Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Januari 17, 2010

Mayoritas Guru Belum Terapkan Pendidikan Karakter

Mayoritas Guru Belum Terapkan Pendidikan Karakter

“Mayoritas guru belum punya kemauan untuk melakukan itu. Kesadaran sudah ada, hanya saja belum menjadi sebuah aksi nyata”— Anita Lie/Praktisi Pendidikan

JAKARTA, KOMPAS.com – Selama ini pendidikan karakter yang kebanyakan dijalankan di sekolah hanya berbentuk konseling oleh guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP), belum menyentuh secara optimal dalam

Hal tersebut sulit dimungkiri, karena guru BP memang tidak bisa meraih semuanya sehari-hari di sekolah. Istilahnya, kalau ada masalah datang, kalau tidak, ya, tidak.

Selain itu, tidak jarang keberadaan guru BP dirangkap oleh guru mata pelajaran. Akhirnya, konsep pendidikan karakter sampai sejauh ini tidak pernah optimal.

“Padahal seharusnya semua guru bisa menerapkan pendidikan karakter itu, tetapi mereka harus bisa meneguhkan dulu, bahwa di kelas itu mereka juga mendidik, bukan cuma mengajar,” ujar praktisi pendidikan, Dr Anita Lie, di Jakarta, Jumat (15/1/12010).

Anita mengatakan, untuk menerapkan pendidikan karakter seluruh sekolah harus memiliki kesepakatan tentang nilai-nilai karakter yang akan dikembangkan di sekolahnya. Unsur-unsur pengembangan karakter itu pun harus diintegrasikan di semua mata pelajaran.

“Masalahnya, mayoritas guru belum punya kemauan untuk melakukan itu. Kesadaran sudah ada, hanya saja belum menjadi sebuah aksi nyata,” ujarnya.

TERKAIT:
Iklan

Responses

  1. ——————–
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    ——————————

    Peroalan pokoknya bukan ….”mayoritas guru tidak punya kemauan untuk itu”….

    Akan tetapi lebih fokus pada …..”belum mengerti soal itu”….

  2. Saya justru melihat persoalan ini dari sudut waktu. Jika kebijakan perintah masih tetap mewajibkan guru mengajar 24 jam tatap muka, maka kita semua tidak boleh terlalu berharap guru akan mampu melakukan aktivitas selain termasuk menerapkan pendidikan karakter.

    Idealnya memang seorang guru harus mampu menjadi pendidik sekaligus pengajar. Namun fungsi ini baru bisa di laksanakan dengan optimal jika guru mempunyai waktu untuk mengembangkan diri. Dengan jumlah jam 24 tatap muka seluruh waktu guru telah tersita sehingga guru tak lagi punya waktu lagi untuk mengembangkan dirinya.

    Di sisi lain UN juga punya andil dalam hal ini. UN selama ini telah berhasil membuat kabur tujuan pendidikan yang sesungguhnya. UN telah membuat sekolah berlomba-lomba untuk meluluskan siswanya (walaupun dengan cara yang kurang baik).

    Banyak sekolah dalam menghadapi UN membuat penambahan jam pembelajaran untuk mata pelajaran yang di UN kan. Konsikuensinya dengan mengurangi jam pada mata pelajaran lain. Cara ini merupakan anjuran dari lembaga pemerintah yang mengurusi pendidikan itu sendiri. Bukankah ini juga sebuah kekeliruan besar?

    Kesimpulannya secara pribadi saya tidak setuju dengan pernyataan “guru belum punya kemauan untuk melaksanakan pendidikan karakter” apalagi guru dikatakan “belum mengerti soal pendidikan karakter” yang benar adalah “guru tidak punya waktu untuk melaksanakan pendidikan karakter” di sekolah.

  3. ———————–
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    ——————————-

    Terima kasih juga kita berikan pada Bpk Lubis. terima kasih tersebut lebih tertuju pada kesediaan Bpk Lubis memberikan komentar di E-N ini.

    Dari tulisan Bpk Lubis Saya mngutip sbb;

    …..”Kesimpulannya secara pribadi saya tidak setuju dengan pernyataan “guru belum punya kemauan untuk melaksanakan pendidikan karakter” apalagi guru dikatakan “belum mengerti soal pendidikan karakter” yang benar adalah “guru tidak punya waktu untuk melaksanakan pendidikan karakter” di sekolah”….

    Kutipan tersebut adalah sebagai bukti bahwa Bpk lubis pun belum mengerti apa yang di katakan “karakter”. Baru hanya ikut latah berbahasa.

    Dalam kamus bahasa Indonesia “karakter” berarti sifat kejiwaan, akhlaq atau budi pekerti yang membedakan sesorang dengan yang lain; tabiat; watak.

    Menurut loghat bahasa, karakter adalah tabiat atau kebiasaan. Sedangkan menurut ahli psikologi, karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu.

    Semetara secara sosiologis, karakter bermakna sebagai kepribadian. Kepribadian merupakan produk dari sosialisasi.Bpk Lubis harus tahu sosialisasi bukan hanya disekolah saja, di mana saja.

    Biasanya banyak orang tidak menyadari, bahwa semua orang mempunyai kepribadian. Hal ini ditandai dengan adanya ciri khas pada dirinya yang membedakannya dengan orang lain dalam hal berfikir dan bertindak.

    Keliru sekali kalau di sekolah dibilang belum dilaksanakan pendidikan “karakter”. Termasuk lagi yang keliru adalah bahwa pendidikan karakter hanya dilaksanakan oleh guru BK saja.

    Orang tua di rumah adalah yang pertama dan utama dalam mendidik anak. Pendidikan tersebut akan menghasilkan apa yang disebut dengan kepribadian atau “karakter”.

    Bapak lubis disekolah tugasnya kan mendidik. Yang didik banyak anak. Bpk mendidik dengan baik, bolehlah dikatakan berhasil. Demikian juga guru yang lain. Walau perilaku anaknya sudah baik, tapi kan tidak ada yang sama dalam bersikap atau merespon. masing-masing anak ada ciri khasnya. Dengan ciri khas itu kita mengenal dan memperlakukannya. Apa yang menonjol sebagai ciri khas itu itulah yang dinamakan “karakter”.

    Jadi pendidikan karakter itu sesungguhnya telah terlaksana seiring dengan proses pendidikan yang Bpk lubis kelola.Tidak terhalang oleh beban tugas setifikasi ?

    Dalam masyarakat ? Ya juga terlaksana. Banyak orang dewasa atau teman sebaya yang menjadi faktor-faktor mempengaruhinya. Bukan manusia saja, tapi…..juga alam sekitanya…

    Tapi perlu diingat bahwa kita mendidik anak akan menghasilkan karakter sesuai dengan yang kita rencanakan (inginkan) belum tentu. Cuma ada pengecualiaannya, yaikni “berkebetulan” sesuai keinginan.

    yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah …ada apa dibalik pernyataan Anita Lie tersebut ?

    Selamat berfikir kembali
    Wassalam
    Jalius,HR

  4. Orientasi para guru sekarang lebih banyak orientasi bekerja, bukan mendidik. “Pendidik” adalah karakter yang harus terpaku dalam sikap dan perbuatan guru. “Bersungguh-sungguh” adalah karakter dalam mendidik. Pendidikan karakter secepatnya harus dialksanakan untuk para guru.

    Najwan AS, Guru MTsN Model Kuok


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: