebut. Namun karena tidak semua siswa berhasil, baik itu berhasil menjadi siswa dari sekolah yang mereka impikan atau bahkan berhasil untuk lulus ujian masuk sekalipun, maka “Yutori Kyoiku” mulai dicetuskan terlebih guna membuat para siswa lebih rileks menjalani proses pembelajaran yang selama ini mereka alami.

Kemudian kurikulum 2002 disahkan menjadi kurikulum nasional yang telah direvisi dari kurikulum sebelumnya serta disesuaikan dengan semangat “Yutori Kyoiku”. Muatan pada kurikulum itu sendiri dikurangi hingga 30 persen. Ini berpengaruh pada jumlah jam tatap muka guru dan siswa, termasuk untuk bidang studi matematika dan IPA dari 175 jam di tahun 1977 menjadi 150 jam di tahun 1998. Kebijakan ini selanjutnya mempengaruhi juga hari efektif sekolah yang berkurang dari 6 hari menjadi 5 hari.

“Yutori Kyouiku” juga memberi kesempatan bagi siswa kelas 3 sekolah dasar sampai dengan kelas 12 sekolah lanjutan untuk mengalami proses belajar di luar kelas, melalui program yang dikenal sebagai program terpadu (sogotekina gakushu). Tujuan utama program ini memberi kesempatan para siswa untuk belajar mandiri serta berpikir kritis.

Nilai hasil belajar tinggi yang mereka peroleh di kelas akan menjadi mubazir apabila mereka tidak bisa menterjemahkannya dalam lingkungan sosial mereka sehari-hari. Oleh sebab itu, atas kerjasama dengan pemerintah, sekolah dan dengan berbagai perusahan serta lembaga setempat, anak-anak sekolah dalam waktu-waktu tertentu dilibatkan dalam proses produksi suatu usaha atau layanan jasa. Melalui keterlibatan tersebut, siswa diminta untuk melakukan observasi dan terbuka dengan berbagai pertanyaan kritis. Hasil penelitian itu selanjutnya akan mereka catat dan presentasikan sebagai kesimpulan dari proses belajar.

Poin yang ingin digarisbawahi melalui program ini, bahwa proses belajar tidak hanya terbatas dalam lingkup sekolah saja. Memang sekolah diakui sebagai tempat pertama pengembangan aspek kognitif siswa, namun lingkungan di luar sekolah pun sama pentingnya, terutama sebagai ajang pembelajaran dan pengembangan aspek psikomotorik serta afektif mereka. Kesinambungan antar semua proses belajar ini akan membawa para siswa untuk memiliki “kemampuan baru” dan hal ini oleh kementrian pendidikan dijadikan batu pijakan reformasinya menuju suatu visi pendidikan ke depan.

Prinsip ini berusaha menjawab permasalahan yang dikritik sebelumnya tentang superioritas sekolah yang terlalu besar serta kaku. Sebelumnya pendekatan tradisional sekolah inilah yang disinyalir membuat para siswa pasif dengan lebih menekankan kemampuan siswa untuk mengingat fakta daripada membimbing mereka untuk berpikir serta berkreasi.

Apakah reformasi pendidikan di negeri asal Mushashi ini bisa berlangsung dengan lancar? Seperti telah disinggung sebelumnya, bahwa berbagai perdebatan sengit muncul seiring dengan diterapkannya kebijakan baru ini. Beberapa pihak mengkritik hasil ujian Matematika dan Ilmu Alam menurun sejak dibuatnya program yang membuat siswa lebih rileks dalam menjalani proses pendidikannya dan ini dinilai sebagai suatu kemunduran. Namun MEXT sendiri menanggapi bahwa fenomena hasil itu bukanlah suatu kemunduran tapi refleksi terhadap suatu proses.
Lebih lanjut beberapa ahli yang mendukung ide pendidikan liberal, berpendapat bahwa perdebatan terhadap krisis pendidikan adalah suatu reaksi kegelisahan sementara, yang secara kebetulan disulut oleh munculnya berbagai kesulitan dan stagnasi ekonomi global saat ini. Selain itu munculnya rasa kurang percaya diri mereka pada sistem politik national dan kekawatiran terhadap moral anak muda Jepang juga menjadi tren berbagai masalah sosial belakangan ini. Oleh karena itu, sekolah sangat diharapkan mampu mengembangkan pola berpikir kritis ini, yang dalam prakteknya tidak dipisahkan dari proses belajar secara keseluruhan itu sendiri.

Para pengajar dan orang tua pun mengalami dampak langsung dari aplikasi “Yutori Kyoiku” ini. Banyak staf pengajar juga awalnya cukup kelimpungan dengan sistem baru ini. Selain karena sistem ini seakan memutarbalikkan haluan yang selama ini sudah mereka telusuri secara nyaman, tuntutan pengembangan pola berpikir kritis menjadi tugas baru yang besar, di luar tugas utama mereka untuk tetap menjadikan para siswanya mahir dalam kemampuan pendidikan dasar.

Namun sebagian besar dari para pengajar ini mensyukuri kehadiran sistem baru ini beserta metode terpadunya karena mereka melihat para murid menjadi lebih termotivasi dengan apa yang ingin mereka tekuni. Lebih lanjut, para pengajar pun punya kesempatan lebih luas untuk mendalami konsep-konsep mengajar dengan adanya pengurangan waktu tatap muka tersebut.

Lalu bagaimana dengan pandangan orang tua? Dari hasil jajak pendapat yang dilakukan MEXT pada tahun 2003, diketahui bahwa hanya sebagian dari orang tua yang menyadari keberadaan sistem yang baru ini, namun kebanyakan dari mereka belum mengenal baik spesifikasi pada reformasi sistem ini. Mungkin hanya sekitar 20 persen dari mereka yang sudah mencermati dan mengerti sampai pada tujuan diterapkannya sistem ini. Akan tetapi bagi para orang tua yang memiliki tingkat mobilitas tinggi, keberadaan sistem ini akan membuat mereka lebih nyaman untuk membawa serta anak-anak ke tempat mereka bertugas, karena tuntuntan sekolah setempat tidak lagi seketat dan sekaku sebelumnya.

Akhir kata, sistem pendidikan Jepang modern yang dimulai setelah perang dunia II ini memang dirancang untuk sebuah negara dengan perkembangan modernisme yang tinggi. Selama ini sistem pendidikan di Jepang dianggap sukses dan efesien dalam mengajarkan para siswanya dan menjadikan mereka berprestasi, namun semua itu ternyata belum cukup. MEXT dan para ahli pendidikan jaman ini menegaskan apabila pendidikan hanya ditekankan guna menyiapkan siswanya untuk duduk pada ujian masuk, ditambah dengan beban sejumlah besar muatan kurikulumnya akan menumpulkan minat belajar mereka. Untuk menjawab tantangan ini, berbagai upaya guna penerapan pola berpikir kritis, aplikasi pengetahuan pada kehidupan nyata serta metode “hands-on learning” menjadi tren yang baru di negeri ini.

Di balik semua itu apa hikmah yang bisa kita ambil buat sistem pendidikan di negara kita? Memang sistem pendidikan di negara kita mungkin tidak sekaku apa yang terjadi di Jepang, tapi bagaimana dengan konsistensi, efisiensi dan efektifitas dari proses itu sendiri? Ini tidak hanya menjadi pekerjaan rumah bagi para penulis kebijakan, tapi juga semua aspek termasuk guru dan orang tua siswa. Walau lain lubuk memang lain belalangnya, namun semoga informasi ini bisa menggugah semua pihak yang berkecimpung atau tertarik dengan sistem pendidikan nasional Indonesia.

Sumber : KOMPAS.com

Baca juga artikel terkait :

Iklan

Responses

  1. Terima kasih Redaktur Newsletter, kirimannya sudah diterima dan siap dibaca. Tulisan sdr. Christianus I Wayan Eka, MA. (selanjutnya Ciwe) cukup bagus . Kenapa saya bilang cukup bagus, yang saya tonjolkan sebagai alasannya adalah terpenuhinya permintaan dalam tanggapan terhadap tulisan Bpk. Marjohan. Kalau tulisan BM berfungsi sebagai bingkai cermin, maka tulisan Ciwe ini bisa dianggap sebagai cerminnya.
    Masih ada dua permintaan penulis sebaiknya dimunculkan dikemudian hari, yaitu setelah kita mendapatkan cermin bagaimana pula menggunakannya sehingga kita semua dapat bercermin. Dan kedua, bagaimana pula gambaran wajah pendidikan di Indonesia kalau kita menggunakan cermin Jepang tersebut. Walau bukan Ciwe , pengamat lain pun boleh atau kembali kepada BM, selamat…….
    Ada beberapa pokok pikiran yang mungkin bermanfaat bagi kita untuk digunakan dalam memahami apa-apa yang telah diungkapkan oleh sdr.Ciwe dalam tulisannya tersebut. Pokok pikiran ini selalu menjadi ingatan bagi penulis semenjak dari sekolah dasar tempo lalu. Yakni, sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Jepang pernah terlibat dalam perang dunia II. Dalam perang dunia II itu Jepang telah mampu menguasai banyak negara di Asia – Fasifik beberapa tahun, walaupun kemudian mereka harus bertekuk lutut kepada tentara sekutu (sekarang istilahnya koalisi).
    Kalau kita mampu berfikir cerdas, maka kita akan mendapatkan gambaran, betapa tingkat kemajuan pendidikan Jepang, misalnya seabad sebelum Jepang terlibat dalam perang yang bertaraf internasional. Kecerdasan, kemajuan ekonomi dan kemajuan teknologi serta manajemen, telah mampu mendukung perang dan menjajah banyak negara termasuk menghantam Amerika. Pada zahirnya Amerika tidak akan mampu mengalahkan Jepang kalau tidak berkoalisi. Dalam kontek ini dan saat itu semua kemampuan tersebut adalah prestasi pendidikan.
    Itu apa artinya, diantaranya yang terkandung didalamnya adalah, inprastruktur pendidikan sudah mantap. Sarana-prasaran, sistem kurikulum tenaga kependidikan dan lain-lainnya sudah memadai. Boleh dikatakan dengan kata lain perang dunia II itu simbol bukti kemajuan pendidikan Jepang.
    Pendek cerita, kita tahu bahwa pada tahun 1945 Jepang dibom oleh Amerika yakni di kota Hiroshima dan kota Nagasaki telah menyebabkan Jepang menyerah tanpa syarat. Banyak penulis berkomentar bahwa Jepang telah hancur sebetulnya tidak, hanya menyerah.
    Yang penting kita sadari adalah walaupun Jepang kalah, bom nuklir telah menghancurkan dua kota Jepang, fakta ini jangan digeneralisasi, bahwa kota lain juga hancur. Sarana pendidikannya juga hancur, kurikulumnya juga hilang dan guru-gurunya mati semua. Demikian pula sektor lain misalnya sistem ekonominya telah hancur semua. Jepang menyerah adalah dalam pengertian tidak melanjutkan perang melawan pasukan koalisi, supaya tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar.
    Dengan basis pendidikan yang telah mampan dan dasar sistem ekonomi yang kuat Jepang melajutkan proses pembangunannya, Jepang tidak mengalami kesulitan untuk maju walau dibawah kendali koalisi dan memikul beban berat pula yaitu membayar uang lelah berperang kepada Amerika dan negara lainya. .
    Dalam kontek itu banyak sekali analis mengatakan bahwa setelah Jepang hancur dalam waktu yang singkat mampu bangkit kembali. Padahal yang sesungguhnya adalah kemajuan Jepang saat ini merupakan hasil proses membangun yang berkelajutan dan telah berabad lamanya. Jangan dipatok kemajuan berawal setelah selesai perang dunia II.
    Sekali lagi penulis mengingatkan, membanding yang seperti itu boleh saja, hanya yang saya ingatkan pada para analis adalah khususnya yang sudah bolak balik keluar negeri, kita harus bersabar menunggu tanaman berbuah, pohon yang berusia sepuluh tahun buahnya banyak jika dibandingkan dengan pohon yang baru ditanam dua tahun yang lalu ???
    Kepada Pak guru group sikap seperti inilah yang sangat penting kita tanamkan kedalam jiwa anak didik yaitu bersabar menunggu hasil sementara kita tetap melakukan perawatan terhadap tanaman yang telah kita tanam. Jangan sering ganti tanaman, kalau melihat tanaman orang bagus dan subur, lantas tanaman yang baru saja kita tanam kita ganti lagi Rawatlah dan sabar menunggu hasil apa yang ditanam.
    Coba kita cermati yang sangat bagus untuk direnungkan, seperti yang di ungkapkan oleh Ciwe diatas yaitu perdebatan antara alumni luar negeri dengan alumni dalam negeri. Sesuai dengan apa yang telah penulis ingatkan pada komentar penulis yang lalu, ada atau tidak ide dan konsep yang ditawarkan yang berasal dari luar negeri itu yang menggerogoti keharmonisan sistem kemasyarakatan kita di Indonesia atau di lokal Minangkabau ????
    Demikian saja sementara komentar pendek ini, bila diperlukan dapat disambung lagi, selamat menganalisis dan mengoreksi!.Wassalam.

    Lubuk Buaya, Aguatus 09


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: