Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Oktober 9, 2009

Langkah-Langkah Menjadi Penulis Dan Manfaatnya Dalam Pengembangan Diri

Langkah-Langkah Menjadi Penulis
Dan Manfaatnya Dalam Pengembangan Diri

Oleh: Marjohan M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar
marjohanusman@yahoo.com

Marjohan M. Pd Guru SMAN 3 Batusangkar

Marjohan M. Pd Guru SMAN 3 Batusangkar

Menulis adalah aktifitas yang sulit bagi sebagian orang. Banyak orang mengatakan bahwa menulis itu sungguh sulit. Ada yang mengatakan tidak punya waktu untuk menulis, kalau menulis mata menjadi berair. Ada pula yang senang berlindung berlindung dibalik alas an dan kata “tapi”. Saya ingin menulis tapi sibuk, saya ingin menulis tapi anak sering mengganggu, saya ingin …”tapi”, dan masih ada belasan alas an dibalik kata “tapi”.

Bagi saya sendiri pada mulanya juga beranggapan bahwa menulis itu juga sulit. Beruntung saya berlangganan majalah Kawanku saat belajar di SMP Negeri 1 Payakumbuh di tahun 1980an. Ada profil Leila Chudori Budiman (yang kemudian sering menulis dalam Koran Kompas) pada majalah tersebut dan bercerita bagaimana ia bisa menjadi penulis. Saat itu saya berfikir “wah enak sekali ya menjadi penulis, bisa menjadi orang ngetop, punya banyak teman dan mendapat bonus”.

Rasa ingin tahu saya tentang bagaimana menjadi penulis terobati saat saya berkenalan dengan berbagai buku biografi para penulis. Ada tetangga saya, Bapak Maran mantap Camat di kota Payakumbuh yang bisa bermain biola dan memiliki koleksi buku-buku. Maka saya sangat suka membaca biografi Ernest Hemingway, Zakiah Daradjat, Buya Hamka dan beberapa biografi penulis novel dan saya menjadi tahu bahwa untuk.

Saat saya remaja, tidak banyak godaan untuk tumbuh dan berkembang. Tidak banyak stasium televise dan program yang mengganggu kosentrasi belajar, kecuali hanya tayangan televise. Tidak ada HP kamera untuk diotak atik dan juga tidak ada VCD player untuk home theatre, apalagi computer, laptop dan internet seperti zaman sekarang. Oleh karena itu saya bisa berlatih banyak dan saya mempunyai lusinan buku diari yang penuh dengan coretan-coretan mimpi dan pengalaman.

Pulang sekolah saya terbiasa menulis. Saya merasa sebagai siswa yang paling jago dalam segala hal. Saya jago dalam bidang olah raga, jago matematik dan beberapa mata pelajaran lain, jago dengan bahasa Inggris dan semua teman kagum pada saya. Saya juga jatuh cinta dengan teman sekelas. Mimpi dan ilusi saya sebagai orang yang paling jago saya paparkan dalam buku tulis. Apabila selesai menulis, maka saya serahkan pada teman yang gemar membaca namun tidak bisa menulis. Kadang-kadang saya juga mengundang adik-adik dan anak tetangga untuk mendengar kisah kisa cinta yang saya tulis.

Bertambah umur tentu bertambah pula pengalaman hidup. Saat kuliah di UNP (saat itu IKIP Padang) saya bekerja paroh waktu sebagai pemandu wisata. Ada pengalaman suka duka selama menjadi guide; dibentak oleh bule-bule, karena mereka tidak memakai bahasa Inggris, atau memperoleh uang tip dari perusahaaan. Pengalaman tersebut juga saya tulis pada buku diari.

Membaca banyak buku, artikel dan fikiran-fikiran orang lain tentu bisa membuat tulisan lebih berkualitas. Tahun 1997, saya memutuskan untuk menjadi pembaca yang baik. Saya berlatih, membuat target untuk membaca 100 halaman setiap hari. Banyak membaca tentu akan membuat tulisan lebih menarik, saya bisa memaparkan banyak ilustrasi dan contoh-contoh dalam kehidupan.

Tahun 1990-an, saya menajdi guru di SMAN 1 Lintau. Saya tidak ingin menjadi guru kebanyakan yang aktifitasnya sangat monoton dan tidak bervariasi- pulang ke sekolah, masuk kelas dan mengajar dengan metode konvensional. Saya ingin menjadi guru dengan kepintaran berganda- guru, menguasai bidang studi, menguasai seni berkomunikasi, menguasai bahasa asing yang lain dan trampil dalam menulis. Untuk itu saya membaca banyak buku seputar paedagogy, psikologi, filsafat, biografi dan kisah kisah pencerahan dari orang lain. Akhirnya kemampuan dan energi menulis saya makin meningkat.

Setiap minggu saya mampu menulis satu atau dua artikel per-minggu. Saya memutuskan untuk mempublikasikanya pada Koran-koran di Sumbar. Saat itu ada tiga Koran yaitu Canang, Haluan dan Singgalang. Tahun 1992 tulisan saya pertama terbit di Koran Singgalang engan judul “Melacak pergaulan remaja dan tidak perlu frustasi bila gagal masuk perguruan tinggi”. Saya sangat bahagia dan energi menulis semakin bertambah, saya terus mengirim artikel ke Koran-koran. Bila dipublikasi saya tentu senang dan kalau ditolak saya berusaha untuk idak kecewa apalagi sampai menjadi frustasi. Frustasi tentu bisa membunuh kreatifitas menulis dan energi untuk melakukan aktifitas lain.

Di awal tahun 1990-an ada beberapa orang asing dari Perancis- Francoise Brouquisse, Anne Bedos dan Louis Deharveng. Mereka bertugas di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Jakarta dan melakukan penelitian tentang hutan tradisionil di Lintau. Orang- orang Perancis tersebut kemudian menjadi temn baik saya dan mereka dating ke Sumatra dan berkunjung ke Rumah saya. Mereka membatu saya dalam mempelajari bahas Perancis dan meminta saya menulis untuk dipublikasi dalam. Dengan demikian tulisan saya tentang parawisata juga dipublikasi pada journal mereka, speleologie,di kota Tarbes, Perancis.

Ternyata ada manfaat menulis dalam pengembangan karir saya sebagai guru. Tahun 1998 ada seleksi guru teladan (sekarang guru berprestasi). Porto folio penuh dengan klipping artikel-artikel dan tulisan saya dalam bentuk lain, seperti resensi buku. Kemampuan menguasai dua bahasa asing, Inggris dan Perancis, dan skor ujin tulis membuat saya bisa mewakili kecamatan Lintau Buo dan selanjutnya untuk tingkat Kabupaten Tanah Datar untuk seleksi guru TEladan. Di tingkat Provinsi, saya masuk nominasi dan akhirnya tahun 1998 saya tercatat sebagai guru teladan Sumatera Barat dalam usia tiga puluh tahun.

Tahun 2005, saya mutasi ke kota Batusangkar dan bertugas di sekolah baru pada sekolah “Pelayan Unggul” satu atap SMP-SMA unggul, yang mana kemudian berubah nama menjadi SMP Negeri 5 Batusangkar dan SMA Negeri 3 Batusangkar. Berdomisili di kota batusangkar membuat saya mudah bersentuhan dengan tekhnologi- computer dan internet. Saya terus menulis dan menyalurkan tulisan lewat internet, mengirim artikel ke berbagai Koran lewat e-mail. Kemudian saya juga membuat situs gratisan lewat blogspot. Sebetulnya ada beberapa bentuk blog gratisan lain seperti wordpress dan multiply. Namun saya suka fitur blogspot. . Situs saya bernama http://penulisbatusangkar.blogspot.com/

Tahun 2006, saya memperoleh beasiswa untuk mengikuti program pascasarjana di Universitas Negeri Padang. Kemampuan menulis membuat kuliah lancer dan saya bisa selesai pendidikan pada Pascasarjana. Kemampuan menulis membuat tesis saya bisa selesai lebih cepa, saya wisuda pada pertengahan tahun 2008.

Issue sertifikasi untuk guru professional pun bergulir dan segera menjadi realita. Bagi yang mampu memenuhi angka atau skor porto folio bisa lulus dan memperoleh sertifikasi sebagai guru professional. Saya mengetik ulang semua artikel yang pernah diterbitkan pada Koran-koran. Artikel yang telah diketik ulang saya kirim lagi ke Koran, tentu saja diedit lagi. Semuanya terbit lagi dan saya memperoleh honorarium lagi. Saya juga mempostingkan tulisan tadi dalam blogspot saya dan kumpulan artikel yang pernah dipublikasikan membuat saya bisa lulus sertifikasi lewat portofolio. Betul-betul dana sertifikasi yang telah saya terima membuat saya dan keluarga menjadi lebih sejahtera, bisa membeli laptop dan memperbaiki bangunan rumah.

Saya inginmenjadi penulis buku dan tidak harus menulis buku tebal dari awal sampai akhir sebanyak 250 halaman. Saya menseleksi beberapa tulisa yang sama temanya menjadi satu buku. Temanya tentang pendidikan dan saya beri judul: SCHOOL HEALING MENYEMBUHKAN PROBLEM PENDIDIKAN. Bulan Februari 2009 ini saya punya rencana untuk menyerahkan pada teman untuk diterbitkan di Provinsi Riau, namun lebih dahulu ada telepon dari Jogjakarta- penerbit Pustaka Insan Madani- ingin mencetak dan meberbit naskah buku atau tulisan saya. Saya menyetujui. Insyaallah, menurut pihak penerbit bahwa dalam bulan Agustus 2009 ini buku saya sudah siap cetak dan siap untuk diluncurkan untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Moga-moga bermanfaat oleh masyarakat.

Kemampuan menulis ternyata adalah sebuah keterampilan. Semua orang bisa menjadi penulis asal dia banyak berlatih dan menyenangi aktifitas menulis. Menulis bisa mendatangkan manfaat. Penulis bisa berbagi ide dan opini dengan pembaca, bisa memperoleh honor dan sangat membantu bagi guru untuk memperoleh skor portofolio untuk sertifikasi guru. Penulis artikel bisa mengembangkan diri menjadi penulis buku dan memperoleh royalty pada akhir tahun.

Iklan

Responses

  1. selamat. sebuah motivasi yang sungguh luar biasa. Kita memang selalu dihantui oleh negatif tihinking setiap kali hendak melakukan kegiatan tulis menulis. Ketakutan seringkali menjadi momok penghancur semangat menulis…. selamat.. semoga tulisan-tulisan kita bermanfaat bagi semua….

  2. ——–
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَرَ كَ

    Tulisan ini sangat bagus, cocok sekali dengan dunia pendidikan, untuk pendidik dan anak didik.
    Applaus dari Lubuk Buaya.
    Tapi……..jangan sapai menjadi rooster

    Wassalam

  3. Bravo Mr.Jo

  4. terimkasih:
    bpk mohammad saroni
    bpk Jalius
    bpk Alfahri..

  5. Menulis bukan berbicara, tapi adalah berbuat. Jo telah berbuat. Salut for u. Tq

  6. Hebat! Begitulah seharusnya. Tapi memang banyak alasan dan hanya itu-itu juga.

  7. اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُهُ

    TERTIB BAHASA DAN LOGIKA
    Pak Marjohan, tulisan tentang kiat-kiat menjadi penulis tersebut diatas secara teori tidak salah sudah bagus. Hanya saja dalam prakteknya belum pas apa yang BM lakukan.. Barang kali untuk kita semua khususnya para pendidik atau guru dan juga boleh siswa yang berbakat menulis baik juga kita analisa kutipan tulisan BM tentang “Mengoptimalkan potensi otak…..”
    ……….”Guru dan siswa, demikian pula orang tua dan anak, perlu tahu bahwa pertumbuhan kecerdasan otak akan lebih optimal bila tahu cara mengelolanya. Pengelolaan atau manajemen intelektual yang perlu untuk dilakukan adalah seperti :
    1). Jangan suka menunda waktu, lakukan sekarang juga. Seperti ungkapan yang mengatakan bahwa “don’t wait till tomorrow, do what you can do”, jangan tunggu sampai besok, kerjakan apa yang dapat dikerjakan hari ini.
    2). Bersikap rileks, hindari stress, dan lakukan cukup istirahat tapi jangan terlalu banyak istirahat atau kurang istirahat.
    3). Kita perlu mengembangkan keterampilan mengamati atau observational skill.
    4). Biasakan melakukan kegiatan menulis dan mencatat.
    5). Banyak minum air putih, mengkonsumsi buah segar dan sayur dan melakukan olah raga. Kegiatan ini demi untuk mensuplai oksigen (O2) dan kelancaran sirkulasi darah dalam tubuh.
    6). Kita juga harus sering mencari perubahan suasana, seperti pergi ke tempat baru, menambah teman baru, mencari hobi positif yang baru, membaca hal-hal yang baru, dan lain-lain.
    Potensi otak juga bisa meningkat melalui cara kita belajar. Kita dan anak harus mengenal cara-cara belajar yang tepat. Beberapa strategi agar sukses dalam belajar adalah sebagai berikut:
    1) Belajar secara rileks
    2) Cukup tidur
    3) Banyak minum air, agar darah dan otak kaya dengan oksigen.
    4) Cukup olah raga, agar darah lancer beredar.
    5) Menjaga kosentrasi dan meningkatkan pengamatan
    6) Belajar dan selang selingi dengan istirahat, ibarat berlari sejauh 15 km tentu musti ada lari, istirahat dan lari. Istirahat diperlukan untuk mengembalikan stamina tubuh.
    7) Gunakan catatan dan tempelan-tempelan pada dinding
    8) Belajarlah di ruangan yang nyaman dan segar ”…………….
    Sekarang mari kita lihat, setelah kita membaca kutipan diatas, kita belum melihat faktor-faktor utama yang termasuk kedalam majemen intelektual. Sementara itu pengertian manajemen intelektual belum ada penjelasannya.
    Pengertian yang dapat diberikan kepada “manajemen intelektual “ adalah pengelolaan atau manajemen yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kecerdasan dan berfikiran jernih berdasarkan pengetahuan. Atau dengan kata lain pengelolaan yang dilakukan oleh para profesional.
    Kalau pengertian ini yang dipakai tidak pas untuk maksud dari tulisan ini dan tidak cocok dengan uraian yang 6 poin diatas. Karena Pengeloloaan Intelektual hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tamatan perguruan tinggi. Para siswa tidak akan mampu untuk itu.
    Kalau mau membaca dengan teliti 6 poin diatas, maka ke 6 poin tersebut itu sama saja dengan 8 poin berikutnya, yakni masih tentang sikap untuk belajar. Dalam system berfikir khususnya dalam mengelompok-ngelompokan suatu uraian, hal-hal yang sama sifatnya kelompokan saja dalam satu kelompok. Kalau dibuat kelompok yang lain., ketentuannya harus anggota kelompok tersebut berbeda sama sekali. Begitu kata orang pandai-pandai.
    Pilihan kata dan istilah juga sangat penting, Misalnya dalam kutipan diatas ada BM tulis “…..pertumbuhan kecerdasan otak….”. Dalam kutipan itu kata pertumbuhan seharusnya ditujukan untuk struktur biologis otak, bukan untuk fungsinya.
    Akan lebih tepat kalau kita menggunakan kata “ perkembangan” untuk digandengkan dengan kata “kecerdasan otak”. Nah ….. disini kan kelihatan bedanya konsep pertumbuhan dan perkembangan. Secara umum dalam istilah psikologi perkembangan , kata pertumbuhan digunakan untuk fisik atau jasmani dan istilah perkembangan digunakan untuk jiwa atau psikis.
    Ada lagi yang sederhana yang BM kemukan, kalau di amalkan merupakan sikap yang tidak terpuji, yakni “gunakan catatan-catatan dan tempelan-tempelan didinding”. Hal ini akan memupuk sikap anak tidak bagus. BM sekali-sekali mampir juga ke Padang, atau khususnya ke UNP. Disana sudah kelihatan bukti-bukti dari perilaku anak-anak, mahasiswa, yang nota bene-nya anak-anak kita semua melakukan penempelan-penempelan dimana-mana (dalam artian tidak menurut aturan). Mereka menempelkan berbagai informasi di dinding-diding kantor, diding kampus, didinding Masjid atau mushalla. Tembok pagar dan lain sebagainya. Itu nama tidak tertib atau tidak berdisiplin.
    Hal ini perlu BM sadari, pekerjaan anak-anak seperti itu merusak apa yang diistilahkan dengan K3. BM harus tahu juga mereka suka dan senang menempel, tetapi tidak bertanggung jawab untuk membersihkannya kembali. Kalau yang ditempel itu diding kampus dan juga didinding masjid berapa biaya untuk membersihkanya dan mengecatnya kembali ? Faktor itulah yang paling menonjol sebagai alasan kampus harus dicat ulang.
    Ingat juga petuah orang tua kita “Fikir Itu Pelita Hati”.
    Demikian saja untuk sementara, selamat menganalisis dan saling mengoreksi. Dilain kesempaatan dapat disambung lagi.
    Banyak maaf BM, Wassalam

    Lubuk Buaya, Oktober 09

  8. assalamualaikum
    manjada wajada :siapa yang bersungguh sungguh pasti mendapat , hal ini telah dibuktikan oleh sesosok ayah dari anak anak nya termasuk anak didiknya .terimah kasih ayahnda semoga kami bisa menyandang kesuccesan yang kami harabkan
    waalam

  9. alhamdulillah..
    Motivasinya sungguh luar biasa …

  10. alhamdulillah ..
    Sungguh Luar biasa …


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: