Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Oktober 17, 2009

SKS Akan “Wajib” Diterapkan di Sekolah

SKS Akan “Wajib” Diterapkan di Sekolah

Ilustrasi: Herry mengatakan, mulai tingkat SMP, SMA/SMK pada jalur pendidikan formal kategori standar, serta mandiri dan bertaraf internasional, beban belajar siswa dapat dinyatakan dengan SKS.

Laporan wartawan Kompas.com M.Latief

JAKARTA, KOMPAS.com — Sekolah yang sudah masuk kategori sekolah mandiri, apalagi yang bertaraf internasional, “wajib” hukumnya menerapkan sistem kredit semester (SKS) pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang dimilikinya.

Demikian hal itu dikemukakan oleh Kepala Bidang Kurikulum Pendidikan Menengah-Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas Herry Widyastono di acara “Principal Wisdom Update 2009: Implementasi Penerapan SKS dan Moving Class dalam KTSP” di Kampus Binus University, Jakarta, Kamis (15/10).

Mulai tingkat SMP, SMA/SMK pada jalur pendidikan formal kategori standar, serta mandiri dan bertaraf internasional, beban belajar siswa dapat dinyatakan dengan SKS. Adapun, kata Herry, penerapan SKS pada KTSP tersebut akan membuat guru dan siswa menjadi lebih mandiri dalam proses pembelajaran sehingga siswa dapat merencanakan sendiri studi yang ditempuhnya.

“Selain itu, kehidupan persekolahan pun akan menjadi lebih dinamis dan menyenangkan, tidak lagi menjadi beban bagi siswa,” ujarnya di hadapan sekitar 120 kepada sekolah negeri dan swasta dari kawasan Jabodetabek.

Siswa Malas

Menurut pengamatan Kepala Sekolah SMA 6 Tangerang J Hutabarat, siswa saat ini malas belajar. Penyebabnya, lanjut dia, siswa sudah terlalu banyak dibebani pelajaran, yaitu 16 pelajaran dalam seminggu.

“Beban itu membuat mereka malas dan banyak yang nyontek dalam membuat pekerjaan rumah,” tukas Hutabarat. “Saya berharap SKS ini bisa menjadi jalan keluarnya,” tambahnya.

Pendapat senada juga dilontarkan oleh Suryatna dari SMA 9 Tangerang. Suryatna mengatakan, sistem SKS ini akan sangat membantu para guru dalam mencapai 24 jam mengajar. Hanya saja, sejauh ini prioritas sekolah adalah mengejar persiapan Ujian Nasional (UN) sehingga kebijakan ini perlu disesuaikan, terutama dalam pengaturan waktu dan kurikulumnya.

Menanggapi hal itu, Herry mengatakan bahwa kebijakan menerapkan SKS tersebut sebetulnya sudah disiapkan dengan sebuah aturan yang tertera dalam Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005. Meskipun masih berbentuk draft, peraturan tersebut kini sudah ada di tangan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan tinggal menunggu disahkan.

“Sudah beberapa kali dilakukan pembahasan dan evaluasi dari pihak Setneg, kita berharap ini cepat selesai,” ujarnya.

Iklan

Responses

  1. ————————-
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُهُ
    ——————————-
    Penerapan sistem SKS, pilihan sasarannya adalah sekolah yang telah mampu mandiri sudah pas. Dengan catatan kalau memang fasilitas belajarnya minimal dengan kedaan “cukup”

    Kemudian yang perlu sekali di ingat adalah jenis permasalahan yang akan dipecahkan dengan sistem SKS. Untuk ini muncul pertanyaan, apakah sitem ini diyakini yang paling pas diantara alternatif yang mungkin utuk itu. Atau sitem SKS kita pakai untuk memecahkan masalah yang sesederhana seperti diatas (di SMA 6 dan SMA 9)

    Sudahkah sudah dianalisa oleh para analis tentang dampak negatifnya ? Faktor ini sangat penting, supaya nanti jangan ada analis yang ingin jadi pahlawan yang tidak pernah berjuang.

    Sebagai contoh, apa kata B.J.Habibi terhadap ujian yang menggunakan soal ujian pilihan ganda ? Dan apapula kata Syofyan Jalil tentang sistem rengking nilai ?

    Ingat juga pepatah orang tua kita Khususnya, harap dengan burung terbang tinggi punai di tangan dilepaskan.

    Jangan-jangan teknis pelaksanaan sistem yang sedang berjalan yang salah atau tidak efesien pelaksaannya, lantas sistemnya atau prinsipnya yang dirobah.

    Kesimpulannya adalah, untungnya ada tentu ruginya juaga akan ada.

    Demikian saja, dilain waktu dapat analisa dapat dikembangkan lagi Insya Allah.

    Wassalam
    Lubuk Buaya, Oktb. 09

  2. SEDIKIT USUL SAJA KALAU BISA ANAK SMP MAH JANGAN DULU MEREKA SAYA ANGGAP MASIH RELATIF RENDAH DALAM PEMAHAMAN TERMASUK POLA PIKIRNYA JANGAN NAMBAH BEBAN OK LAH KALAU ANAK SMA DAN SMK SAYA SETUJU KARENA MEREKA DIANGGAP SUDAH CUKUP DEWASA DISAMPING ITUNG-ITUNG BELAJAR PETRSIAPAN MENGHADAPI PERGURUAN TINGGOI OK !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: