Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Agustus 30, 2009

Pertanyaan dan Harapan Terhadap Kegiatan Magang Guru MIPA ke Perth Australia

Pertanyaan dan Harapan Terhadap Kegiatan Magang
Guru MIPA ke Perth Australia

Oleh :
DIWARMAN, S.Pd, M.Si
Guru SMA Negeri 2 Batusangkar

Salah satu program peningkatan kompetensi guru di Sumatera Barat tahun 2009 adalah kegiatan magang guru Matematika dan IPA ke Perth Australia. Anggaran kegiatan ini tercantum dalam DPA-SKPD Propinsi Sumatera Barat pada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Sumatera Barat. Kegiatan ini akan menelan biaya lebih kurang 1,4 Milyar. Kegiatan guru magang tahun ini adalah tahun kedua, setelah kegiatan pertama tahun 2008 dengan peserta 18 orang. Untuk tahun 2009 pesertanya berjumlah 34 orang dan berasal dari berbagai sekolah SMP, SMA dan SMK di Sumatera Barat. Mereka telah melaksanakan kegiatan magang ini dari 19 Juli sampai 16 Agustus 2009 di Perth Western Australia.

Sehubungan dengan program tersebut di atas timbul beberapa pertanyaan dan harapan, untuk apa mereka dikirim ke Australia, seriuskah pemerintah melaksanakan kegiatan ini, mengapa negara Australia yang dipilih, apa yang akan mereka kerjakan di sana, apakah mereka pergi liburan dan menghambur-hamburkan uang negara, dan apakah manfaat yang diharapkan dari mereka setelah kembali ke tanah air?

Sesuai surat Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Nomor 900/473/Kabid SMP-2009 tanggal 7 Maret 2009 bahwa tujuan pengiriman guru magang ke Perth Australia adalah untuk meningkatkan mutu proses pembelajaran di sekolah Rintisan SBI yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam pelaksanaan proses belajar mengajar di dalam kelas. Peserta magang ini harus mendapatkan pengalaman berbahasa Inggris baik dengan guru pamong, siswa maupun orang-orang Australia lainnya, sehingga setelah kembali ke Indonesia mereka dapat mengajar Matematika dan Sains dengan pengantar bahasa Inggris secara lebih baik.

Pemerintah Propinsi Sumatera Barat sangat serius melaksanakan kegiatan ini. Peningkatan anggaran sebesar tiga kali lipat dari 400 juta rupiah tahun 2008 menjadi 1,4 milyar untuk tahun 2009. Selain itu jumlah peserta juga meningkat dari 18 orang menjadi 34 orang, tahun 2008 hanya melibatkan guru SMA saja, sedangkan untuk tahun 2009 melibatkan guru SMP, SMA dan SMK dari seluruh daerah di Propinsi Sumatera Barat. Pemerintah juga akan membuat tindakan evaluasi dan monitoring terhadap seluruh peserta yang telah kembali magang dari Australia.

Mengapa negara Australia yang dipilih sebagai tempat magang? Sesuai dengan tujuannya yaitu memperkuat kemampuan berbahasa Inggris guru MIPA, maka di antara beberapa negara tetangga kita yang terdekat adalah Australia. Hanya memerlukan waktu empat jam dengan pesawat terbang. Selain itu Australia merupakan penutur asli bahasa Inggris. Bahasa Inggris adalah bahasa sehari-hari bagi mereka, baik di sekolah, di rumah maupun di lingkungan masyarakatnya. Jika dipilih Malaysia atau Singapura, mereka bukanlah penutur asli bahasa Inggris. Di Perth Australia, banyak sekali pendatang yang sudah fasih menggunakan bahasa Inggris, sehingga guru-guru dari Indonesia tidak hanya berbicara dengan orang Australia, tetapi juga dengan orang-orang asing lainnya.

Lalu mengapa kota Perth yang dituju? Pertama, Perth letaknya paling dekat dengan Indonesia, karena Perth adalah kota yang terletak paling barat di Australia. Kedua, Perth mempunyai pelayanan publik yang sangat bagus. Toilet tersedia dimana-mana, bukan hanya gratis tetapi juga memiliki kualitas sangat bagus dan sangat bersih. Begitu juga air minum tersedia disetiap tempat, kita dapat meminumnya lewat kran. Kota Perth juga mempunyai pelayanan transportasi yang sangat bagus. Tarif bus ditetapkan berdasarkan zona. Zone satu yaitu dalam kota penduduk tidak membayar alias free. Tarif bus naik berdasarkan zona. Zona dua lebih mahal dari zona satu, begitu juga zona tiga lebih mahal dari zona dua dan seterusnya. Jalan-jalanpun tertata dengan sangat rapi. Tiap bus hanya boleh stop di bus stopping atau ditempat yang sudah ditentukan. Tidak ada sopir bus yang berani melanggar, karena akan mendapat hukuman dan denda yang sangat besar dari pemerintah. Dengan demikian tidak ada kemacetan di jalan raya. Semuanya itu dikendalikan lewat komputer. Ketiga, kota Perth sangat bersih. Kita tidak menemukan sampah dimanapun, apalagi bau menyengat yang dikeluarkan oleh kotoran yang tidak terurus seperti di negeri kita. Tong sampah berkualitas tersedia dimana-mana. Penduduk kota Perth sudah sangat mengerti bahwa kebersihan sangat penting, mereka tidak ada yang berani membuang sampah sembarangan, apalagi membuang ingus disembarang tempat. Keempat, penduduknya sangat ramah dan bersahabat. Mereka sangat mau membantu bila kita membutuhkan, bahkan mereka membantu sampai tuntas.

Kondisi kota Perth seperti yang digambarkan di atas sangat mendukung untuk terlaksananya program magang ini. Lalu, apakah yang mereka (peserta) kerjakan selama satu bulan di Perth Western Australia? Setelah melalui seleksi yang ketat, diperoleh sebanyak 34 orang peserta, kemudian dikirim ke Perth. Dua minggu pertama mereka belajar bahasa Inggris di Como Secondary College dengan sistim ELICOS (English Language Intensive Course Overseas Students) dengan Ms Jane Gerhardy. Dia adalah seorang Instruktur ESL untuk orang asing di Como. Metoda pembelajaran sangat bervariasi sperti games, digtigloss, dialogue langsung dengan berbagai HoLA dari tiap departemen, map, story, visiting class, dan multimetoda lainnya.

Selain kegiatan kursus Bahasa Inggris, pada minggu ketiga dan keempat peserta melaksanakan magang di beberapa sekolah. Sekolah pertama adalah Como Secondary College dengan jumlah peserta 6 orang, Kalamunda Senior High School 7 orang, Duncraig Senior High School 7 orang peserta, Canning College 2 peserta dan Mount Lawley Senior High School 12 orang peserta. Setiap peserta magang bergabung dengan guru yang sesuai dengan bidangnya masing-masing pada tiap-tiap sekolah.

Setelah itu peserta mulai melakukan observasi terutama dalam mata pelajarannya. Peserta berdiskusi dengan guru pamong mulai dari persiapan, pelaksanaan, sampai evaluasi dan tindak lanjut dari proses pembelajaran. Selain itu banyak juga di antara peserta yang berhasil menjalin hubungan baik atau membuat link dengan guru-guru di Australia, bahkan ada beberapa peserta berniat akan membuat sister school antara sekolah di Sumatera Barat dengan sekolah di Australia. Semoga magang guru MIPA ke Australia kali ini dapat bermanfaat khususnya untuk SBI dan umumnya untuk peningkatan kualitas pembelajaran di Sumatera Barat.

Separoh dari artikel ini dikerjakan di Beatty Lodge Perth, dan separoh lagi di Batusangkar, 28th Agust 2009

Artikel terkait :


Responses

  1. Kegiatan magang tersebut sangat bagus, walau menelan biaya yang sangat sedikit. Kalau memang bertujuan meningkatkan kwalitas, cara apapun harus di tempuh, berapapun biaya perlu diusahakan termasuk peningkatan dari tahun ketahun jumlah pesertanya. Tentu saja semua usaha disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah atau negara.
    Seperti yang pernah penulis ingatkan dalam tulisan – tulisan terdahulu, usaha-usaha yang semacam itu akan memberikan hasil yang sangat bagus tentu saja dikemudian hari tidak dua atau tiga tahun yang akan datang, tapi hasilnya bisa saja dapat kita lihat sepuluh tahun yang akan datang atau lebih.
    Kepada semua pihak terutama pemerhati pendidikan, memberikan penilaian jangan dalam waktu yang pendek. Sebab bisa saja mendatangkan hasil penilaian yang jelek. Karena apa , ya proses yang panjang dan sedang berjalan serta belum sampai pada tujuan. Penulis sering memperhatikan banyak para analis memberikan penilaian, seperti melihat tanaman yang belum lama di tanam., baru saja tanaman itu berbunga mereka sudah memberikan penilan akhir. Pada hal mereka belum samapai pada musim berbuah (bisa panen) Sebagai contoh, misalnya penerapan kurikukum 94. Sebelum tahun 2000 banyak analis telah memberikan komentar tentang berbagai kelemahan dan kekurangannya. Padahal kalau kurikulum pada tingkat SD, SMP dan SMA dilalui oleh seorang anak, kemudian kemampuan anak ini juga harus dikembangkan lagi pada tingkat perguruan tinggi, setelah selesai sarjana atau strata 1, kemudian memasuki lapangan kerja. Maka pada masa kerja itulah penilaian harus dilakukan. Para analis boleh saja memberikan penilaian tentang efektifitas dan efesiensi kurikulum yang dikembangkan.
    Membangun pendidikan kita tidak boleh ceroboh, hati-hati dan tekun. Membangun mental atau jiwa manusia prosesnya tidak seperti membangun sektor lain yang bisa diprediksi semua yang terkait dengan hasil. Bayangkan saja oleh kita masing –masing, kita belajar shalat berama-sama diusia yang sama, tapi rajinnya kita shalat berdasarkan kesadaran, kan sulit diprediksi ??
    Tolong dibaca juga Paradigma Pendidikan Masa Depan oleh DR Zamroni, disana bapak Zamroni mencacimaki kekurangan dan kelemahan pendidikan di Indonesia dengan prasangka tanpa data. Padahal kecerdasan dan kepintaran beliau dan kawan – kawan yang lain (dan sulit pula menghitungnya) bukti keberhasilan pendidikan di Indonesia. Perbedaan kwalitas antara individu, antara kelompok dan antara daerah dimana saja di dunia ini pasti ada..Tentu saja di Indonesia yang baru 64 tahun merdeka kekurangan dan kelemahan pendidikan tentu ada, tapi jangan ditafsirkan terlalu ekstrim sebagai kegagalan. Banyak analis mengatakan gagal berdasarkan perbandingan dengan Negara maju, seperti Amerika, Kanada. Jepang, Cina dan Inggris serta Negara lain yang telah dahulu membangun pendidikannya dibandingkan dengan Indonesia. Itu namanya perbandingan yang tidak logis. Sama saja seorang petani atau peternak kambing, dia dibilang gagal memelihara kambing, karena dibandingkan dengan peternak lain yang memelihara kerbau.
    Kita jangan menutup mata sebelah dalam melihat pendidikan di Indonesia. Dalam rentang waktu yang telah kita lalui, juga berdasarkan suka duka membangun, pendidikan di Indonesia sudah maju. Buktikan saja secara kasat mata bandingkan kondisi pendidikan di Indonesia pada tahun 60-an, 70-dan, 80-an dan sekarang. Kita bisa saja melihatnya baik kwantitas ataupun kwalitasnya. Penulis sangat menyadari pembangunan pendidikan di Indonesia memang kita belum mencapainya seperti Negara-negara G7 itu.
    Harapan kita memang kita maju,tapi usaha-usaha yang pragmatis perlu ditempuh. Pergi magang keluar negeri ataupun dalan negeri, kalau memang usaha itu untuk menambah kemampuan guru, harus diusahakan. Demi kemajuan bangsa semua usaha harus dilakukan,walau harus membayar mahal. Jangan terlalu sibuk berfikir idealis sepertinya orang menghasta kain sarung.
    Demikian saja untuk sementara, selamat menganalisa dan mengoreksi. Wassalam

    Lubuk Buaya, Agustus 09

    • Terima kasih, komentar Bapak sangat bagus.
      DIWARMAN

  2. Assalamualaikum Bpk Jalius Hr
    Setelah bertahun-tahun saya mengenal bapak Jalius (sejak tahun 1980-an) lewat utterances (bahasa Lisan) baru sekarang saya bisa membaca tulisan Bapak walau dalam bentuk komentar atas tulisan sebelumnya- penulis lain (Diwarman S.Pd, M.Si)

    Komentar Bapak sangat bagus- bersifat menganalisa, dan renungan atau refleksi. Sebaliknya saya (dan mungkin millist lain) ingin pula membaca tulisan Bapak. Dan tentu juga tanggapan, komentar, atau diskusi dari millist lain. Maka kemungkinan kolom komentar ini akan jadi hangat dan menarik.

    Oke Bapak Jalius kami tunggu pula tulisannya, bravo !!!

  3. Pak Jalius, Pak Suharto Sisar, Istimewa Sdr Diwarman dan PGOLiners serta Netters e-Newsletter Disdik lainnya yang saya hormati.

    Saya menghargai setinggi-tingginya komentar dari semua pihak terhadap program magang guru MIPA (SMA/SMK dan SMP) Sumbar ke Australia yang barusan dilaksanakan. Program ini merupakan kelanjutan dari program tahun lalu. Insya Allah tahun depan, kalau disetujui, kita akan pergi lagi.

    Menurut rencana kita akan berangkat dengan jumlah guru yang sama: 34 orang. Dengan begitu kita akan telah kembali dengan jumlah 86 orang, di tahun 2010. Delapan puluh enam adalah suatu jumlah guru yang sangat sedikit bila dibandingkan dengan keseluruhan guru yang berkiprah di Sumbar.

    Sebagai ketua delegasi, saya tidak begitu optimis dengan ‘signifikansi kontribusi’ rekan-rekan itu, kalaupun kontribusi itu ada, barangkali.Namun kita tetap berusaha sepanjang mendapat sokongan; dan tetap akan berusaha menggalang sokongan, untuk melanjutkan program ini.

    Paling tidak, mereka yang telah kembali dari program magang ini telah ‘melihat isi dapur’ pendidikan di Australia, dan juga telah melihat ‘kegiatan orang memasak’. Kunjungan itu pasti sedikit banyaknya akan berpengaruh kepada mereka (para guru) yang akan tetap mengajar di berbagai sekolah di Sumbar. Dan mungkin akan lebih bagus kalau kabupaten kota asal mereka dapat menghimpun mereka semua yang telah kembali magang itu di satu sekolah saja. Tidak dipencar-pencar. Kalau bisa dikondisikan seperti itu, mungkin kita akan bisa menilai dengan lebih adil.

    Kepada rekan (guru) yang telah kembali, saya ingin mengingatkan pesan kepala dinas, Burhasman tanggal 19 Agustus 2009 lalu. Kita tidak usah menyebut (refering) ke sumber asal dari apa-apa gagasan yang kita mau sampaikan di sekolah atau kelas kita tentang pendidikan. Sebut saja: … kalau kita buat begini bagaimana? Kalau kita mengurangi mencerca siswa bagaimana…? Kalau kita tidak lagi terlalu pelit dengan pujian kepada siswa yang menunjukkan keinginan untuk belajar dan berubah, bagaimana…? Jangan sebut: di Australia begini, di Australia begitu… Perubahan yang paling mungkin Anda buat adalah terhadap hal-hal yang bukan kebijakan sistemik atau struktural. Adakanlah perubahan yang mungkin sesuai dengan misi Anda ke Australia; mencari best practices dalam PBM untuk pembelajaran yang lebih baik. Adapun mengapa dalam satu kelas terdapat 40 orang siswa?, siswanya kok di beri ujian naik kelas, padahal kita telah menganut paham ‘belajar tuntas’? kenapa ada UN, dan dalam UN sekolah berusaha untuk menjaga martabat dengan segala cara dsb, tak usah dipertanyakan…!

    Banyak hal yang disampaikan kepala dinas dalam hal perbaikan mutu pendidikan waktu beliau menerima kembali peserta magang. Tapi kurang tepat rasanya saya mengulangnya di sini. Singkatnya, beliau tidak optimis-optimis amat, namun tetap berkeyakinan bahwa program magang ini perlu dilanjutkan dan diperbaiki terus agar bisa lebih efisien-efektif.

    Prof. Jennifer Nicol, Head of Education Curtin University juga tidak optimis amat dengan usaha magang ini. Tetapi setelah dijelaskan, ‘baru ini yang dapat kita beli’ dengan uang kita yang ada, dia mengerti dan mengusulkan perbaikan cara magang ke depan. Ngaire Young, Education and Training International, tuan rumah program magang ini, cukup menghargai keberhasilan pendidikan di Indonesia. Begitu pula dengan beberapa kepala sekolah dan Head of Sciences and Math di sekolah mereka. Mereka cukup kagum dengan keberhasilan: mungkin anak atau guru Indonesia (?) yang berhasil masuk dalam jajaran siswa yang sukses dalam bernagai olimpiade berbagai bidang Math dan Science tingkat dunia. “Kami belum mencapai itu”, kata mereka miris.

    Ngaire menambahkan: pikirkan untuk membawa serta duapuluh anak terbaik Sumbar untuk belajar gratis selama sebulan di Perth, sambil home-stay di keluarga Ausie. “Saya tunggu ya…!” Apa artinya tawaran ini..?

    Daerah (Propinsi) lain tertarik magang juga? Hubungi saya (fekrynur@indosat.net.id) di japri.

    Fekrynur,
    Pengawas Sekolah Prop Sumbar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: