Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Desember 10, 2009

JK: Penghapusan UN Membuat Anak Bodoh!

JK: Penghapusan UN Membuat Anak Bodoh!

SLEMAN, KOMPAS.com – Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyatakan ketidaksetujuannya terkait putusan Mahkamah Agung (MA) yang menghapuskan pelaksanaan ujian nasional (UN). Hal itu dinilainya akan membodohi jutaan anak Indonesia.

Demikian hal itu dikemukakan oleh JK saat memberikan kuliah umum pada pembukaan Musyawarah Nasional Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam Swasta (BK-PTIS) di kampus Universitas Islam Indonesia, Sleman, Yogyakarta, Kamis (10/12/09).

“Orang bisa menjadi pintar itu karena belajar. Kenapa belajar, karena akan diujikan. Kalau tidak ada ujian dan semua bisa lulus, untuk apa belajar?” kata Kalla, yang juga menjabat Ketua Dewan Penasehat BK-PTIS.

UN, lanjut JK, merupakan sarana untuk membuat seluruh siswa di Indonesia sama pintarnya, karena memakai satu standar. “Siswa di Kendari, Ternate, maupun di mana saja di seluruh pelosok negeri di-set pengetahuannya sama dengan siswa di Jakarta maupun kota besar lainnya,” ujarnya.

Penghapusan UN juga dinilai kemunduran, karena saat ini, negara-negara maju seperti Amerika Serikat, juga sudah mulai menerapkan UN. “Tanpa itu, siswa akan santai-santai saja belajarnya. Mungkin akan ada yang stres karena UN, tapi lebih baik beberapa yang stres daripada membuat jutaan anak menjadi bodoh,” ucapnya.


Responses

  1. UN boleh saja dilakukan pak, tapi bukan menjadi satu-satunya alat penentu kelulusan murid, karena dibandingkan pentingnya melakukan penilaian hasil maka jauh lebih penting lagi melakukan penilaian proses. Penilaian juga harus dilakukan selama masa pendidikan. Dan kalo mau melaksanakn UN maka standar mutu pendidikan dululah yang harus disamakan diseluruh wilayah Indonesia. Masa anak desa menaghadapi soal dengan kesulitan yang sama dengan anak kota seperti Jakarta. Saya kira ini tidk adil. Mari renungkan bersama.

  2. —————————–
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    —————————

    Masih ingatkah pernyataan Bpk Mhd Nuh tempo hari ?

    “Tidak satu kata pun keputusan MA melarang pelaksanaan UN.”

    Menurut hemat saya orang yang menentang pelaksanaan UN salah satu indikator malas berjuang atau berkompetisi. Ingat semakin kedepan persaingan semakin tegas, dan menyebabkan banyak orang tidak bisa bersantai, harus kerja keras, ya tiap hari.

    Persaingan akan dimenangkan oleh orang selalu berjuang dengan kecerdasan. Tapi ingat bagi anak yang kurang cerdas jangan ditakuti sehingga mereka pesimis dalam kehidupannya.
    Kepada mereka berikan motivasi untuk memperkuat percaya diri mereka. Berikan jalan-jalan pemecahan masalah kalau seandainya mereka memang kurang cerdas dan tidak lulus UN.

    Jangan dididik anak menjadi orang yang sombong, sehingga menimbulkan dampak negatif pada anak yang kurang mampu. Menimbulkan sikap kurang bersahabat bagi anak yang memiliki kemampuan plus, mereka mersa mampu mandiri, pada hal mandiri itu adalah “fatamargana”. Bagi anak yang kurang mampu, mereka tidak rela menerima “dirinya” sebagai orang yang kurang cerdas. Termasuk san orang tuanya, juga pemdanya. Faham darwinisme harus dijauhkan. didiklah anak mau berkasih sayang dengan semua orang. Artinya apa, ya sikap sosial harus di pertebal.

    Semua pihak khususnya yang terlibat mengelola pendidikan harus memahami konsep “Individual diferences” setiap anak memiliki perbedaan terutama dibidang kemamapuan kecerdasan. Makanya anak yang kurangcerdas jangan dipaksakan lulus dengan jalan kecurangan. Bagus nilai karena kecurangan, anak juara karena “pandangan”…….

    Selamat menjalankan tugas semoga Allah memberkatinya.

    Wassalam.
    Jalius HR

  3. UN perlu diadakan seperti yang sudah-sudah, karena kita perlu mengukur kananpuan siswa sejauh mana nereka memahami pelajaran yang diberikan oleh guru mereka, sesuai dengan kurikulum yang dipakai yaitu KTSP.

  4. UN perlu diadakan seperti yang sudah-sudah, karena kita perlu mengukur kamampuan siswa sejauh mana nereka memahami pelajaran yang diberikan oleh guru mereka, sesuai dengan kurikulum yang dipakai yaitu KTSP.

  5. sebelum mengatakan UN perlu diadakan atau tidak, apa tidak sebaik nya kita tinjau kembali apa sebenar nya esensi dari ‘pendidikan’. Apakah pendidikan itu hanya transfer knowledge? Atau lebih dari itu? Kalau pendidikan hanya dilihat sebagai transfer pengetahuan, maka sangat pas kalau kemudian menghasilkan manusia-manusia yang tidak memiliki kecerdasan sosial, kecerdasan emosional, dan kering jiwa nya. Hanya mengejar nilai dan nilai… nilai tinggi dalam ujian, terutama UN, lalu itu dianggap sebagai ukuran kecerdasan seseorang. Apakah kecerdasan itu hanya terbatas di situ? disempitkan hany dalam batas penguasaan materi-materi yang diberikan guru? Apakah juga keberhasilan manusia hanya ditentukan oleh “kecerdasan” yang disempitkan itu? Come on……coba donk berfikir lebih luas…..
    Saya setuju dengan tanggapan Haris Effendi. Anak yang dididik di remote area, tempat terpencil, yang tidak memiliki fasilitas se lengkap yang di kota, tidak seharus nya diukur dengan ukuran yang sama dengan anak yang sekolah di kota, yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang mendukung pembelajaran.
    Sangat bisa dipahami kalau kemudian muncul berbagai kecurangan dalam pelaksanaan UN. Hal itu mendidik siswa ketidakjujuran. Keadilan serta kejujuran harus dicontohkan sejak dini. Pendidikan tidak hanya masalah penguasaan materi, tapi lebih dari itu juga pembentukan kepribadian yang luhur, menghargai nilai kejujuran, keadilan, dan berbagai unsur etika lain.

  6. —————————
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    —————————–

    Ada dua pertanyaan Bpk Haris Efendi;

    Pertama, adakah Bpk membaca PP No 19 th 2005 ?

    Kedua. Apa alasan logisnya jeleknya UN ?
    Berdasarkan statistik berapa % jeleknya ?
    Tolong jawab Pak Haris Supaya masyarakat kita khususnya Sumatera Barat tahu betul kondisi UN tersebut.

    Selamat menganalisis dan saling koreksi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: