Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Januari 23, 2010

Komisi X DPR ‘Kritisi’ Jardiknas

Komisi X DPR ‘Kritisi’ Jardiknas

Penulis: Onno W. Purbo

Jakarta(detikinet) Pada tanggal 21 Januari 2009, saya diundang untuk dengar pendapat dengan rekan-rekan di Komis X DPR RI. Sebuah pengalaman yang sangat berbeda dengan kesan DPR selama ini yang dibentuk oleh media. Saya melihat pemikiran dan concern rekan-rekan DPR mencerminkan apa yang diinginkan oleh rakyat. Terus terang saya bangga melihat DPR Komisi X, semoga diberikan kekuatan oleh Allah SWT karena nasib 150 juta anak Indonesia yang akan membentuk Indonesia di kemudian hari ada di tangan anda.

Pertanyaan & pernyataan tentang Jardiknas dari DPR Komisi X sangat kritis tapi relevan, seperti:

  • Apa manfaat jardiknas untuk bangsa Indonesia?
  • Apa impact yang dirasakan oleh siswa? Guru? Lingkungan sekitar sekolah?
  • Dengan uang sekian banyak apakah tidak mubazir?
  • Tunjukan bahwa uang tersebut tidak mubazir?

Saya membaca-baca laporan yang ditulis oleh Diknas & Pustekom …. amat sangat bernuansa infrastruktur, seperti:

  • Uang yang ada sudah menyambungkan sekian sekolah.
  • Sebagian besar uang dibelanjakan untuk membeli Bandwidth.

Tidak banyak menjawab concern DPR, pantas kalau DPR kerepotan untuk menjustifikasi Jardiknas. Tujuan dan objektif yang ingin dicapai sangat bersifat fisik. Wajarlah kalau teman-teman di DPR Komisi X menjadi sangat ‘kritis’ melihat laporan yang ada.

Tampaknya teman-teman di Diknas & Pustekom melupakan objektif/tujuan sebuah kegiatan pendukung pendidikan yang harusnya dinilai dari hal-hal yang sifatnya abstrak, misalnya,

  1. Apakah murid bertambah pandai?
  2. Berapa orang guru yang menjadi bersertifikasi?
  3. Apakah kurikulum menjadi lebih baik? Bagaimana ‘lebih’ baiknya?

Saran Untuk Program Jardiknas
Mohon teman-teman di Diknas & Pustekom untuk dapat secara lebih serius mengerjakan pekerjaan rumah-nya agar lebih tajam & lebih fokus program yang dibuatnya untuk kepentingan rakyat Indonesia.

Redefinisi Tujuan / Objektif

  • Pustekom Perlu mendefinisikan ulang & secara jelas tujuan / objektifnya. Ini merupakan kunci utama,
  • Apa kriteria sukses yang ingin dicapai? Misalnya, Murid menjadi melek IT. Murid bisa berkarja di Internet. Guru yang sanggup menulis materi ajar di Blog?
  • Berapa besar skala yang ingin di capai? Misalnya, berapa jumlah murid melek IT? Jumlah guru yang berkiprah di Internet? Jumlah sekolah yang punya Lab. IT off line?

Analisa Data, Kondisi & Situasi
Kondisi / pemetaan lapangan menjadi sangat penting untuk pengambilan keputusan yang benar. Dibutuhkan data yang detail (akan lebih baik berbentuk GIS), seperti:

  • Data guru  yang melek IT & kemampuannya, per lokasi, per kecamatan, per sekolah.
  • Data murid yang melek IT & kemampuannya, per lokasi, per kecamatan, per sekolah.
  • Data sekolah, per lokasi, kesiapan listrik, kesiapan ruang, kesiapan komputer.
  • Data lingkungan sekitar, per lokasi, misalnya akses Internet yang ada, komunitas IT dll.

Turunkan Rencana Strategis
Setelah objektif & data lapangan lengkap. Kita baru dapat menurunkan rencana strategis, misalnya:

  • Rencana strategis di bidang kurikulum – karena semua program ini harus nantinya di integrasikan dengan kurikulum pengajaran.
  • Rencana strategis di bidang pengajaran – teknik penyampaian materi ajar pasti akan berbeda antara teknik konvensional dengan teknik berbasis IT.
  • Rencana strategis di bidang materi ajar – kalau mengandalkan PUSKUR atau PUSBUK yang hanya segelintir orang pasti akan keteteran. Kita perlu membuat rencana strategis yang melibatkan semua relawan pendidikan, semua stakeholer dll.
  • Rencana strategis di bidang SDM – guru, teknisi lab, teknisi jaringan, tenaga pustakawan, tenaga administrasi sekolah dll.
  • Rencana strategis kemitraan – banyak lembaga & inisiatif di Indonesia yang concern terhadap IT dan SDM yang dapat dimanfaatkan, seperti USO, DetikNas, IT Flagship dll.
  • Rencana strategis di bidang jaringan – Peta jaringan, estimasi traffik dengan berbagai skenario penggunaan, konfigurasi jaringan yang cocok dengan berbagai kondisi lapangan. Kemungkinan kita harus mempunyai beberapa konfigurasi jaringan karena Indonesia sangat luas.
  • Rencana strategis di sistem pendukung IT – seperti Distro Linux yang akan digunakan, Lokasi Server, dukungan training SDM,  mailing list, pelibatan komunitas.

Turunkan Rencana Taktis

  • Detail kurikulum, materi ajar, pengembangan SDM yang dibutuhkan.
  • Detail alternatif konfigurasi jaringan.
  • Berbagai alternatif pendanaan dan detail budget.

Catatan Pribadi
Pengalaman saya pribadi dalam menulis Strategis Plan, ini bukan pekerjaan sembarangan. Dibutuhkan waktu lama, ketekunan dalam mengumpulkan data, keseriusan untuk memikirkan berbagai skenario. Pekerjaan Ini harusnya dikerjakan oleh pimpinan tertinggi secara aktif, tidak mungkin diturunkan sepenuhnya ke staff di bawahnya.

Referensi :
Contoh sebuah Strategic Plan yang sederhana.

Iklan

Responses

  1. nice info pak… sangaat bermanfaat bagi saya :) salam kenal.. saya tunggu koementarnya di blog saya:)

  2. ————————-
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    ——————————
    Kritisi itu hanya bersifat politis.
    kalau mau meninjau hasil, tidak segampang itu.
    menam pohon saja, membutuhkan waktu yang bertahun-tahun baru peroleh hasil.
    Dalam duania pendidikan, fokusnya pada kesadaran. banyak juga kesadaran tidak muncul sampai seseorang meninggal.

    Apa artinya. fasilitas adalah pembantu penyadaran
    gunanya bukan untk generasi sekarang saja. akan tepi juga generasi berikutnya, saham yang di tanam hari ini, mungkin buahnya diabad yang akan datang.

    jangan dunia pendidikan terlalu sering diacak dengan konsep politis.

    Wassalam
    Jalius HR

  3. Komisi X DPR ‘Kritisi’ Jardiknas, langkah yang bagus, dengan cara berhusnuzan (berbaik sangka) seperti ajaran Islam , moga moga ada manfaatnya,..sifat husnuzan sangat bagus untuk dipelihara terus….

    wassalam, marjohan

  4. Saya pernah ada di komunitas ini, menurut saya Pustekkom sudah on the track, meskipun memang ada persyaratan kondisi yang tidak bisa dipenuhi oleh Pustekkom sendiri yaitu dukungan dari sistem organisasi (depdiknas). khususnya kebijakan Ditjen dalam pembinaan dan pengembangan sekolah berbasis IT. Kondisi ini menimbulkan kesan seolah-olah Pustekkom berpikir melampaui jamannya.

    Kehadiran Pak M. Nuh sebagai Mendiknas diharapkan bisa mendorong kebijakan pemanfaatan IT dalam proses pembelajaran di sekolah secara luas. Sebagai masyarakat dengan budaya paterbalis yang kuat, masyarakat kita (termasuk masyarakat pendidikan/sekolah) kita cenderung membutuhkan dorongan dari atas untuk melakukan suatu perubahan.

    Dengan demikian saya percaya segala hal yang dipertanyakan/dibahas dalam rapat Komisi X akan terjawab

    Wassalam
    http://id-id.facebook.com/people/Bang-Nirwan/100000664711592

  5. ———————
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    ——————————-
    Saran utuk BM dan juga pembaca E_N

    Hati-hati menggunakan istilah. cintoh istilah yang digunakan dalam komentar di atas.

    …”berhusnuzan”….. (dalam hal apa)

    perlu disadari kebanayakan berprasangka baik itu adalah perangkap kebodohan.

    dalam Al-Qurn diperintahkan “bila datang berita dari orang fasiq hendaklah diteliti kebenarannya”

    Berfikir kembali, tidak ada salahnya
    Wassalam
    Jalius


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: