Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Oktober 12, 2009

Surauku Telah Roboh

Surauku Telah Roboh

Oleh : Chairman Djalal

Kita menjadi sangat sedih. Kita menitikkan air mata. Kita menjadi berduka, ketika melihat akibat gempa di kota Padang dan sekitarnya. Konon, ribuan orang masih terperangkap dalam rerentuhan bangunan. Lebih perih lagi dengan kabar hampir 400 orang penduduk di tiga desa Padang Pariaman yang terkubur hidup-hidup, ketika saat berlangsung pesta pernikahan.

Mengapa harus sedih? Mengapa harus menitikkan air mata? Mengapa harus berduka? Wajar kalau manusia menjadi sangat tersentuh dengan peristiwa yang secara visual dirasakan langsung. Dapat menyentuh seluruh esensi perasaan. Bangunan porak-poranda. Gedung-gedung, rumah, sekolah, rumah sakit, dan masjid-masjid ikut runtuh. Tangisan-tangisan orang-orang yang kehilangan.Kehilangan sanak-famili,harta benda, dan segalanya, yang pernah mereka miliki.

Tapi, pernahkah kita bersedih, ketika melihat Surau (masjid) yang sedikit jamaahnya, saat shalat tiba? Hanya orang-orang tua, yang sudah hampir uzur, yang pergi ke Surau, dan jumlahnya tidak sampai satu shaf. Anak-anak muda sudah jarang ke Surau. Mereka hanya duduk-duduk di dekat Surau, saat adzan tiba berkumandang. Tak tergerak hatinya untuk shalat. Padahal, Islam akan tegak bila para pemeluknya menegakkan shalat. Bila pemeluknya sudah tidak lagi melaksanakan shalat, pertanda agama itu akan roboh, dan pemeluknya akan ikut roboh.

Bila kita berkunjung ke Sumatera Barat, dan Sumatera, pada umumnya, keadaan itu, dan begitu sedikitnya orang-orang melaksanakan shalat di Surau.

Tidak ada cerita lagi, anak-anak di Sumatera Barat, yang tidur di Surau di malam hari, dan mengaji serta mnghafal Al-Qur’an, seperti dahulu kala. Mereka banyak tak lagi mengenal Kitabullah Al-Qur’anul Karim. Pemerintah daerah mewajibkan anak-anak belajar Al-Qur’an, karena sudah banyak anak-anak yang tidak lagi pandai membaca Al-Qur’an. Konon, di Sumatera Barat, ada ungkapan, yang memiliki akar sejarah, yaitu, ‘Adad bersendi syara’, dan syara’ bersendi Kitabullah’. Masihkah, Kitabullah (Al-Qur’an) menjadi pegangan, sandaran, dan rujukan hidup, serta pedoman hidup terutama dikalangan masyarakat Sumatera Barat?

Pernahkah kita bersedih, jika anak-anak muda jauh dari agama Islam, dan tidak faham dengan Islam? Sekarang tak ada lagi, ulama, fuqaha, dan orang-orang yang ‘tafaqu fiddin’ (mendalami agama), yang lahir dari Sumatera Barat. Generasinya Buya Hamka, Buya Sutan Mansyur, Buya Malik Ahmad, Buya Zas, Buya Datok Palimo Kayo, Isa Anshari, dan Mohammad Natsir, sudah tidak tumbuh lagi. Orang-orang yang terdidik, dan memiliki pemahaman Islam serta komitment memiliki terhadap Islam, yang baik, sudah tidak tumbuh lagi.

Sekarang, yang ada hanya kaum ‘pedagang’, yang menjadi generasi baru dikalangan masyarakat ‘Minangkabau’, semangat mengumpulkan harta, itulah yang menjadi kecenderungan baru. Mereka semuanya sibuk dengna urusan harta dan dunia, tapi mereka tidak mau lagi mengenal akhirat, dan kematian. Mereka terus mengumpulkan harta, setiap hari dan waktu, tanpa lagi mengingat Rabbnya. Di pasar-pasar, toko-toko, dan perusahaan-perusahaan, yang memberikan kenikmatan kehidupan dunia, dan melalaikan mereka.

Pernahkah kita bersedih, ketika melihat anak-anak muda di kota Padang dan sekitarnya, yang wanitanya tidak lagi menutup aurat mereka? Pergaulan bebas melanda kehidupan mereka. Mereka yang mulai makmur, dan menikmati melimpahnya materi menjadi sangat bebas. Tempat-tempat wisata menjadi saksi atas berubahnya kehidupan mereka. Di malam minggu, pesisir kota pelabuhan Teluk Bayur, menjadi saksi atas bentuk-bentuk kemaksiatan, dan lupanya mereka kepada Rabbnya.

Di kota Padang , mall, plaza, hotel berbintang, serta kafe, menggantikan Surau bagi anak-anak muda. Di kota tempat-tempat yang menjadi kunjungan wisata, dan didatangi turis asing, seperti kota yang dekat dengan Danau Maninjau, tempat lahirnya Buya Hamka, konon sudah berani pedagang, yang memiliki rumah makan, menjual minuman keras (bir). Tidak takut lagi dengan syara’ (hukum agama). Konon, kalangan masyarakat Padang, yang sudah makmur ekonominya, orang tua menjadi sangat ‘malu’, kalau anaknya masih menggunakan bahasa Minang.

Dikalangan masyarakat, diantara orang tua, banyak yang memberi nama anaknya, yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama (Islam) yang mereka peluk, misalnya mereka memberi nama anak-anak mereka diantaranya, seperti Samuel, David, John, Edward, Oktovianus, Henry, dan lainnya. Sepertinya, menjadi ‘malu’ atau ‘takut’ memberi nama dengan kata-kata yang memiliki keterkaitan dengan Islam. Mereka menjadi terasing dengan agama mereka.

Belakangan ini, terdapat pula, diantaranya, kalangan terdidik dari ‘Minang’, yang ikut dalam gerakan liberal, dan diantaranya telah ada, konon, yang berani menikahkan orang yang berbeda agama. Orang-orang ini yang disebut generasi ‘kosmopolitan’, menjadi genarasi baru dari rantau ‘Minang’, yang ada di Jakarta, dan disebut penganut faham ‘pluralis’, dan merasa generasi yang paling modern, dan berhasil meninggalkan budaya mereka, yang mereka anggap ‘kolot’.

Mengapa kita hanya menangisi bangunan yang porakporanda, dan kematian yang menimpa penduduknya?

Mengapa kita tidak menangisi terhadap mereka yang sudah jauh dari Rabbnya, dan meninggalkan agamnya Islam? Mengapa kita tidak menangisi generasi yang sudah jauh dari agamanya Islam, dan menjadi porakporanda akhlaknya, perlilakunya kehidupannya, yang akan lebih menghancuarkan lagi bagi kehidupan. Tidak ada artinya kerusakan dan kehancuran akhlak, disbanding dengan gempa yang porakporandakan itu. Sebelumnya, mereka hanya disibukkan dengan urusan dunia, dan tidak lagi mengingatkan kematian, dan hari akhirat. Ketika datang peristwa yang menyentakkan kesadaran, mereka menangis, mereka tidak dapat menerima kenyataan. Padahal, semua kehidupan di dunia pasti akan berakhir.

Wahai manusia, hiduplah sesukamu dalam keadaan sehat, di bawah naungan istana-istana yang megah, dan segala keinginanmu terpenuhi, di waktu pagi dan petang. Tapi, “Apabila nafas sudah mulai tersengal, tinggal satu-satu di dada, saat itulah kamu tahu pasti, bahwa dahulu kamu tidak hanya terpedaya dengan kehidupan dunia”.

Betapa sedihnya hati ini, melihat Surauku telah roboh. Bukan karena dahsyatnya hentakan gempa, tapi Suarau itu telah ditinggalkan ummatnya.

Wallahu aklam

Sumber : http://groups.yahoo.com/group/RGM_GM/message/5059

Iklan

Responses

  1. Robohnya Surau Kami” cerpen yang ditulis A.A. NAVIS pada tahun 1955 dan menjadi fenomenal sampai sekarang.

    Cerpen ini menceritakan kisah yang menjungkirbalikkan “logika awam tentang bagaimana seorang alim justru dimasukkan ke dalam neraka”. Karena dengan kealimannya, orang itu melalaikan pekerjaan dunia sehingga tetap menjadi miskin.

    Mari kita simak lagi cuplikan dialog dalam cerpen ROBOHNYA SURAU KAMI sebagai berikut :

    ————————–

    ‘Kalian di dunia tinggal di mana?’ tanya Tuhan.

    ‘Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.’

    ‘O, di negeri yang tanahnya subur itu?’

    ‘Ya, benarlah itu, Tuhanku.’

    ‘Tanahnya yang mahakaya-raya, penuh oleh logam, minyak dan berbagai bahan tambang lainnya bukan?’

    ‘Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami.’ Mereka mulai menjawab serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan yakinlah mereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada mereka itu.

    ‘Di negeri, di mana tanahnya begitu subur, hingga tanaman tumbuh tanpa ditanam?’

    ‘Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.’

    ‘Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.’

    ’Negeri yang lama diperbudak orang lain?’

    ‘Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku.’

    ‘Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkutnya ke negerinya, bukan?’

    ‘Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.’

    ‘Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?’

    ‘Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.’

    ‘Engkau rela tetap melerat, bukan?’

    ‘Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.’

    ‘Karena kerelaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?’

    ‘Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala.’

    ‘Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak dimasukkan ke hatinya, bukan?’

    ‘Ada, Tuhanku.’

    ‘Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya-raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal di samping beribadat. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja.

    Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya.’

    Semua jadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diredhai Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang dikerjakannya di dunia itu salah atu benar. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja pada malaikat yang mengiring mereka itu.

    “Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami menyembah Tuhan di dunia?” tanya Haji Saleh.

    “Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak istrimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak memperdulikan mereka sedikit pun.”

    ——————————-

    Nah, nyatalah sudah, sekarang SURAU KITA sudah roboh !. selain makna telah runtuhnya nilai-nilai, juga SURAU KITA sudah robohnya secara fisik dan infrastruktur.

    AA. Navis telah meramalkan fenomena pada saat ini, seperti yang telah diprediksi sebelumnya dalam karyanya itu, Minangkabau telah kehilangan identitas yang dimilikinya. “ROBOHNYA SURAU KAMI” itu bukanlah bermakna fisik atau rusaknya infrastruktur surau, tetapi roboh dalam makna “runtuhnya nilai-nilai agama serta adat” yang berkembang di tengah-tengah masyarakat Minangkabau, seperti yang ditulis juga oleh Chairman Djalal diatas

    Surau, seperti yang telah kita ketahui dahulunya tidak saja berfungsi sebagai tempat ibadah, malahan juga merupakan tempat tidur dan mengumpulnya pemuda-pemuda yang telah “akhil baligh” karena di rumah gadang tidak tersedia dan atau disediakan kamar tidur untuk mereka. Dan di surau itulah bagi kaum pemuda selain sebagai tempat tidur juga berfungsi sebagai tempat untuk mendapatkan pendidikan agama, ilmu pengetahuan lainnya dan bahkan surau dijadikan pusat pelatihan silat (bela diri). Jadi ilmu pengetahuan dan ketrampilan bela diri itulah yang akan digunakan modal awal untuk pergi merantau.

    Sekarang ???, surau hanya berfungsi sebagai ikon parawista bahwa Minangkabau adalah masyarakat yang “Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah” hanya dalam “selogan”.

  2. ———–
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُهُ
    ——————-
    Tulisan atau kutipan yang ditampilkan itu cukup bagus.
    Kamudian saya menyarankan coba lihat juga dialog ahli neraka dan ahli sorga dalam AlQuran khususnya dalam surat Al-a’raf.

    Rupanya Pak zul rindu juga dengan surau.

    Sudah banyak para ahli minang menggagas untuk kembali kesuaru. Seminar tidak terhitung kalinya. Anggaran tidak tanggung-tanggung. Panitia untuk itu konon kabarnya sudah dibentuk pula. Haya saja belum ada resep mujarab yang bisa memastikan orang kembali kesurau.

    Sebagaimana yang kita ketahui bahwa surau adalah suatu tempat atau lembaga yang fungsinya mentransfer ilmu agama Islam kepada generasi muda.

    Dahulu surau ramai, wajar sekali. kerana alternatif lain tempat menuntut ilmu agama belum ada, memang surau lembaga vaforit. Perlu juga disadari runtuhnya surau karena kerja kita bersama juga. Dimana-mana kita bangun pesantren, mulai pesantren untuk PAUD sampai kepada Perguruan tinggi.

    Hampir setiap masjid atau mushala ada TPA/TPSA.
    Myoritas masyarakat menuntut dan megajarkan ilmu agama dilaksanakan pada lembaga alternatif tersebut. Bahkan diberi pula prediket “Modern” dan predieket “Plus” dan sebagainya.

    Pak zul tidak usah heran dan bersedih.
    Tidak ada surau tidak apa-apa……
    Kan masih ada tempat yang…….
    Pak Zul. Kalau ingin juga kembli kesurau, mungkin kita harus mengajak semua elemen masyarakat untuk membubarkan lembaga alternatif yang saya sebutkan tadi.

    Kalau tidak, katakan saja pada tokoh-tokoh masyarakat jangan berseminar lagi tentang kembali ke surau. Supaya tidak menghabiskan uang, tenaga, fikiran dan waktu.

    Maaf Pak Zul, Sekalian Salam lebaran.

    Lubuk Buaya, Oktober 09

    • Waalaikumussalam, wr. wbr.

      Terima kasih Pak Jalius,
      Kita doakan semoga Kongres Minangkabau tahun 2010 [ baca : http://groups.yahoo.com/group/RGM_GM/message/5064 ] mendatang berhasil merumuskan tindakan apa yang harus diambil untuk mengembalikan fungsi Surau selain tempat beribadah, juga tempat menggerakan perekonomian umat, dengan harapan SURAU tidak hanya berfungsi sebagai yang digambarkan oleh cerpen AA Navis hanya sebagai tempat “bersuluknya” umat dan alim ulama, tapi juga sebaliknya SURAU kita harapkan juga berfungsi ganda yaitu sebagai tempat BERSULUK dan juga tempat menggerakan atau memberdayakan perekonomian umat, sehingga para alim ulama tidak digiring keneraka seperti yang digambarkan oleh cerpen AA Navis tsb diatas, amiin ya rabbal alamin.

      • Assalamu’alaikum wr.wb

        Saudaraku kaum muslimin yang tercinta, segala musibah yang menimpa umat sebenarnya sudah sangat jelas dikisahkan dan ditegaskan oleh Allah swt sebagaimana dalam beberapa firman-Nya dalam Al-Qur’an, sbb:

        1. Qur’an Surat Al-Hijr ayat 4 :

        Dan Kami tiada membinasakan sesuatu negeripun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan

        2. Qur’an Surat Al-Isro ayat 16 :

        Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

        3. Qur’an Surat An-Anfaal ayat 54:

        (Keadaan mereka) serupa dengan Keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya Maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosanya dan Kami tenggelamkan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya; dan kesemuanya adalah orang-orang yang zalim.

        4. Qurat Surat Al-Hadid ayat 22 :

        Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

        5. Qur’an Surat Ar-Rum ayat 41:

        Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

        6. Qur’an Surat Ar-A’raaf ayat 96 :

        Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

        Semoga kita menjadi orang yang cerdas dalam memahami ayat-ayat Allah swt, baik ayat qauliyah maupun ayat qauliyah sehingga mampu mengambil ibrah untuk mewujudkan visi bahagia dunia wal akhirat, amin.

      • Waalaikumussalam, wr. wbr.
        Saya tambahkan sebuah hadis, agar menjadi perhatian bagi para penguasa (pemimpin) di negeri ini sbb :

        Adi bin Umairah r.a. berkata, “Nabi saw, bersabda, Allah tidak menjatuhkan azab kepada masyarakat secara keseluruhan karena perbuatan orang-orang tertentu, sehingga mereka melihat kemungkaran itu di depan mereka dan mereka mampu mencegahnya, Kalau sudah begitu, Allah akan menyiksa masyarakat itu secara umum (keseluruhan) bersama orang-orang tertentu tadi” (HR. Imam Ahmad)

        Dengan menilik hadis diatas, berarti telah terjadi banyak kemungkaran yang diperbuat oleh segelintir orang di negeri ini, tapi mereka para pemimpin atau penguasa tahu dan tidak bertindak untuk mencegahnya, maka, sehingga Allah mendatangkan musibah keseluruh masyarakat di negeri ini.

        Semoga dengan musibah gempa bumi yang telah terjadi dinegri ini menjadi iktibar bagi kita semua terutama bagi para pemimpin atau penguasa yang telah diberi amanah.

  3. ———– —–
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُهُ-
    —————————-
    Pak Zul, saya hiba juga membaca tulisan pak zul, walaupun tulisan yang saya baca, seakan akan saya mendengar suara Pak Zul,
    Sudahlah , jangan banyak berharap kepada kiprah demi kiprah. Kalau Pak Zul mampu melakukan penelitian, cobalah teliti siapa diantara tokoh-tokoh kita yang getol seminar “kembali Ke Surau” anak-anaknya yang belajar di Surau ?????
    Kalau boleh, sedikit tulisan atau kata-kata saya ini
    agak kasar, bahwa mereka kebanyakan mengatakan yang tidak ada mereka mengerjakannya. Dan hampir tidak ada.
    Mereka telah ikut pula berlomba memasukan anak-anaknya ke sekolah vaforit. Demi presrise dan seronoknya dunia.
    Lebel apa yang cocok diberikan kepada mereka………….

    Wassalam
    Lubuk Buaya, oktober 09

    • Waalaikumussalam warahmatullahi wabaratuh.

      Pak Jalius Ysh, benar apa yang Bapak sampaikan, bahwa para penguasa dan orang kaya dinegeri ini sepertinya yang digambarkan pada Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 16 yang disampaikan oleh “Suara Muslim” diatas, dan walupun kita tidak melakukan penelitian sudah dapat kita terka dan kita lihat bahwa hanya segelintir orang yang sanggup melakukan “amar makruf nahi mungkar” dan kebanyakan orang menganggap bahwa kita tak boleh “mancikaraui” apa yang diperbuat orang walaupun perbuatan mereka tidak lagi sesuai ABS-SBK yang selalu kita banggakan itu, dengan kata lain tidak ada lagi kontrol sosial ditengah-tengah masyarakat di negeri ini.

      Nah, maka berlakulah ketentuan Allah SWT, seperti yang tertera dalam hadis yang saya sampaikan diatas (sebelumnya), Allah menjatuhkan bencana keseluruh orang disedkitarnya, karena kemungkaran yang terjadi hadapan mata tidak lagi dicegah dan mereka-mereka yang hidup mewah telah mengingkari perintah Allah (Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 16).

      Harapan dan doa saya, semoga Allah mensyahidkan mereka yang shaleh yang telah meninggal dalam musibah ini, serta musibah ini dapat kita jadikan iktibar bagi kita semua yang masih hidup agar betul-betul kita kembali lagi mentaati perintah Allah SWT, amin

  4. ———————–
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُهُ
    ——————————

    HATI – HATI PAK ZUL

    Pak Zul saya senang juga dengan pak Zul yang bersemangat Tinggi berdakwah, semangat tersebut jangan sampai kendor.

    Pak Zul ada kalimat pak Zul yang saya kutip, yakni kalimat “jangan mencikaraui orang lain wapun pekerjaannya tidak sesuai dengan ABS-ASBK”

    Kalimat jangan mencikaraui orang lain, yang dimaksud dengan orang lain adalah kita sesama orang beriman, kita sesama orang beriman adalah bersaudara.

    Tapi ingat pak Zul kalau tehadap orang khususnya yang berlabel “munafik” kita tidak boleh lengah. Tidak ada salahnya pak Zul “mencikaraui orang munafik”. Mereka adalah musuh.

    Kan sudak Pak Zul katakan, mereka mengkhianati kita bila diberi kepercayaan. Sebagai penambah contoh, banyak orang menyandang gelar datuk tetapi amanah tidak dijalankan, Mereka jadi datuk di kampung, tinggal atau berdomisili di Padang atau Jakarta. Tugasnya dilaksanakan hanya oleh wakil atau “Panungkek”. Itu namanya gila “Tuah”. Contoh yang lain munkin banyak lagi, tentu Pak zul akan mudah menemukannya dalam masyarakat.

    Jangan Pak Zul bersedih, Allah akan memberi ganjaran untuk mereka, yakni siksa yang pedih (ali ‘Imran 188). Mereka ingin jadi pemimpin didunia maya. Posisi atau kedudukan yang ditempatinya harus dijalankan, tapi nyatanya ?……..bagaimana mungkin kebajikan-demi kebajikan bisa terujud dalam masyarakat ? Mereka yang seperti itlah yang membengkokan jalan Allah.

    Pak Zul, kita dilarang rukun dengan orang munafik. Allah telah berfirman “Kamu tidak akan mendapti suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orng yang menentang Allah dan rasulnya, sekalipun orang orang itu adalah bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka……(Qs.58;22).

    Kita sesama orang beriman harus saling ingat- mengingatkan sifat dan cicri-orang munafiq. Harus sama mengetahui siapa orang-orangnya yanga ada disekitar kita. Kalau kita sudah tahu orangnya, dan dilarang pula mendoakan untuk di ampuni dosa mereka (attaubah 80) dan kita dilarang menyembahyangkan jenazahnya (attaubah 84)

    Wassalam
    Lubuk Buaya. Oktober 09

    • Waalaikumussalam wr, wbr.

      Pak Jalius Ysh,

      Terkejut saja membaca judul tulisan Bapak “HATI-HATI PAK ZUL”

      Memang kenyataannyalah kita tidak dapat lagi men”CIKARAUI” orang lagi di saat ini karena orang akan lantang mengcap kita melanggar HAM.

      Nah, setentangan dengan melabel oarang “munafik” pun kita akan bisa dibui, bahkan orang sekarang berpendapat atau berperinsip bahwa kebenaran itu adalah mutlak urusan tuhan, dan tuhanlah yang berhak apakah pekerjaan seseorang di bumi ini benar atau salah. Pakai jenggot dan topi atau pakaian orang Arab saja kita malah dicurigai sebagai terroris, Inilah saya sedihkan Pak Jalius !.

      Menurut hemat saya Datuk-datuk yang tidak berdomisili di kampuang inilah yang salah satu penyebab ABS-SBK tinggal selogan, mengkhianati (maaf) amanah anak kemanakan dan orang kampung. Lai kamungkin kamanakan awak diserahkan dan diharapkan akan diajar dan ditegur oleh orang lain ?

      Jadi saran saya untuk Bapak-bapak yang berseminar tentang ABS-SBK salah satunya adalah persyaratan mengangkat Datuk atau penghulu harus berpendidikan dan berdomisili di kampung. Dan diharuskan Datuk-datuk membuat SURAU sebagai kantornya dan mengumpulkan anak kamanakan di SURAU-SURAU mereka masing untuk mereka bina. Seperti doeloe-nya bahwa SURAU-SURAU adalah dibangun berdasarkan suku-suku di Minangkabau, ada namanya SURAU SIKUMBANG, SURAU PILIANG dll. berdasarkan suku-suku di nagari tsb.

  5. ————————
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُهُ
    —————————–
    Pak zul. Terima kasih banyak. ” kok gandang lai sa irama tantu se tari batambah jogek”.
    Bialah rababse nan manaruih-an.

    Banyak maaf Pak Zul.
    Wassalam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: