Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Desember 16, 2009

6 tanda sekolah anda perlu berubah

6 tanda sekolah anda perlu berubah

Agus Sampurno IT specialist teacher at Sekolah Global Jaya Indonesia

Sebagai pendidik, kita perlu mempertimbangkan kembali fungsi kita dalam kehidupan siswa kita. Pertama sebagai orang yang menghubungkan mereka degan masa depan, kemudian baru sebagai orang yang mengajarkan mereka pengetahuan.

Kata perubahan sepertinya semakin akrab di telinga. Apalagi ketika salah satu pemimpin di negara adi daya memenangkan pertarungan politik pemilihan di negaranya dengan semboyan ‘change’ atau perubahan. Dalam dunia pendidikan sepertinya kata perubahan belum terlalu akrab dalam praktek dan perwujudannya. Masih banyak sekolah dan guru sebagai aktor utama di sekolah, berpikir bahwa untuk apa berubah?” Toh bagini saja saya sudah akan terima gaji dan pendapatan tiap bulan?” atau ungkapan yang ini “untuk apa berubah, kalo hal itu malah akan membuat pekerjaan menjadi bertambah dan mempersulit?” Menariknya jauh dari dalam lubuk hati guru sendiri sebenarnya ada perasaan ingin memberi yang terbaik bagi pekerjaan atau profesi yang ditekuni. Namun perasaaan enggan keluar dari zona nyaman lah yang membuat perasaan tadi pupus.

Mari sejenak lupakan zona nyaman itu, sekarang lihatlah suasana pembelajaran di kelas anda. Jika tanda-tanda dibawah ini ada dan sedang terjadi di sekolah anda, tunggu apa lagi mari berupaya bersama-sama dengan komponen sekolah untuk mencari jalan keluar dan mengusahakan perubahan.

  1. Tidak ada kerjasama antar subyek pembelajaran. Guru asyik dengan subyek dan pembelajarannya sendiri di kelas. Menganai bagaimana kerjasama yang baik antar bidang studi saya punya contoh menarik, dalam situs aksi guru saya melihat sebuah kerjasama yang baik antara guru bahasa dan guru bimbingan konseling saat siswa membuat  video mengenai bullying. Silahkan baca pengalamannya dan buktikan betapa guru dan siswa menikmati proses tersebut.  Jadi tunggu apa lagi, wahai para guru mari sama-sama lakukan sinergi
  2. Guru menggunakan dan mengembangkan kurikulum agar siswa bisa menghafal fakta-fakta. Pertanyaan guru dalam menilai siswa hanya berputar pada fakta yang dengan sekuat tenaga siswa hapalkan. Sangat jauh dari tantangan bagi siswa saat mereka besar nanti yang membutuhkan kreativitas dan daya analisa yang mumpuni untuk bisa bersaing.
  3. Siswa ditekankan belajar hanya untuk meraih ‘nilai’ yang tinggi. Sama sekali tidak dihubungkan dengan belajar sebagai kebiasaan sampai mereka besar nanti. Karena sesunguhnya belajar adalah proses, maka dengan menanamkan beajar hanya untuk nilai maka siswa akan sekuat tenaga mencapai nilai yang ‘tinggi’. Jadi jangan salahkan siswa jika mereka mencontek dan berbuat curang, karena dimata mereka guru hanya memerlukan nilai yang bagus dan bukan proses ‘menemukan’ pengetahuan sebagai pembelajar.
  4. Guru dan buku teks adalah satu-satunya sumber pengetahuan. Kehidupan di kelas dan sekolah hanya berkisar pada buku teks dan guru. Mari merubah pandangan bahwa guru mesti tahu segala, jadikan semua hal yang ada di sekitar sekolah sebagai sumber pembelajaran. Baik orang-orang , profesi serta kehidupan di sekitar sekolah, mereka adalah ‘guru’ yang bisa membukakan mata siswa bahwa proses belajar bisa berasal dari dan didapat dari mana saja.
  5. Guru menulis perencanaan pembelajaran di RPP nya dengan kata-kata “Siswa dapat memahami atau siswa bisa menyebutkan..”. Serta sederet kata-kata lain yang intinya siswa hanya diminta untuk mengingat detail, menghafal, dan menguasai pengetahuan sebanyak-banyaknya tanpa diminta berpikir kritis dan adanya proses mempertanyakan kembali pengetahuan apa yang sudah mereka dapat dikelas.
  6. Siswa pasif dan gurunya yang aktif. Di kelas yang terjadi adalah guru aktif berceramah selama jam pelajaran, dan siswa dihukum jika lengah atau tidak mendengar. Padahal di jaman sekarang susah sekali meminta siswa mendengar lebih dari 15 menit, lebih dari waktu itu pikiran mereka akan melayang ke tempat lain. Jadi daripada marah kepada siswa lebih baik cari strategi pembelajaran sebanyak-banyak nya agar guru tidak jadi orang yang membosankan dikelas.

Sumber : agussampurno.wordpress.com [JARBLOGDIK]

Iklan

Responses

  1. saya setuju dengn pendapat anda, tapi anda hrs cari solusinya , seharusnya supaya sekolah dalam arti luas adalah ,Kepala sekolah dan guru hrs lakukan apa yang harus mereka lakukan , sebagai kepsek mereka harus bagai mana dan guru harus seperti apa. Karena melihat sebuah permasalahan memang sangat mudah tapi ketika kita berada disana sangat susah untuk merubahnya, terima kasih

  2. ——————————-
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    ———————————
    Agus ysh,
    Ada tiga hal komentar saya untuk tulisan anda.

    Pertama, Pahami kembali apa itu Pendidikan, agar permasalahan yang anda kemukakan jelas objeknya. Juga perlu anda pahami dengan baik tentang apa itu pengajaran. Lainnya, anda mengusung tema “perubahan”, harus jelas aspek apa yang harus dirobah ? Sebab banyak hal dalam pendidikan dan pengajaran tidak perlu dirobah. Bahkan ada yang tidak boleh di robah. Contoh yang sederhana adalah Bahasa Indonesia jangan anda robah, materi agama Islam jangan anda robah, dan lain lainnya.

    Perubahan itu penting, tapi dalam hal apa ?
    Perubahan itu perlu, tapi untuk apa ?
    Perubahan itu seharusnya dimulai dari mana ?
    Kami ingin berubah, fasilitasnya mana ?
    Pertanyaan seperti itu hendaknya diolah dulu sebelum ide dan gagasan dilempar ke ruang publik.

    Kedua, dimanapun sekolah-sekolah didunia ini tetap saja guru adalah aktor utama dalam mendidik, dan tidak mungkin siswa yang menjadi aktor utamanya. Tahu anda bahwa siswa kalau bisa sebagai aktor utama tentu saja mereka tidak perlu sekolah cukup auto-didak.

    Tahulah anda bahwa di sekolah anak yang tinggi kemampuannya jumlahnya sedikit jika dibandingkan dengan anak yang kurang kemampuannya. Hal ini sudah jelas akan berpengaruh besar terhadap tingkat keterlibatan guru dalam mengajar.

    Ketiga, Permasalahan yang anda ungkapkan harus jelas di tingkat mana sekolahnya tersebut
    apakah di kls 1 SD di SMP atau SMA ?
    Disamping itu juga harus jelas pula mata pelajarannya apa ? Kasus yang anda kemukakan tersebut angan-angan atau realitas ?

    Coba anda fikir kembali wilayah indonesia ini luas sekali, kondisi sosial ekonominya tidak seperti di Jakarta semua. Hal-hal yang berhubungan dengan sarana dan fasilitas sekolah belum selengkap di Jakarta. Juga akses infomasinya.

    Sehubungan dengan itu, mungkin di daerah tertentu, dan di sekolah tertentu kegiatan belajar yang sering di usung oleh pakar pendidikan yaitu CBSA mungkin bisa terlaksana, karena sarana dan fasitas memadai.

    Tapi kalau anda sesekali melihat daerah yang bukan kota besar, anda akan menemui banyak sarana dan fasilitas sekolahnya masih jauh dari memadai, tentu saja CBSA hanya tinggal teori saja bukan ?

    Apa yang anda jadikan permasalahan tersebut di atas, di daerah tertentu akan menjadi suatu keharusan untuk dilakukan. Sebagai contoh, di Sekolah Dasar Negeri Pancung Tebal Kecamatan Bayang Kabupaten Pesisir Selatan tidak ada Mikroskop. Pantas sekali guru mercerita seperti orang mendongeng menyampaikan materi pelajaran tentang makhluk yang kecil-kecil kepada siswanya. Tidak ada pilihan lain.

    Pesan saya kepada semua pembaca E-Newsletter ini bila ada suatu inovasi berhati-hati mengadopsinya, sesuaikan dengan si-kon kita masing-masing.

    Demikian saja, semoga menjadi bahan fikiran bagi orang pandai-pandai.

    Wassalam.
    Jalius.HR

  3. ———————-
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    ———————————

    Permasalahan yang di kemukakan tidak realistis, hanya berdasarkan dugaan belaka.
    Contoh ..”Guru menggunakan dan mengembangkan kurikulum agar siswa bisa menghafal fakta-fakta”..
    Apakah memang ada guru yang seperti itu ?

    ..”Guru menulis perencanaan pembelajaran di RPP nya dengan kata-kata “Siswa dapat memahami atau siswa bisa menyebutkan..”. Pada mata pelajaran tertentu, dan untuk meteri tertentu memang harus seperti itu.

    ..”Siswa pasif dan gurunya yang aktif.”
    Perlu juga Agus melakukan penelitian, cukup dengan melakukan pengamatan saja, Banyak juga materi pelajaran cukup memadai hanya menggunakan metoda ceramah dan campur sedikit dengan tanya jawab. Dalam iklim kelas akan kelihatan siswa mayoritas memang pasif.

    Terakhir pesan saya adalah tulislah permasalah yang spesifik pada sekolah dan objek tertentu. Sehingga jelas apanya yang harus dirobah, dan “inovasi” semacam apa yang cocok atau sangat pas untuk pemecahan masalah tersebut, seperti yang diminta oleh sdr, Wirmizal di atas.

    Janganlah kamu seperti wanita tua (ahli tenun) membuka kembali benang tenunannya setelak kokoh.(Alqrn)

    Wassalam
    Jalius.HR


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: