Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Desember 17, 2009

Mendiknas : Jadikan Wirausaha sebagai Hobi

Mendiknas : Jadikan Wirausaha sebagai Hobi

Jakarta, [depdiknas.go.id] Kamis (17 Desember 2009) — Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) meminta untuk menjadikan wirausaha sebagai hobi. Dengan menjadikan wirausaha sebagai hobi maka diharapkan keuntungan tidak hanya untuk dirinya, tetapi untuk masyarakat yang lebih luas.

“Hobi itu meskipun membayar tidak apa – apa. Seperti orang yang bermain tenis, dia rela untuk membayar lapangan. Karena sudah memasukkan wirausaha sebagai hobi, sehingga tidak mendapatkan keuntungan pun dianggap memberikan keuntungan yang besar,” kata Mendiknas pada Workshop Kewirausahaan Perguruan Tinggi di Depdiknas, Jakarta, Kamis (17/12/2009). Mendiknas mencontohkan, pengusaha dan enterpreneur Bob Sadino yang menjadikan wirausaha sebagai hobi.

Mendiknas menyebutkan, terdapat beberapa lapisan dalam masyarakat. Pertama, adalah masyarakat dependen atau tergantung. Dengan melakukan sesuatu hal yang produktif, kata Mendiknas, dapat masuk ke lapisan kedua yaitu masyarakat independen atau mandiri. “Puncaknya adalah interdependen society,” katanya.

Menurut Mendiknas, masyarakat yang mandiri konteksnya adalah memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi kalau masuk ke dalam fase interdependensi maka orang lain sangat tergantung pada kita dan sebaliknya. “Kemanfaatan itu baru dirasakan kalau orang lain merasa tergantung pada diri kita,” ujarnya.

Pengusaha Bob Sadino menyampaikan, berbeda dengan seorang akademisi yang mempunyai tujuan dan arah, seorang enterpreneur tidak pernah memikirkan tujuan dan arah dia akan melangkah. “Karena orang itu mempunyai tujuan maka dia dipaksa untuk mencapainya. Orang – orang seperti saya belum tentu punya tujuan dan karena tidak punya tujuan maka tidak harus dipaksa,” katanya.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Depdiknas Fasli Jalal mengatakan, sejak 2009 bekerjasama dengan Ciputra Foundation telah mengembangkan potensi yang ada di kalangan para pengajar. Dia menyebutkan, melalui kerja sama ini telah melatih lebih kurang 1.500 orang dosen dari 300 perguruan tinggi negeri dan swasta (PTN/PTS) seluruh Indonesia .

“Ada yang menjadi mata kuliah sendiri ada yang menjadi ko-kurikuler di dalam berbagai mata pelajaran yang terkait, dan juga ada yang menjadi ekstrakurikuler. Jadi dari 300 ribu itu dilakukan upaya – upaya pengembangan kewirausahaan, ” katanya.

Sejalan dengan itu, lanjut Fasli, Depdiknas menyediakan blockgrant untuk PTN/PTS sebanyak Rp 8 juta per mahasiswa. Ke depan, kata dia, sebagian dosen akan dikirim ke Amerika selama enam bulan untuk belajar benar bagaimana memfasilitasi proses pendidikan kewirausahaan.

Fasli berharap, jumlah entrepreneur di Indonesia bisa dinaikkan dari 0,18 persen menjadi dua atau tiga persen. “Nah karena itu pusat – pusat kewirausahaan menjadi sangat penting baik untuk dosen, mahasiswa, dan untuk menjangkau masyarakat banyak, sehingga entrepreneurship ini menjadi bagian penting dari warisan bangsa,” katanya.


Responses

  1. sangat setuju! Kita harus menjadikan kewirausahaan sebagai hobi sebab dengan demikian hal tersebut dapat kita laksanakan sebagai sestau yang enjoy…… dan hal tersebut harus ditanamkan sejak masa sekolah, bahkan sudah diaplikasikan sejak anak menempuh pendidikan, sekolah, sejak sekolah dasar!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: