Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | November 2, 2009

Pilihan Ganda “Menjerumuskan” Siswa Sulit Menyampaikan Gagasan

Pilihan Ganda “Menjerumuskan”
Siswa Sulit Menyampaikan Gagasan

Jakarta, Kompas – Pembiasaan evaluasi atau tes dengan soal-soal pilihan ganda dari tingkat SD hingga perguruan tinggi dinilai ”menjerumuskan” siswa. Kondisi tersebut mengakibatkan siswa hanya kuat menghafal, sedangkan kemampuan menalar dan menerapkan ilmu pengetahuan sangat rendah.

Soal-soal pilihan ganda juga mendorong siswa untuk menebak jawaban tanpa berpikir terlebih dahulu serta lebih membuka peluang terjadinya ketidakjujuran. Oleh karena itu, dalam aspek penilaian atau evaluasi siswa oleh guru, perlu digalakkan penggunaan item uraian.

Demikian kajian yang dikemukakan sejumlah peneliti dari beberapa perguruan tinggi berdasarkan hasil-hasil tes internasional yang diikuti siswa Indonesia dalam seminar bertema mutu pendidikan dasar dan menengah. Penelitian dilakukan berkolaborasi dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas di Jakarta, akhir pekan lalu.

Sejak tahun 1990-an hingga saat ini Indonesia terlibat dalam tes internasional yang diikuti siswa dari negara-negara maju dan negara berkembang, yakni Programme for International Student Assesment (PISA) di bidang membaca, Matematika, dan Sains untuk siswa SMP. Indonesia juga mengikuti Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) bidang membaca untuk siswa SD serta Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) bidang Matematika dan Sains untuk siswa SMP. Hasil tes menunjukkan, kemampuan siswa Indonesia di bawah standar internasional.

Kemampuan rata-rata siswa Indonesia dalam merespons item format uraian lebih rendah dibandingkan pilihan ganda. Kondisi itu secara umum menunjukkan siswa Indonesia lemah untuk melakukan analisis, prediksi, dan membuat kesimpulan.

Felicia N Utorodewo dari Universitas Indonesia, Minggu (1/11), mengatakan, prestasi membaca siswa SD Indonesia tak saja terlihat rendah dalam PIRLS, tetapi juga dalam ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN). Siswa Indonesia tidak terlatih untuk menyampaikan pikiran dan gagasannya dalam bahasa yang runtut serta jelas.

”Mereka sigap menjawab soal pilihan ganda, tetapi lemah dalam mengungkapkan pikiran dalam bentuk esai,” kata Felicia.

Heri Retnawati dari Universitas Negeri Yogyakarta mengatakan, salah satu yang memengaruhi kesulitan siswa Indonesia menjawab soal-soal dalam tes internasional adalah karena tidak terbiasa mengerjakan evaluasi skala nasional dengan soal esai. Siswa lebih terbiasa dengan soal pilihan ganda. Di soal TIMSS banyak soal yang bersifat penerapan dan penalaran sehingga akan menyulitkan siswa yang tidak terbiasa berpikir analitis.

Wasis dari Universitas Negeri Surabaya mengingatkan supaya kegiatan pembelajaran harus memberikan ruang yang lebih luas lagi bagi siswa untuk melakukan proses menalar dan menerapkan dibandingkan mengumpulkan pengetahuan.

Fredi Munger, Contractor for Strategic Advisory Services, Australia-Indonesia Basic Education Program, AusAid, mengatakan, dari tes-tes itu, secara umum siswa Indonesia lemah dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan memecahkan masalah. (ELN)

Iklan

Responses

  1. Sejak saya mulai bersekolah tahun 1969, isuu ini sudah mengemuka, tp kenyataannya toh masih berjalan sampai sekarang. jadi Biasalah. Kalau untuk meramal hasil dari sistem Pilhan ganda saya rasa tidak perlu melakukan penlitian segala, tanpa itupun, kita dan orang awam pun bisa memprediksi dampak negatifnya.
    Penelitian dan hasinya apapun bentuknya, nyaris tidak pernah ditindak lanjuti. cuman sekedar pemenuhan tugas dan “proyek”.
    Kita dari waktu hanya”menghasta: kain sarung, berputar2 ditikar yg selembar. Tidak pernah”berinsut” jangankan untuk berlari.
    Yg kita hitung-hitung, kita kaji2, kita bicara2kan hanya itu2 saja setiap saat, sementara orang lain sudah berada dimana-mana. kita terus ribut dengan hal-hal yg mubazirnya lebih besar dari manfaatnya. Kita lebih banyak bersifat NATO ( No Action Talk Only)

  2. ——————————
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَر كَا تُهُ
    ——————————–
    Malu bertanya sesat di jalan.

    B.j Habibi lebih 20 tahun yang lalu sering mengingatkan dalam forum forum ilmiah tentang bahaya soal-soal pilihan ganda.

    Sayangnya mungkin karena beliau tidak orang barat pendapatnya itu tidak diperhatikan dengan serius oleh bapak-bapak kita.

    Belajarlah kepada pengalaman yang telah berlalu, kan begitu kata orang bijak.
    “Maambiak contoh ka nan lah sudah, maambiak tuah ka nan manang” begitu kata orang tua-tua kita di Minang Kabau.

    Wassalam

  3. bukan hanya ujian bentuk pilihan ganda atau ujian essay. malah Ujian di sekolah kita, apakah sebagai termpak penyiksaan atau untuk mencari umpan baliok- feed back.

    selama ujian UH, atau ujian MId atau ujian semester- pengawasan ujian agak oke, namun demi menghemat kertas lembaran ujian sangat membingungkan, apalagi agar anak teretib, guru memasang wajah angker. namun untuk ujian nasional. ruang kelas dijadikan padat dan dirapatkan dan guru sebagai pengawas dan kolaborasi dg aparat ujian pura-pura tidak melihat prilaku mencontek siswa.
    Ya betul kata Bpk sosiolog kita- Bpk Jalius- malu di jalan sesat di jalan, mengapa kita tak bertanya kepada negara yg maju pendidikan nya ttg ujian…

  4. Ternyata seluruh tanah air mengalami persoalan yang sama , saya jadi bergumam dalam hati
    ” seandainya bapak bapak ini yang jadi pengambil kebijakan dalam dunia pendidikan ” mungkin akan lain ceritanya anak didik kita..
    sayang sekali pembuat kebijakan tidak pernah mengalami kejadian fakta dilapangan jadinya ya jaka sembung deh..hehehehe..

    sorry hanya sekedar curhat pak.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: