Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Oktober 26, 2009

Appenscholen (Sekolah Beruk)

Appenscholen (Sekolah Beruk)

Oleh: Suryadi
(Dosen dan Peneliti di Universitas Leiden)

SURYADI

Judul artikel ini bukan mengada-ada. ”Appenscholen” (Sekolah Beruk) ditulis oleh seorang Belanda bernama J Jongejans dalam majalah Onze Aarde (Bumi Kita) tahun ke-12 (1939): 254-56. Ia mengunjungi Sumatera Barat akhir 1930-an, mengagumi alam dan masyarakat Minangkabau, dan tampaknya tapasek pula ke Pariaman. Salah satu yang amat menarik perhatian Jongejans adalah penggunaan beruk (monyet) untuk memetik buah kelapa. Ia merasa kagum kepada orang Pariaman yang dengan telaten mampu mengajari anak-anak beruk yang ditangkap dari rimba sedemikian rupa hingga binatang liar itu akhirnya bisa berkomunikasi dengan manusia dan dapat dimanfaatkan untuk memetik buah kelapa di pohonnya.

Artikel Jongejans itu dihiasi dengan foto-foto hitam putih yang menggambarkan secara rinci proses mengajari anak beruk memetik kelapa. Seekor anak beruk diajari dengan menyuruhnya memilin atau menggigit tangkai buah kelapa yang diberi tali dan digantungkan di sebuah palang seperti tiang gawang sepakbola. Dengan telaten seekor anak beruk disuruh berkali-kali memilin buah kelapa yang digantungkan itu. Pelajaran memetik buah kelapa itu dilakukan oleh anak beruk sambil bermain. Buah kelapa itu akan dijatuhkan oleh tuannya, kemudian kembali ke atas. Hal dilakukan berkali-kali sehingga anak beruk yang kecil dengan tangan yang masih lemah itu jadi mengerti, sampai setelah besar ia dapat disuruh memetik kelapa dari pohonnya.

Jongejans bukan satu-satunya bule yang mengagumi sekolah beruk yang khas Pariaman itu. Lebih dari 100 tahun sebelumnya JC Boelhouwer, seorang komandan pasukan Belanda di Pariaman terkagum-kagum pula melihat beruk-beruk pintar itu. ”Juga harus saya ceritakan di sini”, katanya, ”tentang kecerdikan beruk-beruk yang kadang-kadang ditangkap dan dilatih untuk mengambil buah kelapa. Seorang anak buah saya telah membeli seekor beruk untuk seharga F.1 (satu gulden) yang berasal dari jenis yang besar. Ia menyuruh beruk itu memanjat pohon kelapa untuk memetik buahnya.

Setiba di atas beruk itu mulai memetik sembarang buah, tetapi oleh tuannya di bawah buah itu dianggap terlampau kecil atau masih muda, ia tidak hanya mengatakan tidak, tapi juga menarik tali sedikit. [B]eruk itu mengambil kelapa yang lain sambil melihat ke bawah untuk mendapat isyarat apakah tuannya menyetujui ini. Apabila ya dan dikatakan baik, baru ia mulai menggigit tangkainya dan memutar-mutar dengan kaki depannya, sehingga kelapa putus dari tangkainya dan jatuh. Apabila malang kelapa itu tersangkut pergilah beruk itu ke sana untuk melepaskannya dan menjatuhkannya, dan mulai lagi bekerja sesuai dengan keinginan tuannya. [S]aya sendiri kemudian beberapa kali memperoleh beruk seperti itu, tetapi dari jenis yang istimewa sebab saya sudah perhatikan tidak semua beruk dapat mempelajari cara mengambil buah kelapa itu.”

Demikian yang ditulis Boelhouwer dalam bukunya Herinneringen van mijn verblijf op Sumtra’s Westkust gedurende de jaren 1831-1834 (1841:66) (Kenang-kenangan masa tinggal saya di Sumatera Barat selama tahun-tahun 1831-1834) yang terjemahannya segera akan diterbitkan oleh Lembaga Kajian Gerakan Padri (1803-1834). Pelajaran yang dapat kita peroleh: bahwa binatang pun, kalau diajar dengan baik, akan jadi cerdas dan berguna bagi kehidupan; bahwa kesuksesan sebuah proses pengajaran sangat ditentukan oleh metode yang digunakan. Metode itu menjadi efektif karena ditunjang pula oleh ‘guru’ yang baik, yang dengan konsisten mengimplementasikan metode pengajaran itu di sekolah.

Hikmah lainnya: pengajaran untuk anak beruk (sama halnya seperti anak manusia) sebaiknya menggunakan metode belajar sambil bermain. Saya agak heran begitu mengetahui bahwa metode belajar sambil bermain ini diterapkan di sekolah-sekolah dasar di Belanda. Anak-anak Belanda, yang menurut survei terakhir, dinilai sebagai anak yang paling bahagia di dunia, mengenal apa yang disebut speelgoeddag (artinya: hari dengan mainan). Pada hari itu masing-masing anak membawa mainannya ke sekolah, pelajaran dipersingkat, dan mereka bebas memainkan mainan-mainan itu bersama-sama. Pada hari lain anak-anak diajak jalan-jalan ke museum atau hutan, atau peternakan (kinderboerderij).

Kesimpulannya: anak-anak yang otaknya masih murni itu tidak langsung dicekoki dengan berbagai pelajaran dan berbagai kursus yang membuat otak mereka lelah. Karena ambisi orangtua, banyak anak yang kehilangan kebahagiaan dan keceriaan masa kanak-kanak. Sudah lama kita dengar soal karut-marut dunia pendidikan kita, mulai dari soal proses seleksi penerimaan (maha)siswa, kurikulum, metode pengajaran, sampai kepada moral para pendidik. Belum lagi pendaftaran dibuka, media sudah memberitakan soal ”bisnis bangku kosong”.

Sampai kapan kita akan terus begini? Jika kita tetap mengeluh bahwa ini disebabkan karena kita miskin, maka bangsa Indonesia akan tetap berpilin-pilin dalam labirin ketertinggalan. Kita sering lupa kepada kebijaksanaan yang dimiliki oleh kebudayaan kita sendiri, seperti metode sekolah beruk ini. Kita lebih cenderung studi banding ke luar negeri. Banyaknya orang pintar dari berbagai profesi di negeri ini yang sering terlibat korupsi merupakan salah satu indikator bahwa ada yang salah dalam sistem pendidikan kita. Tanpa harus paham dulu dengan teori Sigmund Freud pun, kita yakin bahwa sifat seorang dewasa ikut dipengaruhi masa kecilnya, termasuk pendidikan yang dia terima. Beruk di Pariaman, yang dari liar dapat berkomunikasi, bekerja sama dengan, dan dimanfaatkan oleh manusia sungguh sebuah tamsil yang bernilai. Tidak salah jika sampai sekarang sering terdengar umpatan orangtua di Pariaman kepada anak-anak yang bengal, kurang ajar, dan tak tahu sopan santun: ”Parangai ang ateh lo pado baruak lai!” (*)

Sumber :
http://niadilova.blogdetik.com/2009/07/30/appenscholen-sekolah-beruk/

Iklan

Responses

  1. ——————————–
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَر كَا تُهُ
    ——————————-
    Masih ingatkah kita sebuah hadis rasulullah, “ Ajarlah anak-anakmu shalat umur 7 tahun dan pada usia 10 tahu kalau dia tidak mau pukulah dia.”

    Salah satu pemahaman yang bisa kita ambil dari hadist tersebut adalah berikanlah kesempatan bermain bebas kepada anak-anak sampai usia 7 tahun.
    Setelah berumur 7 tahun barulah anak diberi pengajaran. Usia 10 tahun adalah usia boleh melakukan pemaksaan (dalam batas wajar).

    Bermain bebas adalah bermain yang tidak direkayasa oleh orang dewasa, tidak seperti layaknya di TK atau PAUD. Pada kegiatan bermain bebas ini anak sambil bermain yang penuh suka ria dia mengenal lingkungan terdekatnya dan bersosialisasi dengan tentangga. Berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan terhadap anak-anak tidak masuk TK dan melakukan wawancara dengan orang-orang yang dimasa kanak-kanaknya belum ada TK atau PAUD, maka di masa bermain bebas tersebut adalah “masa yang sangat menyenangkan”. Begitu mereka memasuki usia 7 tahun, mereka siap belajar atau masuk SD. Dalam hal ini anak telah memiliki kemampuan dan kematangan psikis dan kematangan psikologis untuk menghadapi proses belajar di sekolah. Jauh lebih matang jika dibandingkan dengan anak-anak yang masuk TK yang pada usia 6 tahun masuk SD.

    Dewasa ini masyarakat kita sudah terpengaruh oleh bujuk rayu pakar pendidikan. Mereka tidak henti-hentinya merayu dengan seribu satu alasan. Alasan-alasannya dapat disimpulkan dengan ungkapan ” Usia Emas”. Konon katanya kalau usia emas itu tidak dimanfaatkan kita akan rugi, dengan kata lain “Emas” tidak jadi sampai ketangan.

    Perlu disadari oleh kita semua , bahwa bermain di TK adalah permainan yang direkayasa oleh orang dewasa, belum tentu pas dengan kondisi kejiwaan anak. Jumlah permainan sangat terbatas, situasi dan kondisi juga terbatas, membuat anak tidak menemukan kepuasan. Kepuasan pada usia bermain. Faktor itulah yang membuat anak-anak di Negeri Belanda paling bahagia.

    Senada juga dengan tulisan Marjohan tempo hari, masyarakat kita sudah latah menggunakan istilah mengejar ketertinggalan, samapai-samapai mengejar ketertinggalan dengan memanfaatkan “Usia Emas” sedini mungkin. Coba baca kutipan berikut ……”Pada usia emas ini, jika dididik secara benar, semua kecerdasan dan potensi anak terstimulasi yang sangat berguna bagi masa depan mereka. “Pendidikan usia dini yang ideal harus bersifat holistik, yakni kognitif, nutrisi, dan kesehatan mesti seimbang,” kata Gutama, Direktur PAUD, Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal, Departemen Pendidikan Nasional, di Jakarta, Jumat (4/1).
    Gutama menekankan stimulasi semua kecerdasan dan potensi yang dirangsang dan dikembangkan harus berpusat pada anak itu sendiri dengan cara yang mengasyikkan, menyenangkan, dan mencerdaskan. Sayangnya, masyarakat berpenghasilan rendah masih sering mengabaikan pendidikan anak usia dini ini.”……

    Begitulah semangat pakar pendidikan dan pejabat untuk mengejar ketertinggalan.

    Kepintaran tokoh pendidik Pariaman dipahami dengan baik oleh orang Belanda, tapi pakar pendidikan kita dewasa ini……?

    Lubuk Buaya, Oktober 09

  2. Mari kita kembali belajar kepada, alam takambang jadi guru.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: