Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Desember 20, 2009

Professionalisme guru : Fasilitator vs content transmitter

Professionalisme guru :
Fasilitator vs content transmitter

Oleh : M. Haris Effendi, MSi
PhD Candidate of Science Education
The University of Queensland – Brisbane – Australia

M. Haris Effendi, MSi

Pendidikan adalah proses penggabungan antara teaching and learning. Berhasilnya usaha learning yang dilakukan oleh peserta didik ditentukan oleh teaching yang di lakukan oleh guru.

Guru yang baik harus berperan sebagai fasilitator bukannya content transmitter, apalagi diktator. Guru sebagai fasilitator adalah guru yang mengemban paradigma constructivism didalam aktivitas mengajarnya. Artinya adalah murid lah yang meng konstruk / membangun sendiri pengetahuan didalam dirinya, tugas guru hanyalah sebagai stimulator atau pemberi rangsangan. Jadi bukan guru yang meng konstruk ilmu bagi murid. Jika bukan ini yang dilakukan oleh guru maka guru telah melakukan tugas hanya sebagai content transmitter / pemindah ilmu, yang mana probability untuk melekat di ranah kognitif anak tidak akan sebaik jika guru berperan sebagai fasiltitor.

Guru sebagai fasilitator berarti bahwa guru harus menggunakan metode student-centered learning bukannya teacher-centered learning. Dengan metode yang pertama maka murid akan menemukan keasyikan didalam mempelajari ilmu yang akan dia konstruk dan potensi murid akan tumbuh dengan baik, namun jika guru menggunakan metode kedua maka akan timbul kejenuhan bagi siswa didalam proses belajar.

Metode student-centered learning dapat berupa inquiry, discussion, collaborative learning, practicum, tutorial, dan problem solving  (silahkan baca sendiri detail teorinya) sedangkan metode teacher-centered learning biasanya berupa ceramah yang di ikuti dengan mencatat dan menghapal.

Menjadi guru professional dapat dilmulai dari usaha untuk merubah diri dari seorang content transmitter menjadi fasilitator atau juga learning manager. Namun untuk  dapat melakukan itu tidaklah mudah karena banyak faktor yang menentukan. Diantaranya adalah believe yang dimiliki guru terhadap learning outcome, school, and student; fasilitas; curriculum (curriculum Indonesia terkenal selalu overloaded); ujian nasional yang menentukan kelulusan spt UN; dan tersedianya training / workshop (professional development program).

Dengan melakukan student-centered learning maka kemampuan bertanya dan menjawab, critical thinking, dan kemampuan mencari jawaban akan apa yang sedang dicari oleh siswa akan terbentuk didalam proses pembentukan ilmunya. Akibatnya akan tercipta ilmuwan-ilmuwan kecil di dalam kelas yang nantinya akan terus menapaki langkahnya menjadi calon-calon ilmuwan masa depan.

Belajar haruslah memiliki prinsip learn, fun, and grow bukannya learn, stress, and grow. Untuk itu guru sebagai ujung tombak pendidikan memiliki tanggung jawab terbesar didalam menciptakan suasana belajar yang fun untuk  membantu siswa tumbuh menjadi dirinya sendiri bukannya menjadi robot-robot kecil yang ahli menghafal dan mencatat saja.

Semoga Sertifikasi akan diarahkan kepada terciptanya guru yang professional, bukannya guru yang dihantui dengan UN dan beban mengajar yang harus 24 jam / minggu. Bukan itu jaminan professionalitas seorang guru. Namun professionalitas guru ditentukan oleh sejauh mana guru tersebut mampu membantu menciptakan suasana belajar yang kondusif bagi muridnya dalam mengkonstruk ilmunya sendiri dengan bertindak sebagai fasilitator bukannya diktator ataupun content transmitter. Sudah saatnya paradigma pendidikan Indonesia berubah jika ingin meningkatkan mutunya.

Semoga bermanfaat, namun hiraukan saja jika tidak sesuai dengan believe anda. (dibuat ditengah-tengah kesibukan mengerjakan disertasi)

Sumber : Millist PGOL

Iklan

Responses

  1. اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُه
    ———————————

    Yang perlu saya komentari adalah kalimat yang saya kutip di bawah ini;

    ……”Guru sebagai fasilitator adalah guru yang mengemban paradigma constructivism didalam aktivitas mengajarnya. Artinya adalah murid lah yang meng konstruk / membangun sendiri pengetahuan didalam dirinya, tugas guru hanyalah sebagai stimulator atau pemberi rangsangan. Jadi bukan guru yang meng konstruk ilmu bagi murid.”…..

    Jangankan disekolah, di perguruan tinggi saja mahasiswa belum mampu mengkontruksi ilmu untuk dirinya. Bagi seorang dosen cukup rumit juga mengkontruksi kerangka ilmu yang akan di ajarkan. Kerangka tersebut disusun dalambentuk silabus. Maaf saja, diperguruan tinggi yang telah pernah dilalui oleh para guru-guru (masih ingat saat kuliah dulu ?), kebanyakan konstuksi ilmunya hanya berdasarkan cuplikan-cuplikan bab-bab tertentu dari buku-buku tertentu.

    Sepintas mungkin anda merasa gampang mengkontruksi ilmu. Tapi realitasnya selalu tidaklah gampang dan mudah walau oleh seorang guru yang telah dinyatakan lulus sertifikasi.

    Tambahan lagi kebanyakan siswa belum memiliki kemampuan menalar yang memadai untuk bisa berada dalam sistem Student centre.

    Hanya saja dalam topik tertentu dari mata pelajaran tertentu mungkin bisa.

    Yang paling penting tetap saja guru harus menguasai materi keilmuannya dengan baik dan memadai. Metodologi soalkedua.

    Wassalam
    Jalius.HR

  2. اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ

    Yang perlu saya komentari adalah kalimat yang saya kutip di bawah ini;

    ……”Guru sebagai fasilitator adalah guru yang mengemban paradigma constructivism didalam aktivitas mengajarnya. Artinya adalah murid lah yang meng konstruk / membangun sendiri pengetahuan didalam dirinya, tugas guru hanyalah sebagai stimulator atau pemberi rangsangan. Jadi bukan guru yang meng konstruk ilmu bagi murid.”…..

    Jangankan disekolah, di perguruan tinggi saja mahasiswa belum mampu mengkontruksi ilmu untuk dirinya. Bagi seorang dosen cukup rumit juga mengkontruksi kerangka ilmu yang akan di ajarkan. Kerangka tersebut disusun dalam bentuk silabus. Maaf saja, diperguruan tinggi yang telah pernah dilalui oleh para guru-guru (masih ingat saat kuliah dulu ?), kebanyakan konstuksi ilmunya hanya berdasarkan cuplikan-cuplikan bab-bab tertentu dari buku-buku tertentu..

    Sepintas mungkin anda merasa gampang mengkontruksi ilmu. Tapi realitasnya selalu tidaklah gampang dan mudah walau oleh seorang guru yang telah dinyatakan lulus sertifikasi. Dalam konten tertentu yang tidak lus atau dalam mungkinsaja bisa. Apa itu pengertian dan apa itu defenisi guru-guru masih saja banyak yang belum tahu ? Bayangkan.

    Tambahan lagi kebanyakan siswa belum memiliki kemampuan menalar yang memadai untuk bisa berada dalam sistem Student centre.

    Hanya saja dalam topik tertentu dari mata pelajaran tertentu mungkin bisa.

    Yang paling penting tetap saja guru harus menguasai materi keilmuannya dengan baik dan memadai. Metodologi soalkedua.

    Wassalam

    Jalius.HR

  3. Waalaikum salam wr wb

    Pak Jalius Yth.

    Saya senang sekali atas komentar anda yang menunjukkan adanya kepedulian dari anggota milis terhadap pendidikan dan peningkatan mutu pendidikan. Saya berharap diskusi kita ini akan menjadi pemicu lahirnya diskusi-diskusi lain untuk membahas dunia pendidikan Indonesia.

    Pemahaman guru tentang teori konstruktivisme memang sangat beragam dan berbeda, malah banyak yang memiliki misconception terhadapnya.

    Teori konstruktivisme tidak meminta murid untuk membangun ilmu, tetapi adalah murid yang secara terbimbing (bukan guru) menempelkan/menyambungkan ilmu/pengetahuan baru pada fondasi/cabang yang telah ada sebelumnya, atau menempelkan ilmu/pengetahuan baru yang sejenis dan memiliki kaitan pada rangkaian/cabang ilmu yang sudah ada di ranah kognitif anak.

    Proses penempelan atau penyambungan ini sebaiknya bukanlah dengan total mendengarkan penjelasan dari guru apalagi dengan menghafal, namun guru sebaiknya memberikan sarana/fasilitas dan bimbingan kepada murid untuk melakukan hands-on activities atau kegiatan langsung, sehingga murid akan mendapatkan sendiri makna / kesimpulan dari kegiatan yang dilakukan dan hal itu dapat bertahan lama pada ingatan murid.

    Hasil riset (maaf tidak bisa saya sebutkan satu persatu) menunjukkan bahwa dengan melakukan hands-on activities maka tingkat pencapaian murid pada beberapa pelajaran mengalami peningkatan yang sangat signifikan dibanding dengan metode ceramah.

    sebagai contoh penerapan :

    jika guru ingin mengajarkan perkalian, (daripada meminta murid menghafalkan perkalian yang lazim dilakukan guru2 Indonesia dulu, semoga sekarang tidak lagi) maka sebaiknya guru mengajak murid-murid nya melakukan aktifitas berupa penjumlahan berulang menggunakan media / objek seperti lidi / batang / batu, dll.

    Murid diminta untuk melakukan penjumlahan berulang sehingga akhirnya murid akan melihat dan menyadari bahwa, sbg contoh ; 8 itu adalah penjumlahan berulang dari 2 sebanyak 4 kali (2+2+2+2) , atau penjumlahan berulang dari 4 sebanyak 2 kali (4+4), dan selanjutnya. Demikian sampai akhirnya murid menyadari bahwa perkalian itu tidak wajib dihafalkan, namun perlu dipahami bahwa dengan mengetahui penjumlahan (dalam hal ini penjumlahan berlaku sebagai cabang ilmu sebelumnya tempat perkalian di sambungkan) maka perkalian akan bisa dilakukan.

    Murid akan menemukan hubungan antara penjumlahan dan perkalian, sehingga dapat dikatakan murid telah mengkonstruk ilmu bagi dirinya. Bandingkan dengan yang biasa dilakukan guru. Guru meminta murid menghafal perkalian, namun tidak menunjukkan hubungannya dengan penjumlahan, sehingga murid tidak tahu mau ditempelkan dimana perkalian dalam susunan kognitif nya.

    Lalu timbul pertanyaan, jika tidak hafal perkalian maka murid akan menemukan kesulitan dalam soal2 perkalian. Maka jawabannya adalah bantu murid untuk mendapatkan kondisi agar mereka secara tidak sengaja menghafal (memorizing) perkalian dengan cara memberikan latihan sebanyak-banyaknya menggunakan semua angka, juga dengan menempelkan foster-foster perkalian dikelas dan dirumah (sebagai ganti dengan meminta murid menghafal dan menyetor hafalannya ke depan kelas). Jadi murid akan hafal karena pembiasaan dan kegiatan ini tidak membebani anak.

    Inilah yang dulu diminta CBSA (cara belajar siswa aktif), maksudnya guru memberikan kegiatan kepada murid dalam mencari dan mengkonstruk ilmu (menyambung ilmu). Namun sangat disayangkan CBSA tidak berhasil karena kurangnya pemahaman guru dan sekolah akan misi kurikulum ini dan juga kurangnya keahlian (dan training) dalam menggunakan metode yang sesuai untuk memenuhi keinginan CBSA.

    Penguasaan terhadap materi pelajaran adalah mutlak dan tidak perlu disinggung lagi. Dia berada pada urutan nol dari urutan persyaratan untuk menjadi guru. Maka pengusaan pedagogical skill (keterampilan mengajar dan menggunakan metode yang variatif dan sesuai dengan isi pelajaran) berada pada urutan pertama. Dengan memiliki pedagogic skill yang memadai maka guru akan mampu membimbing murid bagaimanapun level kognitif dan daya nalarnya, karena guru yang baik akan tahu sejauh mana dia dapat melepas muridnya dan sejauh mana dia harus membantu muridnya.

    KBK meminta guru menanamkan kompetensi (kemampuan) pada murid dan untuk itu KBK menganjurkan agar guru menggunakan active learning methods, termasuk inquiry methods (coba baca lagi Kurikulum 2004 tentang KBK). Nah akan menjadi pertanyaan : Bagaimanakah guru-guru di Indonesia menyikapi KBK dan metode apa yang umumnya mereka gunakan dalam mengajar? Apakah KBK akan bernasib sama dengan CBSA? Mari kita jawab bersama-sama.

    Memang Anda benar dan saya sangat setuju bahwa ada mata pelajaran yang memang tidak bisa digunakan metode hands-on activities atau active learning, maka sebaiknya guru-guru pengajar mata pelajaran ini mencari cara agar kegiatan belajar tidak dijejali dengan ceramah dan menghafal yang membosankan. Mungkin sesekali dapat dilakukan field trip, dll.

    Kegiatan belajar seperti ini (menggunakan hands-on activities) sudah banyak dilakukan di sekolah-sekolah modern di Jakarta dan kota-kota besar lainya di Indonesia (maaf saya tidak akan membandingkan dengan sekolah-sekolah di luar negeri). Dan saya yakin suatu saat Indonesia akan mampu mengadopsi metode ini (dengan melakukan reformasi dalam dunia pendidikan) karena telah teruji secara ilmiah mampu membantu murid meningkatkan prestasi dan minat belajarnya.

    Semoga bermanfaat

    • اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ

      Terima kasih Pak Haris,

      Ada dua hal yang akan saya berikan komentar terhadap tanggapan Pak Haris;

      Pertama; pernyataan pak Haris yang saya kutip dalam komentar yang lalu , kenapa tidak bersesuaian dengan dengan jawaban yang Pak Haris berikan, lihatlah kembali artikel Pak Haris !

      …….”Guru sebagai fasilitator adalah guru yang mengemban paradigma constructivism didalam aktivitas mengajarnya. Artinya adalah murid lah yang meng konstruk / membangun sendiri pengetahuan didalam dirinya, tugas guru hanyalah sebagai stimulator atau pemberi rangsangan. Jadi bukan guru yang meng konstruk ilmu bagi murid.”…..

      Kemudian dalam balikan yang Pak Haris berikan terhadap komentar saya sebagai berikut;

      …….”Teori konstruktivisme tidak meminta murid untuk membangun ilmu, tetapi adalah murid yang secara terbimbing (bukan guru) menempelkan/menyambungkan ilmu/pengetahuan baru pada fondasi/cabang yang telah ada sebelumnya, atau menempelkan ilmu/pengetahuan baru yang sejenis dan memiliki kaitan pada rangkaian/cabang ilmu yang sudah ada di ranah kognitif anak”…….

      Kedua, Pak Haris memberikan kesan sebagai sebuah inovasi, dengan menggunakan istilah yang rada-rada asing bagi kebanyakan guru-guru di daerah kita.

      Contoh yang Pak haris berikan bukankah telah dilaksanakan oleh guru waktu Pak Haris di SD tempo dulu ? Tahun 80 an saya sebagai siswa SPG waktu praktek mengajar di SD juga telah melaksanakan metode untuk perkalian seperti yang Pak haris contohkan.

      Seorang guru berhitung (terakhir Matematika ) kalau mengajarkan perkalian persis memulainya seperti contoh tersebut. Hanya saja untuk memperbanyak pengetahuan anak didik tentang perkalian, tidak ada jeleknya anak disuruh menghafal.Itupun sifatnya sebagai dasar, yaitu perkalian 1 s/d perkalian 10. Setelah itu kepada siswa daajarkan tehnik perkalian yang terdiri dua angka, tiga angka dstrs.

      Terakhir pesan saya kepada semua pembaca E-Newsletter ini bacalah dengan hati-hati dan perlu juga dinalar.

      Terima kasih khusus untuk Pak Diwarman !

      Wassalam. Banyak maaf.

      Jalius. HR

      • Waalaikum salam wr wb

        Saya akui memang bahasa tulisan tidak mudah dinalar sehingga Pak Jalius merasa ada pertentangan antara pernyataan saya yang pertama dan kedua.Maka saya anjurkan agar para pembaca termasuk Pak Jalius lebih mengerti dan tidak terjadi misconception coba cari buku tentang teori konstruktivisme, atau buka web berikut ini :

        http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/08/20/teori-belajar-konstruktivisme/ (web yang sangat baik), http://www.teachersrock.net/teori_kon.htm (malaysia)

        Web sejenis dapat dilihat dengan memasukkan kata “teori konstruktivisme” di Google.

        Atau coba lihat di You tube tentang contoh-contoh video active learning dan student-centered learning. Bisa jadi mereka menggunakan metode inquiry, practical, problem-based learning, discovery, dll. Ke semuanya berlandaskan pada teori konstruktivisme. Contoh-contoh tersebut dapat diadaptasi ke system Indonesia.

        Contoh yang saya berikan adalah contoh yang terjadi di daerah saya dan termasuk pengalaman saya dan mungkin juga di daerah2 lain, namun jika yang Pak Jalius amati dan alami telah melakukan seperti apa yang saya sebutkan, maka hal itu bisa jadi sudah benar dan berarti bisa jadi telah melaksanakan teori konstruktivisme.

        Bisa jadi teori ini kurang populer di kalangan guru namun teori konstruktivisme adalah teori belajar yang paling cocok diterapkan dalam mengajar mata pelajaran sains dan matematika. Teori ini harus di terapkan dengan menggunakan metode active learning.

        Pengalaman saya mengajar para guru SD Univ Terbuka di daerah-daerah, saya menemukan bahwa mayoritas guru-guru tersebut kurang mengenal teori tersebut, malah mereka menganggap bahwa mereka lah sumber ilmu sehingga sains diajarkan dengan menggunakan metode yang kurang tepat (teori objectivisme).

        Untuk merubah believe dan paradigma guru akan tugasnya, muridnya, dan “the nature of science” (karakteristik / sifat ilmu) tidaklah mudah. Sehingga menurut sebagian pakar pendidikan harus ada “will” dari Depdiknas untuk itu baik berupa penyediaan training / pelatihan, revisi atas kurikulum FKIP yang diajarkan pada mahasiswa keguruan, kurikulum yang sesuai, dll.

        Semoga bermanfaat

        Wassalam

  4. Tulisan ini mudah dipahami dan penting dibaca oleh guru yang ingin maju. tq

  5. اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    —————————-

    Komentar saya selajutnya adalah;

    Pernahkah Pak haris atau para peramu metodologi mengalami atau melihat proses belajar seperti gambar di bawah ini (belajar bercocok tanam ), klik:

    http://groups.yahoo.com/group/pakguruonline/attachments/folder/79399634/item/894498571/view

    Wassalam,
    Jalius HR.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: