Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Desember 2, 2009

Desain Besar Pendidikan

Desain Besar Pendidikan

Oleh : Doni Koesoema A
(Alumnus Boston College Lynch School of Education, Boston, AS)

Pendidikan bukan obat mujarab bagi berbagai macam persoalan yang dihadapi bangsa ini. Meski demikian, dengan mendesain kebijakan pendidikan secara baik dan sinambung, hal itu mampu memberi sumbangan yang bermakna bagi perubahan tatanan masyarakat.

Sayang, kebijakan pendidikan kita lebih banyak didasari perilaku reaktif untuk memenuhi kebutuhan sesaat dan sering kontraproduktif bagi dunia pendidikan sendiri. Mendesain kebijakan pendidikan secara integral merupakan keharusan.

Mengawali tugasnya sebagai Menteri Pendidikan Nasional, Mohammad Nuh melempar dua wacana penting, masalah integrasi evaluasi pendidikan dan pentingnya mendesain pendidikan yang mampu membentuk karakter budaya, bukan sekadar membentuk siswa menjadi individu yang santun, tetapi juga memiliki keingintahuan intelektual yang bermuara pada keunggulan akademis. Integrasi pendidikan dan pembentukan karakter merupakan titik lemah kebijakan pendidikan nasional kita selama ini.

Jika dua hal ini ingin menjadi sasaran Mendiknas, mau tidak mau harus berani mengkritisi kembali aneka macam kebijakan pendidikan yang telah lalu. Ada beberapa kebijakan pendidikan warisan Mendiknas sebelumnya yang harus ditelaah kembali karena tidak didasari sikap pikir jangka panjang, tetapi hanya untuk memenuhi kebutuhan reaksioner sesaat.

Tiga keprihatinan

Pertama, perubahan kebijakan proporsi pendidikan untuk menciptakan lebih banyak sekolah menengah kejuruan (SMK) dibandingkan dengan sekolah menengah atas (SMA) dengan rasio 70-30. Kebijakan ini amat reaksioner, tidak memerhatikan kepentingan jangka panjang kebutuhan nasional bangsa akan lahirnya generasi peneliti dan tenaga-tenaga terdidik secara akademis.

Di banyak tempat, perubahan rasio ini telah mematikan SMK-SMK swasta yang sudah mengalami krisis siswa sejak beberapa tahun. Partisipasi masyarakat dalam dunia pendidikan berkurang karena matinya sekolah-sekolah kejuruan swasta akibat gelojoh pemerintah dalam mendirikan SMK hingga ke pelosok.

Perlu diingat, banyaknya pengangguran terdidik dari perguruan tinggi ataupun lulusan SMA tak akan serta-merta diatasi dengan mendirikan SMK. Masalah pengangguran bukan soal utama dunia pendidikan, tetapi persoalan politik ekonomi yang kurang mampu memberikan keadilan bagi terciptanya lapangan pekerjaan. Sekolah tidak memiliki tanggung jawab menciptakan lapangan pekerjaan. Tugas mereka adalah mendidik dan membentuk mereka menjadi individu yang cerdas sehingga mereka menjadi lebih bermartabat dan dapat berpartisipasi aktif dalam kehidupan masyarakat.

Selain itu, perubahan proporsi ini akan memperkecil kesempatan siswa masuk perguruan tinggi (PT). Pada masa depan, PT memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlangsungan hidup masyarakat melalui kinerja penelitian dan keilmuan yang dimiliki. Kita akan kehilangan banyak dokter, peneliti, ilmuwan, dan lainnya karena kebijakan pendidikan kita lebih mengarahkan siswa pada akuisisi kemampuan dan keterampilan teknik, sedangkan refleksi filosofis intelektual yang memiliki rigoritas akademis kian berkurang.

Kedua, perubahan proporsi kebijakan ini tidak didasari cara berpikir integral, bukan hanya tentang keberlanjutan kompetensi akademis, tetapi juga pemahaman akan fungsi evaluasi itu sendiri.

Dari segi keberlanjutan kompetensi akademis, menciptakan lebih banyak SMK, sementara lupa mengintegrasikannya dengan membangun akademi atau politeknik sesuai kompetensi yang dibutuhkan, hanya akan menciptakan tenaga kerja murah dan hanya menguntungkan perusahaan swasta karena mereka tak perlu membiayai ongkos pelatihan untuk perekrutan karyawan yang baru, sementara beban seperti ini ditanggung negara.

Perubahan proporsi SMA-SMK dianggap merupakan bagian tugas Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah, sedangkan pendirian pendidikan setingkat akademi merupakan bagian kinerja Ditjen Pendidikan Tinggi. Dua direktorat jenderal ini harus bekerja sama menciptakan program pendidikan yang sinambung sehingga mereka yang masuk SMK memiliki kesempatan melanjutkan ke politeknik atau akademi yang setingkat dengan PT. Melulu membangun SMK tanpa dibarengi pengembangan politeknik dan akademi hanya akan melahirkan tenaga kerja murah.

Dari segi evaluasi, ujian nasional (UN) SMK dan SMA bermasalah. Hasil UN tidak akan bisa dipakai untuk melanjutkan ke PT karena tujuan evaluasi yang dibutuhkan oleh SMK/SMA dan PT amat berbeda. Dengan demikian, UN hanya akan menjadi pemborosan anggaran negara. Negara dan rakyat ditipu karena telah mengalokasikan uang untuk membuat evaluasi yang salah sasaran. Keinginan pemerintah untuk mengajukan peninjauan kembali atas putusan Mahkamah Agung tentang kebijakan UN menunjukkan bahwa pengambil kebijakan ini tuli dengan suara rakyatnya sendiri.

Ketiga, pembentukan karakter bangsa dalam konteks pendidikan harus bermuara pada keunggulan akademis. Tugas utama sekolah adalah membentuk anak-anak yang cerdas, pintar, kritis, yang mampu memahami tatanan sosial masyarakat menjadi lebih baik sehingga mereka mampu terlibat secara aktif dalam kehidupan masyarakat.

Mengajarkan kesantunan, tata krama, membentuk siswa menjadi anak yang saleh dan rajin berdoa, tentu menjadi bagian integral kinerja pendidikan, tetapi ini bukan tugas utama sekolah. Ini adalah tugas semua warga masyarakat Indonesia. Memupuk keingintahuan intelektual, seperti diindikasikan Mendiknas yang baru, merupakan tugas utama sekolah.

Kebijakan pendidikan yang dipikirkan secara matang dan berkesinambungan seharusnya menjadi orientasi bagi pemerintah dalam mendesain pendidikan nasional. Kebutuhan sesaat akan tetap berubah, tetapi menciptakan sebuah generasi yang memiliki keunggulan akademis kiranya menjadi tugas abadi setiap lembaga pendidikan.

Inilah yang seharusnya menjadi desain besar pendidikan nasional kita.

Sumber : Kompas Cetak

Iklan

Responses

  1. ——————————
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    —————————–
    Terhadap pemikiran yang dikemukakan oleh Bpk.Doni dari Amerika Serikat di atas, pertama kali yang akan saya komentari adalah baris pertama, seperti kutipan dibawah ini;

    …..”Pendidikan bukan obat mujarab bagi berbagai macam persoalan yang dihadapi bangsa ini.”…..

    Justru dengan pendidikanlah berbagai macam persoalan yang dihadapi bangsa ini diawali penyelesaiannya.

    Hanya saja ada bentuk pendidkan tersebut jauh sebelum kita lahir sudah dimulai, saat sekarang kita hanya melihat bentuk hasilnya saja. Misalnya kita sekarang hidup dalam Negara kesatuan Republik Indonesia yang merdeka. Jauh sebelum kemerdekaan, rakyat nusantara ini telah dididik oleh para ulama, kiyai atau guru-guru agama dipelosok nusantara menanamkan semangat untuk bersatu dan berjuang merebut
    kemerdekaan.

    Apa yang harus dilakukan, apa yang harus ada itupun harus diajarkan kepada generasi demi generasi, sehingga kita merebut kemerdekaan.

    Didalam era kemerdekaan, kita sibuk membangun. Sadar atau tidak apapun objek pembangunan harus diawali dengan pendidikan, yakni pendidkan formal, non formal dan informal. Sasarannya Balita, remaja dan orang dewasa. Tempatnya di Kota Jakarta, Kota Provinsi, kota kabupaten samapai kepelosok yang terpencil.

    Berbagai sekolah dibangun, berbagai penyuluhan dilaksanakan, berbagai pelatihan juga diadakan. Semuanya itu mempersiapkan masyarakat Indonesia suapaya punya pengetahuan tentang apa yang akan ia kerjakan, memberikan keterampilan agar ia mudah melaksanakan kerja, dan menanamkan sikap untuk membangun peradaban.

    Perlu juga Pak Doni fahami, bahwa ada obat yang beberapa menit saja dapat menghilangkan penyakit, ada yang berbilang hari, ada yang berbilang bulan dan bahkan memang ada obat tidak mendatangkan kesembuhan, walaupun sudah banyak dukun dan dokter yang menanganinya.

    Pendidikan juga begitu, tidak semua orang bisa cerdas dengan pendidikan dalam waktu yang bersamaan.

    Negara kita sedang membangun, kalau ada suatu kebijakan yang dilkukan oleh pejabat pemerintan sudah pasti berdasarkan pertimbangan yang matang pada saat itu, artinya sudah berdasarkan situasi dan kondisi serta kemampuan-kemampuan yang lain.

    Yang jelas sampai hari ini pendidikan di Indonesia semakin maju, baik ditinjau secara kwantiatif maupun kwalitatif. Berbagai persoalan besar sudah banyak yang bisa selesaikan dengan bermodalkan pendidikan yang telah kita bangun.
    Sebaiknya kita jangan menutup mata sebelah dalam memandang realitas ke Indonesiaan. Silahkan buat perbandingan sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu dengan saat sekarang.

    Lain waktu disambung lagi.
    wassalam
    Jalius.

  2. Pak Jalius Ytk,
    terimakasih atas tanggapan Anda. Komentar Anda tentang kalimat pertama dalam artikel saya, bisa benar, bisa tidak tergantung bagaimana kita melihatnya. Saya setuju dengan pendapat Anda bahwa Pendidikan pastilah memberikan sumbangsih bagi penyelesaian persoalan di negeri ini. Yang ingin saya katakan adalah bahwa tidak semua hal yang terjadi di dunia luar sana, mesti menjadi tanggungjawab dunia pendidikan. Setiap bidang itu berhubungan satu sama lain. Maka adalah tidak masuk akal menimpakan banyak ketidakberesan yang terjadi di luar semata-mata mempersalahkan pada dunia pendidikan atau menganggap bahwa seluruh persoalan akan selesai dengan perbaikan dalam dunia pendidikan.
    Saya melihat kebijakan pendidikan kita itu memiliki pandangan jangka pendek. ada banyak pengangguran, maka sekolah harus menciptakan orang yang langsung bisa kerja, maka SMK harus diperbanyak. Logika ini sesat, karena meremehkan tujuan terdalam dunia pendidikan itu sendiri yang adalah membentuk manusia secara utuh, BUKAN sekedar mencetak mereka yang bisa kerja.
    Tidak dapat dihindari bahwa sudah ada kemajuan dalam dunia pendidikan kita. Kalo memang sudah ada yang bagus, memang harus kita puji dan kita dukung. Tapi sayangnya, saya sendiri belum melihat perubahan signifikan dalam dunia pendidikan kita. Lebih parah malah iya. Jadi, kalo Anda berpendapat sudah ada kemajuan, silakan Anda tulis saja berbagai kemajuan itu biar orang lain juga melihat bahwa telah ada kemajuan. Sedangkan tulisan saya, biarlah menjadi fungsi kritis saja bagi kemajuan yang sudah ada itu, karena saya berpikir, saya tidak akan pernah puas dengan situasi yang sekarang, dengan harapan dan keyakinan bahwa ada yang lebih baik lagi yang masih bisa kita lakukan. Inilah semangat yang selalu melandasi pemikiran dan tulisan saya.

    Terimakasih.
    Salam kenal,
    Doni Koesoema A

  3. —————————-
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    —————————–
    Terima kasih saya ucapkan kepada yth,Bpk Doni.

    Salam kenal Pk Doni saya terima dengan baik, saya sadalah salah seorang tenaga pengajar di Jurusan Pendidikan Luar sekolah,Universitas Negeri Padang. Dan juga alumnus jurusan tsbt.
    berdomisili di Lubuk Buaya Padang.

    Kepada semua pembaca E-Newsletter Disdik Sumbar, barangkali sangat bagus juga kita perhatikan buah fikiran Bpk. Doni dalam artikelnya diatas. Tentu saja semua-semua bermuara pada peningkatanan pembangunan pendidikan di Negeri ini. Berikut ini saya akan menyambung komentar saya yang terdahulu.

    Pertama, saya berterima kasih kasih atas balikan dari komentar saya yang pertama. Sekaitan dengan dengan itu saya menyampaikan kepada kita semua, bahwa kita harus membedakan pemikiran-pemikiaran yang bersifat rasional dan pemikiran bersifat emosional.

    Kedua, komentar saya kedua adalah tentang paragraf kedua dari artikel Bpk, Doni yakni;

    ……….”Sayang, kebijakan pendidikan kita lebih banyak didasari perilaku reaktif untuk memenuhi kebutuhan sesaat dan sering kontraproduktif bagi dunia pendidikan sendiri. Mendesain kebijakan pendidikan secara integral merupakan keharusan.”…….

    Ada kata kunci “reaktif” . Memang harus begitu.
    Bila ada persoalan-persoalan dalam pembangunan, tentu saja harus ada “reaksi” dengan berbagai macam program ( sebagai respon ), tentu saja ujungngnya adalah penyelesaian masalah. Setiap pejabat pada semua lefel tentu saja selalu ada bermacam-macam kebijakan sebagai strategi jangka pendek. strategi jangka pendek selalu merupakan bagian yang sangat penting yang berguna untuk ” mengansur” pencapaian program jangka panjang.

    Dengan strategi jangka pendek, tidak hanya kebutuhan sesaat saja yang dapat dipenuhi, tetapi juga untuk kebutuhan di waktu yang berkelanjutan.

    Ungkapan “kontra produktif” bahasanya sangat tendensius. Tinjaulah kembali !!!

    Berikut kata kunci kedua “secara integral”. Saya bertanya pada Pak. Doni bagaimana mekanismenya menyusun “kebijakan” secara integral. Saya bukan beranggapan tidak bisa, hanya saja saya membayangkan (belum memikirkannya) betapa kerja berat yang harus dilakukan. Terutama batas lingkupnya.

    Bayangkan saja oleh para pembaca, pembangunan pendidikan di Indonesia bukan hanya tanggung jawab Depdiknas saja, akan tetapi menjadi tanggung jawab semua departemen. Baik melalui jalur pendidikan formal maupun jalur pendidikan pendidikan non formal ( seperti di Dik-lat). Dalam hal ini perlu juga saya sampaikan, kalau dikalkulasikan semua anggaran pendidikan pada semua departemen sudah luar-biasa artinya sudah melewati angka 20% sebagai angka yang kita tuntut selama ini.

    Pembaca E-N yang budiman, Kalau di Depdiknas, pada periode yang baru saja berlalu, bukan program jangka panjang yang tidak ada, hanya saja Pak. Doni dan juga banyak diatara pembaca yang tidak ingin tahu tentang program jangka panjang dari Depdiknas kita. Silhkan di k e l i k
    “Rencana Pembangunan Jangka Panjang Pendidikan Nasional” .

    Demikian saja untuk sementara, Insya Allah dilain waktu akan saya sambung lagi, Selamat menganalisis dan saling koreksi.

    Wassalam
    Jalius. HR

  4. Ass.w.w…saya sangat setuju dengan pendapat bapak tentang UN, kenapa pemerintah tidak memanfaatkan uang negara untuk yang lebih penting misalnya untuk biaya kompetensi ganda bagi guru-guru yang mengajar tidak sesuai dengan basicnya agar kompetensi guru tersebut lebih menguasai materi yang diajarkan. maksud saya beasiswa tersebut lebih diutamakan untuk daerah-daerah kecil seperti Kota Banjar yang kebetulan saya menunggu untuk mata pelajaran sosiologi karena menurut saya sosiologi sangat penting bagi siswa untuk kehidupannya kelak setelah keluar sekolah. semua aspek yang dapat siswa peroleh dalam sosiologi nantinya akan meluas ke semua kehidupannya.

  5. ———————–
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    —————————-

    Salam kenal dengan Nining Mulyati.
    Ada suatu hal yang perlu diketahuai oleh nining, berbagai kebijakan pemerintah sudah bagus. Tapi ada saja diantara “oknum pejabat” yang mengkhianati. Misalnya ada ada saja pemotongan-pemotongan gaji dsb, penahanan-penahann, uang setifikasi sudah ada untuk yang telah lulus masih saja ditahan.

    Bersabarlah wahai guru-guru, semoga Allah mendatangkan pertolongannya.

    Wassalam
    Jalius.HR

  6. Terima kasih saya haturkan buat pa Jalius.HR, ya betul sekali itulah maksud saya kenapa “oknum pejabat” mengkhianati negara yang sehingga berdampak kepada masyarakat yang akhirnya protes dan demo. Semoga Allah membukakan hati mereka untuk kembali pada jalan yang benar menurut syariat Islam.
    Dan salam kenal dari Kota Banjar. saya sangat senang masih diberikan kesempatan untuk membaca artikel-artikel pendidikan insya Allah saya akan belajar menulis seperti anda.

    Wassalam,
    Nining Mulyati

    • اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ

      Salam kenal buat Ninng, Kalau boleh saya tahu alamat blog atau E-mail nya.
      sebelumnya saya ucapkan terima kasih
      Wassalam

      • niningmulyati@ymail.com jika bapa berkenan tuk silaturahmi dng saya, besar harapan bisa sharing informasi ma orang hebat seperti anda dan saya perlu banyak belajar dalam dunia pendidikan karena guru honour seperti saya sangat minim dalam hal itu. saya senang membaca dan belajar semua tentang pendekatan dan strategi belajar dan mengajar yang akhirnya saya merasa terpanggil untuk senantiasa meningkatkan mutu pendidikan demi anak-anak saya.
        Wassalam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: