Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Agustus 31, 2009

Dana bergulir untuk Kewirausahaan Siswa SMK

Dana bergulir untuk Kewirausahaan Siswa SMK

Oleh: Mohammad Saroni.
Guru SMK Brawijaya Mojokerto

Mohammad Saroni

Mohammad Saroni, Guru SMK Brawijaya Mojokerto

Salah satu proyeksi sekolah kejuruan adalah mengarahkan anak didiknya menjadi sosok-sosok enterpreuner berbasiskan kompetensi keahliannya. Hal ini merupakan upaya untuk mengantisipasi lulusan agar benar-benar kompetens pada bidang keahliannya. Oleh karena itulah, maka seyogyanya di sekolah kejuruan diberikan kegiatan yang secara langsung memberikan bekal kewirausahaan untuk anak didik.

Kewirausahaan yang kita maksudkan dalam hal ini tentunya bukan sekedar teori atau konsep-konsep kewirausahaan semata, melainkan memberikan kegiatan aplikatif dari kewirausahaan itu sendiri. Caranya adalah mengefektifkan konsep learning by doing. Anak-anak diberikan pembelajaran yang menuntut anak didik untuk melakukan setiap materi pelajaran dalam kegiatan konkrit.

Dengan learning by doing ini, maka anak didik diharapkan secara langsung  dapat memperoleh pengalaman belajar. Pengalaman belajar tersebut adalah melakukan kegiatan kerja sesuai dengan bidang keahliannya. Dan, dengan bekal inilah, maka diharapkan anak didik dapat mempergunakannya untuk survival dalam hidupnya.

Sementara itu, untuk kelancaran proses pembelajaran, maka anak harus dapat memperoleh pekerjaan yang dikerjakan di proses pembelajaran.  Sebagai bentuk pemelajaran kewirausahaan, maka anak didik diberikan tugas untuk mencari pekerjaan yang dapat dikerjakan di bengkel sekolah. Artinya anak didik harus memasarkan kompetensinya dengan menawarkan kemampuan kerjanya pada masyarakat sehingga mendapatkan barang yang dapat dikerjakan di sekeolah.

Anak didik diberikan tugas untuk mencari pekerjaan, yaitu barang-barang yang dapat dikerjakan sebagai bentuk implementasi pembelajarannya. Pekerjaan dari masyarakat inilah yang selanjutnya dijadikan sebagai materi kerja anak didik di sekolah.  sementara guru memfasilitasi kompetensi anak di dalam pengerjaan pekerjaan tersebut.

Kita menyadari bahwa ada banyak barang yang dibutuhkan oleh masyarakat dan hal tersebut dapat dikerjakan di bengkel-bengkel teknik.  Walau sebenarnya masyarakat dapat memberikan pekerjaan tersebut kepada bengkel-bengkel yang dianggap lebih professional, tetapi jika anak-anak dapat meyakinkan  masyarakat bahwa kualitas pekerjaan mereka tidak kalah dengan pekerjaan bengkel, tentunya masyarakat tidak keberatan untuk menyerahkan pekerjaan itu untuk anak-anak. Apalagi jika anak-anak memasang harga pekerjaan yang lebih ekonomis dibandingkan bengkel umum tetapi dengan kualitas hasil kerja yang sama.

Tentunya untuk mengkondisikan seperti ini diperlukan kerjasama semua pihak. Harus dibentuk semacam network efektif antara sekolah dengan masyarakat. Seharusnya diciptakan satu network yang memberdayakan peranan masyarakat dalam memperkenalkan kegiatan anak didik, khususnya dalam pengerjaan barang-barang kebutuhan hidup.

Sementara itu, agar program dapat berjalan sebagaimana tujuan, maka sekolah seharusnya memberdayakan dana ayang ada di sekolah. Pengadaan dana ini untuk mendukung pelaksanaan pekerjaan anak didik. sekolah harus mengalokasikan dana sehingga anak didik tidak kesulitan dalam pembiayaan pekerjaan. Hal ini sangat perlu sebab pada saat anak mendapatkan pekerjaan, maka mereka membutuhkan dana untuk pengadaan bahan. Masalah sarana pengerjaan, sekolah sudah tersedia. Sementara anak didik belum mempunyai sumber dana yang dapat dijadikan sebagai modal kerja. Oleh karena itulah, sekolah harus mengalokasikan dana untuk kebutuhan anak didiknya. Dana ini dapat diwujudan dalam pemenuhan bahan yang dibutuhkan untuk pengerjaan barang.

Terkait dengan pengalokasian dana ini, maka sebelum anak didik memperoleh alokasi dana, mereka harus mengajukan proposal pekerjaan yang didalamnya tercantum materi kebutuhan bahan, alat dan pembiayaannya. Dengan dasar proposal inilah, maka sekolah mengalokasikan kebutuhan anak didik. Dalam hal ini anak didik tidak diberikan dana segar melainkan berupa bahan atau material kerja senilai dengan kebutuhannya. Oleh karena itulah, maka anak didik harus benar-benar teliti dalam penyusunan proposal kerja. Ketelitian yang kita maksudkan dalam hal ini adalah bahwa semua aspek untuk kebutuhan pekerjaan harus diperhitungkan sehingga mereka tidak mengalami kerugian setelah pekerjan selesai.

Selanjutnya, dana untuk pembelian bahan pekerjaan ini, dimasukkan dalam kelompok dana bergulir. Dana bergulir adalah satu bentuk pendanaan yang diharapkan dapat saling menunjang kelancaran kegiatan. Dana bergulir ini memungkinkan adanya kegiatan berlanjut untuk setiap anak didik, baik secara individu maupun secara kelompok.

Dana ini harus dikembalikan oleh anak didik setelah dirasakan cukup memberikan hasil, keuntungan dari pengerjaan dan dapat digunakan untuk pembiayaan anak, kelompok anak lainnya. Setiap anak memperoleh kesempatan yang sama di dalam perolehan dana bergulir ini. Sementara besarnya dana tergantung pada besar kecilnya pekerjaan, proyek kerja yang didapatkan dari masyarakat.

Tentunya, tidak secara cepat anak didik harus mengembalikan dana bergulir ini sebab mereka harus menggunakannya untuk pekerjaan-pekerjaan yang mereka dapatkan dari masyarakat. Mungkin setelah mereka mengerjakan empat pekerjaan, proyek, maka mereka dapat mengembalikan dana bergulir tersebut. Dan, itupun tentunya belum dapat sepenuhnya sebab untuk pekerjaan selanjutnya mereka tetap membutuhkan dana. Keuntungan untuk empat pekerjaan yang selesai belum dapat dipergunakan untuk menutup kebutuhan pembelian bahan atau material pekerjaan, apalagi jika ternyata kuantitas pekerjaan yang didapatkan semakin besar. Oleh karena itulah, maka perlu diperhatikan kuantitas pekerjaan selanjutnya.

Keuntungan dana bergulir

Dengan  memperhatikan konsep pelaksanaan dana bergulir ini, maka setidaknya kita dapat mengetahui bahwa ada banyak manfaat dan keuntungan yang bakal kita peroleh. Dan, manfaat dan keuntungan inilah yang sesungguh-nya kita harapkan dari proses pembelajaran yang sesungguhnya.  Hal ini merupakan langkah inovatif yang perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak.

Secara umum kita menyadari bahwa kesulitan terbesar untuk melakukan kegiatan usaha adalah pada sisi pendanaan. Banyak orang yang mempunyai keinginan untuk menjalankan sebuah usaha, tetapi kemudian mereka mundur teratur setelah menyadari bahwa kegiatan tersebut membutuhkan dana yang tidak sedikit. Mereka membentur dinding tebal yang kokoh.

Memperhatikan konsep kerja dana bergulir ini, maka setidaknya kita dapat memperoleh beberapa keuntungan, yaitu:

a. Keuntungan bagi anak didik

Secara jelas, program ini menguntungkan anak didik sebab mereka dapat mengerjakan barang-barang tanpa harus mengeluarkan dana dari kantong sendiri, walau sebenarnya dana tersebut juga berasal dari mereka. Tentunya dalam hal ini sudah dikelola secara matang oleh sekolah.

Anak-anak dapat mengajukan permohonan kerja kepada sekolah mengenai pekerjaan yang akan dilakukannya dan hal ini memberikan keuntungan bagi anak didik dalam aspek kemampuan penyusunan proposal kerja. Kemampuan ini pada akhirnya nanti dapat mempermudah anak didik dalam mendapatkan pekerjaan, apalagi jika pekerjaan diberikan dalam bentuk lelang kerja.

Keuntungan lainnya adalah kemampuan anak didik dalam memasarkan pekerjaan kepada masyarakat dan sekaligus membuka jaringan kerja dengan masyarakat. Dengan penerapan konsep ini, maka anak didik dapat menunjuk-kan kepada masyarakat atas kemampuan teknisnya. Ini merupakan daya pencitraan diri sehingga mampu memberikan kesempatan dan penempatan khusus di masyarakat.

Semakin banyak pekerjaan yang dilaksanakan  oleh anak didik berarti semakin banyak masyarakat yang mengenalnya. Ini merupakan keuntungan tersendiri bagi anak didik sehingga selama periode pembelajarannya, maka masyarakat akan mempercayakan pekerjaannya kepada anak didik tersebut. Setiap pekerjaan selesai, pekerjaan yang lain sudah menunggunya. Dan, itu berarti jaringan kerja mereka semakin meluas.

Jika jaringan kerja anak didik sudah meluas, maka selanjutnya mereka tidak perlu lagi mencari pekerjaan sebab pekerjaan tersebut akan datang kepada mereka. Apalagi jika masyarakat memandang hasil kerja anak didik termasuk berkualitas tinggi. Tentunya pekerjaan anak didik menjadi semakin banyak dan langganannya semakin banyak pula. Ini merupakan keuntungan yang didapatkan anak didik, dimana setelah menyelesaikan masa sekolah, maka mereka sudah mempunyai langganan yang memanfaatkan kompetensinya.

Pada sisi lainnya, jika pekerjaan anak didik semakin banyak, berarti semakin banyak keuntungan yang didapatkan. Dalam hal inilah, anak didik dituntut untuk dapat bersikap sebagai enterpreuner sejati, yaitu belajar hidup ekonomis dan memanfaatkan segala dana untuk kebutuhan kegiatan sebelum benar-benar berlebih. Dengan sikap enterpreuner ini, maka anak didik dapat membedakan dana untuk keperluan hidup dan dana untuk kegiatan kerja. Ini sangat penting untuk pengembangan usaha atau kerja.

Dengan  sikap enterpreuner sejati, maka hal terpenting bagi mereka adalah bagaimana caranya mengembangkan usaha dengan dana yang dimilikinya secara efektif. Dana yang didapatkan dari beberapa pekerjaan dikumpulkan dan dipergunakan untuk menambah atau mengumpulkan peralatan kerja. Ini sangat penting sebab dengan mengumpulkan, membeli peralatan, maka setelah mereka lulus, mereka dapat mendirikan usaha sendiri sebab kondisi mereka sudah lengkap. Artinya, alat sudah mereka miliki, begitu juga dengan pangsa pasar atau langganan kerja sudah ada. Dengan program dana bergulir ini, maka anak didik mendapatkan pekerjaan, mendapatkan pangsa pasar, mendapatkan modal kerja, dapat mengumpulkan peralatan kerja dan selanjutnya setelah mereka lulus sekolah, maka mereka dapat mendirikan usaha pelayanan kerja teknik sesuai dengan keahliannya.

Artinya, program dana bergulir ini memungkinkan terkuranginya jumlah pengangguran terdidik pada akhir tahun pelajaran, yaitu ketika anak didik dinyatakan tamat dan lulus masa pendidikannya. Anak-anak langsung dapat melanjutkan pekerjaannya dengan melayani langganan yang sudah mereka miliki. Inilah urgensinya program dana begrulir untuk kewirausahaan anak didk di SMK.

b. Keuntungan bagi sekolah

Program pembelajaran di sekolah kejuruan ditekankan untuk mem-berikan bekal keterampilan kepada anak didik. Tetapi, kenyataan selama ini bekal tersebut ternyata belum efektif. Walaupun anak didik dapat menguasai keterampilan sesuai program keahliannya, ternyata belum dapat menjadi bekal kehidupannya. Mereka belum dapat menerapkan bekal keahliannya untuk dijadikan sebagai sumber mata pencarian yang dapat mendatangkan income finansial sehingga dapat menjadi sumber penghidupan. Yang terjadi adalah mereka justru berebut mencari pekerjaan dengan bekal keterampilan tersebut.

Ya. Selama ini yang terjadi adalah anak-anak lulusan sekolah kejuruan justru menjadi pengisi jajaran antrian pencari pekerjaan di segala bidang kerja. Mereka hanya mengandalkan keterampilan dan berharap dengan keterampilan tersebut ada pabrik atau perusahaan yang menerima mereka sebagai pegawai-nya. Tak pelak lagi, antrian pencari kerja semakin panjang dan tentunya masa tunggu untuk mendapatkan pekerjaan semakin lama. Akhirnya yang terjadi adalah tertumpuknya pengangguran terdidik di negeri ini.

Terkait dengan proses tersebut, maka sudah seharusnya sekolah melakukan berbagai inovasi untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus pembekalan keterampilan bagi anak didiknya. Bahkan keterampilan ini merupakan brandingmark, pencitraan bagi sekolah jika ternyata banyak perusahaan yang cocok dengan bekal keterampilan yang dimiliki oleh anak didik. Dengan demikian, maka sekolah ikut mengkontribusi kebutuhan tenaga kerja yang efektif, apalagi jika ternyata dengan bekal keterampilan tersebut anak didik tidak menjadi pengantri lapangan kerja, justru mampu menciptakan lapangan pekerjaan berdasarkan keterampilannya.

Dan, penerapan dana bergulir bagi anak didik untuk kegiatan kewira-usahaan, maka secara khusus sekolah hanya memfasilitasi kegiatan pembelajar-an bagi anak didiknya. Artinya, sekolah menyediakan kerangka pembelajaran, kurikulum pembelajaran sementara isinya tergantung pada kemampuan anak didik dalam mengembangkan kewirausahaannya. Sekolah secara teknis mem-berikan ruang pembelajaran, khususnya pembelajaran keterampilan. Sementara isi keterampilan tergantung pada jenis pekerjaan yang didapatkan oleh anak didik.

Tentunya dengan konsep seperti ini, maka proses pembelajaran keterampilan di bengkel sekolah sangatlah variatif. Pada setiap proses pembelajaran keterampilan di bengkel kita mendapati banyak sekali keterampilan yang dilaksanakan. Hal ini karena kegiatan pembelajaran berdasar-kan pekerjaan anak didik. Dengan demikian, maka kegiatan pembelajaran di bengkel sekolah benar-benar hidup, artinya sesuai dengan kegiatan teknik yang diharapkan.

Pada setiap kelas pembelajaran, anak-anak disibukkan pada pekerjaan masing-masing sehingga proses benar-benar efektif. Dalam hal ini anak-anak lebih konsen pada pekerjaan sebab mereka harus mempertanggungjawabkan pekerjaan tersebut kepada masyarakat. Tidak ada lagi anak-anak yang belajar sambil lalu. Anak-anak benar-benar memanfaatkan segala fasilitas dan waktu yang dimiliki untuk bekerja. Setiap detik waktu yang mereka miliki sangatlah berharga.

Dengan kegiatan kewirausahaan yang didanai melalui dana bergulir ini, sekolah memberikan support pada anak didik untuk bersikap professional terhadap pekerjaannya. Mereka yang mencari pekerjaan tersebut dan mereka sendiri yang melakukan negosiasi dengan pemilik barang sehingga mereka juga menentukan waktu penyelesaian pekerjaan. Jika ternyata mereka tidak dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan kesepakatan, tentunya mereka kehilangan nilai plus di masyarakat. Masyarakat kehilangan kepercayaan pada mereka sehingga hal tersebut mempersulit proses pembelajaran keterampilan di bengkel sekolah.

Dalam hal ini, kita perlu menyadari bahwa pembelajaran keterampilan hanya dilaksanakan jika anak didik mempunyai pekerjaan yang harus dikerjakan di bengkel sekolah. Selama mereka belum mendapatkan pekerjaan yang harus dikerjakan, maka mereka tidak dapat mengikuti proses pembelajaran keterampilan di bengkel sekolah. Tentunya hal tersebut menjadi pemicu dan pemacu bagi anak didik untuk menjemput bola, yaitu pekerjaan yang ada di masyarakat. Mereka berusaha mendatangi orang-orang untuk menawarkan pekerjaan, barang yang dikerjakan di bengkel sekolah.

Tentunya hal seperti ini memacu anak didik untuk mendapatkan pekerjaan agar dapat mengikuti proses pembelajaran keterampilan di bengkel sekolah. Ini merupakan bentuk pertanggungjawaban anak didik terhadap proses pembelajarannya sendiri. Dan, itupun masih harus ditebus oleh anak didik dengan mengajukan proposal kerja agar dapat mengikuti proses belajar praktek di bengkel sekolah. Anak-anak tentu sangat bersemangat jika diberitahukan kepada mereka bahwa untuk mengerjakan pekerjaan tersebut, maka mereka diberikan bantuan dana pembelian bahan kerja dan mereka boleh mengambil untung kepada masyarakat dari pekerjaan tersebut.

Dengan memperhatikan manfaat dan keuntungan yang akan didapatkan dari program dana bergulir bagi anak didik untuk program kewirausahaan, maka setidaknya program ini merupakan langkah terobosan bagi sekolah untuk membangun citra diri. Program kewirausahaan pada saat sekarang sangatlah penting bagi anak didik agar ketika mereka sudah menyelesaikan masa pendidikan dapat menerapkan secara langsung keterampilannya. Dan, jika banyak anak didik yang diluluskan oleh sebuah sekolah dapat menciptakan pekerjaan atau setidaknya menjadi pelaku aktif kegiatan ekonomi masyarakat tentunya dapat memperbaiki citra dan eksistensinya di masyarakat.

Masyarakat sekarang ini membutuhkan pembuktian atas visi dan misi yang disampaikan oleh sekolah. bagi mereka visi dan misi sekolah adalah janji untuk masyarakat. Dan, janji adalah hutang sehingga harus dibayar dengan kondisi yang benar. Oleh karena itulah, maka penerapan dana bergulir untuk memberikan kegiatan kewirausahaan  yang benar-benar konstruktif dan konkrit merupakan langkah manis untuk membuktikan bahwa sekolah benar-benar menepati janjinya.

Jika hal ini benar-benar dapat tercapai, maka sekolah akan berkembang dengan sendirinya sebab masyarakat akan datang ke sekolah dan memberikan bantuan yang dibutuhkan sekolah, termasuk menyekolahkan anak-anaknya.

———–

Download artikel ini dalam format word document, klik disini

Iklan

Responses

  1. smk brawijaya oke

  2. mas semoga ada hubungan sesama guru kewirausahaan

  3. kebetulan saya guru tekniknya tetapi kemarin sempat menangani kelas wirausaha

  4. kenapa sih cuma smk yang di beri entrepreneurship so kenapa sma gug????

  5. ngeh mbah Roni jenengan leres teorinya mengaten, kados pundi praktekipun/fakta wonten lapangan hayoo….ha..ha..ha…

  6. yo, begitulah he.he.he.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: