Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Oktober 23, 2009

Tangan di Atas dan Tangan di Bawah Jangan Salah Tafsir

Tangan di Atas dan Tangan di Bawah
Jangan Salah Tafsir

Oleh : Jalius HR

Jalius HR

“Sebuah peringatan bagi para pengemis dihembuskan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumenep, Madura, Jawa Timur, mengeluarkan fatwa haram mengemis. Tindakan meminta-minta itu dinilai sebagai hal yang dilarang agama karena dapat merendahkan pribadi seseorang. Fatwa ini pun didukung MUI Pusat. “Tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah. Dalam pengertian, Islam tidak menyenangi orang yang meminta-minta”, kata Ketua MUI Pusat, Umar Shihab, di Jakarta, Selasa (25/8).” (Liputan6.com)

Dari kutipan diatas ada sebuah ungkapan yang perlu dikeluarkan dari tempat berdomisilinya dan kita jadikan menjadi milik semua orang, yakni ungkapan tangan di atas dan tangan di bawah. Ungkapan tersebut berasal dari sepotong hadis rasulullah, lengkapnya adalah sebagai berikut; Dari hakim Ibnu Hazm Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: ” Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (penerima); dan mulailah dari orang-orang yang banyak tanggungannya; dan sebaik-baik sedekah ialah yang diambil dari sisa kebutuhan sendiri, barangsiapa menjaga kehormatannya Allah akan menjaganya dan barangsiapa merasa cukup Allah akan mencukupkan kebutuhannya.” Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari.

Tangan di atas dan tangan di bawah berada dalam konsep memberi dan menerima. Memberi dan menerima adalah merupakan suatu sistem dari sikap hidup makhluq manusia. Dengan mengadopsi sikap itulah manusia dibilang sebagai makhluk sosial. Kedudukan manusia sebagai makhluk sosial, artinya manusia itu tidak bisa hidup sendiri, pasti membutuhkan orang lain, dari lahir sampai mati juga tetap memerlukan bantuan dari orang lain (tidak terbatas pada keluarga/saudara/teman) karena itu manusia diciptakan berpasangan dan berbeda2 untuk saling melengkapi dan menolong.

Kalau kita cermati konsep “memberi dan menerima” adalah merupakan sikap semua orang yang berada dalam semua kelas dan strata. Coba kita perhatikan kegiatan “memberi dan menerima” ada dilakukan oleh anak-anak sesamanya, dilakukan oleh remaja sesamanya dan dilakukan oleh orang tua sesamanya.

Menerima dan memberi juga ada dilakukan oleh orang kaya sesamanya, oleh orang sederhana sesamanya dan juga oleh orang miskin sesamanya. Yang uniknya lagi adalah ada juga orang miskin yang memberi sesuatu kepada orang kaya dan orang kaya itulah yang menerima. Padahal banyak orang baik ia cendekiawan, atau ulama sekalipun telah besepakat bahwa tangan yang dibawah adalah hina atau tidak mulia, tapi senyatanya ada orang kaya kalau dia diberi akan merasa senang. Bahkan lagi yang memberi orang kaya itu adalah orang miskin. Ada juga seorang guru sangat senang dengan pemberian muridnya. Memang begitulah tabiatnya makhluk sosial.

Menerima dan memberi adalah konsekwensi dari karakter manusia yang hidupnya harus tolong-menolong. Tidak seorang pun diantara manusia ini yang menjalani kehidupannya hanya mengandalkan usaha sendiri. Yang namanya manusia dia harus memberi pertolongan kepada orang lain, dia harus memberikan bantuan kepada orang lain. Terutama kepada yang lemah dan berkekurangan, misalnya kepada bayi atau anak-anak.

Dipihak yang lain manusia harus pula menerima apa yang diberikan oleh orang lain menerima bantuan dan menerima pertolongan. Apa yang diberikan bisa bermacam-macam. Sulit pula kita menghitungnya, karena apa yang akan diberikan sebanyak kebutuhan manusia dan demikian juga apa yang akan dan harus kita terima. Dengan bahasa lain tolong-menolong dalam 1001 kebutuhan.

Sekarang yang menjadi persoalan adalah Kanapa ungkapan rasulullah itu dipelesetkan penafsirannya ? Atau kenapa ditafsirkan dalam lingkup yang sempit dan negatif ? Yakni langsung menghina orang yang menerima.

Pada hal yang dituju oleh ungkapan rasulullah itu adalah penunjukan nilai dari posisi pelaku. Orang yang berada pada posisi pemberi, orang tersebut memperoleh nilai lebih ( + ) jika dibandingkan dengan orang yang berada pada posisi penerima. Orang yang berada pada posisi penerima, orang tersebut memperoleh nilai kurang ( – ) jika dibandingkan dengan orang yang memberi.

Dengan kata lain siapa saja orangnya, kalau di memberikan sesuatu kepada orang lain dia akan dimuliakan oleh Allah atau juga oleh manusia. Dia akan mendapat ganjaran yang baik. Bisa saja yang memberi itu adalah orang miskin kepada orang kaya atau seorang murid kepada gurunya.

Dalam hal ini perlu juga diingat, orang yang berada pada pihak yang menerima jangan pula bersegera mengatakan bahwa orang tersebut hina atau tidak mulia. Hanya saja mereka mendapat nilai kurang jika dibandingkan dengan orang yang memberi. Jangan dipukul juga para pengemis dengan ungkapan ini.

Fa’tabiru ya ulil abshar, la’allakum turhamun. Wassalam

Lubuk Buaya, Oktober 09

Iklan

Responses

  1. Thanks atas inspirasinya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: