Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Oktober 28, 2009

Posisi M Yamin dalam Sejarah Indonesia

Memperingati Hari Sumpah Pemuda ke 81

Posisi M Yamin dalam Sejarah Indonesia

Oleh : Asvi Warman Adam
( Sejarawan LIPI )

Mohammad Yamin adalah tokoh terpenting dalam perumusan Sumpah Pemuda. Ikrar yang disusunnya telah mengilhami perjuangan bangsa selanjutnya, bahkan tetap menjadi perekat persatuan sampai saat ini.

Sebetulnya bagaimana posisi Yamin dalam sejarah Indonesia? Pada majalah Tempo edisi khusus 16 Januari 2000 tertulis secara eksplisit, “Pakar sejarah Taufik Abdullah menempatkan Yamin sebagai sejarawan terbesar abad ini.” Mungkin Prof Dr Taufik Abdullah hanya berbasa-basi tentang kehebatan Muhammad Yamin, tetapi barangkali pernyataan itu ada benarnya juga. Timbul pertanyaan, besar dalam hal apa?

Kalau dari segi perawakan tubuh, memang Yamin lebih besar dari Taufik Abdullah, juga dari Mestika Zed. Anhar Gonggong mungkin lebih kurus, tetapi lebih tinggi atau sama tinggi dengan Yamin. Namun kalau dari segi kualitas karya, bagaimana mengukurnya?

Serbabesar

Muhammad Yamin yang lahir di Talawi, Sawah Lunto, 23 Agustus 1903 adalah pribadi yang mempunyai kemampuan besar dan citacita besar. Dia memiliki banyak talenta: pemikir sejarah, sastrawan, ahli bahasa, politisi, dan ahli hukum di samping tokoh pergerakan nasional.Kalau hanya gabungan sejarawan dan sastrawan,itu mungkin sebanding dengan Kuntowijoyo almarhum, tetapi Yamin juga menguasai perundang-undangan serta ikut menata bidang pendidikan dan keguruan.

Dia pernah menjadi menteri yang mengurus bidang pendidikan dan mendirikan perguruan tinggi pendidikan guru (PTPG) di Bandung, Malang, dan Batu Sangkar. Dia terlibat dalam penyusunan UUD 1945 dan pernah menulis buku Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia (1951). Yamin memiliki kemampuan besar ketika dia meyakinkan pimpinan sidang dan peserta Kongres Pemuda di Jakarta tentang rumusan yang kini dikenal sebagai Sumpah Pemuda.

Ketika kemudian setelah Indonesia merdeka muncul ide agar bahasa Jawa dijadikan bahasa nasional, Yamin menolaknya. Baginya bahasa adalah landasan utama dari eksistensi “bangsa”. Sebuah kalimat “Tiada bahasa, bangsa pun hilang” terdapat dalam sajaknya yang ditulis tahun 1921.

Dalam ingatan kolektif masyarakat, formula sumpah pemuda itu singkat saja bahwa kita memiliki satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa. Pemilihan bahasa Indonesia yang berasal dari Melayu sebagai bahasa nasional merupakan keputusan yang sangat cemerlang dan visioner. Kini tampaknya bahasa Indonesia itu pulalah yang menjadi (sedikit yang tersisa dari) perekat persatuan Indonesia.

Di sisi lain, dia juga memiliki cita-cita yang sangat tinggi.Yamin muda membayangkan sebuah Indonesia Raya yang mencakup delapan wilayah yang merupakan bekas jajahan Belanda, Inggris, dan Portugis. Bukan saja besar wilayahnya, tetapi juga pernah jaya pada masa lampau. Dia berupaya dengan segenap daya untuk meyakinkan masyarakat tentang kebenaran pandangannya ini–demi menumbuhkan rasa nasionalisme.

Dalam konteks ini pula dia menggagas lambang negara, sungguhpun yang diterima adalah konsep Sultan Hamid. Soekarno pernah mengungkapkan perihal Trimurti, yaitu konsep tentang waktu mengenai tanah air, (a) the golden past, (b) the dark present, dan (c) the promising future. Masa lampau yang jaya, masa kini yang gelap, dan masa depan yang menjanjikan/cerah. Pemikiran Yamin sejalan dengan ini.

Dia menggambarkan masa lalu yang jaya dengan mengacu pada Sriwijaya dan Majapahit. Dalam perbenturan atau ketidaksesuaian antara cita-cita besar dengan kemampuan besar mungkin saja timbul hal-hal yang kemudian dianggap kontroversi. Yamin bukanlah orang yang diam saja bila ada sesuatu yang tidak cocok di hatinya. Dalam sidang BPUPKI beberapa kali dia ditegur oleh ketua sidang, tetapi tetap melanjutkan uraiannya yang dianggapnya penting.

Ketua sidang memintanya untuk mematuhi ketentuan rapat (agar Yamin “takluk”), tetapi Yamin menjawab bahwa dia “takluk tetapi tidak tunduk”. Sikap seperti ini yang kelihatannya menyebabkan beberapa tokoh agak jengkel kepada Yamin. Di sisi lain seorang pengamat sejarah Filipina menilai karyanya “romantic, ultra nationalist and pre-scientific” (Rommel Curaming dalam Kyoto Review of Southeast Asia, Maret 2003).

Istilah yang terakhir yang mungkin bisa diterjemahkan sebagai “prailmiah”, mengingatkan pada istilah prasejarah, yaitu suatu masa yang dengan perkembangan waktu akhirnya sampai pada era sejarah. Tentu kata tersebut memiliki konotasi yang kurang elok karena menganggap karya Yamin sebagai “belum tergolong ilmiah”, sesuatu yang sebetulnya masih bisa diperdebatkan.

Kanvas Besar

Sebetulnya Yamin dapat diibaratkan seorang pelukis yang menggambar di kanvas sangat besar. Kalau sejarawan Prancis Fernand Braudel berbicara tentang longue durée (masa yang sangat panjang), Yamin telah menulis tentang 6.000 tahun Merah Putih. Mungkin saja analisisnya kurang tepat, tetapi yang ingin disampaikan Yamin adalah unsur persatuan itu sudah lama ada di wilayah yang kemudian bernama Indonesia ini.

Yamin menulis tujuh jilid buku tentang Majapahit dan sebuah buku “klasik” tentang Gajah Mada. Yamin adalah sejarawan yang memiliki pandangan bukan saja jauh ke belakang, tetapi juga jauh ke depan. Baginya bentuk yang cocok untuk negara ini adalah negara kesatuan. Namun jauh-jauh hari pada sidang BPUPKI dia telah menyampaikan bahwa negara kesatuan itu harus menjalankan dua prinsip, yaitu dekonsentrasi dan desentralisasi.

Kenyataan itu yang tidak dijalankan sejak Indonesia merdeka sampai jatuhnya Orde Baru. Yamin mengawali usaha dekolonisasi sejarah. Berdasarkan prinsip “catursila Khalduniyah” (kebenaran, sejarah Indonesia, kebangsaan Indonesia, dan sintesis), Yamin mengajukan pembabakan sejarah Indonesia yang menurutnya terdiri atas lima tahap, yaitu (1) prasejarah, (2) protosejarah, (3) babakan kebangsaan, (4) babakan internasional, dan (5) abad proklamasi, yang bermula dari prasejarah dan mencapai puncaknya pada “abad proklamasi”.

Jadi kemerdekaan dan persatuan Indonesia adalah puncak dari perjalanan sejarah Indonesia. Yamin juga sangat peduli dengan pendidikan sejarah. Bahkan pendidikan secara umum dan pendidikan guru. Khususnya untuk pendidikan sejarah, dia sudah berpikir bahwa pelajaran sejarah seyogianya tidak membosankan murid.

Tahun 1956 dia menerbitkan buku Atlas Sejarahdan Lukisan Sejarah (kedua buku itu diterbitkan oleh Penerbit Djambatan Jakarta tanggal 17 Agustus 1956) yang merupakan alat bantu pengajaran sejarah agar tidak membuat siswa menjadi jenuh. Dalam pengantar buku Atlas Sejarah disebutkan, “Kami sangat berhemat menyebut segala peperangan dan pertempuran yang berlaku dalam perjalanan sejarah karena kemajuan dunia bukanlah hanya sejarah perang, melainkan sungguh banyak sangkut-pautnya dengan peristiwa lain.

Kami meluangkan tempat bagi persamaan waktu dalam sejarah dan bagi penjelasan tentang pengaruh peradaban. Sungguh-sungguh pula kami pertimbangkan bahwa sejarah pada hakikatnya ialah gerakan arus yang tak putus-putusnya dan selalu mendorong manusia dan bangsa mencari bentuk baru. Oleh sebab itu di mana perlu kami tekankan gerak-gerik dinamik sejarah dan cara bagaimana negara dan peradaban turun-naik silih berganti.” [okezone.cm]

————————–

SOEMPAH PEMOEDA

Pertama :
– KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

Kedua :
– KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

Ketiga :
– KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Djakarta, 28 Oktober 1928

——————————————

Teks Soempah Pemoeda dibacakan pada waktu Kongres Pemoeda yang diadakan di Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 – 28 Oktober 1928.

Panitia Kongres Pemoeda terdiri dari :

Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe’oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Peserta :

1. Abdul Muthalib Sangadji
2. Purnama Wulan
3. Abdul Rachman
4. Raden Soeharto
5. Abu Hanifah
6. Raden Soekamso
7. Adnan Kapau Gani
8. Ramelan
9. Amir (Dienaren van Indie)
10. Saerun (Keng Po)
11. Anta Permana
12. Sahardjo
13. Anwari
14. Sarbini
15. Arnold Manonutu
16. Sarmidi Mangunsarkoro
17. Assaat
18. Sartono
19. Bahder Djohan
20. S.M. Kartosoewirjo
21. Dali
22. Setiawan
23. Darsa
24. Sigit (Indonesische Studieclub)
25. Dien Pantouw
26. Siti Sundari
27. Djuanda
28. Sjahpuddin Latif
29. Dr.Pijper
30. Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken)
31. Emma Puradiredja
32. Soejono Djoenoed Poeponegoro
33. Halim
34. R.M. Djoko Marsaid
35. Hamami
36. Soekamto
37. Jo Tumbuhan
38. Soekmono
39. Joesoepadi
40. Soekowati (Volksraad)
41. Jos Masdani
42. Soemanang
43. Kadir
44. Soemarto
45. Karto Menggolo
46. Soenario (PAPI & INPO)
47. Kasman Singodimedjo
48. Soerjadi
49. Koentjoro Poerbopranoto
50. Soewadji Prawirohardjo
51. Martakusuma
52. Soewirjo
53. Masmoen Rasid
54. Soeworo
55. Mohammad Ali Hanafiah
56. Suhara
57. Mohammad Nazif
58. Sujono (Volksraad)
59. Mohammad Roem
60. Sulaeman
61. Mohammad Tabrani
62. Suwarni
63. Mohammad Tamzil
64. Tjahija
65. Muhidin (Pasundan)
66. Van der Plaas (Pemerintah Belanda)
67. Mukarno
68. Wilopo
69. Muwardi
70. Wage Rudolf Soepratman
71. Nona Tumbel

Catatan :
Sebelum pembacaan teks Soempah Pemoeda diperdengarkan lagu”Indonesia Raya” gubahan W.R. Soepratman dengan gesekan biolanya.

1. Teks Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 bertempat di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda, pada waktu itu adalah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie Kong Liong.

2. Golongan Timur Asing Tionghoa yang turut hadir sebagai peninjau Kongres Pemuda pada waktu pembacaan teks Sumpah Pemuda ada 4 (empat) orang yaitu :

a. Kwee Thiam Hong
b. Oey Kay Siang
c. John Lauw Tjoan Hok
d. Tjio Djien kwie

Sumber :  http://sumpahpemuda.org/

Iklan

Responses

  1. ———————————
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَر كَا تُهُ
    ——————————–
    Dalam dunia pendidikan yang sanagat penting digali sekaitan dengan Sumpah Pemuda adalah apa dan bagaimana bentuk pendidikan yang melatar belakangi munculnya ” kesadaran ” untuk bersatu. Bagaimana metoda pencerahanya. faktor inilah yang lebih penting jika ditimbang dengan tokoh-tokoh yang kedepan.

    Mari kita coba melihat beberapa contoh hasil pendidikan di Idonesia yang faktanya sering terlupakan oleh orang-orang yang terkemuka. Pertama masih ingatkah kita semua, bahwa satu abat yang lalu masyarakat Indonesia masih berkelompok-kelompok dalam bentuk kerajaan ketek-ketek ? Setelah melalui proses pendidikan tertentu dalam berbagai jalur maka masyarakat Indonesia berhasil melahirkan “sumpah pemuda”. Kita harus memberikan nilai yang sangat tinggi, atau kita harus menjadikan “sumpah pemuda “ tersebut sebagai simbol kwalitas pendidikan tertinggi dalam kontek NKRI. Bisakah kita membayangkan bagaimana bentuk dan metode serta konten kurikulumnya (dengan itu) masyarakat masyarakat Indonesia (kerajaan ketek-ketek tersebut ) bisa bersatu tanpa pertumpahan darah.
    Bukan hanya itu saja untuk berastu seperti itu senjata dan militerpun tidak diperlukan. Di sini penulis bertanya adakah dinegara yang kita anggap maju pedidikanya bisa seperti itu hasilnya ?
    Contoh kedua adalah sadar kita atau tidak, semua bapak-bapak kita yang pernah dan sering keluar negeri, dia bisa keluar negeri karena pintar dan cerdas. Kepintaran dankecerdasanya itu karena pendidikan dalam negeri (di Indonesia) atau tidak ? Lebih lagi dari itu adalah, bapak kita telah dan sedang berperan aktif di dunia internasional dalam berbagi bidang kegiatan, cerdas dan pintarnya kan hasil pendidikan Indonesia juaga.
    Sadar atau tidak, masyarakat kita didesa dan di kota sopan, santun dan berbagai tradisi lain yang cukup indah dalam kehidupan merupakan hasil pendidikan dari generasi ke generasi. Bayangkan lagi oleh kita semua khasnya Minang Kabau yakni kenapa bisa muncul ungkapan “adat bsandi syarak dan syarak basandi ka Kibullah”. Pretasi-prestasi lain yang telah kita peroleh sebagai hasi pendidikan kita dewasa in dapat diamati secara kasatmata, dan tidak perlu pula penulis rinci disini.
    Penulis mengajak kita semua mengamati perkembangan pendidikan generasi muda sekarang, amati dan analisa berdasarkan teori Sistem. Perhatikanlah mungkin ada diantara komponen sistem atau bagian tertentu dari sistem pengelolaan tidak bagus jalanya, munkin itu perlu kita perbaiki secara serius, bisa saja berkenaan dengan metode, konten kurikulum dan siskap-sikap pendidik. Jangan sering mengutak –atik kerangka umum. Perbanyak studi ilmu mendidik tokoh-tokoh kita terdahulu. Kalau soal tehnologi ya memang arus “ke Negeri Cina”.
    Terakhir dari penulis perlu jua kita merenung, karena para pendidik kita sudah bnyak yang pergi keluar negeri dan mengadopsi berbagai ide dan konsep, ada atau tidak ide dan konsep tersebut yang merugikan sehingga terjadi kemerosotan-kemerosotan dalam berbagai aspek kehidupan. Kesimpulannya apa….ya sistem pendidikannya yang sangat penting dianalisa, semangat atau motivasi sang tokoh hanya sebagian produk pendidikan juga.
    Pak AWA, dan juga para pendidik di Ranah Minang untuk sementara cukup demikian bila perlu dapat disambung dalam rangka menganalisa dan mengoreksi. Wassalam.

  2. —————————–
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَر كَا تُهُ
    ———————————
    Terkait dengan lahirnya Sumpah Pemuda yang akan saya tambahkan yaitu ada dua kelompok bentuk pendidikan yang terlaksana jauh sebelum sumpah pemuda, pertama pendidkan yang bersifat normatif dan kedua pendidikan yang bersfat adaptif. Kalau menggunakan istilah Bapak Armei Arief adalah pendidikan Moral dan pendidikan profesional. Yang satu melahirkan pemuda sarungan dan satu lagi melahirkan pemuda berdasi, namun mereka………bersumpah untuk bersatu.

    Pendidikan yang bersifat normatif, memberikan dasar berfikir dan pemahaman yang mantap tantang bermuamalah atau bermasyarakat kepada anak-anak dididkan tentang nilai-nilai dan norma dengan intensitas yang tinggi, sehingga menimbulkan rasa persaudaraan, rasa senasip dan sepenanggungan.

    Perlu disadari dalam hal kelembagaan yang paling menonjol adalah pendidikan non formal seperti surau dan sejenisnya.

    Sementara pendidikan yang bersifat adaptif, pendidikan yang mengandung materi pelajaran yang berguna untuk memecahkan masalah kehidupan, semisal ekononi dan manajemen.
    Pendidikan ini terselenggara dalam lembaga pendidikan formal, yang mana saat itu lebih banyak dikelola oleh penjajah. Dan waktu itu putra putri yang mengikuti pendidikan ini tidak banyak jumlahnya. Faktor penyebabnya sebaiknya dianalisis tersendidri.

    Dalam komposisinya, mayoritas masyarakat memperoleh pendidikan nomatif, dan dalam komposisi materi kurikulum juga yang bersifat normatif yang dominan.

    Jadi faktor utama yang melahirkan sumpah pemuda adalah pendidikan yang menyadarkan untuk bersatu atau bermasyarakat.
    Faktor tokoh, adalah simbol kesepakatan bukan simbol kehebatan atau kecerdasan. Karena tokoh di jaman “Tempo doeloe” di tuakan selangkah dan ditinggikan seranting dengan musyawarah dan mufakat, Dalam hal ini ada perbedaan dengan jaman sekarang. Kalau dia seorang tokoh sering lupa dengan tangga tempat naik.

    Dalam sejarah kita juga mengetahui, bahwa orang malaysia serumpun Melayu ingin juga bersatu dengan Indonesia, tapi………tokoh-tokoh yang berpendidikan barat ikut menggagalkannya.

    Bercerminlah kepada sejarah.

    Wassalam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: