Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | November 26, 2009

Mendiknas: Tak Ada Kata yang Melarang Pemerintah Gelar UN

Mendiknas:
Tak Ada Kata yang Melarang Pemerintah Gelar UN

JAKARTA, KOMPAS.com – Kamis, 26 November 2009. Mendiknas Mohammad Nuh mengatakan akan patuh terhadap keputusan lembaga negara dan siap menjalankannya.

Demikian hal tersebut juga diupayakan jika memang ada jalur hukum lain setelah kasasi ditolak. Mendiknas mengatakan, menurut para ahli hukum, masih ada upaya lain dalam bentuk PK (peninjauan kembali).

Persoalannya, jelas Nuh, sampai saat ini Depdiknas belum menerima putusan kasasi tersebut. Memang, lanjut Mendiknas, bunyi putusan tersebut ada di website MK yang menjelaskan kasasi pemerintah berkaitan dengan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat atas penyelenggaraan UN. Nuh menjelaskan, ia mencoba memahami putusan kasasi yang dikeluarkan MA sehubungan dengan keputusan pengadilan tinggi pada 3 Mei 2007 lalu itu.

Ada enam poin, lanjut Nuh, dan tiga di antaranya yang mungkin dimaknai dengan; pemerintah tidak boleh melaksanakan UN. “Kalau melihat keputusan itu, tidak ada satu kata pun yang menyatakan tentang dilarangnya pemerintah melakukan UN,” kata Mendiknas di Jakarta, Kamis (26/11).

Yang ada, tambah Mendiknas, sambil membagikan salinan keputusan pengadilan tinggi kepada para wartawan, dalam bentuk memerintahkan kepada para tergugat (baca:pemerintah) untuk meningkatkan kualitas guru, kelengkapan sarana dan prasarana sekolah, akses informasi yang lengkap di seluruh daerah di Indonesia, sebelum mengeluarkan kebijakan Pelaksanaan Ujian Nasional lebih lanjut; memerintahkan kepada para tergugat untuk mengambil langkah-langkah konkrit untuk mengatasi gangguan psikologi dan mental peserta didik dalam usia anak akibat penyelenggaraan UN; memerintahkan kepada para tergugat untuk meninjau kembali Sistem Pendidikan Nasional.

Terkait dengan perintah tersebut, Nuh menjelaskan, Depdiknas telah melakukan perbaikan-perbaikan dalam hal meningkatkan kualitas guru, kelengkapan sarana dan prasarana sekolah, akses informasi yang lengkap di seluruh daerah di Indonesia.

“Pada program seratus hari Depdiknas jelas terlihat upaya-upaya itu sedang dilakukan, misalnya menyambungkan internet ke 17.500 sekolah,” katanya.

Iklan

Responses

  1. ———————————-
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    —————————-
    Memang begutu seharusnya.

    …..”meningkatkan kualitas guru, kelengkapan sarana dan prasarana sekolah, akses informasi yang lengkap di seluruh daerah di Indonesia,”…….

    Itulah jalan yang harus ditempuh untuk meningkatkan kwalitas. Seharusnya tidak ditawar lagi. Upaya itu harus dilakukan oleh semua pihak, yaitu pemerintah, masyarakat dan (juga pada tingkat keluarga seperti yang pernah disampaikan oleh Bapak Marjohan). Bukan dengan menghapus UN. Bagaimanapun juga UN sebaiknya memang harus dilaksanakan, mungkin “teknis
    pelaksanaannya” yang perlu diperbaiki atau disempurnakan.

    Dalam hal memahami UN ada diatara kita yang salah. Katanya UN adalah untuk meningkatkan kwalitas pendidikan. Pada hal upaya untuk meningkatkan kwalitas, diantaranya seperti diungkpkan di atas.

    Sekali lagi saya sampaikan UN adalah alat ukur atau sistem penilaian tingkat keberhasilan untuk tingkat nasional. Bagaimana kita tahu kwalitas pendidikan secara nasional kalau tidak ada sistem evaluasi yang bersifat nasional.

    Pada level nasional kita tidak boleh menonjolkan ego sektoral atau bersifat kedaerahan. Standarnya adalah nasional. Jangan-jangan pendidikan yang berkwalitas di Indonesia hanya berada di Jakarta saja atau Surabaya. Bisa jadi milik orang kaya atau orang gede saja.

    Sekaitan dengan ide menghapus UN yang perlu dicermati adalah kepentingan terselubung.

    Demikian saja untuk sementara, selamat merayakan Idul Adha. Mohon maaf zahir dan bathin.

    Wassalam

  2. UN ditiadakan??? tentu tidak…
    UN itu sebenarnya baik apabila digunakan sebagai alat ukur keberhasilan, baik ditingkat sekolah, daerah maupun nasional. Akan tetapi ada kalanya UN ini tidak layak dilaksanakan, karena selama ini UN dijadikan sebagai penentu kelulusan atau standar kelulusan. Jadi kalau memang UN tetap dilaksanakan oke-oke saja, asalkan UN hanya sebagai tolak ukur. sedangkan yang menentukan kelulusan siswa kita kembalikan kepada satuan pendidikan masing-masing. Alasannya bahwa komponen yang ada pada satuan pendidikan itulah yang tahu siapa dan bagaimana siswa tersebut.

  3. ——————–
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    ——————————
    Terima kasih untuk Mhd. Ayub.

    Mhd. Ayub dan Mhd. Nuh krakternya sama. sama-sama berpredikat nama dua orang nabi.???

    Mhd. Ayub, kalau UN dilaksanakan, kemudian yang menentukan kelulusan adalah satuan pendidikan masing-masing, itu tidak UN namanya.
    Lebih pas disebut ujian sekolah, standar kelulusannya ditetapkan oleh sekolah. Hasilnya se Indonesia sudah pasti sangat beragam.

    Kalau UN ditujukan untuk melihat kemampuan siswa berdasarkan standar penilaian pada tingkat nasional. Karena kita memakai kurikulum secara nasional. Itu sudah barang pasti mengharuskan UN.

    Tapi kebanyakan kita tidak mau menerima dengan tulus, kalau memang anak kita yang bernilai rendah alias bodoh. Biasanya orang yang seperti inilah yang memulai “kecurangan”. Apalagi kalau ia seorang pejabat, atau seorang ilmuan kondang, merasa harga diri terganggu.

    Tidak ada jeleknya, kalau hari ini gagal besok kan bisa di ulang, begitulah jiwa orang yang penyabar.

    Seharusnya berapapun besar atau kecilnya rahmat yang kita terima harus disyukuri. Walau ilmu sedikit akan ada berkahnya.

    Semoga kita selalu diberi hidayah oleh Allah.
    wassalam
    Jalius.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: