Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Oktober 9, 2009

Gempa Membuat Padang Jadi Kota Mati

Gempa Membuat Padang Jadi Kota Mati

Oleh:  Marjohan M. Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Aku sedang berada di rumah bersama keluarga di Batusangkar. Tiba-tiba pada tanggal 30 September 2009, hari Rabu jam 17,16 sore, gempa bumi besar mengguncang rumahku dan semua orang berlompatan ke luar rumah, mengendong anak-anak mereka dan menangis ketakutan. Para tetangga berkumpul untuk berbicara dan menenangkan diri satu  sama lain, serta berbagi pengalaman bagaimana menghadapi masa-masa sulit. Ada yang mengatakan bahwa emosi yang tidak terkendali saat gempa dapat membuat kita lupa diri, membiarkan kompor menyala, atau menabrak materi berat hingga luka-luka.

Semua orang menunjukan rasa ingin tahu tentang dampak dari gempa bumi, aku mendengar radio dan gempa bumi sangat besar, goncangannya yaitu 7,6 skala Richter. Daerah yang rusak parah adalah Kota Padang dan Pariaman. Beberapa kantor dan hotel-hotel mewah di sana juga roboh. Begitu pula dengan rumah penduduk. Hal-hal lain yang terjadi adalah  bahwa beberapa orang siswa yang sedang belajar terjebak di lantai tiga dari gedung yang runtuh, Saat itu juga ada beberapa orang-orang, yang sedang mengikuti konferensi, terperangkap di bawah runtuhan dari Hotel Ambacang. Tiba-tiba aku ingat dengan kampungku di Lubuk Alung-Pariaman, dan bertanya sendirian tentang bagaimana keadaan ibuku, adikku, keluarga dan kerabat lainnya.

Aku menghubungi setiap orang dan juga orang lain yang aku kenal.. Namun tidak ada jawaban sama sekali. Gempa yang datang dengan tiba-tiba terebut telah mengganggu jaringan telepon. Namun beberapa menit kemudian datang satu layanan pesan singkat SMS dari adikku, katanya “rumah kita sudah benar-benar rusak di kampung“, dan kemudian aku tidak bisa menghubungi setiap orang dan teman-teman yang lain lagi.

Adik laki-laki ku dari Payakumbuh bergegas menuju Lubuk Alung. Aku tidak tahu bagaimana ia bisa mencapai kampung. Semua jalan raya di kaki bukit-bukit dan lereng menuju Padang dan Pariaman telah tertimbun oleh tanah longsor. Batu-batu besar dan pohon- pohon yang tumbang berserakan di mana-mana. Adik aku mengatakan bahwa dia pulang ke kampung di Lubuk Alung pagi-pagi sekali dengan mobil sewa (travel) melalui Danau Singkarak, Solok dan Padang.

Setelah sampai di Padang, dia berjalan kaki dengan ransel berat di punggung menuju kampung. Siang itu ia mengumpulkan semangat sebagai energi dan berjalan di bawah teriknya cahaya matahari dan tubuhnya sangat berkeringat. Sekali sekali ia coba untuk menstop taksi, namun semua pengemudi taksi atau mobil umum menolak. Alasannya adalah karena bahan bakar telah menjadi langka dan sulit untuk diperoleh.

Kota Padang penuh dengan ambulans yang sirinenya meraung raung. Ambulans tersebut sibuk mengantarkan mayat dan korban yang terluka karena terperangkap di bawah reruntuhan bangunan-kantor, hotel dan supermarket. Demkian pula dengan kendaraan regu penyelamat yang melaju agak cepat

Padang telah menjadi kota yang benar-benar lumpuh, atau Kota Mati. Listrik dan air sudah menjadi langka. Media massa menginformasikan  bahwa supermarket terbesar di Sumatra Barat,  di mana warga yang berusia muda biasa mengunjunginya- Super market itu adalah Plaza Andalas. Orang menyebutnya denga “P-A” atau Plaza Andalas. juga ambruk. Sejumlah besar pengunjungnya- kemungkinan mahasiswa dan remaja sebagai pengunjung setia, terperangkap di dalamnya. Universitas terbesar di provinsi Sumatera Barat- yaitu Universitas Andalas dan Universitas Negeri Padang juga mengalami kerusakan.

Banyak sekolah dan kampus yang juga mengalami rusak berat. Oleh karena itu semua mahasiswa diperintahkan untuk pulang kampung atau diliburkan. Mereka bergerak menuju Bengkulu, Jambi, Pekanbaru, Medan dan beberapa kota di Sumatera dan Sumatera Barat. Mereka menggunakan bus umum atau sepeda motor. Sekali lagi, kota terasa sebagai arena balapan liar atau wild road race. Ratusan ribu orang melakukan eksodus ke luar kota Padang dan puluhan ribu orang yang khawatir akan kehilangan anak-anak dan keluarga mereka juga bergegas menuju kota ini untuk melakukan verifikasi. Mereka bergerak di jalan yang padat dengan arah yang berlawanan.

Mereka lewat di jalan-jalan yang sempit dan semuanya terjebak longsor untuk waktu yang sangat lama. Lalu lintas di daerah Lembah Anai telah menjadi macet total selama beberapa jam dan cukup panjang,  sampai 90 km di jalan Padang dan Bukittinggi. Penumpang dan pengguna jalan benar-benar panik. Ya, memang benar bahwa lalu lintas benar-benar sulit.

Radio lokal di Batusangkar kemudian memberitahukan bahwa jalan menuju Padang sudah dapat diakses. Aku segera buru-buru karena keinginan untuk melihat rumah dan sanak saudara di kampung halaman. Pada saat yang sama dalam keluarga ku juga ada sebuah acara, yaitu adik aku ingin melaksanakan pesta pernikahannya di salah satu gedung atau aula di Padang. Rencana pesta pernikahan dan perkawinan terpaksa ditunda atau dibatalkan karena bencana alam, sebagai bencana nasional, dan gedung tersebut telah berubah sebagai tempat menampung korban dan mayat. Aku tidak tahu apakah adikku bisa melakukan pesta pernikahannya di tempat lain walau dengan cara yang sederhana atau tidak ?.

Kuambil beberapa pakaian santai dan aku bergegas menuju Padang dengan bus umum. Bus melaju dengan normal dan aku duduk di bangku belakang. Tidak banyak bus yang berani untuk beroperasi hari itu. Mereka bergerak dan penumpang-dengan mood penuh dengan rasa khawatir atas keselamatan keluarga mereka di Padang juga ikut berdesak desak dalam keramaian. Memasuki jalan Silaing-daerah di dekat Lembah Anai Padang Panjang, kemacetan lalu lintas benar-benar makin jelek. Bus, mobil, truk dan sepeda motor semakin banyak datang, semua mengeluarkan asap dan bunyi klakson, serta tangisan suara anak anak yang sangat stresss. Tentu saja orangtua mereka semakin panik untuk menenangkan anak mereka.

Tim penyelamat pun lewat dan berusaha untuk menembus jalan tebing yang sudah terlalu macet tersebut. Aku mencoba menatap di kejauhan beberapa mesin besar membersihkan jalan dari materi alam, pasir dan batu-batu besar, serta pepohonan yang tumbang. Ternyata aku juga sedang stress. Aku tidak suka berbicara dengan para penumpang yang duduk disamping ku, dalam bus itu.

Lagi lagi aku memandang keluar jendela mobil,dan  menatap aliran anak sungai, hutan hijau dan lautan manusia. Aku berusaha melupakan frustrasi. Setelah terjebak dalam kemacetan lalu lintas selama enam jam,akhirnya bus yang aku tumpangi sampai di ujung jalan yang berlumpur di Kecamatan Sicincin, daerah Pariaman. Di sana aku bisa menjadi santai atau rileks lagi karena bus dapat bergerak dengan normal.

Dari desa atau kecamatan Sicincin aku mulai melihat dampak dari gempa bumi yang dahsyat ini. Aku melihat banyak jalan rusak dengan aspal retak, dan rumah yang dinding dan atapnya benar-benar runtuh. Banyak orang dengan pandangan kosong berdiri atau tinggal di tenda-tenda darurat yang mereka dirikan di depan atau di samping puing-puing rumah mereka. Aku terpana melihat ratusan atau ribuan bangunan yang rusak di sepanjang jalan dan tentu saja ada sepuluh ribu keluarga kehilangan tempat berteduh, mulai dari pinggir jalan sampai ke tempat-tempat terpencil atau di pedalaman. Diinformasikan bahwa di daerah pedalaman lebih dari 300 orang tertimbun secara masal dalam rumah mereka di desa atau kecamatan Pertamuan, Gunung Tigo di sisi Gunung Tandikek, tertimbun oleh runtuhan tanah gunung tersebut..

Sementara itu banyak rumah penduduk yang dibangun di atas garis pantai juga jadi luluh lantak. Lebih parah dari daerah lain, karena daerah mereka lebih dekat dengan pusat gempa (episentrum) yang berada di lepas pantai Sumatera Barat.
Apa yang ditakuti oleh orang Padang akhirnya benar-benar terjadi. Mereka takut akan gempa besar dan tsunami. Rasa takut mereka tumbuh pasca tsunami dan gempa hebat di Aceh pada akhir tahun 2004 dan beberapa gempa bumi yang terjadi di Sumatera dan Jawa. Diramalkan bahwa bencana alam hebat seperti tsunami juga terjadi di lepas pantai dekat Padang, atau dekat Mentawai, sehingga sejak itu banyak orang yang pindah ke dataran tinggi seperti di dekat Indarung, Padang. Mereka meninggalkan rumah sendiri yang berlokasi dekat pantai.

Pemerintah kota Padang merespon ketakutan dan prediksi ini. Pemerintah merancang jalur evakuasi bila gempa besar dan tsunami benar-benar terjadi. Namun tidak seorang pun tahu kapan persisnya bencana gempa hebat dan tsunami itu datang ? Akhirnya gempa bumi yang dahsyat terjadi di waktu sore dengan tiba-tiba. Bagaimanapun juga, gempa dahsyat tersebut yang terjadi di waktu siang atau sore masih ok. Bayangkan jika gempa bumi dengan 7,6 skala Richter itu terjadi pada malam hari. Maka pasti jutaan orang akan mati dan terjebak dalam gedung atau terkubur bersama rumah di lereng gunung atau lereng bukit.

Setelah hampir satu hari dalam mobil, biasanya bus membawa kami ke Lubuk Alung dari Batusangkar hanya dua jam saja, kecuali pada hari yang kelabu ini. Aku sampai di Lubuk Alung sudah agak senja. Aku dapat menyewa sepeda motor atau ojek. Umumnya tukang ojek terlihat bingung, begitu pula dengan penduduk local. Mereka tidak punya motivasi dan tidak memiliki kegiatan apapun. Beberapa orang hanya tinggal di dalam tenda-tenda darurat atau dalam rumah yang sudah roboh. Lagi, Aku juga membayangkan bagaimana ibuku “sudah mati atau masih hidup“. Aku berjalan dengan tubuh lesu menuju arah tempat ibuku tinggal.

Situasi saat itu sangat sepi. Aku melihat tidak ada aktivitas, kecuali satu atau dua anak-anak kecil sedang bermain sendiri. Aku menemukan rumah aku (rumah ibu) dengan dinding yang rusak dan atap yang sudah roboh. Aku meneleponnya dengan suara yang rendah “helo ibu ….,hello Ibu … ..!!“. Namun tidak ada jawaban. Aku hampir mendekati puing puing rumah dan aku mendengar ibu berusia sangat tua, sudah kesulitan berjalan dan berjalan dengan tongkat kayu.

Hai …. Kamu datang. Aku hampir mati. Aku tidak tahu bahwa itu adalah gempa. Untunglah ada seorang pemuda dengan tubuh kuat memasuki rumah ku yang sudah hancur”. Dia menemukan ibu ku terjebak antara dinding yang roboh dan loteng yang tumbang. Untunglah  rumah ku tidak terbuat dari bahan-bahan yang terlalu  berat. Pemuda tersebut menemukan ibu ku dan menggendongnya ke luar runtuhan rumah. Kemudia ia mendengar ada orang menangis “tolong…tolong….!!, kepala ku berdarah“, Teriak keponakan ku yang berusia remaja. Ketika terjadi gempa keponakanku berlari ke dapur, bukan ke luar rumah. Tiba tiba kayu penyangga atap patah dan jatuh menimpa sisi kepalanya, hingga terluka.

Malam terasa sangat panjang dan gelap dan kami hanya memiliki makanan yang sudah agak dingin. Kami tidak punya dapur lagi dan kompor untuk memasak, serta bahan bakar untuk menyalakan lampu minyak tanah malam itu. Kecuali ada dua potong lilin. Aku duduk di samping ibuku dan mendengarkan dia berbicara tanpa henti-ia. Tampaknya ia sangat  membutuhkan simpati dari ku dan kemudian aku berbagi simpati pula.

Terus terang aku sangat mencemaskan kesehatan ibu ku. Ia berjalan dengan badan membungkuk karena osteoporosis. Entah mengapa ibu betah di rumah sendirian, dan ditemani oleh cucu perempuan nya yang juga kurang cerdas. Pastilah mereka tidak mengkonsumsi makanan yang sehat. Aku berbagi makanan yang aku bawa dari Batusangkar. Malam itu aku tidur di atas tikar plastik yang kasar. Terus terang aku tidak bisa tidur. Nyamuk terbang sangat banyak di sisi ku dan di telinga ku. Apalagi aku tidak bisa menghubungi siapa-siapa melalui telepon selular ku-karena tidak ada batteray  dan tidak ada jangkauan sinyal telepon.

Aku teringat teman-temanku di Padang. Mereka ada yang bekerja sebagai pegawai pemerintah. Aku menghubungi mereka dan aku tidak tahu apakah mereka masih hidup atau sudah meninggal ? Lalu aku berjalan ke tempat kakak perempuan ku, ingin tahu apakah dia masih hidup atau sudah meninggal, sebab rumahnya hancur total. “Kami tidak punya rumah untuk tinggal lagi dan kami tinggal di pondok dengan atap daun enau” kata kakak ku. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, mereka (family dan kerabatku) tidak memerlukan nasihat atau khotbah. Yang mereka butuhkan adalah sepotong roti, segelas air, sepotong tablet untuk meringankan demamnya “.

Jika situasi ini tidak segera diatasi maka tentulah mereka akan dilanda penyakit dan masalah kesehatan lainnya. Tapi apa yang dapat aku lakukan adalah menunjukkan rasa simpati dan empati atau aku segera kembali keluar dari daerah gempa ini dan mengambil uangku, walau tabungan ku sendiri juga tidak terlalu banyak. Dorongan dan bantuan pihak luar tentu juga sangat berarti untuk membuat kami bisa bertahan hidup lagi. Inilah sepenggal kisah ku di antara ratusan ribu orang yang juga punya kisah gempa yang sama tetapi berbeda versinya.

Iklan

Responses

  1. ——-
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُ
    Pak Majohan, Kota Padang belum mati, hanya pingsan sejenak. Begitu mereka terjaga….. tingkah mereka seperti semula. tidak menjadi pelajaran.
    Di Panatai padang…… pemandanganya seperti itu juga apalagi di tempat lain.

    Wassalam

  2. ———
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُهُ
    Pak Marjohan, sebaiknya tulisan yang seperti di atas
    tidak menjadi garapan PM ,
    Tema seperti yang diatas cocok ontuk wartawan.
    Saya berharap yang bagus adalah, mengungkapkan permasalah atau kekeliruan dalam bidang pendidikan dan memberikan sosusi-solusi yang mungkin pas……Profesionalisi……..spesifikasi……..
    dan……aktualisasi…….agar cocok dengan misi dan visi e-newsletter disdik ini.
    Wassalam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: