Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Oktober 17, 2009

Prinsip Percepatan Pembelajaran Untuk Mengejar Ketertinggalan

Prinsip Percepatan Pembelajaran Untuk Mengejar Ketertinggalan

Oleh : Marjohan M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Marjohan M. Pd

Marjohan M. Pd

Sikap kurang sabar dan suka terburu-buru adalah bahagian dari karakter anak muda secara umum. Termasuk karakter pelajar dan remaja. Di jalan raya prilaku ini terlihat dalam kebiasaan ngebut dan mengambil jalan pintas. Melihat prilaku yang agresif dan suka terburu buru ini mungkin ada orang nyelutuk dan berkata “wah anak muda sekarang, kalau di jalan suka ngebut tetapi kalau belajar suka lambat”.

Pelajar, guru, orang tua dan semua orang sudah tahu bahwa bahwa kualitas pendidikan kita dibandingkan dengan kualitas pendidikan negara maju (Singapura, Jepang, Australia, Amerika Serikat, Perancis, dan lain-lain) masih jauh tertinggal. Maka agar bangsa ini bisa maju dan tidak tertinggal terus maka sudah saatnya semua warga Indonesia untuk memacu kualitas diri. Salah satu cara yang mungkin untuk diterapkan adalah dengan melakukan program percepatan pembelajaran.

Percepatan pembelajaran adalah terjemahan dari accelerated learning. Dave Meier (2002) menulis buku dengan judul “The Accelerated Learning Handbook”. Ia mengatakan bahwa untuk percepatan pembelajaran maka diperlukan keterlibatan total dalam pembelajaran itu sendiri. Belajar haruslah berpusat pada aktifitas dan bukan pada presentasi atau kehadiran semata.

Percepatan pembelajaran seharusnya tidak hanya konsumsi untuk siswa SMA dengan program akselerasinya. Apalagi kalau program akselerasi tersebut hanya berupa pemaksaan dari orang tua, memenuhi ego orang tua agar merasa bangga mempunyai anak yang dicap jenius dengan cara bergabung dalam program akselerasi. Apalagi program akselerasi atau percepatan untuk mempercerdas anak hanya untuk bidang sains dan matematika, pada hal kelak masa depan mereka yang pas belum tentu berada dalam koridor sains dan matematika, mana tahu pada bidang, olah raga, seni atau bahasa.

Suasana pembelajaran pada banyak sekolah, mulai dari tingkat SD sampai ke tingkat SLTA masih banyak bersifat teacher centered. Walaupun sudah banyak guru yang mengetahui jenis-jenis metode pembelajaran, namun mereka tetap merasa senang dengan metode konvensional atau metode beceramah, mencatatkan, mendiktekan atau metode bank- menyuruh siswa menghafal semua ucapan guru dan mengujinya pada hari berikutnya. Pemandangan umum adalah bahwa siswa selalu berkutat dengan kegiatan mencatat, menghafal dan mengerjakan lusinan latihan sehingga jari pegal-pegal. Sesungguhnya belajar bukanlah sejenis olah raga untuk ditonton, tetapi menuntut peran semua pihak.

Orang awam berpendapat bahwa belajar adalah aktivitas verbal dan kognitif. Namun yang lebih tepat untuk mengatakanya adalah bahwa belajar paling baik dengan melibatkan unsur emosional, seluruh tubuh, seluruh indera dan segenap pribadi. Untuk memantapkan daya serap saat belajar maka suasana belajar perlu bersuasana gembira. Ini bisa menjadi penentu utama dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas belajar.

Kegembiraan dalam belajar bukan berarti menciptakan suasana kelas yang ribut dan hiruk pikuk. Kegembiraan dalam belajar berarti bangkitnya minat belajar anak. Maka guru dan orang tua perlu menjaga rasa dan suasana gembira pada saat anak belajar, karena rasa gembira bisa mempercepat proses pembelajaran. Sebaliknya orang tua dan guru perlu menghindari rasa negatif, kebiasaan marah-marah dan mengomel pada anak, karena rasa negatif dapat memperlambat dan menghentikan pembelajaran itu sendiri. Sekali lagi bahwa guru dan orang tua perlu untuk menciptakan lingkungan belajar yang bebas dari stress dan menjadikan pembelajaran itu bersifat sosial.

Belajar yang baik adalah belajar dengan kontek atau belajar dengan mengerjakan pekerjaan itu sendiri. Misal, belajar berenang dengan berenang, belajar bernyanyi dengan bernyanyi , bukan dengan menyuguhkan sekeranjang teori melulu, kemudian belajar menjual dengan menjual, belajar bahasa asing dengan menggunakan bahasa. Dengan belajar dalam konteks maka akan diperoleh pengalaman kongkrit. Pengalaman kongkrit atau pengalaman nyata dapat menjadi guru terbaik- karena kita terjun langsung, mendapat umpan balik dan terjun kembali.

Pengalaman tentang cara terbaik, atau tentang pengalaman hidup, dapat diperoleh melalui pengalaman orang-orang sukses- mendatangi orang sukses yang ada di seputar kita- atau membaca biografi orang-orang sukses itu sendiri di perpustakaan atau di internet. Cara belajar yang terbaik bukanlah dengan mendengarkan ceramah atau memandang layar komputer melulu. Namun belajar yang terbaik adalah dengan mengalami dan melakukan pekerjaan itu sendiri.

Cara dan prilaku belajar anak laki dan perempuan juga perlu untuk dipahami. Anak laki-laki belajar dalam cara yang berbeda dengan karakter anak perempuan. Anak laki-laki atau pelajar laki-laki mungkin akan lebih sukses belajar dengan cara bersaing, menggunakan logika dan bersifat dominant-atau menguasai. Sementara itu anak perempuan dan juga pelajar perempuan merasa lebih cocok kalau belajar dengan cara kerja sama, melibatkan perasaan dan prilaku mereka bersifat mengasuh.

Colin Roze dan Malcolm (2003) juga berbicara tentang percepatan pembelajaran. Ia mengatakan dalam bukunya “Accelerated Learning For the 21st Century, Cara Belajar Cepat abad 21” bahwa belajar harus dimulai sedini mungkin dan tidak boleh berhenti sampai tua, atau sampai manusia meninggal dunia. Demi pendidikan maka tidak relevan lagi kalau kita bertanya pada siswa atau pada anak; “Ingin jadi apa kalau kamu besar nanti ?”. Tetapi pertanyaan Yang lebih tepat adalah, “Apa yang dapat kamu kerjakan kalau kamu sudah besar nanti ?”.

Berarti untuk menjadi maju dan untuk mengajak anak menjadi maju, maka tentu musti ada perubahan. Untuk menguasai perubahan maka diperlukan “cara belajar cepat” atau percepatan dalam pembelajaran. Percepatan pembelajaran sangat berguna untuk menyerap dan memahami informasi yang cepat. Percepatan pembelajaran , sekali lagi, tidak mutlak hanya untuk konsumsi sekolah sekolah mewah. Sekolah apa saja bisa menerapkan program percepatan pembelajaran. Percepatan pembelajaran dapat terjadi dengan cara mengubah ruang kelas secara total, gunakan permainan, rancang berbagai aktivitas, masukan suasana emosi, ada unsur musik, ada dekorasi dan proses belajar mengajar (PBM) yang bebas dari tekanan demi tekanan.

Percepatan pembelajaran juga perlu dukungan orang tua di rumah. Pada beberapa sekolah yang memiliki program akselerasi- anak dipacu belajar dan melahap semua mata pelajaran yang ada sekarang dan mata pelajaran untuk kelas yang lebih tinggi. Anak anak yang masuk dalam program akselerasi di sekolah, seharusnya juga memperoleh respond dan dukungan atas program percepatan pembelajaran tersebut. Namun orang tua dan kondisi rumah jarang yang memberi dukungan. Seharusnya orang tua menyediakan kondisi rumah yang kaya stimulasi dan bebas stress agar anak dapat tumbuh mandiri (bukan berarti anak tidak perlu mengenal stress, namun jangan memberi stress sepanjang hari). Dalam menerapkan percepatan pembelajaran, para pendidik- guru dan juga orang tua, dihimbau untuk melibatkan diri, memasukan unsur emosional (suasana yang hangat), keceriaan dan kebahagiaan, dan menggunakan latihan relaksasi.

Guru sebagai pendidik dan orang tua sebagai pengasuh harus memahami bahwa tidak guna terlalu mudah menjadi bad tempered, mudah marah-marah dan mencerca anak saat mendampingi mereka dalam belajar, walau tujuannya untuk membuat anak disiplin, “Hei… nanti ku jewer kuping mu, jangan banyak canda belajar sajalah … !!”. Ya demikianlah, cukup banyak orang tua dan guru terbiasa menggunakan kekuasaanya untuk membentak, memukul, menjewer anak atau anak didik. Pada hal belajar yang diikuti dengan cara-cara kekerasan, cercaan, dan bad mood (suasana hati guru dan orang tua yang jelek) akan membuat belajar itu sendiri menjadi beban dan mendatangkan stress. It is not good, maka cobalah belajar dan menemani anak belajar dengan cara yang baru ; pemberian pujian, hadiah atau reward. Sudah saatnya ada perubahan dalam mendorong anak belajar, sekali lagi, mendampingi anak belajar dengan tepuk tangan dan penghagaan.

Menyelenggarakan program percepatan pembelajaran, apakah untuk konsumsi diri, untuk anak di rumah, atau program akselerasi di sekolah, maka musti tahu dengan prinsip belajar yang menyenangkan. Prinsip-prinsip belajar yang menyenangkan, sekali lagi, adalah; ciptakan suasana rileks dan keceriaan, ada humor, ada unsur musik, ada dekorasi, ada reward atau upah dan menggunakan semua unsur indera yaitu mata, mulut, telinga dan gerakan. Ini memang mirip dengan pembelajaran di taman kanak-kanak (dalam arti mempertahankan suasana keceriaan dan motivasi dari guru). Bukan dengan suasana penuh tekanan, kekerasan, ancaman yang berpotensi membuat anak takut, dan kehilangan minat serta motivasi belajar.

Pertahankanlah prinsip pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan adalah dengan memperhatikan bagaimana anak anak kecil di Taman Kanak-Kanak belajar, bukan berarti kita harus kekanak-kanakan. Mereka adalah pembelajar yang hebat karena mereka mereka menggunakan seluruh unsur tubuh dan semua indera tubuh dalam belajar. Tanpa kita sadari bahwa ternyata anak kecil belajar dengan menggunakan unsur somatic- belajar dengan berbuat/ bergerak, auditory- belajar dengan berbicara dan mendengarkan, visual- belajar dengan mengamati dan melihat, dan intelektual- yaitu belajar dengan memecahkan masalah dan berdasarkan pengalaman.

Percepatan pembelajaran bisa jadi program yang penting untuk memacu ketertinggalan kita. Program ini tidak mutlak dikonsumsi oleh program sekolah dengan program akselerasi, namun bisa diterapkan untuk keperluan pribadi atau percepatan pembelajaran anggota keluarga di rumah. Belajarlah secara total, dengan melibatkan unsur panca indera dan belajarlah dengan kontek. Yang penting untuk diingat adalah bahwa suasana percepatan pembelajaran harus bersikap ceria dan terfokus pada siswa.

Catatan :

  1. Colin Roze dan Malcom J. Nicholl. (2003). Accelerated Learning For the 21st Century, Cara Belajar Cepat abad 21. Bandung: Yayasan Nuansa Cendekia.
  2. David Meier,(2002). The Accelerated Learning Handbook. Bandung: Kaifa.
Iklan

Responses

  1. اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُهُ
    Quo Vadis BM

    Terlebih dahulu saya ucapkan terima kasih kepada kerabat kerja e-newsletter disdik Sumbar yang telah mengirimkan artikel atas nama Bapak Marjohan Usman. Seterusnya terima kasih untuk BM yang telah banyak mengorbankan waktu dan tenaga, juga fikiran utuk menulis demi kepentingan bersama. Salah satu harapan dari pihak e-newsletter adalah tentu saja tulisan ini dibaca dan diberikan komentar atau ulasan.
    Topik dari tulisan ini cukup bagus untuk dijadikan bahan berfikir dan untuk bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan, terutama dalam tindakan kependidikan.
    Dari wacana yang ada dalam tulisan BM dapat diambil beberapa pokok fikiran diantaranya: Pertama percepatan atau akselerasi dalam dunia pendidikan kita penting .
    Kedua percepatan itu bertujuan mengejar ketertinggalan.
    Ketiga ketertinggalan pendidikan kita disebabkan oleh metoda guru-guru masih konvensional.
    Keempat orang tua dan kondisi dirumah tidak mendukung program akselerasi.
    Setelah saya membaca tulisan BM sampai selesai, program akselerasinya belum kelihatan. Yang saya temui dalam uraian beliau hanya tentang sikap-sikap yang baik dalam belajar. Kalau uraian tentang sikap-sikap yang baik dalam belajar (prinsip belajar yang menyenangkan) tersebut sangat bersifat umum dan sangat bagus untuk suasana belajar. Uraian nya juga telah disampaikan dalam tulisan terdahulu tentang pengembangan kecerdasan otak.
    Sebaiknya BM membuat semacam program yang bersifat operasional, sehingga jelas apa yang harus dilakukan, jelas tempatnya, sasarannya, pelaksananya dan sistem evaluasinya.
    Sebab topik yang diangkat sangat pragmatis, tentu saja uraian harus sangat spesifik. Hendaknya supaya idenya bermanfaat oleh orang tertentu, perlu diperjelas lingkungannya. Pendidikan anak dirumah, pendidikan anak dilingkungan Lembaga Sekolah atau dalam lingkungan Lembaga Pendidikan Luar sekolah. Tentu saja masing-masingnya bentuk program percepatanya tidak sama. Disamping itu target yang ingin dicapai dalam bidang studi apa, dan pada tingkat mana., misalnya pada setiap jenjang dan setiap kelas satuan pendidikan. Jadi patokan ketertinggalan kita oleh Jepang, Singapura, Amerika, Australia dan Perancis dapat dicapai Harus ada pula gambarannya supaya kita dapat menentukan target berapa tahun bisa kita capai
    Disamping hal-hal tersebut diatas, yang perlu juga saya sampaikan pada BM adalah , sudah saatnya BM menganalisis dunia pendidikan kita secara dewasa. Jangan seperti kebanyakan analis yang lain yang bersifat emosioal. Kalau kita menganalisis secara emosional sering dasar penalaranya terabaikan. Oleh sebab itu berikanlah analisis sesuai data dan fakta di lapangan. Misalnya seperti yang saya kutip ini…….” Suasana pembelajaran pada banyak sekolah, mulai dari tingkat SD sampai ke tingkat SLTA masih banyak bersifat teacher centered”…….Sekaitan dengan itu yang perlu disadari adalah sebahagian besar sekolah-sakolah yang ada di Indonesia atau khususnya di Sumatera Barat fasilitas untuk belajar anak masih jauh kurangnya dari standar memadai.. Masih banyak anak-anak sekolah, alat-alat tulis saja tidak cukup apalagi buku cetak dan peralatan lain. Kalau anak BM dirumah sudah memiliki komputer, anak-anak dikampung saya masih ada yang belum melihat kalkulator yang masih murah harganya. Keadaan yang seperti itu wajib hukumnya bagi guru mengajarkan ilmu yang ada dikepalanya walaupun tidak ada alat bantu dan fasilitas yang lain.
    Kebanyakan Pakar pendidikan di Indonesia lebih-lebih yang telah pulang-pergi ke-luar negeri dia tidak menyadari keterbatasan tersebut. Kegiatan belajar yang banyak terpusat pada siswa persyaratan utamanya harus terpenuhi, yakni fasilitas belajar. Jangan samakan kondisi Tokyo dengan kondisi Kota Padang. Jangan samakan kondisi Kota Padang dengan daerah Mentawai.

    Terakhir yang perlu lagi difahami dengan baik adalah apa yang terungkap dalam kutipan saya ini……..”. Walaupun sudah banyak guru yang mengetahui jenis-jenis metode pembelajaran, namun mereka tetap merasa senang dengan metode konvensional atau metode beceramah, mencatatkan, mendiktekan atau metode bank- menyuruh siswa menghafal semua ucapan guru dan mengujinya pada hari berikutnya. Pemandangan umum adalah bahwa siswa selalu berkutat dengan kegiatan mencatat, menghafal dan mengerjakan lusinan latihan”……….

    Pak Marjohan , pada setiap sekolah sangat banyak mata pelajaran yang harus diajarkan kepada anak oleh banyak guru. Setiap mata pelajaran dapat disampaikan dengan banyak metoda. Sekali-kali jangan beranggapan bahwa metoda mengajar yang Pak Marjohan pakai yang dianggap up-to date harus dilaksanakan pula oleh guru-guru lain. Mengajar itu mengandung seni atau style. Seni atau style adalah milik masing-masing guru. Mungkin saja ada yang sama tapi banyak sekali berbeda. Efektifitas dan efesiensi sutu metoda akan lebih banyak diketahui dan difahami oleh guru bidang studi yang bersangkutan, bukan oleh pengamat. Hal-hal yang ikut mempengaruhi pemilihan metoda antara lain bidang studi, jenis materi, kemampuan murid dan guru, situasi dan kondisi sekolah, masyarakat, dan banyak lagi yang lainnya. Kalau ada guru yang menggunakan metoda konvensional tidak ada salahnya. Mungkin yang akan salah adalah teknis pelaksanaannya. Mengajar anak supaya pandai shalat metodanya dari zaman Nabi Muhammad sampai sekarang seperti itu juga. Pak Marjohan Menjadi pintar diajar oleh guru-guru menggunakan metoda apa ….? The old wine in new bottle.
    Demikian saja dulu Pak Marjohan, sakalian untuk semua pembaca, mohon maaf, Wassalam.

    Lubuk Buaya, 17 Oktober 09

  2. Assalamualaikum Bpk Jalius
    a million thanks. Saya ingat dengat teori Pavlof, S-R (stimulus respon)
    tulisan saya dan komentar ‘ tulisan Bpk Jalius saling berkaitan,
    tulisan tulisa saya yang panjangnya cuma enam helai kwarto dan cakupan judulnya sangat luas tentusangat minus dg kesempurnan, dan komentar/ tulisanBpk Jalius yang penuh Filsafat Pendidikan menambal bopeng bopeng (kekurangan) pada tulisan saya. Yang jelas tulisan yang saya tulis adalah sebagai “ice breaker” pemecah es- pemecah kedinginan’
    well long life Bpk Jalius


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: