Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Desember 8, 2009

BERPRESTASI DI NEGERI ORANG

BERPRESTASI DI NEGERI ORANG

kick andyKick Andy.com, Sudah tidak bisa disangkal lagi, mutu pendidikan di Indonesia banyak dikeluhkan berbagai kalangan. Dari tahun ke tahun selalu fasilitas sarana dan pendanaan yang menjadi faktor kendala utama. Dan, ini tentu saja berakibat mutu lulusannya dipertanyakan. Kita mungkin sudah ketinggalan jauh di tingkat regional Asia Tenggara, terutama dari negara Singapura atau Malaysia.

Di tengah keterpurukan soal mutu dunia pendidikan kita, ternyata tidaklah sama dengan tingkat intelegensi manusia Indonesianya. Sejumlah orang Indonesia ternyata banyak yang berotak encer. Mereka bekerja di luar negeri seperti di Eropa, Amerika dan Jepang. Bahkan berhasil menduduki posisi penting.

Suhendra misalnya. Pria kelahiran Jakarta, 17 November 1975 itu, saat ini bekerja pada Badan Peneliti Jerman, BAM di Berlin. Alumnus Universitas Diponegoro Semarang itu berhasil bekerja sebagai peneliti di Jerman setelah meraih gelar doktor di sebuah univeritas teknik di Jerman. Uniknya, Suhendra yang ahli di bidang metal eksplosif itu membiayai kuliahnya dengan bekerja serabutan dan mengumpulkan botol bekas.

Jabatan yang diraih Andreas Raharso mungkin membuat kita berdecak kagum. Pria berusia 44 tahun itu saat ini menduduki pimpinan atau CEO pada sebuah lembaga riset global Hay Group yang berkantor di Singapura. Hay Group sendiri mempunyai jaringan di hampir belahan dunia dan berkantor pusat di Amerika. Klien dari Hay Group ini kebanyakan adalah para pimpinan dunia seperti Amerika serikat, Perancis dan Inggris. Jabatan yang diraih Andreas Raharso cukup fenomenal, karena merupakan satu-satunya orang Asia yang berhasil menduduki posisi puncak. Selama ini jabatan itu didominasi warga Amerika dan Eropa.

Satu lagi orang Indonesia yang berhasil menduduki posisi penting adalah Profesor Yow Pin Liem. Pria 49 tahun asal Cirebon, Jawa Barat itu adalah pimpinan dan pendiri sebuah perusahaan riset Pro Thera Biologisc di Rhode Island, Amerika Serikat. Di tempat riset Prof Yow ini sudah banyak berkontribusi melakukan penelitian terutama masalah pemahaman seputar molekul kanker dan anthrax.

Barangkali gelar akademis yang diraih Kent Sutanto ini tentulah langka. Pria kelahiran Surabaya 1951 silam itu meraih gelar doktor di Jepang. Tidak tanggung-tanggung gelar doktor yang diraih Kent di negeri sakura itu sebanyak empat gelar dari universitas yang bebeda. Saat ini Kent Sutanto mengajar di Universitas Waseda, kampus almamaternya. Selain itu Kent Sutanto juga sebagai dosen tamu di Universitas Venesia, Italia. Karena otaknya yang cemerlang, pria asal Surabaya yang sudah 35 tahun tinggal di Jepang itu mendapat kepercayaan pemerintah setempat duduk di MITI, semacam Departemen dan Perindustrian Jepang.

Menilik prestasi dan kegigihan orang-orang Indonesia ini memang tidak kalah bahkan setara dengan ilmuwan dunia. Walau kondisi pendidikan di tanah air dirasa masih belum kondusif mereka mampu menembus ruang dan waktu berkiprah cemerlang di tingkat internasional. Mereka mengaku masih betah mengabdi di mancanegara. Mereka belum berniat untuk berkiprah di tanah air, karena mereka trauma ilmu yang mereka raih dengan susah payah itu tidak mendapatkan penghargaan yang selayaknya.

Iklan

Responses

  1. —————————–
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    —————————–

    Banyak orang berdecak kagum,……..
    Untungnya cuma paling-paling orang tuanya dapat kriman sekali sebulan atau seperti TKI yang lain.

    Orang hebat tapi tidak mengabdi di Negaranya, saya hanya ikut tercengang.

    Berikanlah penghargaan kepada orang yang mau membangun kampung halamanya, dan mau menderita bersama orang tuanya atau masyarakatnya.

    Untuk sementara biar bobrok kwalitas pendidikan kita, tapi mampu mendidik anak bangsa yang mau mengabdi untuk Negerinya.

    Bagi kita yang dibutuhkan adalah ilmuan yang mau ikut menanggung suka duka kehidupan berama, itulah jiwa nasionalis.

    Mungkin inilah salah satu bentuk sikap yang perlu ditumbuhkan dalam jiwa anak didik, yaitu kebanggaan dengan kampung halaman,

    Mudah-mudahan berita tersebut menjadi pelajaran untuk penyadaran.

    Wassalam
    Jalius HR.

    • Waalaikumussalam wr. wbr.

      Pak Jalius Ysh, Berita diatas (Kick Andy) sudah ditayangkan di Metro TV, bukannya mereka tidak mau mengabdi di negeri sendiri, tapi mereka yang berprestasi di negeri orang tersebut tidak mendapat tempat di negerinya sendiri.

      Saya masih ingat sewaktu Adam Malik menjadi Menlu RI beliau ketemu Pak Habibi di Jerman beliau mengajak untuk mengabdi di negeri sendiri, apa jawab Pak Habibi di waktu itu; “Saya mempunyai keahlian membuat kapal terbang, kalau saya kembali ke Indonesia, apakah saya dapat membuat kapal terbang ?, karena dinegeri awak tidak ada pabrik kapal terbang, Pak Menteri !”

      Ada pula fenomena di negeri kita ini, mereka yang mempunyai kreasi dan inovasi diberi kesempatan belajar atau kuliah ke jenjang lebih tinggi atau keluar negeri dalam rangka merebut jabatan yang dipegangnya, dan atau dalam rangka menjaga kestabilan atasannya karena mereka dapat berpotensi merebut jabatan atasannya. Nah untuk itu diberilah mereka belajar keluar negeri (baca; mencopot jabatan) dan sekembalinya dari luar negeri mereka kehilangan jabatan dan tidak ditempatkan sebagaimana layaknya seperti tujuan awal selesai kuliah di luar negeri.

      Pak Jalius Ysh, pengalaman saya di kantor fenomena serupa juga banyak terjadi, pejabat lebih suka dan lebih aman memakai orang-orang yang tidak mempunyai, terobosan, inovasi dan kreasi, karena orang-orang mempunyai kreasi dan innovasi dapat mengancam kedudukan mereka. Yaa, untuk kestabilan dan dalam rangka tetap eksis si pejabat tsb lebih enak memakai bawahan yang kemampuannya setengahnya [ kalau Pak Fekrynur menyebutnya “bendera setengah tiang” silahkan klik disini untuk membaca artikelnya : http://groups.yahoo.com/group/pakguruonline/message/39 ]

      Wassalam,
      Zulfikri.

  2. ————————–
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    ——————————
    Terima kasih banyak Pak Zul.
    Maaf pak Zul, Rupanya saya salah sambung lagi.

    Mohon maaf dari pembaca E-N. Semoga semua semuanya menjadi pelajaran bagi kita.

    Wassalam
    Jalius. HR


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: