Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | September 9, 2009

Apa Salahnya Metoda Konvensional

Apa Salahnya Metoda Konvensional

Oleh : Jalius HR.

Jalius HR

Jalius HR

Terlebih dahulu penulis mohom maaf kepada kerabat kerja newsletter disdik Sumbar. Karena penulis terlambat membaca dan memberikan komentar atau respon tehadap berbagai artikel yang di kirimkan kepada penulis

Hal ini disebabkan oleh, karena  penulis terlambat masuk kedalam anggota langganan berita atau artikel newsletter ini.

Setelah penulis melihat situs newsletter, konten dari berbagi blog, media cetak lainya serta berbagai uraian oleh penatar, penulis merasakan ada masakan yang kurang garam khususnya tentang metode pembelajaran.

Selanjutnya, kali ini penulis akan memberikan respon kepada tulisan my friend Bapak Marjohan (BM) yang berjudul “Tinggalkanlah Metoda konvensional”. Tulisan BM ini terdapat dalam blog beliau. Dan penulis jadikan sebagai wakil dari tulisan dan pernyataan analis lain yang memaki-maki metoda konvensional (kuno).

Uraian selanjutnya  akan penulis awali dengan sebuah anekdot. Ada beberapa anak balita yang sedang asyik bermain. Mereka bermain menggunakan sejumlah lembaran kertas, gunting dan lainya. Ada salah seorang dari mereka pandai membuat alat permainan berupa pesawat terbang dari bahan kertas yang dilipat-lipat. Kemudian dia mencoba meluncurkanya, ternyata berhasil. Melihat kejadian yang seperti itu temanya yang lain ingin pula bisa membuat permainan serupa itu, yaitu model pesawat terbang dari bahan kertas. Proses belajar dan membelajarkan berlansung. Tidak terlalu lama, dua kali gagal dan yang ketiga kalinya berhasil. Semua anak yang ada asyik bermain. Kelihatan diwajahnya rasa puas dengan kepintaran yang baru saja diperolehnya.

Lantas penulis berfikir sejenak tentang peristiwa anak balita yang asyik bermain tadi. Banyak sekali aspek yang bisa difikirkan tentang anak–anak balita tersebut. Salah satu aspek yang selalu dan bahkan sering sekali penulis fikirkan adalah kenapa anak balita saja bisa sukses dalam proses saling membelajarkan ? Pada hal merka belum pernah belajar di perguruan tinggi tentang apa yang disebut metode pembelajaran. Hasil dari perenungan penulis yang dapat diungkapkan disini adalah mereka berhasil karena penguasaan materi (keterampilan) yang sangat baik. Rupanya  metode yang mereka gunakan……..pakar pendidik harus mampu menjawabnya.

Selanjutnya pada tulisan ini penulis akan menjelaskan secara singkat hakekat metode , sehingga dengan penjelasan ini kita memperoleh gambaran yang baik apa itu metode dan apanya yang kuno serta apanya yang modern. Penulis menginginkan kita semua faham dengan berbagai metode, mana diantara metode tersebut yang pas untuk digunakan dalam proses pemelajaran.

Istilah metode biasanya kita tujukan sebagai nama dari pada suatu proses kerja  yang dilakukan secara sistematis untuk mencapai tujuan. Dapat juga dalam arti system kerja seseorang dalam mengantarkan sesuatu dari suatu tempat ketempat lain, atau dari suatu keadaan kepada keadaan lain, atau dari suatu kondisi ke kondisi lain dan seterusnya.

Dalam hal mengajar tentu metode itu adalah proses kerja mengantarkan materi pelajaran dari suatu tempat (guru) ke tempat lain (murid). Sementara guru bisa saja berupa manusia dan bisa dalam pengertian  sumber belajar.

Sebagaimana yang telah dilakukan oleh guru-guru baik disekolah ataupun di luar sekolah system kerja (metode) dalam menyampaikan materi pengetahuan selalu terpilih sehingga apa yang di maksud dengan efektifif dan efesien terjadi.

Mana metode yang mungkin efektif dan efesien tentu yang lebih banyak tahu adalah sang guru. Ilmu apa yang ada pada  guru dalam atau dangkal penguasaanya itulah faktor utama penentunya.

Guru yang menguasai seluk-beluk (konsep) suatu ilmu secara baik dapat melaksanakan proses mengajar dengan  efektif dan efesien.

Beberapa ilmu dapat diajarkan (disampaikan) menggunakan metoda yang sama dan ada pula suatu ilmu harus menggunakan metode yang berlainan dengan ilmu lain. Misalnya pengetahuan fisika dapat disampaikan dengan berbagai percobaan, sedangkan pengetahuan tentang dongeng sudah tentu dengan bercerita (ceramah).

Ada pula suatu mata pelajaran yang menggunakan beberapa metode sekaligus, misalnya pelajaran fisika, menggunakan percobaan dan ceramah atau diskusi. Proses mengajar yang seperti itu telah berlansung semenjak manusia ada samapai sekarang. Penggunaan metoda secara tunggal atau bervariasi disamping  dipengaruhi oleh jenis ilmu  tetapi juga dipengaruhi informasi apa yang terkandung didalam materinya, dan juga harapan-harapan  apa yang diinginkan oleh guru dan murid. Tidak jarang kita temui dalam masyarakat ada saja guru yang disenangi oleh banyak anak karena penguasaan ilmu yang bagus penerapan metoda yang harmonis.

Beberapa contoh metoda mengajar yang sangat konvensional antara lain: metoda ceramah metoda ini adalah metoda yang paling tua kalau mau meninjaunya dari sisi sejarah. Penulis berkeyakinan  apa saja pelajaran yang akan kita ajarkan kepada anak khususnya disekolah metoda ceramah ini tidak bisa ditinggalkan, paling sedikit di awal dan di akhir proses pembelajaran.

Metoda Tanya jawab, metoda ini usianya hampir sama usianya dengan metoda ceramah. Lebih-lebih dalam ilmu sosial  metoda ini sangat penting, berkemungkinan besar tidak bisa digantikan dengan metoda lain dalam mata pelajaran tertentu. Bayangkan saja metoda ini sangat ampuh untuk melaksanakan sosialisasi. Atau untuk memantapkan keyakinan terhadap informasi yang diterima.

Metoda diskusi, metoda ini adalah saudara kembar dari metoda Tanya jawab. Metoda ini sangat ampuh untuk mencari atau menemukan solusi dari suatu permasalahan. Sangat banyak penggemar metoda ini di seluruh dunia, baik dinegara maju maupun didaerah kita.. Itulah tiga contoh metoda yang sangat konvensional yang sengaja penulis ambil sebagai contoh.

Penggunaan metoda dalam pembelajaran akan sangat efektif dan efisien bila digunakan bervariasi. Misalnya metoda ceramah ditambah dengan metoda tanya jawab dan sebagainya. Disamping itu juga bila digunakan pula alat bantu. Alat Bantu ini bisa berupa media dan dapat pula berupa alat peraga.

Alat Bantu yang berupa media ada yang sederhana dan ada pula kompleks. Media yang sederhana dapat berupa sebuah gambar seekor cacing dan gambar yang kompleks dapat berupa audio visual.

Demikian pula alat peraga, ada alat peraga yang sederhana dan ada pula alat peraga yang kompleks atau canggih. Alat peraga yang sederhana misalnya sebuah globe dan yang canggih sebuah prototype atau rangka sebuah mesin dan lain sebagainya..

Walaupun ada model metoda yang dianggap modern tapi dasarnya tetap saja konvensional, misalnya metoda research. Metoda tersebut dasarnya sudah lama usianya, hanya saja para ilmuan kita mengemasnya dengan menggunakan istilah asing agar terasa keren. Namun penggunaanya dimana ,bila dan oleh siapa ?

Demikian juga dengan persoalan alat bantu, yaitu media dan alat peraga. Dalam dunia pendidikan alat bantu dapat saja berupa barang yang sudah sangat kuno sampai kepada alat yang canggih dan up to date.

Metoda dan alat Bantu mana yang akan di gunakan dalam proses pembelajaran, memamg harus terpilih tepat, sehingga tercapai tingkat efektifitas dan efesiensi yang tinggi.

Keterpilihan metoda dan alat Bantu tersebut sangat dipengaruhi oleh jenis materi yang akan disampaikan, siapa gurunya, daerah, tingkat pendidikan  siswa, kemampuan keuangan, waktu dan lain sebagainya.

Kalau kita mau mengajar, tentu kita memilih metoda dan alat bantu, pilihan itu belum bisa dipastikan apakah pilihan kita itu sifatnya konvensional atau modern. Yang dipastikan adalah faktor efektifitas dan efesiensi. Perlu juga penulis sampaikan disini, efektifitas berarti metoda yang digunakan dapat mencapai sasaran atau tujuan yang kita inginkan. Selanjutnya suatu metoda atau alat peraga yang dikatakan efesien bila memenuhi lima aspek. Yang pertama adalah tidak memerlukan biaya yang besar. Kedua tidak menghabiskan waktu yang lama. Ketiga tidak menggunakan ruang beasar/luas. Keempat tidak menguras tenaga terlalu besar dan kelima tidak membutuhkan pemikiaran yang berat. Dengan kata lain adanya penghematan.

Perlu juga kita sadari bahwa pilihan yang dikatakan modern adalah pilihan yang tingkat efektifitasnya dan efesiensinya yang tinggi. Bukan terletak pada tingkat mutakhirnya suatu alat yang digunakan. Disinilah salah satu kekeliruan berfikir kita dalam hal mengadopsi ide-ide baru dalam dunia pendidikan. Terkadang kita ketemu dengan sebuah ungkapan klasik harap burung terbang tinggi  Punai ditangan dilepaskan.

Coba tanya sama guru sekolah dasar yang mengajarkan matematika kepada anak didiknya, apakah di dalam mengajarkan  + , _ , : dan X . Mana yang akan lebih bagus menggunakan alat bantu berupa lidi kelapa dibandingkan menggunakan kalkulator ???

Demikian saja untuk sementara, selamat menganalisa dan saling koreksi. Wassalam.

Lubuk Buaya, Oktober 09

Iklan

Responses

  1. tulisan pak jalius sudah menambah wawasan
    judulnya “apa salahnya metode konvensional’

    guru A yang mengajar debgan teknik role play melulu, ya konvensionalnya berbentuk role play

    guru B yang mengajar dengan teknik/ metode diskusi, maka konvensional dengan diskusi

    agar tidak konvensional ngajar, maka harus bervariasi; misal variasi antara metode ceramah, diskusi, role play, pakai ICT, pakai audiovisual, teknik inkuiri…

    pak diwarman (dari SMAN 2 Batusangkar) kan pernah diberi komentar oleh pak Jalius, minta pulalah beliau menulis agar blog Pak Edi juga diklik

    well bravo pak Jalius


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: