Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Oktober 26, 2009

Iqra’ !

Iqra’ !

Oleh: Yudhistira ANM Massardi *)

I. Belajar

“Dewasa ini, kaum muslim terpangkas dari tradisi intelektual mereka, dan, konsekuensinya, kaum muslim kehilangan etos pengetahuan maupun landasan moral dan intelektual mereka.” Padahal, “Pesan Islam dimulai dengan sebuah buku (Al-Qur´an): sebuah buku yang mengandung visi moral dan kebaikan yang luar biasa.”

Itulah gugatan sekaligus tangis Khaled Abou El Fadl yang diungkapkannya dengan getir dalam Musyawarah Buku (2001).

Harus diakui, setelah mengalami zaman keemasan, terutama sepanjang abad ke-8 hingga abad ke-13, peradaban Islam mengalami kemerosotan luar biasa. Kehancurannya secara fisik ditandai dengan pembantaian manusia dan penghancuran buku-buku oleh Hulagu dan bala tentara Mongolnya yang membinasakan Baghdad pada 1258. Sesudah itu, umat Islam terbenam dalam kegelapan akibat kebodohan, fanatisme, dan perang saudara. Kondisi itu, berlangsung hingga sekarang.

Sementara itu, bangsa-bangsa di Barat, dalam semangat membebaskan diri dari kegelapan, mencari segala macam ilmu (kimia, fisika, filsafat, biologi, kedokteran, geografi, hukum, astronomi, matematika) ke dunia Islam. Mereka menyerap ilmu yang dikembangkan oleh para “raksasa ilmu”: Jabir bin Hayyan, Ibnu Al-Haytsam, Al Kindi, Ad-Damiri, Zakariyya Ar-Razi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Ibnu Majid, Al-Farghani, Al-Khawarizmi dan banyak lagi. Dan mereka berhasil: menguasai dunia, hingga sekarang.

Belajar adalah perintah Tuhan bagi umat manusia. Itulah wahyu pertama yang diberikan kepada Muhammad di Gua Hira: “Iqra´, Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menyiptakan. Dia telah menyiptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS 96. Al-‘Alaq, Segumpal Darah). Dalam sejumlah hadist, Nabi Muhammad saw kemudian menjelaskan betapa indah dan mulianya apabila manusia mau menuntut ilmu.

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.”
“Tidak pantas bagi orang bodoh mendiamkan kebodohannya.”
“Ilmu itu laksana lemari (yang tertutup rapat) dan kunci pembukanya adalah pertanyaan. Oleh sebab itu, bertanyalah kalian, karena sesungguhnya dalam tanya-jawab diturunkan empat macam pahala, yakni: untuk yang bertanya, untuk orang berilmu (yang menjawab pertanyaan), untuk para pendengar, dan untuk orang yang menyintai mereka.”

Bukan cuma itu. Nabi juga memberikan jaminan:

“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mempermudah baginya suatu jalan menuju surga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya bagi orang yang menuntut ilmu karena ridhonya dengan apa yang mereka perbuat”.

Sesungguhnya orang yang berilmu itu dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit dan yang ada di bumi, termasuk ikan dalam air. Dan kelebihan orang berilmu dari orang yang beribadah (tanpa ilmu) itu adalah bagaikan kelebihan bulan dari seluruh bintang yang lain.”

Nabi pun memberikan janji yang teramat indah:

“Barangsiapa yang kedatangan maut saat menuntut ilmu, maka ia akan betemu dengan Allah. Dan tiadalah batas antara dia dengan para nabi, melainkan hanya derajat kenabian.”

Tetapi, Nabi juga memberikan peringatan:

“Barangsiapa mencari ilmu bertujuan untuk membanggakan diri di hadapan para ulama, atau mendebat orang-orang bodoh, atau mencari perhatian manusia, dan mencari kedudukan, maka kelak dia berada di neraka.”

Jangan biarkan usia, detik, dan hidup kita berlalu tanpa upaya belajar.

II. Anak

“Sekarang ini, di mana pun di dunia ini, tak ada orang dewasa yang mengetahui apa yang diketahui anak-anak.” — Margaret Mead (1901-1978), antropolog.

Bapak, Ibu, lepaskanlah anak-anak panah itu dari busurmu, biarkan mereka melesat, ke arah kiblat. Maka, seperti kata Gibran, selesailah tugasmu. Tidak lebih. Tidak kurang. Jika lebih, mereka akan jadi sumber fitnah, atau berhala — menduakan yang Esa. Jika kurang, anak bisa jadi bencana, bagi keluarga dan masyarakat. Maka, jangan ambil apa yang bukan bagianmu — yang sudah jadi ketetapan Tuhan. Maka, jangan tinggalkan apa yang menjadi tugasmu: beranak-pinak, melanjutkan fitrah khalifah, dan mensyukuri nikmat Allah.

Menurut peta genetik, setiap manusia, antara lain, memiliki Kromosom 6 (Kecerdasan) dan Kromosom 7 (Naluri), di samping 20 kromosom lainnya. Tingkat kecerdasan anak lebih dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi semasa ia dalam kandungan. Pengaruh itu tiga kali lebih besar dibandingkan dengan apa pun yang dilakukan oleh orangtuanya setelah anak itu lahir.

Adapun naluri, adalah instrumen yang menjadi tumpuan utama bagi lahirnya peradaban manusia. Penelitian Noam Chomsky dan Steven Pinker membuktikan: peranan naluri yang paling menakjubkan adalah dalam hal kemampuan berbahasa bagi manusia. Selain itu, hubungan cinta romantis dan keyakinan religius lebih dipengaruhi oleh naluri ketimbang oleh tradisi.

Anak-anak memang harus diajari iqra, membaca dan menulis, agar berilmu, mencapai kemuliaan, dan beroleh sayap malaikat. Tetapi, sekolah dan pendidikan adalah dua hal yang berbeda. Seperti kata filsuf dan pendidik dari Amerika, John Dewey (1859-1952), “Sekolah, pertama-tama, adalah institusi sosial.” Dan pendidikan? “Pendidikan, adalah proses dari kehidupan, dan bukan persiapan untuk kehidupan di masa depan.”

Itulah kurikulum yang diberikan oleh Kepala Sekolah di Tomoe Gakuen, untuk murid yang paling berbahagia: Totto-chan. Para orangtua dan guru, bacalah buku karya Tetsuko Kuroyanagi itu. Biarkan kehidupan berproses secara alamiah. Biarkan anak-anak bermain sambil belajar, dan belajar sambil bermain. Dan, kalau mereka dewasa nanti, ikuti hadis Nabi: ajari mereka berkuda, dan memanah.

Biarkan anak-anak menjadi dirinya sendiri, dan bukan menjadi apa yang diinginkan kedua orangtuanya. Filsuf Prancis, Jean Jacques Rousseau (1712-1778) menyatakan, “Manusia dilahirkan bebas, dan di mana-mana ia terbelenggu.” Maka, para orangtua yang ingin dan memaksa anaknya menjadi “ini” dan “itu” — dan bukan menjadi dirinya sendiri — mungkin tak menyadari bahwa ia sesungguhnya telah memborgol makhluk titipan Tuhan itu.

III. Makna

Sekitar 11 abad sebelum kenabian Muhammad saw, Aristoteles, filsuf besar Yunani terakhir dan paling bepengaruh – setelah Socrates dan Plato — lahir di Stagyra, Thrace pada 384 SM. Guru Aleksander Agung – di sekolah Lyceum yang didirikannya – itu, telah membuka lebar-lebar “lemari ilmu” dengan kunci-kunci pertanyaan yang lebih dalam.

Ia melakukan iqra tidak hanya secara spiritual dan asumtif. Dalam membaca rahasia alam, ia melakukan penelitian dengan pembuktian empiris – sebuah metode dasar bagi kajian ilmiah. Ia membedah sekitar 500 binatang laut, mempelajari anatomi, ciri, tanda, sifat dan habitatnya secara rinci. Ia membuat klasifikasi, yang membedakan yang satu dengan yang lain.

“Bapak Empirisisme” sekaligus “Bapak Klasifikasi” itu menyatakan, dasar dari semua argumen adalah silogisme: Logika merupakan alat untuk mempertajam pencarian pengetahuan. Kemudian, logika membawanya pada penelitian struktur bahasa. Ia membedakan antara pengetahuan mengenai arti kata-kata dan pengetahuan mengenai pertimbangan yang disusun dengan menggunakan kata-kata itu.

Aristoteles menyimpulkan sepuluh pokok yang bersifat umum dan berbeda-beda (dalam pembicaraan) : Kategori-kategori yang ditetapkannya ini memiliki arti kata-kata dalam dirinya sendiri: Substansi, Kualitas, Kuantitas, Relasi, Tempat, Waktu, Posisi, Keadaan, Aksi, Afeksi.

Secara ringkas bisa dikatakan, semua itu dilakukan Aristoteles untuk mencari satu hal: makna. Makna jagat raya bagi manusia, makna manusia bagi alam semesta, dan makna manusia bagi seluruh kehidupan yang berlangsung di sekitarnya.

Empirisisme, klasifikasi, silogisme, kategorisasi, itulah rangkaian langkah yang dilakukan Aristoteles dalam proses mencari kebenaran, menuju kebermaknaan. Baginya – sambil mengritik gurunya, Plato — “menjadi” lebih bermakna dari hanya sekadar “ada.” Atau, dalam ungkapan sang “Bapak Filsafat Modern” Rene Descartes (1596-1650), kebermaknaan diri dan eksistensi manusia ditentukan oleh ide-idenya: “Cogito ergo sum (Aku berpikir, maka aku ada).”

Seperti yang dibuktikan oleh Aristoteles dan Chomsky, bahasa adalah kunci penting bagi penentuan kualitas kemanusiaan. Sehingga, setiap bentuk komunikasi yang menggunakan bahasa sebagai alat utamanya, harus terstruktur dengan baik, logis, dan benar. Jika itu terabaikan, maka komunikasi akan kehilangan fungsinya sebagai jembatan penghubung, dan gagal menyampaikan makna. Kita memiliki ungkapan yang indah dan penuh makna: “Bahasa menunjukkan bangsa.” Itu artinya, tanpa bahasa, tak ada bangsa. Tanpa makna, kemanusiaan tidak bermutu.

IV. Sentra

Metode Sentra yang dikembangkan oleh Pamela Phelps di Florida, dan secara kreatif diadaptasi Ibu Wismiarti dan diterapkan di Sekolah Al-Falah di Jakarta sejak 13 tahun lalu, adalah metode yang, melalui tujuh lingkaran sentra, secara ajeg dan berkesinambungan, membangun kesadaran kebermaknaan pada anak. Sejak usia dini, anak, antara lain, diajak melakukan — seperti Aristoteles – klasifikasi, dengan memahami warna, bentuk, ukuran, ciri, tanda, sifat dan habitat setiap makhluk hidup dan benda-benda.

Menurut hemat saya, hanya dengan itu, dengan kesadaran pada kebermaknaan, dengan melakukan metode pencarian a la Aristoteles – artinya, kita mundur 25 abad! — kita bisa memperbaiki kualitas dan eksistensi kita sebagai insan kamil. Mencapai kondisi, sebagaimana dikatakan Nabi Muhammad saw: keindahan dan kemuliaan sebagai manusia.

Untuk itu, ideologi, filosofi, paradigma dan sistem pendidikan kita yang terlalu lama menimbulkan keluh-kesah dan kritik dari berbagai kalangan, karena tidak tentu arahnya, harus segera diubah. Sebab, mengutip pakar pendidikan Prof. Winarno Surakhmad, pendidikan nasional kita hanya menggiring bangsa Indonesia pada “tragedi nasional.” Padahal, sebagaimana ditulis dalam bukunya yang baru terbit, Pendidikan Nasional, Strategi dan Tragedi dan diulas oleh Darmaningtyas di Kompas (18/10): “Pendidikan adalah potensi pembuat cetak biru masa depan yang dikehendaki dan direncanakan, bukan sekadar masa depan yang kebetulan dan tiba-tiba menyerbu. Pendidikan hari ini harus mampu mengembangkan segala potensi untuk generasi sekarang, tetapi tetap memungkinkan generasi berikutnya untuk lebih lanjut membangun masa depan mereka. Pendidikan hari ini adalah usaha membangun masa depan.”

Darmaningtyas – anggota Majelis Luhur Taman Siswa di Yogyakarta – menggambarkan: “Pak Win selalu menekankan pentingnya pendidikan yang bermakna daripada bermutu. Sebagai contoh, kemampuan berbahasa Inggris secara fasih itu mencerminkan mutu pendidikan. Akan tetapi, kemampuan itu belum tentu bermakna bila setiap hari anak itu berkomunikasi dengan bahasa daerah.”

“Pada pemandangan lain, guru yang seharusnya menjadi ujung tombak perbaikan sistem juga tidak dapat diharapkan banyak. Mayoritas guru masih terhalang berkarya untuk menciptakan kehidupan yang berkualitas, terpasung dalam lingkungan kerja yang berbasis konvensional, masih diatur oleh birokrasi dengan paradigma status quo, serta masih terombang-ambing dalam gejolak yang tidak menentu. Wajar bila Pak Win pesimistis jika guru dapat diharapkan memanusiakan, membudayakan, dan mengindonesiakan anak bangsa, kalau guru pun tidak pernah menikmati diperlakukan demikian.”

Maka, sekali lagi, menurut hemat saya, kunci bagi perbaikan dunia pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah: ubah paradigma pendidikan, sekarang juga!

Semua perubahan itu, hanya bisa dan harus dimulai dari sistem pendidikan. Sistem pendidikan yang tidak menganggap murid sebagai peserta didik pasif, patuh dan pengekor. Ubah paradigma yang memerosotkan fitrah manusia itu dengan paradigma baru: yang menempatkan murid sebagai tokoh utama, aktif, pionir, pencari ilmu, pencari makna dan jatidiri.

Harus dibangun sistem pendidikan yang benar (menjaga dan meningkatkan kualitas manusia sebagai ciptaan yang memiliki segenap fitrah Allah); tepat (memotivasi dan membangun seluruh potensi anak didik – otak kiri dan otak kanan serta seluruh fungsi motoriknya — sesuai dengan tahap usia perkembangan anak; tanpa menyuruh, melarang dan menghukum); dan terpadu (dengan keterlibatan penuh dan kerjasama antara anak-orangtua- guru-lingkungan) .

Hanya dengan sistem pendidikan seperti itu, kita bisa melahirkan generasi baru Indonesia yang maju, bermartabat, berdaulat, berakhlak mulia, berilmu, mandiri, berani, dan kreatif.

Perintah pertama Tuhan kepada Nabi Muhammad Saw, “Iqra!” adalah perintah untuk melaksanakan pendidikan. Karena, pendidikan adalah pintu bagi peradaban. Dan peradaban adalah penentu kualitas kebudayaan sebuah bangsa. Penentu kualitas umat manusia.[]

———————
*Makalah untuk Konferensi Pendidikan & Lokakarya: “Learning with Meaning” di Hotel LeMeridien Jakarta, 23-25 Oktober 2009

Sumber : Mailinglis Dikmenjur

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: