Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | November 1, 2009

Mandiri Utopia Belaka

Mandiri Utopia Belaka

Oleh Jalius HR

Jalius HR, Dosen FIP UNP

Bila saya membaca, menganalisa  dan memahami persoalan manusia sebagai makhluk sosial, fikiran saya menjadi cerah karena konsepnya sangat realistis. Tapi bila saya membaca persoalan manusia tentang konsep  mandiri , penalaran saya kehilangan arah, karena saya tidak menemukan realitasnya. Maka tulisan berikut merupakan sebuah anekdot yang menggugat. Mungkin ini adalah sebuah utopia belaka.

Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).( Al-Ahzab. 4 )

Dalam ayat ini penulis mengutip dan akan menjelaskan “dua buah hati”. Kalau kita membaca Al-Quran kita akan ketemu dengan banyak sekali kata hati. Hati merupakan salah satu perangkat atau komponen dari jiwa, yang berperan sebagai pengelola informasi. Adapun fungsi yang dijalankannya adalah menerima, mengolah dan menyimpan informasi atau pengetahuan.

Dengan peran dan fungsi yang dijalankannya itu maka kita   yang punya hati akan menjadi faham dengan informasi atau berita yang ada. Dengan kata lain hati adalah alat pemahaman bagi kita, (otak,kata orang lain).

Maka yang dimaksud oleh firman Allah tersebut diatas adalah kalau kita melakukan pengamatan terhadap satu objek, kita tidak akan menemukan dua konsep sekaligus berbeda. Kalau ada didapatkan dua konsep yang berbeda, berarti satu diantaranya adalah salah atau bathil. Satu hati, satu pemahaman. Kalau ada  satu objek padanya ada satu konsep. Jangan ada perubahan, karena alasan  situasi dan kondisi atau keinginan. Seekor ayam tidak dapat berubah pengertiannya atau defenisinya menjdi seekor itik hanya dengan sebuah pernyaan dari kamu.

Lanjutan dari firman Allah diatas, dapat di fahami bahwa  esensi “seorang isteri” tidak dapat dirobah menjadi  esensi atau statusnya menjadi “seorang ibu” (orang tua ) hanya  dengan sebuah “pernyataan” ( zihar atau zahir ). Sekalipun bersepakat banyak orang untuk setuju tentang itu. Walaupun dinyatakan lagi dengan selembar sertifikat atau akta dari pejabat  catatan sipil. Demikian juga lanjutan ayat tersebut, anak “angkat” tidak bisa dirobah  esensinya atau statusnya menjadi anak “kandung”.

Dalam realitas yang ada, kita menemukan sebuah  esensi yang nyata, akan tetapi kenapa para ilmuan dan analis memberikan dua  konsep yang saling kontroversial terhadap esensi tersebut. Yakni tentang salah satu sifat manusia, manusia sebagai  makhluk sosial dan di fihak lain manusia sebagai makhluk yang mampu mandiri. Bagaimana  manusia itu sebagai makhluk social ? Mari kita baca kutipan berikut

…………” Menurut kodratnya manusia adalah makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat, selain itu juga diberikan potensi yang berupa akal pikiran yang berkembang serta dapat dikembangkan. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya menggunakan potensinya itu. Dorongan masyarakat yang membina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat dalam kehidupannya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia lainnya.

Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya sampai batas maksimal.

Dapat disimpulkan, bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, karena beberapa alasan, yaitu  manusia tunduk pada aturan, norma sosial.

Perilaku manusia mengaharapkan suatu penilaian dari orang lain. Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain. Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia lainnya.”…………. Kata kuncinya adalah “tidak bisa hidup tanpa bantuan orang Lain”.

Sementara dipihak lain kita menemukan pula para analis menginginkan tujuan-tujuan dari berbagai macam program pendidikan atau pelatihan untuk menjadikan manusia itu sebagai makhluk yang  mampu mandiri . Misalnya dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling, dalam pendidikan kewiraswastaan, dalam layanan-layanan pendidikan lainnya. Disinilah kontoversial-nya pemikiran dan pemahaman tersebut dengan realitas manusia sebagai makhluk sosial .. Coba kita  baca dengan cermat apa yang tercantum dalam kutipan berikut tentang kemandirian;

…………..” Mandiri atau sering juga disebut berdiri diatas kaki sendiri merupakan kemampuan seseorang untuk tidak tergantung pada orang lain serta bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Kemandirian dalam konteks individu tentu memiliki aspek yang lebih luas dari sekedar aspek fisik.

Kemandirian, menurut Sutari Imam Barnadib (1982), meliputi “perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan/masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain”. Pendapat tersebut juga diperkuat oleh Kartini dan Dali (1987) yang mengatakan bahwa kemandirian adalah “hasrat untuk mengerjakan segala sesuatu bagi diri sendiri”. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa kemandirian mengandung pengertian:

Kemandirian merupakan suatu sikap individu yang diperoleh secara kumulatif selama perkembangan, dimana individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi di lingkungan, sehingga individu pada akhirnya akan mampu berpikir dan bertindak sendiri. Dengan kemandiriannya seseorang dapat memilih jalan hidupnya untuk dapat berkembang dengan lebih mantap.

Untuk dapat mandiri seseorang membutuhkan kesempatan, dukungan dan dorongan dari keluarga serta lingkungan di sekitarnya, agar dapat mencapai otonomi atas diri sendiri. Pada saat ini peran orang tua dan respon dari lingkungan sangat diperlukan bagi anak sebagai ”penguat” untuk setiap perilaku yang telah dilakukannya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Reber (1985) bahwa : “ kemandirian merupakan suatu sikap otonomi dimana seseorang secara relatif bebas dari pengaruh penilaian, pendapat dan keyakinan orang lain”. Dengan otonomi tersebut seorang diharapkan akan lebih bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri.”……..Kata kuncinya “Berfikir dan bertindak dengan kemampuan sendiri tanpa bantuan orang lain.

Setelah kita membaca dan membandingkan kedua kelompok kutipan di atas didapatkan dua kata kunci yang saling beseberangan yakni “Tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain dan “berfikir dan bertindak tanpa bantuan orang lain”, maka akan dimunculkan  aneka macam pertanyaan,  mungkinkah dua konsep yang saling berkontradiksi tersebut menjadi   realitas pada diri manusia ? Atau sebuah realitas dapat memunculkan  satu konsep diantara dua konsep yang disebutkan diatas? Mungkinkah seorang pedagang kaki 5 akan menjadi seorang konglomerat tanpa bermitra dengan orang lain ? Atau apakah memang manusia itu harus berusaha sendiri dibidang ekonomi tanpa memasuki dunia organisasi ?

Di suatu komplek perumahan diperlukan kegiatan ronda malam untuk menjaga keamanan.Kita tahu bahwa petugas ronda itu bergantian tiap malam diantara warganya. Seorang anak mampu memakai pakaiannya setelah dicuci oleh ibu dan disetrika oleh kakak atau adiknya. Seorang sarjana mampu melepaskan diri dari tanggung jawab orang tuanya dibidang ekonomi, tapi ia harus bekerja sebagai pegawai negeri. Kita tahu bahwa PNS itu adalah organisasi birokrasi.   Seterusnya, anda pernah menikah atau berumah tangga, apakah itu mandiri ? dibidang lain ? Mungkinkah ? Ada Pak Tani di sawah, dia mencangkul sawahnya sampai selesai dan siap untuk ditanami. Keesokan harinya ada saja ibu-ibu tani yang sedang sibuk menanam benih yang baru saja dicabut dari semaiannya. Menyiangi padi dan memanen selalu bergantian sang ibu dan bapak tani. Apakah itu mandiri namanya? Mandiri itu dimana sih ? Sekali lagi mandiri mungkinkah ?

Dalam konteks yang lebih luas, negara jepang melejit kemajuannya karena mereka meretas jalan kemua penjuru dunia, demi relasi dan bermitra dalam banyak hal dengan negara lain. Amerika juga tidak bisa mandiri, tanpa kontrak-kontrak bisnis tentang sumberdaya alam dengan negara lain.

Contoh terakhir, Kita mengendarai sepeda motor di jalan raya sendirian pulang pergi ke tempat tujuan dengan selamat. Jangan juga dimasukan itu kedalam atau sebagai contoh  konsep mandiri. Sebab di jalan raya kita dililit oleh jaringan sosial, yakni peraturan lalu-lintas atau tata nilai dan norma sosial.

Semoga saya tidak bermimpi kemarin dan hari ini, bahwa saya bisa hidup mandiri, karena hati saya masih satu untuk memahami dan mengambil keputusan untuk hidup selalu dalam jaringan sosial yang lebih luas.

Sadarkah pembaca, bahwa  sosial versus mandiri ?

Lubuk Buaya, November 09

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: