Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | September 24, 2009

Peran Orang Tua Sebagai Pendidik Moral

Peran Orang Tua Sebagai Pendidik Moral

Oleh: Marjohan M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Miskonsepsi Tentang Peran Mendidik

Marjohan M.Pd. Guru SMAN 3 Batusangkar.

Marjohan M.Pd. Guru SMAN 3 Batusangkar.

Ibu adalah orang yang paling dekat pada anak. Ia merupakan orang yang pertama yang mengajarkan cara berbicara, cara menghitung jari di tangan, dan cara mengekspresikan rasa kasih sayang dan simpati pada orang lain. Dengan demikian ia merupakan guru pertama dan utama dalam mengendalikan anaknya untuk menjadi orang yang baik dan berguna bagi orang. Kemudian ayah juga harus menjadi orang yang pertama atau orang nomor dua dalam kehidupan anak sebagai pendidik anak dan membimbingnya tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas. Menjadi orang yang berguna seperti kata Rasullullah SAW: khairunnas anfahum linnas– orang yang baik adalah orang yang bermanfaat bagim orang lain.

Namun dalam kenyataan dalam hidup ini bahwa jutaan kaum bapak tidak tahu dan tidak mau tahu soal mendidik anak. Mereka terlalu menyerahkan urusan mendidik anak pada kaum ibu. Sebahagian menganggap bahwa kalau ikut mendidik dan merawat anak maka karakter maskulin mereka akan merosot. Dalam pola rumah tangga tradisionil kaum bapak berpendapat bahwa mengendong, memberi susu dan mendidik anak adalah urusan kaum wanita.

Tidak masalah atau dapat dimaafkan kalau kaum bapak tidak ikut mengurus pendidikan dan perawatan anak lantaran mereka super sibuk mencari nafkah demi keluarga juga. Namun apa kira kira ungkapan yang patut diberikan pada kaum bapak yang cuma pandai beranak kemudian kurang terampil dalam mencari nafkah apalagi dalam urusan mendidik keluarga (?).

Itulah dalam kenyataan bahwa dalam masyarakat tradisionil yang telah sepakat saja berpendapat bahwa tugas ibu adalah memelihara anak dan tugas ayah adalah bekerja, mencari uang, sehingga kaum ayah atau bapak tidak pantas menyediakan susu botol bayi, dan mengganti popok. Untuk keharmonisan keluarga dan perkembangan anak maka anggapan ini sangat merugikan.

Kaum bapak walaupun sibuk bekerja, namun juga harus bisa melibatkan diri dalam kehidupan rumah tangga. Malah ini dapat menambah rasa hormat istri pada suaminya. Kaum bapak yang berpandangan moderen di negara kita dan di negara maju lainnya  bahwa walau mereka memiliki banyak posisi karir dan sibuk dengan beberapa aktivitas tetap melowongkan waktu untuk ikut mendidik anak, membantu meringankan pekerjaan rumah, ikut mencuci, memasak sehingga, sekali lagi, mereka mendapat simpati dan rasa hormat yang ekstra dari kaum wanita, istri mereka.

Pada umumnya orang mendambakan untuk punya rumah tangga yang hangat, harmonis dan bahagia. Suasana rumah tangga yang begini tidak datang dengan sendirian namun harus dibina. Ayah dan ibu perlu melakukan proses bagaimana mengelola rumah tangga agar tumbuh bahagia.

Pola kepemimpinan dalam rumah tangga oleh ayah dan pola pengasuhan oleh ibu sangat menentukan kebahagiaan anak-anak mereka. Ada tiga tipe kepemimpinan dan pengasuhan yang secara tak sengaja diterapkan oleh ayah dan ibu, yaitu tipe otoriter, laizzes faire dan demokrasi. Orang tua yang otoriter cenderung berwatak keras, suka memaksakan pendapat. Tipe laizzes faire adalah orang tua yang suka masa bodoh, serba tidak peduli atas apa yang terjadi dan tipe demokrasi adalah pola kepemimpinan ayah dan pengasuhan kaumm ibu yang menghargai hak hak dan pendapat anak dan anggota keluarga yang lain. Tentu saja rumah tangga yang didamba adalah rumah tangga yang hangat dan yang demokrasi. Orang tua atau ayah-ibu yang penuh penghargaan dimana kegiatan dalam rumah tangga dilaksanakan secara kebersamaan menurut peran yang telah disepakati.

Peran Dalam Mendidik Moral Anak

Dalam zaman dengan kemajuan teknologi dan informasi yang pengaruh positif dan negatifnya hampir tidak bisa dihindari. Dampak dari kemajuan ini menimbulkan plus dan minus, termasuk dalam hal dekadensi moral – kemerosotan moral. Maka peran orang tua sebagai pendidik moral anak sangat dituntut. Mereka perlu terlibat dalam mendidik anak agar mereka memiliki moral yang terpuji. Orang tua dapat belajar dari berbagai literature dan bertukar pendapat tentang pendidikan dengan teman yang dianggap tahu.

Ada banyak buku yang dapat dibeli atau dipinjam di perpustakaan atau literature yang dapat diakses lewat internet yang berbicara tentang moral, pendidikan moral, moral dan social. Dalam zaman yang serba mudah dalam mengakses ilmu pengetahuan bila orang tua tidak peduli akan otodidak, menambah ilmu dan wawasan sendirian, tentu akan sangat merugi bagi diri dan bagi keluarga mereka.

Kepribadian

Kartini Kartono (1985) mengatakan bahwa setiap pribadi itu unik. Tidak ada dua pribadi yang sama. Pribadi seseorang ditentukan oleh bakat, pendidikan, pengalaman- apakah pengalaman pahit atau menyenangkan- dan faktor lingkungan.

Faktor eksternal  yang berpengaruh pada anak bisa berasal dari rumah, sekolah, dan masyarakat seperti teman sebaya dan teman yang berbeda umur. Pengaruh yang diterima- yang dialami- oleh seseorang waktu kecil maka bekasnya begitu mendalam dalam memori seseorang. Semua ha-hal yang disebutkan tadi sangat berpotensi dalam pembentukan kualitas kepripadian atau karakter seseorang. Namun dasar-dasar dalam pembentukan kualitas kepribadian adalah sejak dari rumah melalui sentuhan dan bimbingan orang tua.

Bentuk perlakuan yang diterima anak dari orang tua dan lingkungan menentukan kualitas kepribadiannya. Seseorang yang memiliki kepribadian yang rapuh/ lemah terbentuk karena ia kurang memperoleh kasih sayang, kurang rasa aman dan akibat pemanjaan- menuruti kehendak anak tanpa mengajarkan rasa bertanggung jawab (memberi anak kegiatan tanggung jawab). Sebaliknya orang yang memiliki kepribadian yang kuat, ini terbentuk karena pemberian rasa kasih sayang, kehangatan jiwa dan pemberian aktivitas atau pengalaman hidup, life skill, pada anak.

Membina Hubungan dan Komunikasi

Kita tahu bahwa kualitas hubungan dan komunikasi yang diberikan orang tua pada anak akan menentukan kualitas kepribadian dan moral mereka. Hubungan yang penuh akrab dan bentuk komunikasi dua arah antara anak dan orang tua merupakan kunci dalam pendidikan moral keluarga. Komunikasi yang perlu dilakukan adalah komunikasi yang bersifat integrative, dimana ayah, ibu dan anak terlibat dalam pembicaraan yang menyenangkan dan menghindari model komunikasi yang bersifat dominatif atau suka menguasai pembicaraan.

Pastilah orang tua yang dominatif, yang kerjanya “ngobrol” melulu tak henti-hentinya akan menjadi orang tua yang menyebalkan. Selanjutnya diharapkan agar komunikasi orangtua dengan anaknya banyak bersifat mendorong, penuh penghargaan dan perhatian. Karena ini berguna untuk meningkatkan kualitas karakter dan moral anak.

Hal lain yang perlu diperhatikan orang tua dalam membentuk moral anak melalui pendidikan dalam keluarga adalah menjaga kualitas hubungan dan komunikasi mereka, yaitu hubungan dan komunikasi yang ramah tamah dengan suasana demokrasi. Sebab keramahan dapat membuat anak merasa diterima.

Ada dua tingkat hubungan orang tua dan anak dalam berkomunikasi yaitu pada tingkat feeling atau perasaan dan tingkat rasio atau logika.  Hubungan pada tingkat feeling atau emosi yaitu untuk pemahaman atau empati- empati berarti memahami perasaan seseorang tanpa harus larut dalam emosinya. Hubungan pada tingkat rasio atau logika juga diperlukan untuk memecahkan masalah dalam keluarga.

Kedua bentuk hubungan ini perlu untuk diaplikasikan oleh orang tua dalam membina moral anak. Walau orang tua harus bersikap ramah dan demokrasi pada keluarga bukan berarti menunjukan karakter yang lemah dan suka mengalah. Dalam membuat keputusan orang tua tetap bersifat demokratis tetapi tegas dan jelas. Sebab orang tua yang tidak tegas dan mudah mengalah pada anak akan membuat anak bermental “plin plan” atau bermental “terombang ambing”.

Moral dan Agama

Zakiah Daradjat (1976) mengatakan bahwa hubungan antara moral dan agama sangat erat. Orang yang taat beragama, moralnya akan baik. Sebaliknya orang yang akhlaknya merosot, maka agamanya tidak ada sama sekali.

Kualitas agama seseorang juga ditentukan oleh kualitas pendidikan dan pengalaman beragama mereka sejak kecil. Mengajak anak-anak berusia kecil untuk mengunjungi berbagai mesjid, memberi fakir miskin sekeping roti dari tangan sendiri, mengunjungi panti asuhan dan panti jompo, menajak anak untuk ikut shalat dhuha dan tahajjud,  akan dapat memperkaya pengalaman rohani anak dan akan berkesan sepanjang hayat anak.

Membentuk pengalaman beragama pada anak saat kecil berarti menanamkan akar beragama pada mereka. Kelak pengalaman beragama, yang telah mengakar ini, akan mampu memperbaiki karakter, kepribadian dan moral anak. Perlu untuk diperhatikan bahwa apabila latihan dan pengalaman beragama yang diterapkan  secara kaku, maka di waktu dewasa mereka akan cenderung menjadi kurang peduli pada agama. Pembentukan moral dan agama selain ditentukan oleh faktor didikan dan sentuhan orang tua juga ditentukan oleh faktor sekolah dan pengalaman bergaul mereka dalam sosial.

Memang bahwa pada mulanya sikap beragama anak pada mulanya dibentuk di rumah, namun kemudian disempurnakan di sekolah, terutama oleh guru-guru yang mereka sayangi atau yang mereka idolakan- maka guru yang diidolakan siswa hendaklah menjadi guru yang sholeh. Kemudian anak perlu juga untuk memiliki pengalaman bergaul dan melaksanakan aktifitas keagamaan, misal seperti di TPA (Taman Pendidikan Al-Quran), kegiatan menyantuni anak yatim dan fakir miskin, kegiatan didikan subuh. Dari pengalaman bersosial- begaul- sejak kecil, maka berkembanglah rasa kesadaran moral dan sosial anak. Kesadaran tersebut bisa lebih optimal pada masa remaja.

Dari uraian-uraian diatas dapat disimpulkan bahwa  tidak perlu ada miskonsepsi dalam mendidik anak, ayah dan dan ibu memiliki peran yang sama dalam pendidikan anak. Malah kaum bapak yang terlibat dalam mengurus anank dan rumah akan sangat dihormati oleh istri merka. Orang tua perlu menerapkan pola demokrasi di rumah dan memperlihatkan rasa akrab dalam keluarga agar anak merasa diterima. Untuk mendidik moral maka factor model atau suriteladan dari orang tua sangat menentukan, orang tua harus terlebih dahulu memiliki moral dan akhlak yang terpuji dan akhir kata bahwa anak perlu diberi tanggung jawab, perhatian, kasih sayang dan pengalaman beragama sejakm usia dini.

(catatan: 1. Kartini Kartono (1985). Bimbingan Dan Dasar-Dasar Pelaksanaan Bimbingan Praktis. Jakarta: CV. Rajawali. 2. Zakiah Daradjat (1976). Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang)

Baca juga artikel terkait :

Iklan

Responses

  1. اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُهُ

    Pak Marjohan, Tulisannya bagus sekali, dan bertambah kamek jika dibumbui dengan tulisan Bpk Daoed Joesoef.
    Judul tulisan KYOIKU MAMA bahasa Padangnya adalah Kito Ikuik Mama.

    Tulisan senada dari saya baik juga untuk dibaca.
    Mudah-mudahan Kerabat kerja e-newsletter ini senang hati pula dengan aneka bumbu analisis ini.

    SORGA DIBAWAH TELAPAK KAKI IBU(guru)

    Dalam Al Quran dapat kita temui perintah Allah untuk berbakti kepada kedua orang tua (birru – walidaini). Perintah untuk berbakti atau berbuat baik kepada kedua orang tua, termasuk kedalam urutan cinta kedua setelah cinta terhadap Allah dan RasulNya. Perintah ini sangat tegas dan tidak bisa ditawar. Karena perintah itu tegas dan hasilnya pun agung bagi yang melaksanakanya dengan baik. Sehingga dimunculkanlah ungkapan seperti judul tulisan ini oleh orang-alim yakni sorga terletak dibawah telapak kaki ibu.

    Tapi perlu juga diingat, ungakapan ini kurang pas dan diskriminatif. Walau kurang pas, namun nilainya tidak berubah. Alasan yang dapat dikemukan disini adalah yang berjasa menjalankan tanggung jawab terhadap anak bukan ibu saja, jasa ayah pun tidak kalah pentingnya dan sangat agung. Walaupun demikian kita harus berlapang dada menerimanya. Kemudian tidak ada salahnya kita beri makna ganda, yakni disamping dibawah telapak kaki ibu juga berada dibawah telapak kaki ayah.

    Dalam hal ini terbuka peluang bagi siapa saja yang mau menggunakan ungkapan lain yang mana dalam ungkapan itu secara ekplisit terdapat jasa keduanya yakni ayah dan ibu. Walau ada hadis rasullullah yang membedakan antara jasa ayah dan ibu, namun ketegasan perintah Allah melebihi sabda rasul.

    Kalimat yang dijadikan judul tersebut cukup komunikatif. Bila ada orang yang mengucapkanya kita akan mudah menangkap maknanya dan tujuanya. Kalimat tersebut juga sangat reflektif. Bila diucapkan orang fikiran dan persaan kita lansung tertuju kepada keagungan jasa baik seorang ibu pada anaknya.

    Ungkapan tersebut mengandung dua sisi kewajiban, sisi pertama terletak di pihak dua orang tua dan sisi lainya di pihak anak.

    Secara sederhana dalam tulisan ini dapat dijelaskan kewajiban orang tua kepada anak. Diantaranya adalah orang tua wajib memenuhi hak-hak (kebutuhan) anaknya, seperti kebutuhan makan, minum, kebutuhan akan pakainan, kebutuahan akan perlindungan, kebutuhan akan kesehatan. Salah satu kebutuhan yang lain dan sangat penting adalah kebutuhan akan pendidikan. Setiap orang tua diwajibkan oleh Allah untuk mendidik anak, minimal samapai anak balig berakal.

    Melalui upaya pendidikan yang dilaksanakan oleh orang tua terhadap anaknya, kesadaran anak untuk berbuat kebaikan, meninggalkan yang tidak baik, berlaku sopan dan santun terhadap sesama dapat ditumbuh dan dikembangkan. Dengan pendidikan anak dapat mengetahui sesuatu dan mampu pula untuk membuat sesuatu.

    Pada giliranya di suatu saat, anak dengan berbekal pengetahuan dan keterampilan serta budi pekerti yang baik akan dapat melaksanakan kewajiban-kewajibanya dalam kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat. Lebih khusus lagi adalah kwajibanya untuk berbakti kepada dua orang tuanya.

    Perlu kita sadari arti penting dua sisi kewajiban ini, yang pertama kewjiban orang tua pada anaknya disaat masih kecil. Bayangkan dan juga perhatikanlah disaat kita masih bayi betapa pentingnya funsi kasih dan sayang orang tua. Dalam hal ini kita bisa bersepakat bahwa nilai tak terhingga untuk jasa kedua orang tua kepada kita. Dan makna itulah yang terkandung dalam kalimat kama rabbayani saghira.

    Kewajiban kedua dari pihak anak, dalam mengabdi pada dua orang tua adalah yang sangat utama disaat kedua orang tua telah berusia lanjut. Dalam kontek ini sanagat dibutuhkan kesadaran anak tingkat tinggi. Jasa-jasa baik yang telah pernah kita peroleh diwaktu kecil dari pihak orang tua, kita harus pula mampu memberikan balikanya kepada orang tua kita setelah mereka berusia lanjut.

    Kita bisa membayangkan pentingnya pengasuhan yang prima orang tua pada bayi atau balitanya, tentu demikian pula halnya pentingnya pengasuhan yang prima seorang anak terhadap orang tuanya, lebih lagi kalau orang tuanya sudah tua renta.

    Disini perlu diingat, kalau ada anak yang tidak mau berbuat baik kepada kedua orang tuanya, itulah yang sangat tidak adil, istilahnya menurut Al-Quran adalah zalim, dan pantas dia mendapat azab yang pedih.

    Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa ada dua bentuk sorga yang kita peroleh dari orang tua. Pertama sorga (dalam pengertian kebahagian) hidup didunia ini. Kehidupan ini bisa kita jalani dengan baik berkat pendidikan dasar yang telah diberikan orang tua kepada kita, disamping pemenuhan kebutuhan lainya. Kedua sorga yang akan kita peroleh kelak diakhirat sebagai ganjaran terhadap pengabdian yang telah kita laksanakan dengan baik kepada dua orang tua.

    Itulah salah satu tafsir yang terkandung dalam ungkapan sorga dibawah telapak kaki ibu.

    Terkhir yang menjadi persoalan dalam tulisan ini adalah judul kecil dari tulisan ini, yakni sorga terletak dibawah telapak kaki ibu guru.

    Sebagaimana yang dapat kita ketahui bersama, bahwa kemampuan orang tua mendidik kita sangat terbatas. Terbatasnya kemempuan orang tua kita tidak pula bisa kita menghitung dan mengukurnya satu persatu. Yang jelas sekali adalah terbatasnya penguasaan ilmu, terbatas jenis keterampilan dan erat kaitanya dengan terbatasnya waktu untuk pembelajaran.

    Tidak dapat kita pungkiri bahwa untuk menanggulangi kekurangan-kekurangan yang ada pada orang tua kita adalah dengan jalan kita harus belajar dan dididik oleh orang lain (guru). Kita harus banyak belajar dengan banyak guru. Ada guru disekolah dan ada pula guru diluar sekolah atau dalam masyarakat. Semua ilmu yang diajarkan oleh ibu dan bapak guru kepada kita sangat penting untuk mengenali dunia dan isinya. Semua keterampilan yang diajarkan oleh guru kepada kita sangat berguna bagi kita untuk dapat mengerjakan sesuatu agar bisa memperoleh ssesuatu yang kita butuhkan dalam kehidupan ini.

    Dengan bermodalkan pengetahuan dan keterampilan inilah kita menjalankan tugas-tugas dan fungsi-fungsi dalam masyarakat. Dengan ilmu dan ketrampilan yang diperoleh dari guru disekolah kita bisa menjadi petani yang baik, pedagang yang sukses dan menjadi pemimpin dalam masyarakat. Disisi lain akibat dari semuanya itu kita dapat hidup menikmati berbagai fasilitas, baik di daerah kita maupun didaerah orang lain. Semuanya itu berkat jasa guru yang tidak terhingga.

    Perlu bahkan sangat penting kita sadari bahwa berkat ilmu yang di peroleh dari guru kita bisa tahu mana yang amal shaleh dan mana yang tidak. Bermodalkan kesadaran tersebut kita bisa menjadi orang bertaqwa. Kepada orang bertaqwa nanti di akhirat diberi ganjaran dengan sorga.

    Jadi dengan belajar kepada guru itulah jalan kesorga. Dengan kata lain dapat dipahami bahwa bukan hanya dibawah telapak kaki ibu (orang tua) saja adanya soraga tetapi juga sorga terletak dibawah telapak kaki ibu guru………setuju ?????

    Demikian uraian singkat ini semoga menggugah hati kita semua untuk selalu menghormati ibu dan guru. Wassalam

    LUBUK BUAYA, September 09


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: