Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | September 30, 2009

Suasana Pendidikan Di Rumah Yang Hiruk Pikuk

Suasana Pendidikan Di Rumah Yang Hiruk Pikuk

Oleh: Marjohan M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Program Parenting

Marjohan M.Pd. Guru SMAN 3 Batusangkar.

Marjohan M.Pd. Guru SMAN 3 Batusangkar.

Parenting adalah program yang dilaksanakan oleh lembaga sosial untuk mempersiapkan para pemuda dan pemudi untuk menjadi orang tua. Pesertanya adalah orang-orang yang berusia muda yang ikhlas mempersiapkan diri untuk menjadi orang tua karena sudah punya niat/ rencana untuk menikah dan mendirikan rumah tangga yang bahagia. Kelak bila mereka melangsungkan pernikahan dan memilki anak-anak, diharapkan bisa membina rumah tangga yang bahagia.

Di negara-negara maju  banyak organisasi sosial yang menyelenggarakan program parenting dan banyak calon-calon orang tua yang berpatisipasi dalamnya, sehingga mereka bisa menjadi orang tua yang bertanggung jawab dan berkualitas. Namun di negara-negara yang Sumber Daya Manusia (SDM) belum begitu membanggakan, dan termasuk negara Indonesia, maka program parenting belum begitu popular. Kecuali program parenting swakarsa yang dilakukan oleh segelintir orang lewat otodidak atau belajar sendiri dengan membaca buku, majalah, kliping artikel dan mengikuti seminar. Untunglah ada program screening diberikan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) yang wajib diikuti oleh sepasang pengantin sebelum menyelenggarakan ritual akad nikah dan pesta perkawinan.

Kegiatan skrining (screening) yang diberikan oleh petugas nikah, wali hakim, dari Kantor Urusan Agama (KUA) dapat dipandang sebagai kegitan parenting dalam bentuk crash program (program cepat) menjadi orang tua yang mengerti tentang peran orang tua. Tapi apakah hasil screening bisa tahan lama terhadap pasangan pengantin ? Screening yang diberikan oleh petugas nikah dari kantor KUA hanya bersifat formalitas. Hanya calon orang tua yang mantap ilmu dan amalnya yang mampu mengamalkan pesan-pesan dari kegiatan screening tadi. Sementara itu bagi calon suami istri/ calon orang tua yang miskin ilmu agama, ilmu pendidikan dan miskin wawasan, kegiatan screening atau parenting ala kantor KUA cendrung bersifat “masuk telinga kiri –keluar telinga kanan” atau garbage in- garbage out. Kenapa demikian ? Ya cukup banyak mereka yang telah mengikuti screening dan pernikahan , punya anak setelah itu, mereka bingung apa yang akan diperbuat sebagai orang tua. Sehingga mereka membina rumah tangga dengan cara meraba-raba atau meniru prilaku generasi sebelumnya. Untung kalau yang ditiru itu sesuai dengan konsep ilmu pendidikan dan norma hidup- jauh dari unsur kekerasan dan kezaliman (bersikap sadis terhadap anggota keluarga dan gemar dengan kata-kata penuh carut marut).

Fenomena dalam masyarakat bahwa cukup banyak orang tua yang kurang mengerti dengan konsep parenting- bagaimana menjadi orang tua yang ideal bagi keluarga. Banyak orang tua yang mendidik dan membesarkan anak dengan “konsep coba-coba” atau trial and error, sehingga berpotensi melahirkan generasi penuh ragu-ragu dan mental yang mudah terombang ambing (plin-plan). Bila mendidik dan membina keluarga tanpa persiapan diri- tanpa memiliki ilmu pengetahuan, maka hasilnya adalah akan lahir generasi yang kurang mengenal potensi diri dan kurang  tahu/ gamang menghadapi masa depan.

Visi Keluarga Kontra Dengan Misi Keluarga

Visi (atau pandangan) dapat diartikan sebagai arah atau tujuan ke depan. Misi adalah strategi atau langkag-langkah untuk mewujudkan visi tadi. Kalau begitu, visi keluarga dapat diartikan sebagai tujuan yang hendak dicapai oleh ayah dan ibu dalam membina rumah tangga mereka. Ayah dan ibu perlu bekerja sama untuk menerapkan strategi untuk menuju rumah tangga yang bahagia sebagai harapan atau visi orang tua secara umum.

Begitu seorang bayi lahir ke dunia, maka saat itu eksistensi  sebuah keluarga terasa makin utuh. Visi keluarga yang terselib dalam hati atau yang terucap dalam lisan sungguh sangat mulia dan sempurna; “kami ingin rumah tangga ini menjadi rumah tangga yang damai dan harmonis”.  Yang lain ingin memiliki anak yang yang sehat, cerdas dan sholeh. Dalam koridor agama Islam, semua pemeluk Islam ingin memiliki rumah tangga yang bahagia di dunia dan bahagia di akhirat, atau memiliki keluarga yang “mawadah wa rahmah”, keluarga bahagia dan penuh dengan rahmat.

Seperti yang telah dijelaskan tadi bahwa untuk mendapatkan rumah tangga yang bahagia dan penuh rahmat, maka diperlukan usaha dengan langkah-langkah kongkrit untuk mencapai misi keluarga. Ada beberapa fokus yang perlu jadi prioritas dalam menciptakan suatu keluarga yang bahagia dan rahmah yaitu memperoleh pendidikan yang berkualitas, kesehatan yang berkualitas, pergaulan dan bentuk aktifitas keluarga yang juga berkualitas. Namun, sekali lagi, sebahagian rumah tangga cendrung tanpa konsep, salah konsep atau meraba-raba dalam bertindak- in action.

Pendidikan keluarga merupakan unsur pertama yang perlu untuk diperhatikan setiap keluarga. Ada beberapa versi orang tua dalam mendidik anak. Ada orang tua yang tidak mengenal tentang cara mendidik. Yang mereka lakukan cuma meniru apa-apa yang diperbuat oleh generasi sebelumnya. Ada yang cuma menyerahkan urusan pendidikan pada instansi sekolah, surau/ mesjid atau lembaga sosial lainnya. Ada pula yang cukup peduli dalam mendidik anak, tapi cuma sampai pendidikan anak di PAUD (pendidikan anak usia dini), TK dan di SD kelas satu atau kelas dua. Selanjutnya mereka tidak mau tahu lagi atau berhenti mengikuti perkembangan pendidikan anak dari kelas tiga SD, terus ke tingkat SLTP,dan SLTA apalagi untuk tingkat perguruan tinggi.

Pintarnya orang tua stelah itu hanya sebatas meyuruh, melarang dan berteriak-teriak “belajar lah naaaak…, jangan main-main… buat PR….jangan merokok…baca buku….!!!”. Selanjutnya dorongan orang tua cuma sebatas berharap “usahakan juara satu… usahakan nilai mu seratus….!!”. Harapan orang tua ini tidak salah namun kalau orng tua ikut berbangga bahwa anak jadi juara lewat usaha yang penuh kepalsuan, juara lewat contekan atau juara kelas karena (factor) berkenalan dengan guru di sekolah anak. Maka tumbuhlah anak jadi generasi cerdas yang penuh bohong. Dalam mendidik yang perlu diperhatikan oleh orang tua adalah bagaimana agar anak selalu aktif dalam proses belajar dengan penuh kesadaran dan kemandirian, walaupun mereka tidak begitu juara di kelas, namun juara bukan karena rekayasa.

Kesehatan keluarga merupakan prasyarat yang lain untuk mendapatkan keluarga bahagia. Masalahnya sekarang bahwa banyak keluarga yang gemar memupuk gizi anak dengan makanan dan minuman yang bersifat cepat saji (fast food and fast drink), makanan yang yang kaya dengan kandungan kolesterol, zat-zat additive, zat-zat pewarna dan zat-zat kimia yang berpotensi untuk mempersingkat umur dan penyakit degeratif (proses merosotnya kesehatan) lainnya  dan bahan bahan penyedap lainnya.

Mengkonsumsi makanan dan minuman yang tidak sehat yang dibungkus dengan kemasan dan label, tampaknya sudah menjadi gaya masyarakat kita. Rasanya tidak gaul dan tidak moderen kalau berpergian membawa “pisang goreng, godok ubi, kue lapis, onde-onde, kue lopi dan penganan lain yang lebih alami”. Makanan dan minuman yang dibawa bila naik mobil dan kendaraan lain adalah makanan dan minuman yang dibungkus kemasan plastic, berlabel, kaya dengan zat. Begitu selesai dikonsumsi maka dengan seenak isi perut dilemparkan saja ke jalan raya.

Ada jutaan orang yang melemparkan bungkus makanan dan minuman setiap saat sepanjang hari. Coba lihat jalan-jalan raya di kota dan di propinsi kita, kotornya sudah luar biasa. Pemuka masyarakat, pemuka agama, tokoh intelektual dan sampai kepada professor sudah terbaisa melihat pemandangan yang demikian. Kenapa sampai saat ini belum ada seruan agar “pemilik mobil melengkapi mobil dengan tong sampah “ atau “yang membuang sampah lewat jendela mobil akan kena denda”. Ini mungkin lebih efektif dalam menjaga kebersihan jalan raya. Atau kurangi saja kuota  penerimaan CPNS andai kelak mereka Cuma cenderung menjadi PNS yang senang makan gaji buta, dialihkan saja  untuk merekrut pasukan kuning (petugas kebersihan) untuk kebersihan jalan raya di luar kota.

Sangat mengkhawatirkan dan memalukan karena volume sampah bungkus makanan dan minuman  di sepanjang jalan jalan propinsi hingga jalan kecamatan, sudah berlipat ganda. Sementara untuk memungut sampah tersebut entah siapa yang bertanggung jawab. Kepala pemerintah, tokoh spiritual dan intelektual entah peduli dengan fenomena jelek ini entah tidak. Apakah ada kecendrungan Indonesia menjadi republik penuh sampah ?. Undang-undang tentang kebersihan lingkungan perlu untuk melibatkan pemilik kendaran agar peduli terhadap kebersihan jalan raya dan ikut memberikan sanksi atas kejahatan, mengotori lingkungan ini.

Tentang kebutuhan hiburan keluarga, banyak orang tua yang berfikir bahwa melengkapi rumah dengan sarana hiburan sebagai usaha membuat warga rumah menjadi bahagia dan terhibur. Banyak ayah dan ibu menjanjikan fasilitas hiburan sebagai rewad. “Kalau kamu juara kelas, papa belikan play station…. Kalau kamu jago dalam ujian mama belikan HP kamera….. kalau kamu suka membuat PR nanti om belikan TV 24 inch”. Reward seperti ini tidak salah bila bisa effektif untuk menggenjot minat dan motivasi belajar anak.

Fenomena Rumah Tangga

Fenomena di lapangan bahwa banyak orangtua sangat peduli membeli produk elektronik buat sarana hiburan keluarga  meskipun harganya demikian mahal seperti TV berwarna ukuran jumbo, VCD player, antene parabola, loud speaker dengan beat keras, play station, sampai kepada sarana hiburan berukuran kecil seperti HP kamera, TV portable, MP3, dan jenis jenis digital elektronik yang lain. Yang jadi masalah atas fasilitas hiburan ini adalah apakah orang tua dan anak tahu atau tidak tentang aturan menggunakan alat-alat hiburan ini.

Sekarang yang terpantau pada banyak rumah adalah bahwa semua fasilitas hiburan ini hidup sepanjang waktu sehingga membuat suasana rumah jadi hiruk pikuk. Sering gangguan suara dan tayangan hiburan mengganggu acara kebersamaan keluarga. Kini dipertanyakan bahwa apakah masih ada acara kebersamaan yang cukup menyentuh  untuk makan bersama, dan shalat berjamaah. Yang ada cuma duduk bersama sambil menonton presenter, artis, iklan dan konten hiburan yang banyak mengandung hura-hura, kekerasan, percekcokan dan miskin nilai sopan santun/ nilai moral.

Sekali lagi, bahwa banyak rumah tangga sekarang gara-gara diisi oleh berbagai fasilitas hiburan telah menjadi hiruk pikuk. Hiruk pikuk oleh suara presenter dan iklan  dari stasiun TV, dentuman musik dari speaker pada belahan rumah yang lain. Anak-anak ABG (Anak Baru Gede= remaja) yang sengaja menyisipkan headset loudspeaker MP3 telah membuat lobang telinga mereka juga menjadi hingar bingar, ini berpotensi membuat mereka tidak kenal lagi bagaimana cara berbicara dan berbahasa yang santun dan lemah lembut pada orang lain. Beginilah orang tua sekarang yang membesarkan dan mendidik anak-anak mereka dengan penuh kegaduhan dan suara yang hiruk pikuk.

Ada suatu keluarga yang tiba-tiba memperoleh tambahan bayi baru dan membesarkannya dalam rumah yang penuh suara fasilitas hiburan yang tak terkontrol. Sang bayi menangis dan resah sepanjang waktu sehingga membuat orang tua sangat cemas. Dokter mengatakan bahwa si bayi cukup sehat dan yang membuat bayi resah dan rewel adalah karena sejak kelahirannya “telinganya yang sensitif terganggu oleh kondisi suara yang penuh dengan suasana yang hiruk pikuk tersebut”. Suasana menjadi semakin parah manakala setiap anggota keluarga berbicara dengan volume suara keras untuk mengalahkan suara elektronik dan akhirnya berbicara dengan suara lembut dan santun sudah menjadi sesuatu yang mahal.

Suasana pendidikan di rumah dengan suasana yang hiruk pikuk agaknya dapat ditemukan pada puluhan, ratusan, ribuan dan malah jutaaan rumah tangga di Indonesia. Bila orang tua dan masyarakat kita masih ingin memiliki anak anak yang shaleh, santun dan cerdas, kemudia memperoleh rumah tangga yang bahagia dan penuh rahmah maka mereka perlu untuk menata diri dan rumah tangga. “Benahilah  cara mendidik keluarga, benahi cara mengkonsumsi fasilitas hiburan agar tidak mengganggu proses pendidikan, pertumbuhan dan perkembangan keluarga”. Seperti kata ungkapan “better late than never”, biarlah terlambat dari pada tidak pernah melakukan penataan pada pendidikan keluarga sama sekali.

Iklan

Responses

  1. اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُهُ

    Pak Marjohan. Progam Parenting sebagaimana yang dimaksud dalam tulusan di atas tidaklah termasuk program pendidikan yang asing bagi masyarakat Minang Kabau.
    Dari tempo dulu diseluruh pedesaan selalu diajarkan kepada para remaja atau ABG ilmu tentang bermasyarakat, lebih khusus lagi tentang berkeluarga. Ilmu yang diajarkan itu orang kampung saya sering menyebutnya dengan pekah (fiqh dalm bahasa arabnya), tempatnya di surau atau di rumah guru mangaji. Hanya saja orang kampung kita banyak yang tidak tahu Bahasa Inggeris maka istilah Parenting tidak dipakai.
    Hanya saja dewasa ini mungkin banyak desa atau nagari yang telah meninggalkaan pengajian tersebut, anak muda sekarang hanya memadai pelajaran agama di sekolah saja. Sehingga wajar saja generasi muda sekarang tidak paham seluk beluk berumah tangga atau bermasyrakat yang berdasarkan adat atau Islam.
    Generasi muda sekarang membangun rumah tangga kebanyakan hanya berdasarkan saling pengertian.
    Konsep saling pengertian dasarnya tidak jelas, paling-paling istilah sosiologisnya adalah konsensus. Kalau dalam Islam tidak demikian. Rumah tangga harus didasarkan pada ketentuan yang jelas, yakni tentang hak dan kewajiban masing masing pihak. Demikian juga bermasyarakat dan berorganisasi.
    Melalui media ini penulis berharap kepada semua pihak yang terlibat dalam pendidikan khususnya para guru cobalah lebih banya belajar atau mempelajari metologi dan materi pendidikan yang pernah berkembang dengan baik dalam masyarakat kita. Kenapa kita terlalu sering bercermin kenegara lain.
    Perlu disadari negara-negara maju tempat kita bercermin sudah jelas mereka Non Muslim ?
    Jangan salah menafsirkan belajar ke negeri Cina.
    Belajar kenegeri cina maksudnya adalah belajar teknologi, tidak tentang perilaku dan keyakinan.
    Demkian saja untuk sementara, mudah-mudahan kita semua mendapat Taufik dan hidayah.
    Wassalam.

    Lubuk Buaya, 4 oktober 09

  2. pak jalius
    respon dan komentar pak jalius semakin memperkaya tulisan sebelumnya.

    dalam keadaan gempa kok masih bisa menulis
    moga moga pak jalius dan keluarga sehat selalu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: