Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | September 24, 2009

Bila Pengemis Dilarang Mengemis, Siapa Lagi pembela mereka

Bila Pengemis Dilarang Mengemis, Siapa Lagi Pembela Mereka

Oleh: Marjohan M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Marjohan M.Pd. Guru SMAN 3 Batusangkar.

Ada berita yang muncul pada Koran-koran di Sumatra Barat dalam bulan September 2009 ini bahwa pengemis di kota Padang dan Bukittinggi ditangkap oleh team yang dibentuk oleh pemerintah untuk menertipkan dan menjaga keindahan kota. Berita ini bagi kebanyakan orang dianggap biasa-biasa saja dan tidak begitu menarik dibandingkan dengan berita tentang perkawinan dan perceraian kaum selebriti atau berita hukum –kriminal dan politik lainnya. Pada gambar tersebut tersekspose anggota penegak ketertiban kota yang bertubuh gagah dengan seragam rapi menggiring pengemis dengan tubuh renta, agak buta dan berpakaian kumal sambil menangis ketakutan.

Saya khawatir bila pemandangan ini diekspose oleh televise swasta dan dikupas dalam program yang penuh nuansa emosi, maka akan membuat pengemis yang dianggap sebagai manusia yang hina (sosok manusia yang sengsara)  sebagai hiburan segar bagi anak-anak dan orang-orang yang nurani kasih sayangnya yang cendrung memudar. Sebab akhir-akhir ini, dengan semakin moderennya penampilan wajah suatu kota maka karakter warga yang  individualis, hedonisme dan masa-bodoh terhadap  kaum yang tak berpunya  makin kentara”.

Dalam berita tersebut penyelesaian masalah pengemis yang dipandang sebagai perusak wajah kota cukup praktis dan sederhana; mereka ditangkap, digiring, dikirim ke pusat penampungan (Departemen Sosial), dibina dan dipulangkan ke tempat asal. Selanjutnya dipastikan bahwa tidak ada orang yang begitu tertarik membela mereka, karena  tidak akan mendapatkan manfaat financial sedikitpun.

Yang membela mereka, para pengemis dan kaum dhuafa lainnya, adalah langsung Sang Khalik “Allah Azza Wa Jalla”. Seperti yang dapat kita baca dalam kitab suci Al-Quran Karim (surat 107:1-3): “tahukah kamu orang yang mendustakan agama ? itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin”. Masih ada puluhan ayat-ayat lain yang menganjurkan kita, kaum muslim, untuk meringankan penderitaan saudara kita yang menjadi kaum pengemis- fakir miskin tersebut. Dan tidak ada ayat al Al-Quran yang berbunyi “tanggaplah pengemis, giringlah pengemis !”.

Apakah kehadiran pengemis betul-betul merusak keindahan kota sehingga membuat warga kota menjadi malu atas kehadiran mereka ? Mengapa di seputar ka’bah di Makkah juga ada pengemis dan tidak ditangkap, kecuali kalau mencuri.

Bisa jadi warga kota yang kaya raya, bertubuh gagah dan cantik namun tidak mengenal agama, suka minuman keras, berzina dan pencandu narkoba, dan berpakaian super seksi,  lebih hina dalam pandangan Allah dari pada pengemis itu sendiri. Hal ini berdasarkan ajaran agama yang berbunyi “sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk tubuh mu, juga tidak pada rupa wajah mu, tetapi Allah melihat kepada kualitas hatimu”. Kaum dhuafa- kaum gelandangan dan pengemis- yang berhati rapuh akan mudah meneteskan air mata, sehingga do’a mereka bisa menggetarka Arasynya Allah Swt. Sekali lagi bahwa walau dipandang sebagai manusia hina, bisa jadi mereka lebih mulia di sisi Allah Swt dibandingkan dengan warga kota yang cantik dan gagah namun tidak mengenal Sang Pencipta dirinya.

Maaf, artikel ini ditulis bukan berarti penulis kontra dengan kebijakan pemerintah dalam menertibkan pengemis. Namun khawatir kalau perlakuan kita yang menangkap, menggiring dan mengamankan pengemis tanpa mengatasi masalah kegetiran hidup mereka yang mendasar, namun kebijakan penertiban tanpa ada yang membela akan membuat mereka sangat tertindas. PKL (Pedagang Kaki Lima), Pekerja Seks Komersil, Penyalahguna Narkoba, Korban HIV saja ada LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang mereka.

Fenomena yang termonitor dalam kehidupan bahwa para pengemis melakukan profesi mengemis ada yang secara spontan dalam rangka  untuk bertahan hidup. Namun kadang kala ada oknum yang cerdas yang mengelola orang-orang sengsara ini untuk mengemis dan meraup keuntungan di atas derita dan perasaan hina orang. Nah mengapa tidak orang ini yang dibina atau diamankan terlebih dahulu ?

Memang kita akui bahwa jumlah bangsa kita, saudara kta,  yang hidup di bawah garis kemiskinan cukup banyak. Sebagian berusaha untuk bertahan hidup, survival, sepanjang hari tanpa mengemis tapi  hanya dengan mengkonsumsi sesuap nasi dengan sayur daun singkong dan penganan lain yang miskin nilai gizi. Kemudian juga ada mereka, saudara kita, yang hidup susah sepanjang hayatnya namun malu untuk mengemis di negeri sendiri, kecuali kalau pergi ke daerah tetangga.

Untuk apa ? Ya untuk mengemis sebagai stategi untuk bertahan hidup. Sebab kalau tidak mengemis tidak ada orang yang peduli untuk mengguyurkan rezkinya, rezki titipan Allah SWT, sebab orang kita menganggap bahwa yang famili itu adalah orang yang berpangkat dan orang yang kaya, sementara famili yang hidup sengasara dianggap sebagai pengganggu ekonomi. “Kalau ada kaum famili yang miskin datang ke tempat pihak yang berada, maka kadang kala kantong mereka digeledah kalau ada barang mereka yang tercuri”.

Kalau pun ada bantuan raskin (beras untuk orang miskin) tentu saja tidak mencukupi kebutuhan hidup dan gizi mereka. Kemudian walaupun banyak kiay, ustad, buya (ulama) berseru dan berseru dari mimbar mesjid untuk membantu fakir miskin, namun tetap saja bantuan kaum yang hidup agak berkecukupan diselipkan dalam kaleng-kaleng atau kotak infak mesjid yang distribusinya entah tepat sasaran entah tidak, dan jumlah uang infak tidak pula mencukupi- karena kecendrungan kita agak kikir dalam berderma- kecuali kalau ada pengelola dengan manajemen terbuka dan professional.

Kebijakan pemerintah, organisasi Islam dan LSM untuk memperhatikan kaum fakir miskin dalam skala luas dan menyentuh akar kebutuhan sudah ada dan distribusi yang merata di seluruh persada nusantara sangat kita harapkan. Mengapa untuk menyantuni korban narkoba dan HIV, banyak orang,  para artis, dan public figure lain berlomba-lomba untuk mengayomi dan membela mereka dan kegiatan amalnya  terkesan dibesar-besarkan ? Ya karena mereka (korban Aids/HIV, narkoba)  berasal dari orang yang agak terdidik untuk kognitif, berpenampilan cakep dan orang tua mereka mungkin punya duit. Sementara kegiatan untuk membela harkat dan martabat fakir miskin terkesan agak sepi, mungkin karena pengemis bertubuh dekil, kumal dan jorok. Kecuali bagi sekelompok saudara kita yang peduli akan kehidupan fakir dan miskin. Mereka punya  kegiatan dengan mendirikan sekolah Dhuafa, dompet dhuafa, dan lain-lain.  Terpujilah mereka, moga moga Allah Swt selalu melimpahkan rahmat Nya selalu buat mereka.

Pendirian sekolah untuk kaum dhuafa, dompet dhuafa dan sekolah gratis bagi kaum dhuafa adalah aktifitas yang berpihak dalam membela fakir dan miskin. Kegiatan kegiatan ini sangat patut untuk dihargai dan direspon, apalagi bila pelaksanaanya cukup profesonal, transparan, akuntability dan menyeluruh dan meluas, sehingga bisa menyentuh banyak kaum dhuafa- fakir miskin, dan pengemis. Kiranya harapan dari saudara kita kaum fakir miskin untuk bisa punya anak anak cerdas dan berhasil seperti cerdasnya anak anak saudara mereka, orang- orang yang lapang rezkinya dan berkecukupan ekonominya.

Iklan

Responses

  1. اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُهُ

    APA DOSA PENGEMIS

    Saya menambah dengan menjelaskan……………..

    Setelah saya melihat kamus bahasa Indonesia (KBBI) kata mengemis belum ketemu, sehingga saya tidak tahu pasti apa arti mengemis. Kalau mengemis sebagai pekerjaan, konteknya seperti apa, situasinya bagaimana pula , kondisi orangnya macam apa pula, ini perlu penjelasan yang spesifik agar masyarakat tahu persis kerja mengemis yang seperti apa itu yang tergolong haram.

    Kalau mengemis pengertianya seperti yang dipakai banyak orang, yaitu meminta-minta terutama meminta sedekah, maka hampir semua orang pengemis. Sedekah dapat berarti sebahagian harta kekayaan atau rezeki seseorang atau sekelompok orang, yang atau dapat diberikan kepada orang lain. Bila ada orang yang meminta sedekah , pekerjaanya diberi istilah mengemis dan pelakunya dinamakam pengemis.

    Sadar kita atau tidak, orang-orang yang terlibat membuat dan mengajukan proposal untuk mendapatkan dana dari pihak tertentu itu juga namanya mengemis. Pelakunya bisa saja orang perorangan atau lembaga. Lembaga juga tidak terhingga cakupanya, dapat saja mengenai lembaga pemerintah atau juga lembaga swadaya masyarakat. Adakah lembaga yang luput dari meminta-minta ?.

    Hanya saja kebanyakan kita mungkin karena keahlianya berbahasa meminta-minta yang dilakukan oleh bapak dan ibuk yang terhormat , istilah sedekah ini dirobah dengan sebutan sumbangan, atau donasi. Untuk orang orang yang tidak beruntung secara ekonomi, istilah yang dipakai adalah minta sedekah . Lain pula halnya dengan lembaga agama semisal Masjid, istilah yang dipakai juga minta sedekah dalam artian pelakunya merendahkan harga diri, agar permintaan terkabul, bahkan ada pula yang mencampur aduk, semua istilah dipakai, selain kata sedekah , sumbangan dan donasi,istilah wakaf dan zakat juga diplot. Mungkin juga ada lagi istilah lain untuk itu.

    Pada level yang begensi, misalnya seorang sarjana juga mengemis mendapatkan beasiswa ( istilah ini keren amat, tapi masuk kedalam konsep sedekah ) yang akan digunakan untuk menyelesaikan program studi pada strata 1,2 dan 3. Seorang profesor juga ada yang mengemis, apakah untuk proyek penelitian atau untuk pengukuhan gelar guru besarnya. Pada dua contoh yang terungkap itu kita menilainya menjadi perkerjaan yang dianggap mulia, disamping dianggap mulia juga suatu keharusan untuk diperjuangkan. Kenapa harus diperjuangkan, ya salah satu jawaban sangat pas adalah perolehanya berjumlah besar dan bahkan sangat besar.

    Konsep mengemis sampai saat ini belum biasa dimaknai secara spesifik atau dalam ruang linkup terbatas. Hanya saja sekedar memberi kesan, bahwa pekerjaan ini biasa dilakukan oleh orang atau pihak yang kurang mampu. Jika perkerjaan mengemis ini dilakukan oleh orang miskin dan jumlah perolehanya juga tidak besar ( hanya uang recehan ) kebanyakan anggota masyarakat kita khususnya orang yang berpunya memberikan penilaian terhadap pelakunya rendah atau tidak mulia. Sering sekali para ulama pada semua level bersegera mengutip ucapan Rasullullah saw , bahwa tangan yang diatas lebih mulia dari tangan yang dibawah.

    Sangat disayangkan sekali pada level yang rendah posisi pelakunya, banyak orang menilai hina atau tidak mulia sang “pengemis”. Ingatkah kita semua bahwa “terhadap pemimta-minta janganlah kamu menghardiknya “. Belum ada jaminan bahwa banyak uang dan harta serta banyak kedudukan dan jabatan akan membuat kita secara otomatis akan mulia disisi Allah. Disinilah letaknya sikap hipokrit masyarakat , tentu sekali sebagian besar para ulama ( ilmuan ) kita . Sikap mental ini yang berkembang tanpa kendali.

    Harapan penulis kepada semua pihak, lebih utama untuk bersegera kembali kepada Al-quran untuk belajar kembali agar mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang orang miskin, kemudian supaya kita dapat mempelakukanya sepatutnya. Disamping itu orang miskin jangan dijadikan seprti orang terjatuh dihimpit tangga pula, bangunlah jiwa berkasih sayang dengan orang miskin atau orang tidak mampu. Wassalam.

    Lubuk Buaya, September 09

  2. Pak Jalius
    Hati saya bertambah tersentuh tentang kupasan tambahan tentang bagaimana seharusnya kita berprilaku kepada makhluk Allah, yang kebetulan pengemis, mana tahu hati mereka sangat bersih dan mulia


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: