Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Oktober 28, 2009

Sang Bunda dan Sang Bayi (Untuk Para Pendidik dan Pembelajar)

Sang Bunda dan Sang Bayi
(Untuk Para Pendidik dan Pembelajar)

Oleh: M Apud Kusaeri, Dipl.Rad. SPd. MSi.

Suatu hari Rasulullah SAW ditanya oleh sahabatnya: “Ya Rasulullah, kepada siapa aku harus berbakti paling baik?”Jawab Rasul: “Kepada ibumu”‘ “Lalu?”,tanya sang sahabat kembali. Jawab Rasul: “Kepada ibumu”‘ “Lalu?”, tanya kembali sang sahabat, kembali Rasul menjawab: “Kepada ibumu” Sang sahabat bertanya kembali “Lalu?”, jawab Rasul “Kepada ayahmu”. Demikianlah, sebuah perkataan / hadits yang singkat tetapi berdasarkan perenungan yang panjang akan makna hakiki seorang ibu. Perenungan ini pula yang menggerakkanku menulis kolom ini.

Renungan ini mengantarkanku pada sebuah fenomena bahwa ternyata sosok ibu adalah contoh atau profil pendidik yang terbaik, sementara itu sang bayi pun merupakan profil pembelajar terbaik. Mari kita telusuri profil mereka (lihat gambar).

Ketika sang bayi terbangun dan menangis di malam hari, dengan sigap sang ibu pun ikut bangun, dengan lembut ia menggantikan popok sang bayi, lalu memberikan yang terbaik untuk sang bayi yaitu ASI nya dan menemaninya sampai sang bayi pun tertidur pulas. Sungguh semua itu dilakukannya hampir tanpa keluhan, bahkan dengan bahagianya dia menjalankan amanah tersebut. Bagaimana bisa? Kasih sayang jawabnya. Andaikan kita para pendidik mampu mengadopsi jawaban tersebut dalam menjalankan amanah mendidik kita, niscaya luar biasa percepatan belajar yang akan terjadi pada anak didik kita. Rasa cinta dan kasih sayang membuat amanah menjadi mudah & membahagiakan.

Ingatkah kita bagaimana sang bunda menyediakan berbagai jenis mainan di sekeliling kita. Betapa kita merasakan bagaimana bentuk dan warna mainan itu membuat mata kita aktif tajam memperhatikannya, suara mainan itu membuat telinga kita aktif asyik mendengarkannya, bagaimana gerakan mainan itu membuat tangan dan kaki kita menjadi tak bisa diam. Dan kita pun menjadi semakin cerdas karenanya. Maka mari belajarlah dari sang bunda bagaimana dia memfasilitasi, untuk menjadikan anak didik  menjadi semakin cerdas.

Berdiri, melangkah dan berjalan merupakan sebuah proses yang rumit dalam perkembangan sang bayi. Ketika sang anak berusaha berdiri, lalu terjatuh, bangun berdiri dan terjatuh lagi, bangun lagi, dengan kesabaran yang luar biasa sang bunda terus mendampingi dan terus memotivasi kita untuk bisa . Dalam hatinya dia berkata “Suatu hari anakku pasti akan bisa!”. Rasanya tak ada seorang pun ibu yang  putus asa ketika melihat bayinya terjatuh kembali dalam usahanya untuk mampu berdiri, lalu dia berkata,”Sudahlah nak, kamu memang tak bakat berdiri, merangkak sajalah…”Masih adakah kita kurang sabar dan merasa putus asa dengan prestasi yang  baru dicapai anak didik kita?

Sosok sang ibu sebagai pemotivasi sungguh luar biasa. Betapapun kecilnya perkembangan yang dicapai sang bayi, tetapi ungkapan wajah bahagia dan senyum dari sang bunda selalu ditampakkannya, membuat sang bayi menjadi lebih termotivasi lagi. Betapa kita perhatikan bagaimana sang bayi mencapai percepatan belajar yang luar biasa dalam lingkungan yang begitu memotivasi. Tatkala sang bayi baru mampu melangkah satu langkah, maka tepukan tangan, seruan gembira dan bahagia dari sang ibu dan orang-orang di sekelilingnya, membuat sang bayi semakin termotivasi untuk melangkah lebih maju lagi. Bagaimanakah kita mampu menyediakan lingkungan yang begitu memotivasi untuk anak didik kita?

Sang bunda paham benar apa jenis makanan yang tepat untuk tahapan usia bayinya. Marilah kita pahami tahapan anak didik kita dan berikanlah ‘makanan terbaik’ untuknya sesuai tahapannya.

Majalah-majalah yang memuat informasi-informasi perkembangan anak hampir selalu laris terjual. Rasa haus sang bunda akan informasi yang diperlukannya dalam mengasuh dan membesarkan putranya, membuatnya menjadi pembelajar sepanjang usia. Marilah kita para pendidik untuk lebih bertekad menjadi pembelajar sejati. Kita boleh putus sekolah, tetapi kita tak boleh putus belajar.

Ketika tiba waktunya, maka sang bunda akan membawa bayinya ke Posyandu, Puskesmas atau bidan agar bayinya memperoleh imunisasi. Disadari sang bunda bahwa proses itu sesaat akan menyakitkan bayinya, panas yang meningkat akan dideritanya selama satu atau dua hari. Tetapi keinginannya yang kuat untuk menjadikan bayinya lebih terjaga kesehatannya membuat sang bunda dengan tabah menjalani proses sesaat anaknya tersakiti. Bagaimana kita dapat ‘mengimunisasi’ anak didik kita?

Dalam setiap kesempatan yang ada, terlebih ketika memandangi bayinya yang sedang tertidur pulas, hampir tak pernah terlewatkan betapa ikhlas sang bunda memanjatkan dengan penuh kekhusyu’an do’a-do’a untuk anaknya. Mengapa kita tak mencoba untuk membiasakan mendoakan kebaikan untuk setiap anak didik kita?

Saya yakin masih cukup banyak ‘pesan dari sang bunda’ yang dapat kita lihat, telinga kita dengar dan hati kita pahami. Renungkanlah…

Sekarang mari kita alihkan perhatian kita pada sang bayi yang ternyata memiliki profil pembelajar terbaik.

Perhatikanlah bagaimana proses belajar sang bayi, betapa tinggi rasa ingin tahunya. Tatkala kita sodorkan padanya sebuah mainan, dengan serta merta dia ingin mengetahui mainan itu. Dipegangnya lalu digerakkannya dan dipandanginya seluruh permukaan benda itu, setelah puas lalu dia masukkan mainan ke mulutnya untuk mengetahui rasanya. Lalu biasanya dilemparkannya mainan itu untuk mengetahui reaksinya dan akhirnya diraihnya kembali mainan itu. Adakah rasa ingin tahu kita selaku pembelajar sebesar itu? Rasa ingin tahulah yang mengantar kita pada temuan-temuan terbaru. Ibnu Abbas ra pernah ditanya seorang sahabatnya, “Bagaimana engkau bisa secerdas ini?”, jawab beliau: “Dengan akal yang gemar berfikir dan dengan lisan yang gemar bertanya”Betapa tinggi rasa ingin tahu beliau. Ikutilah….

Ketika sang anak berusaha berdiri, lalu terjatuh, bangun berdiri dan terjatuh lagi,  adakah dia mengenal rasa putus asa dalam dirinya? Dia tidak mengenal kata putus asa! Bahkan dalam hatinya dia berkata “Suatu hari aku pasti akan bisa, seperti yang lain pun bisa!”. Masih adakah kita begitu mudah untuk kurang sabar dan cepat merasa putus asa dengan prestasi yang  baru kita capai saat ini selaku pembelajar?

Jika kita memberikan sebuah mainan kotak kecil pada sang anak, maka di tangan si kecil mainan kotak  itu dapat menjadi mobil-mobilan, kapal terbang, perahu, rumah-rumahan dan berbagai macam mainan lainnya dapat tercipta dalam imajinasinya. Benar-benar sebuah miniatur kreativitas. Apakah pola pikir rutinitas masih mendominasi kita? Mengapa kita enggan mencoba mencari pendekatan lain yang di luar kerutinan kerja kita? Padahal ada banyak jalan lebih baik sebanyak ikhtiar kita untuk menemukannya. Buatlah lebih baik, tidak asal beda. Make it better, not just different.

Saya yakin masih begitu banyak pesan yang dapat kita peroleh dari sang ‘ pembelajar’ bayi.. Lengkapilah oleh Anda daftar ‘pesan-pesan bunda dan bayi’ ini . Fa’tabiruu yaa ulil abshaar. (dakwatuna.com)

Iklan

Responses

  1. ——————————
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُهُ
    ——————————-

    terima kasih untuk semua kerabat kerja e-newsletter disdik Sumbar. Yang mana semua bentuk pengorbananya telah terujud forum dunia maya ini.

    Selanjutnya, tulisan yang dikirimkan ini sanagat bagus sekali untuk menambah wasasan dunia kependidikan.

    Ada beberapa pokok fikiran yang perlu dicerna sekaitan dengan artikel MAK di atas diantaranya:

    Pertama, penerapan kasih-sayang dalam mendidik dengan menggunakan pola ” Sang Bunda dan Sang Bayai” telah diterapkan oleh hampir semua orang, -orang yang telah berkeluarga. Khususnya ya….mendidik dan mengasuh anak dirumah. Penulis sendiri juga telah melakukannya……Memang harus begitu….walaupun masih tradisional dan konvensional……..secara modern……penulis belum tahu.

    Kedua, Pola asuh seperti yang ada dalam keluarga tersebut sulit untuk diterapkan di Sekolah, alasannya yang sederhana adalah jumlah anak yang akan dihadapi sangat banyak.
    Bimbingan individual saja yang dilakukan dalam skala ( sedikit aspeknya ) tidak bisa berjalan dengan baik dan teratur. Karena tidak seimbangnya jumlah anak dengan kemampuan guru yang ada.

    Ketiga, Mungkin menurut MAK bisa dilaksanakan, tapi teknis pelaksanaannya sudah bisa dipastikan banyak sekali guru yang tidak tahu.
    Perlu diingat semua aspek yang harus dijalankan harus berada dalam satu sisitem kerja yang utuh, kalau tidak hasilnya akan kacau balau. Sistem atau pola asuh dalam keluarga tidak bisa (kurang baik hasilnya) kalau pelaksanaanya dibagi-bagi, setiap bagian dilaksanakan oleh guru yang berbeda.

    Keempat, kebanyak pakar pendidikan sering lupa
    keunikan sistem keluarga, jika dibandingkan dengan sistem lembaga lain khususnya didalam bidang pendidikan. Terutama faktor “nilai” yang mendasri motivasi.

    Kelima, sering para pengamat dan analis memandang guru dalam dunia pendidikan di Sekolah tidak pas. Coba kita fikir……Mayoritas para guru-guru yang ada disekolah sudah bagus kenerjanya. Hanya sebagian kecil diantara mereka yang “berkasus”. Para pengamat sering menjadikan kasus tersebut bagaikan “Setetes Nila dalam Belanga” menjadi rusak gulai semuanya.

    Keenam, Sampai hari ini jutaan guru di Indonesia belum juga menerima uang tunjangan profesi, kesejahteraan rendah tugas berat, inilagi……..salah satu faktor penting, tidak mungkinnya itu.

    Ktujuh, mendidk jangan berdasarkan angan-angan, Teori dan realitas harus sejalan. Kalau tidak akan lebih kacau. Sebagai contoh…… Seto Mulyadi yang kata orang dia pakar pendidikan anak, dia hanya tahu anak jakarta, anak jakarta tidak sama dengan anak Minang, dia pernah menulis di Kompas dengan judul “Air Mata di Ujung Rotan” Artinya apa….jangan mendidik anak dengan kekerasan, didiklah anak dengan lemah lembut.Bagi penulis itu namanya angan-angan (inginnya dia).
    Dalam hal ini perlu kita ingat , tidak semua orng (anak) yang bisa dididik hanya dengan lemah lembut. sebagai conto mendidik calon prajurit tidak bisa seperti mengajar calon penari.
    Mengajar anak supaya selalu rajin shalat tidak cukup hanya dengan metoda diskusi dan ceramah, saya di Rumah terkadang harus menggunakan “rotan”………..Dengan rotanpun bisa membuat anak menjadi sholeh.. Kalau MAK tidak percaya tanya saja orang tua-tua kita. Dan sebaliknya, tidak semua anak hrus dididik dengan keras, Tentu saja ada ketentuannya dan ada pula batasnya.

    Kedelapan, Beternak ayam saja, seperti ayam kampung tidak sama pengelolaanya dengan ayam petelur.

    Faktabiru ya ulill al baaaaaaab.

    Wassalam

    Lubuk Buaya, oktober 09


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: