Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Desember 5, 2009

Rumus Kelulusan Harus Diperbaiki

Rumus Kelulusan Harus Diperbaiki

JAKARTA, KOMPAS.com- Sesuai teori evaluasi pendidikan, pengukuran kemampuan anak harus menggunakan standar norma. Sementara itu, standar mutlak digunakan untuk mengukur mutu pendidikan secara menyeluruh dan tidak menjadi penentu kelulusan karena hanya bersifat pemetaan.

Demikian hal itu dikemukakan oleh pakar pendidikan Arief Rachman, Kamis (3/12) malam. “Jika menggunakan standar norma, berarti UN harus memperhitungkan rata-rata kekuatan daerah dan setiap anak didik. Memang rumit tetapi ini cara yang benar. Jangan pilih yang mudah tetapi salah,” ujarnya.

Secara teori, proses evaluasi akhir dari proses pendidikan memang harus ada. Namun, secara hukum terminologi UN itu tidak ada, yang disebutkan hanya evaluasi akhir. “Tetapi di PP 19 tahun 2005 muncul istilah UN. Ini yang harus diluruskan supaya antara PP dengan UU Sisdiknas konsisten,” kata Arief.

Dalam evaluasi akhir yang berfungsi sebagai pemetaan, yang harus diperhatikan adalah kekuatan rata-rata daerah masing-masing. Namun, yang terjadi pada UN saat ini justru penilaian terhadap anak didik dipukul rata, sama dengan standar minimal kelulusan yang hanya memerhatikan nilai mentah. Disinilah letak kekeliruannya.

“Kalau mengadakan UN seperti sekarang jelas melanggar prinsip keadilan pendidikan, sebab rumus yang dipakai juga keliru. Yang sedang dinilai itu apa, mutu pendidikan Indonesia atau anak didik. Dengan evaluasi itu nanti bisa kita gunakan untuk menyusun strategi perbaikan mutu pendidikan setiap daerah,” kata Arief.

Untuk mengetahui secara persis hasil proses belajar mengajar pada anak didik, penilaian harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari absensi, akhlak, prestasi selama tiga tahun, ujian sekolah hingga UN. Untuk menilai secara obyektif kemampuan anak didik perlu ada rumusan evaluasi yang mencakup seluruh aspek dari kepala sekolah dan dewan guru sebagai pihak yang paling mengetahui perkembangan anak didik.

“Hasil UN seharusnya diramu dengan hasil penilaian sekolah oleh kepala sekolah dan dewan guru sehingga sekolah memiliki wewenang dan kekuatan. Tetapi sekali lagi pihak sekolah juga harus jujur dalam memberikan penilaian untuk kelulusan anak didiknya,” kata Arief.

Daripada kontroversi pelaksanaan UN terus berlanjut, Arief mengusulkan ada baiknya ada masa transisi selama 2-3 tahun untuk memperbaiki dan menyempurnakan pelaksanaan evaluasi proses pendidikan.

Iklan

Responses

  1. —————————-
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    ——————————-
    Ada dua hal yang akan saya berikan komentar;

    Petama, Apa iya Pak Arief Rahman pakar pendidik atau pakar politik ?

    Kedua, semua kita yang terlibat dengan pengelolaan Pendidikan Nasional harus tahu beberapa konsep dasar, diantaranya pasal 1 ayat 17. 18. 19 .dan 20 dari PP No.19 Tahun 2005 seperti berikut;

    ayat 17. Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik.

    ayat 18. Evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen
    pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban
    penyelenggaraan pendidikan.

    ayat 19. Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk memantau kemajuan dan
    perbaikan hasil belajar peserta didik .

    ayat 20. Ujian adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai pengakuan prestasi belajar dan/atau penyelesaian dari suatu satuan
    pendidikan.

    Dengan demikian tentu saja kita akan ingin tahu mana yang dimaksud oleh Bpk. Arief. Masing- masing konsep tentu akan memiliki objek yang spesifik yang sangat tegas ruang-lingkupnya.

    Fikir, dan fikir kembali adalah pelita hati.

    Wassalam
    JaliusHR

  2. UN dimajukan juknis belum keluar, status tidak jelas, belum lagi anak – anak yang berat. Kami guru di daerah harus bagaimana? jika anak – anak kami banyak yang tidak lulus, apakah ini melulu hanya kesalahan otak mereka yang tidak pintar???

  3. ————————-
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    —————————–

    Widoko ysm. Keluhan Bpk. keluahan kita semua.
    Bukan karena mereka tidak pintar, hanya faktor ketidak adilan yang sangat utama.

    Namun demikian pemerintah telah berbuat semaksimal mungkin berdasarkan kondisi yang ada. Banyak juga faktor pengaruh yang lain yang membuat anak mengalami ketimpangan dalam proses belajarnya dengan sekolah atau anak lainnya. seperti semangat orang tuanya meng-ikutkan anaknya dalam bimbel (khususnya di perkotaan), Sumbangan alumni dan orang tuanya pada sekolah bersangkutan dan lain sebagainya.

    Namun demikian, yang lulus ujian tetap saja anak yang pintar, sekalipun fasilitas sekolahnya cukup memadai. Sistem apapun yang akan digunakan untuk menilai keberhasilan siswa, kwalitas terbaiknya selalu jumlah orangnya selalu kecil, tidak menurut keinginan banyak orang.

    Seharusnya kita berbangga dengan UN, agar anak lulus pihak sekolah harus berjuang. Dalam bersaing tentu saja kita tidak bisa bersntai, guru semakin meng-up date pengetahuannya dan metodologi mengajarnya, kepala sekolah harus rajin datang kesekolah, jangan terlalu sering “meetting” disana, disini dan disitu. Jangan berlomba membeli mobil, tapi berlombalah memajukan sekolah.

    Maaf, memang anak tidak harus lulus semua. kalau lulus semua berarti kwalitas rendah. Dalam hal ini wawasan pendidik perlu diperbaiki. Sebab apa, ada diantara guru yang berkata kepada anak didiknya “kalau kamu tidak lulus, nanti kamu akan menjadi apa ? ”
    “Coba perhatiakan buruh di pelabuahan sana, kerjanya mengangkat barang, mereka adalah orang-orang yang tidak bersekolah” dan banyak lagi nada-nada minor dalam mendidik anak.

    Berikanlah semangat kepada anak, agar ia mau untuk melakukan apapun pekerjaan, sesuai kemampuan dan kecerdasanya. Walau dia tidak cerdas, walau ia tidak lulus, walau ia DO atau putus sekolah bekalilah mereka dengan pengetahuan yang tidak diskriminatif.

    Harusnya bagaimana lagi? Dalam pendidikan sampaikan kepada anak, dalam kehidupan ini banyak sekali jenis pekerjaan. Ada pekerjaan, yang hanya dapat dikerjakan oleh orang yang bersekolah tertentu. Banyak pula pekerjaan yang yang bisa dikerjakan oleh orang yang tidak bersekolah sekalipun namun hasilnya bagus. Yang terpenting adalah setiap pekerjaan yang kita kerjakan adalah “halal”, atas jerih payah kita sendiri. Apalah artinya pekerjaan yang hasilnya banyak atau bersar tapi tidak halal. itu namanya celaka.

    Disamping itu juga tunjukilah anak, mungkin ada diantara mereka tidak mempu bersekolah untuk selajutnya, sampaikan kepada mereka, pendidikan luar sekolah sangat banyak yang bisa mereka ikuti, berbagai kursus, baik yang dikelola pemerintah maupun yang dikelola oleh swasta. Mungkin keterampilan tersebut nanti akan berguna baginya kemudian hari. Berikan contoh sebanyak mungkin. Jangan dipaksa anak supaya harus lulus ujian, mereka ditakut-takuti. Banyak diantara anak-anak kita yang sudah jenuh untuk belajar, Ada diantara anak-anak ini tidak lagi bisa diolah dengan BK (bimbingan konseling). Dalam hal ini pihak guru perlu “kear’arifan”.

    Kalaulah ada diatara kita yang menilai rendah atau remeh terhadap pekerjaan yang dikerjakan oleh orang yang tidak bersekolah atau sekolah rendah, berarti tanda iman belum tumbuh dalam dadanya.

    Banyak maaf, semoga bermanfaat.
    Wassalam
    Jalius HR

  4. Ada sedikit uneg-uneg tentang UN, dalam menghadapi UN saya juga sebagai guru Bahasa Inggris dan Sosiologi suka was-was karena keresahan apabila membayangkan anak-anak ada yang tidak lulus UN. Keresahan tsb timbul karena “Daya dukung” dan “Intak Siswa” yang lebih rendah di banding Kota besar lainnya yang akhirnya “Tingkat Kesulitan” materi ajar pun dirasakan sangat besar oleh anak-anak karena faktor sarana dan prasarana (daya dukung) yang terbatas yang mengakibatkan intak siswa juga rendah… tiga faktor (Daya dukung, intak siswa dan tingkat kesulitan) merupakan indikator-indikator penentuan KKM. Yang jadi masalah buat saya UN merupakan standarisasi nasional hal tersebut mungkin sangat mudah bagi sekolah-sekolah di Kota besar karena sarana dan prasarana serta guru yang profesional lebih banyak di sana..duh, tolonglah gimana nih advise buatku dalam menghadapi UN, saya merasa bertanggungjawab andaikan banyak anak didik saya yang tidak lulus UN.
    Saya tunggu advisenya. Trims.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: