Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | November 19, 2009

Mengenal Hati Nurani

Mengenal Hati Nurani

Oleh : Jalius HR

Jalius HR. Dosen FIP Univ. Negeri Padang

Kenyataannya, walaupun sudah banyak yang menghimbau dan mengajak untuk menghidupkan hati nurani, mulai dari rakyat kecil menghimbau dengan berbagi deritanya, para aktivis dakwah dengan aneka taujih dan tausyiahnya, mahasiswa dengan gerakan moralnya sampai dengan politisi dan presiden, gubernur, ataupun bupati yang menghimbau dengan bahasa pidato yang mugkin sangat indah didengar namun jauh dari kesungguhannya. Realitanya, belum ada perubahan yang signifikan dalam kehidupan kita. Mungkin masalahnya, ketidaktauan kita tentang apa hati nurani itu sebenarnya?

Itulah keluhan Tengku Zulkhairi dalam artikelnya yang berjudul Menghidupkan Hati Nurani, yang saya baca dalam blog-nya.

Maka kali ini penulis merasa terpanggil pula untuk menjelaskan  tentang apa itu Hati Nurani yang sesungguhnya. Walaupun sudah banyak para ilmuwan yang menjelaskannya. Namun mungkin penjelasan inilah yang akan ada manfaatnya.

Untuk mengawali uraian selanjutnya , terlebih dahulu mari kita mengenal hakekat manusia. Hakekat merupakan inti pokok dari sesuatu, maka pada manusia hakekatnya dalah makhluk Tuhan yang terdiri dari jasad dan roh.

Jadi esensi (hakekat) dari manusia itu adalah jasad dan roh. Dalam hal ini perlu diingat adalah setelah roh ditiupkan atau dimasukan kedalam jasad, maka roh tersebut berubah namanya menjadi nafs (Indonesianya, jiwa). Maka yang namanya manusia (an-naas) adalah makhluk yang memiliki jiwa dan raga. Bila jiwa berpisah dengan raga maka hilanglah sebutan manusia. Kalau jasad saja mungkin bernama mayat dan jiwanya berobah namanya kembali sebagai roh. Pada hakekat itulah terletaknya hal-hal lain yang menjadi atribut manusia.

Pada jasmani (jasad) terdapat berbagai perlengkapan atau komponen-komponen sistem fisik, seperti tangan, kaki, mata dan lain sebagainya. Barang kali persoalan jasad atau jasmani semua kita mengenalnya, tentu saja yang lebih tahu adalah ilmu kedokteran, dan kita tidak mengupasnya dalam kesempatan ini.

Pada jiwa terdapat pula berbagai perlengkapan atau komponen-komponen system kejiwan. Diantara perlengkapan jiwa adalah:

  1. Hati, dalam Al-Quran diterangkan bahwa hati adalah perangkat jiwa yang  berfungsi untuk memahami atau mengerti, maka ia akan menerima informasi, mengolah dan menyimpannya. Hati ini dalam menjalankan tugas ada perlengkapannya. Untuk dapat menjalankan tugas-tugasnya, perlengkapan hati antra lain; akal, fikir, hawa (keinginan) dan fuad ( kemampuan untuk menerima dan kemampuan untu menolak ).
  2. Pendengaran, kemampuan ini bisa berfungsi melalui organ jasmani yakni melalui telinga.
  3. Penglihatan, kemampuan ini berfungsi melalui organ jasmani, yakni melalui mata.
  4. Perasa, ada kemampuan perasa ini dapat berfungsi melalui kulit, lidah dan hidung.

Kelengkapan 2.3 dan 4 biasanya disebut dengan istilah “Panca Indera”. Panca indra inilah yang bertugas menangkap dan mengirimkan pesan kedalam hati, kemudian hati akan mengelola pesan atau informasi tersebut dengan perangkat yang ada padanya tadi.

Bahagian jiwa yang disebut dengan hati seakan-akan bagaikan sebuah dapur di sebuah rumah. Informasi-informasi yang dibawa oleh panca indera akan dikelola oleh akal. Akal akan mengklasifikasi atau mengelompokan informasi tersebut, mungkin tentang bentuk, sifat, guna dan hukum kausalitas dan sebagainya terus disimpan. Informasi atau gambaran yang tersimpan tersebutlah yang dianggap sebagai pengetahuan. Dalam hal ini tentang fungsi akal diisyaratkan oleh surat Al-Jatsiyah ayat 5.” dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.” Maka dalam ayat tersenut terang sekali dari fungsi hati, yakni memahami tentang hukum kausalitas. Akal bekerja menemukan hubungan sebab akibat, yakni kenapa terjadi malam dan kenapa terjadi siang.

Dari berbagai perenungan dan percobaan, maka manusia (para ilmuwan) menemukan jawabannya. Bila belahan bumi menghadap ke mata hari maka permukaan bumi akan terjadi siang. Demikian pula sebaliknya, belahan bumi  yang lain terjadi malam. Demikianlah seterusnya.

Bila ada informasi dibawa oleh panca indera kedalam hati yang berupa problematika atau permasalahan, maka tugas-tugas akan dikerjakan oleh fikir terutama. Fikir adalah kemampuan yang ada dalam hati menghubungkan problematika dengan pengetahuan yang telah ada. Adakalanya proses menghubungkan itu berlansung sangat cepat adakalanya sangat lambat atau lama. Misalnya ada informasi berupa pertanyaan “ 2 + 2 = …….? “ dengan kecepatan tinggi fikiran akan menemukan pengetahuan yang telah ada yang bersesuaian sebagai jawabannya dan segera memberikan respon. Adakalanya memang sangat lambat. Fungsi fikir ini diisyaratkat dalam surat Al-Jatsiyah ayat 13. “Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir “. Jadi kata-kata menundukan adalah dalam arti bisa diolah untuk memenuhi kebutuhan hidup atau untuk memecahkan masalah. Kata orang bijak bertukar fikiran kita, itu baik. Tapi….. bertukar akal, sekali-kali jangan.

Selanjutnya dalam hati ada perangkat yang namanya Hawa (kemampuan untuk menyenangi atau membenci, suka atau tidak suka). Setiap orang punya hawa atau keinginan. Tapi sayangnya hampir semua orang memberikan pengertian yang konotasinya tidak baik ( – ) bila ada orang yang berkata tentang hawa nafsu. Pada hal hawa nafs(u) artinya adalah keinginan jiwa (keinginan seseorang). Bila segera diartikan negative, akan terhalang penalaran untuk mengembangkan pemikiran terhadap aspek lainnya. Sekaitan dengan hawa nafsu ini, bukan hawa nafsu itu yang jelek, akan tetapi yang jelek itu adalah objek yang diinginkan itu, atau sebaliknya. Persoalan ini sebaiknya dibahas pula dalam kesempatan lain.

Dalam hati ada kemampuan utuk menerima atau menolak sesuatu, bahasa Al-Qurannya adalah Fuad. Setiap orang juga punya fuad. Seseorang memiliki kemampuan menerimanya tinggi dan ada juga yang rendah. Misalnya kita mampu menelan obat yang sangat pahit, (pada hal rasa pahit tidak seorang pun yang suka atau menginginkannya), karena kita telah tahu bahwa memang obat itu dapat menyembuhkan penyakit. Kita mampu pula menolak yang manis dan enak, karena memang akan mendatangkan siksa dikemudian hari. Contoh yang sangat baik dalam surat Al-Qasash tentang cerita ibu nabi Musa as, dia mendapat perintah untuk menghanyutkan bayinya ke sungai, tugas itu dilaksanaknnya dengan baik (walaupun dalam keadaan berat hati). Begitulah fuad ummi Musa. ra.

Tentu saja sistem kerja hati tidak sesederhana uraian diatas. Sistem kerjanya sangat rumit, lebih lagi memahami saling kerjasama atau saling keterkaitan masing-masing perangkat hati tersebut dan lebih lagi masuknya faktor hidayah.

Sebaiknya baca juga tentang dua macam hati, yakni hati yang sehat dan hati yang sakit dalam buku “Keajaiban Hati”  oleh alm. Ibnu Qayyim Al-Jauziah.

Perlu diingat selama ini pemahaman terhadap hati nurani kehilangan esensi, karena masyarakat kita atau cendekiawan kita melupakan fakta historis. Pada awalnya ungkapan hati nurani, sekaitan dengan pemahaman Nur Allah atau  risalah yang telah di wahyukan Allah kepada rasulnya. Dalam hal ini tentu saja semua  risalah kepada semua nabi dan rasul. Kalau jaman sekarang sudah jelas pemahaman yang baik terhadap ayat-ayat Al-Quran. Terutama yang berkaitan dengan perkara yang tersuruh dan yang terlarang, yang halal dan yang haram, tentang yang zalim dan tentang keadilan.

Bagi orang-orang yang telah memahami  risalah dengan baik tentu di akan berperilaku atau mengambil keputusan dan tindakan sesuai dengan tuntutan risalah tersebut. Bila ia berkeinginan tentu keinginannya disesuaikan dengan nilai dan norma yang ada dalam risalah tersebut. Dasar keputusan pelaksanaan dan tujuan tindakan selalu diusahan berada dalam koridor risalah. Jadi Al-Quran alat timbangan akal dan fikirannya. Dan orang seperti itu pulalah disebut dengan ahli hikmah.

Itulah yang dimaksud dengan Hati Nurani

Faktabiru ya ulill abshaar, La’allakum  turhamuun.

Lubuk Buaya, November 09

Iklan

Responses

  1. Trimakasih pak Jalius setelah membaca tulisan bapak saya jadi sedikit mengerti tentang hakikat hati nurani ilmu saya yang awam ini jadi bertambah, saya suka tulisan bapak.

  2. ———————
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    ——————————–

    Terima kasih Endang, semoga Allah akan menambah Ilmu Endang.

    Kalau boleh saya tahu alamat Endang.
    Mungkin pak zul juga bisa membantu.

    Salam kenal, mukin bisa komunikasi lebih lanjut.

    Wassalam
    Jalius. HR

  3. TERANGI HATI
    BERSIHKAN PIKIRAN
    Mau Tau?
    Mengapa Amal,Zakat dan Sodaqoh Kita Sangatlah Penting Untuk Mengatasi Segala Macam Masalah
    Kehidupan Kita,Apapun Masalah Kita.
    Di Dalam Amal,Zakat dan Sodaqoh Ada Kandungan Lebih Mendalam Antara Kita Dan TUHAN, Dan di Situ
    Akan Membantu Apa Yang kita Risaukan.Dan Di Kami TAK SEKEDAR AMAL BIASA .BISA MENGATASI SEMUA MASALAH KEHIDUPAN.
    http:// penerang-hidup.blogspot.com
    email : jejak.kehidupan@yahoo.com
    Tempat kajian:
    Ds.Perigi Rt.007/04 Kel.Lengkong Wetan
    Serpong-Tangerang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: