Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Februari 12, 2010

Mengelola Sekolah Plus untuk Pendidikan Berbasis Kecakapan Hidup

Mengelola Sekolah Plus untuk Pendidikan Berbasis Kecakapan Hidup

Oleh: Mohammad Saroni,
Guru SMK Brawijaya Kota Mojokerto

Mohammad Saroni

Ada 3 (tiga) aspek dasar yang menjadi bidang garapan dunia pendidikan, sekolah, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Ketiga aspek ini didalam proses pendidikan dan pembelajaran dijalankan dalam sebuah kegiatan yang memberikan materi pengetahuan, sikap dan keterampilan. Dan, ketiga aspek ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu terhadap yang lainnya. Ketiga aspek ini saling mendukung sehingga didapatkan lulusan yang kompeten dalam kehidupannya. Dan, setiap tahun konsep pendidikan melakuan reformasi pada pembelajaran dengan skala prioritas yang berbeda, khususnya pada aspek psikomotor. Dinamisasi sebuah sekolah dapat kita lihat pada tingkat keberhasilan proses pembelajaran psikomotor ini.

Pada saat itu, masing-masing aspek diberikan secara terpisah sehingga idapatkan hasil maksimal. Artinya, pada saat itu anak-anak mempunyai kemampuan intelek yang mumpuni dengan perimbangan sikap hidup yang positif serta keterampilan hidup yang aplikatif. Dan, hasil pendidikan saat itu dapat kita rasakan saat ini, yaitu sekitar 20 (dua puluh) tahun kemudian. Orang-orang yang mengikuti proses pendidikan saat itu telah menjadi orang-orang dengan tingkat kemampuan yang proporsional. Mereka dapat memerankan peranannya dalam kehidupan tanpa kesulitan.

Tetapi, pada dekade selanjutnya, ternyata ahsi pendidikan terasa begitu mengecewakan semua pihak. Anak-anak hasil proses pendidikan dekade ini ternyata belum, bahkan dapat dikatakan tidak dapat mencerminkan hasil sebuah proses pendidikan yang dibilang sudah maju. Justru, kemunduran merupakan hasil dalam segala bidang pendidikan. Tiga aspek dasar pendidikan yang diberikan dalam proses pendidikan belum dapat diserap dan dijadikan bagian integral diri anak didik. Pengetahuan tidak maksimal, sikap mengalami perubahan yang drastis, begitu juga keterampilan hilang dari diri anak. Ini meurpakan sebuah kenyataan yang tidak dapat kita pungkiri.

Hasil proses pendidikan dan pembelajaran memang tidak dapat dilihat untuk waktu yang singkat. Kita membutuhkan waktu yang relative lama untuk dapat mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pembelajaran. Tetapi hal tersebut dapat kita lihat secara sampling dari lulusan sekolah di sekotar kita yang ternyata sudah tidak mencerminkan orang-orang berpendidikan. Sikap mereka dalam kehidupan bahkan tdiak sedikit yang seperti barbar. Pengetahuan mereka ternyata belum menjangkau untuk kondisi sekarang dan keterampilan yang mereka miliki ternyata sama sekali tidak dapat diajdikan sebagai satu kecakapan untuk hidup.

Untuk mengkondisikan sekolah sebagai sekolah plus, memang cukup rumit dan membutuhkan banyak aspek pendukung. Aspek pendukung inilah yang diharapkan dapat memberikan dukungan motivasi, baik mental maupun fisik. Dengan dukungan ini, maka pada setiap lini terdapat kesatuan kinerja yang diharapkan dapat memicu dan memacu setiap program yang dicanangkan sekolah.  Sekolah plus memang merupakan sekolah dengan berbagai muatan yang diharapkan dapat membedakannya dengan sekolah lainnya, sejenis maupun tidak. Pada sisi lainnya, label plus yang kita pasang adalah merupakan apresiasi atas visi dan misi yang kita gotong pada saat memutuskan sekolah sebagai sekolah plus.

Visi adalah gambaran yang akan kita capai pada masa tertentu yang bersifat positif untuk kondisi setelah sekarang. Visi merupakan tujuan yang hendak dicapai oleh manajemen sekolah dengan kesepakatan bersama dewan guru untuk menciptakan suatu inovasi sehingga selanjutnya proses pendidikan dan pembelajaran yang dilakukan dapat memberikan bekal plus bagi anak didik. Bekal plus yang kita maksud adalah terintegrasinya setiap aspek pendidikan di dalam diri anak didik, artinya setelah mengikuti proses pendidikan, maka anak didik memperoleh bekal kognitif, afektif dan psikomotor secara integral dalam dirinya. Mereka tidak hanya intelek, tetapi sopan dan mempunyai keterampilan aplikatif bagi kehidupannya.

Sementara untuk dapat menjalankan program pendidikan plus bagi anak didik dan berharap dapat mencapai hasil maksimal, maka perlu kiranya kita memperhatikan 3(tiga) K aspek dasar ini:

  1. a. Komitmen

Komitmen adalah kesepakatan kita untuk melakukan sebuah kegiatan. Komitmen ini merupakan dasar pelaksanaan kegiatan. Dengan komitmen ini, maka setiap orang yang terlibat dakan kegiatan mempunyai tanggungjawab untuk menjaga eksistensi kesepakatan yang sudah dibuat. Hal ini sangat penting sebab dengan komitmen yang tinggi, maka keterlaksanaan program dapat maksimal.

Untuk itulah, maka setiap elemen terkait dengan setiap program yang disusun dan dicanangkan oleh sekolah harus benar-benar mendukung. Hal ini karena elemen terkait dengan kegiatan adalah sosok-sosok penentu tingkat keberhasilan. Jika mereka tidak sepenuh hati mengikuti komitmen kegiatan, maka mereka akan menjadi pembeban kegiatan.

Komitmen ini memegang peranan penting dalam setiap program kegiatan, khususnya program pendidikan dan pembelajaran yang ditetapkan oleh pengelola sekolah. Dengan komitmen ini, maka setiap elemen harus ikut mengembangkan program. Jika hal ini tercipta, dinamisasi program dan kegiatan lebih terarah dan pasti.

Misalnya kita membuat komitmen untuk menyelenggarakan proses pendidikan dan pembelajaran plus, missal SMP Plus, SMA Plus dan sebagainya, maka setiap personil yang membuat komitmen harus dapat menjaga keteguhan hatinya dalam mengembangkan kesepakatan menjadi hal nyata. Setiap pembuat komitmen harus berusaha agar berperan maksimal.

  1. b. Konsisten

Konsisten adalah keajegan, kesetiaan kepada komitmen yang sudah disetujui bersama. Di dalam pelaksanaan program kegiatan, semua elemen yang telah membuat komitmen kegiatan berkewajiban dan bertanggungjawab atas kelancaran proses. oleh karena itulah, maka keteguhan-nya terhadap komitmen benar-benar menjadi taruhan untuk kedepannya.

Ketika sekolah, pengelola sekolah dan semua civitas akademik sekolah membuat kesepakatan untuk menerapkan satu program baru, maka selanjutnya setiap elemen harus benar-benar yakin dan teguh atas pelaksanaan peran masing-masing dalam kegiatan. Selain itu, arah dan bentuk serta aspek kegiatan harus dijaga agar tidak mengalami pembiasan selama proses perjalanannya. Hal ini agar visi dan misi yang sudah diputuskan, disepakati bersama benar-benar dapat direalisasi.

Konsistensi atas segala komitmen bersama merupakan bentuk keteguhan kita atas keputusan yang sudah kita buat. Bagaimana-pun kita memang harus konsisten dengan segala yang sudah kita putuskan bersama.  Jika kita konsisten dengan apa yang sudah kita putuskan, maka hal itu berrati separuh tujuan sudah tercapai.

Dalam proses penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran plus, artinya kita sudah memutuskan untuk mencapai sesuatu yang lebih dibandingkan kondisi pada umumnya. Jika pada umumnya hasil proses pendidikan hanya anak-anak dengan tingkat intelektualitas dan sikap serta keterampilan minimal, maka setelah kita membuat komitmen sekolah plus, kita harus tetap pada jalur tersebut. Kita tidak boleh mengubah arah dan menghapus komitmen tersebut.

  1. c. Konsekuen

Konsekuen adalah kemampuan dan kemauan untuk menerima segala akibat kegiatan dengan lapang hati dan besar jiwa. Setiap orang dalam kehidupan ini mempunyai tanggungjawab dan kewajiban terhadap segala hal yang sudah, sedang dan akan dilakukan untuk kelancaran hidupnya. Dalam proses pendidikan dan pembelajaran, setiap program yang telah dicanangkan memberikan dan menuntut tanggungjawab dan kewajiban

Untuk keterlaksanaan setiap program yang sudah dicanangkan bersama, maka setiap orang harus berani menghadapi setiap akibat dari kesepakatan yang dibuat. Pada penyelenggaraan proses pendidikan dan pembelajaran plus, maka setiap orang yang terkait dalam kegiatan harus berani menghadapi setiap akibat dari kebijakan yang sudah disepakati.

Artinya, mereka harus menyadari bahwa setiap kali kegiatan yang sudah disepakati memberikan tuntutan logis. Dan, mereka harus selalu siap menghadapi tuntutan tersebut dan memberikan solusi atas setiap permasalahan. Setiap orang harus menyadari dan menindaklanjuti setiap program dengan langkah konkrit untuk mewujudkan isi program. Dan, selanjutnya jika ternyata kesalahan, maka setiap orang harus berani bertanggungjawab atas semuanya.

Selain itu sebaiknya semua elemen menyadari bahwa program pembelajaran yang dilakukan di sekolah plus bukanlah menambahkan aspek pendidikan begitu saja ke dalam proses. Penyelenggaraan sekolah plus lebih ditekankan pada pemberdayaan keterampilan yang ada pada setiap aspek pendidikan dan mengintegralkan dalam sebuah proses terpadu. Sekolah plus bukan hanya menempelkan satu atau beberapa aspek pendidikan pada pembelajaran yang sudah ada, melainkan mengintegralkan setiap elemen pembelajaran sehingga 3 (tiga) aspek pembelajaran tersebut tersinergiskan dalam setiap mata pelajaran. Kita tidak perlu menambah jumlah mata pelajaran sebab jumlah mata pelajaran selama ini sudah termasuk sangat banyak sehingga menyebabkan anak didik kurang dapat berkonsentrasi sebab terlalu banyak yang harus dipelajari.

Jumlah pelajaran yang berjubel telah menjadi sesuatu yang sangat memberatkan bagi anak didik. Mereka seringkali melakukan protes atas jumlah pelajaran berjubel, tetapi tidak ada hasilnya. Oleh karena itulah, untuk penyelenggaraan sekolah plus perlu mempertimbangkan jumlah mata pelajaran yang diberikan kepada anak didik. kita tidak boleh terbius oleh visi kita semata dan mengabaikan kondisi anak didik yang kelelahan atau kelabakan dengan materi pelajaran sangat banyak.

Pendidikan dan pembelajaran plus sebaiknya diarahkan untuk mengembangkan kemampuan anak didik berdasarkan kemampuan yang ada pada dirinya atau sebagai pengembangan aspek psikomotor dari setiap mata pelajaran yang sudah ada. Dan, pada umumnya penerapan aspek psikomotor ini merupakan upaya agar pendidikan dan pembelajaran anak didik utuh.

Fenomena sekolah plus memang tidak dapat kita hindarkan sebab tuntutan jaman sudah sedemikian besarnya. Walau sebenarnya, tambahan nama plus tersebut tidak perlu dilakukan sebab sejak dahulu setiap sekolah sebenarnya sudah menerapkan konsep plus dalam proses pembelajarannya. Hanya saja pada saat itu respon anak sangat besar sehingga tingkat keberhasilannya cukup tinggi. Disamping itu, hambatan dari lingkungan masyarakat masih kecil sehingga tingkat konsentrasi anak pada proses belajar sangat tinggi. Sementara, sekarang ini, gangguan dari lingkungan masyarakat sedemikian besar dan kuatnya sehingga anak didik harus melawan banyak sekali tantangan dan menyita konsentrasi belajarnya.

Sekolah-sekolah sekarang harus dapat memberikan pelayanan prima kepada masyarakat agar eksistensinya terjaga dalam kehidupan masyarakat dan selanjutnya hal tersebut merupakan bentuk kesadaran tugas dan kewajiban sebagai institusi penyelenggara pendidikan dan pembelajaran. Sekolah harus selalu mengikuti setiap pola kehidupan masyarakat. Sekolah harus dapat membaca setiap peluang yang dapat memberikan kemudahan kepada anak didik untuk survive dalam kehidupannya. Kita harus selalu berpikir bahwa input yang kita dapat dalam proses pendidikan dan pembelajaran harus dapat menjadi output yang berkualitas. Lulusan sekolah kita harus ‘terpakai’ dalam kehidupan masyarakat.

Lulusan yang kita hasilkan dari proses pendidikan dan pembelajaran haruslah dapat menjadi outcome, tidak sekedar output sebagaimana selama ini. Mereka hanya memperbanyak jumalh lulusan yang tidak berarti bagi masyarakat. Pendidikan plus yang kita selenggarakan mempunyai konsekuensi logis seperti itu. Anak didik yang telah menyelesaikan masa pendidikan dan pembelajaran di sekolah kita harus mempunyai kompetensi lebih baik dari lulusan sekolah lain. Jika anak didik harus meneruskan masa pendidikannya, maka kompetensi tersebut dapat memberinya kemudahan dalam mengikuti ujian masuk ke perguruan tinggi. Jika ternyata anak didik harus memasuki dunia kerja, maka dengan kompetensi plus yang didapatkan dari proses pendidikan dan pembelajaran, maka anak didik tidak perlu bersaing ketat dengan calon tenaga kerja dari sekolah lain. Bahkan, hal terpenting yang selalu kita tekankaan kepada anak didik adalah kemandirian. Kita selalu menekankan kepada anak didik agar mereka berani mandiri dalam hidup sehingga tidak mempunyai ketergantungan pada orang lain.

Dan, proses pendidikan kita memang seharusnya menggarap kembali aspek kemandirian pada jiwa anak didik agar mereka menyadari bahwa sebenarnya mereka mempunyai kemampuan. Kemampuan tersebut tinggal mengasah dan mereka mempunyai kemampuan untuk menghadapi kehidupan dengan baik.

Pendidikan Berbasis Kecakapan Hidup (Life Skill)

Di dalam UU Sisdiknas Bab II, pasal 3 dituliskan, “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak………berakhlak mulia, sehat, cakap, kreatif, mandiri…”. Selanjutnya dilengkapi pada Bab III pasal 4 ayat 3, : Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran”.

Jelas bagi kita bahwa sebenarnya pendidikan yang kita selenggarakan telah dibuatkan sebuah koridor yang jelas yaitu kreativitas dan kemandirian. Anak-anak diberikan satu bimbingan agar kreatif sehingga tumbuh suatu kemandirian dalam kehidupannya. Kreativitas dan kemandirian merupakan satu kesatuan integral yang sinergis. Hal ini sangat penting sebab tuntutan kehidupan atas kedua hal tersebut memungkinkan kemampuan survive terhadap kehidupan ini.

Kreativitas dan kemandirian merupakan dua sisi mata uang. Ketika kreativitas tumbuh dengan suburnya, maka pada saat itu pula kemandirian mengiringi sebagai follow up dari segala hal yang dihasilkan oleh kreativitas tersebut. Pada jaman sekarang, kreativitas dan kemandirian sangat penting sebab pola kehidupan memang menuntut untuk bersikap seperti itu. Kreativitas dan kemandirian menjadi brandingself bagi setiap orang dalam kehidupan bermasyarakat.

Persaingan hidup yang serba ketat dan sedikitnya lapangan kerja menyebabkan setiap orang harus berusaha untuk dapat survive dengan kemampuan yang dimilikinya. Mereka harus dapat menciptakan sesuatu yang berguna untuk dirinya dan masyarakat. Hal ini mengingat semakin lama kebutuhan masyarakat atas kreasi atau barang-barang semakin beragam. Barang-barang tersebut  untuk memenuhi kebutuhan estetis ataupun untuk meringankan beban kehidupan. Kita berkecenderungan untuk hidup serba ringan, mudah sehingga dibutuhkan alat-alat penunjangnya.

Pendidikan berbasis kecakapan hidup merupakan satu program pendidikan yang mengedepankan upaya pembekalan anak atas beberapa keterampilan khusus sehingga mempunyai kemampuan menghadapi hidup. Dengan program ini, maka diharapkan anak didik mempunyai kemampuan yang dapat dijadikan sebagai bekal hidup. Bekal tersebut diarahkan agar anak didik dapat melakukan sesuatu yang berguna untuk dirinya dan masyarakatnya.

Pada jaman sekarang, dimana pola kehidupan global telah menguasai setiap lapisan masyarakat, maka setiap elemen masyarakat harus mempunyai keterampilan khusus untuk bertahan hidup. Kita harus mempunyai nilai plus pada diri kita agar dapat menjalani hidup sebaik-baiknya. Untuk itulah, maka bekal yang kita miliki-pun harus plus, bekal plus tersebut dapat kita peroleh dari proses pendidikan dan pembelajaran yang mengedepankan pendidikan berbasis kecakapan hidup, life skill. Dengan pendidikan berbasis kecakapan hidup ini, maka anak didik mempunyai kemampuan untuk menghadapi kehidupan ini. Program pendidikan berbasis kecakapan hidup merupakan program yang memberikan muatan khusus pada mata pelajaran sehingga dengan muatan khusus tersebut, maka mereka tidak hanya menerima pengetahuan, sikap, tetapi yang terpenting adalah keterampilan aplikatif dari materi pelajaran mereka.

Pengertian berbasis kecakapan hidup tidak lain adalah setiap materi pendidikan dan pembelajaran diberikan muatan aplikatifnya untuk kehidupan. Dengan muatan aplikatif inilah sebenarnya kita mencoba untuk mengantisipasi kondisi anak setelah menyelesaikan masa pendidikannya. Kita tidak ingin anak-anak menjadi kelompok pengangguran terdidik, melainkan menjadikan mereka sebagai sosok-sosok kreatif yang mandiri. Hal ini karena untuk jaman sekarang ini kreativitas merupakan sumber penghasilan yang paling aplikatif bagi kehidupan.

Sudah saatnya kita mengembangkan pola pendidikan dan pembelajaran yang menggarap kreativitas dan kemandirian sebagai muatan utamanya. Sudah saatnya kita mengembalikan proses pendidikan dengan mendekatkan anak didik pada kebutuhan hidup. Kita melihat bahwa kesempatan anak untuk langsung berperan dalam kehidupan masyarakat jauh lebih efektif dibandingkan kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Jaman persaingan global mengharuskan setiap orang untuk selalu siap menghadapi berbagai kondisi kehidupan. Dan, guru atau sekolah melakukan proses pendidikan dengan mengkolaborasikan pengetahuan, sikap dan psikomotor secara sinergis dalam sebuah pembelajaran.

Memang, proses pendidikan dan pembelajaran merupakan proses pengantaran anak didik menuju kondisi terbaik bagi kehidupannya. Hal ini merupakan amanat penting bagi sekolah, guru dan dunia pendidikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kita meyakini bahwa dunia pendidikan telah menjadi menara api, menara air, dan menara emas yang mampu memikat setiap orang untuk berkerumun di sekitarnya. Mereka berusaha untuk mendapatkan manfaat bagi setiap menara tersebut dan selanjutnya menebarkannya sebagai sumber penghasilan hidupnya.

Begitulah yang hendak kita capai ketika memutuskan untuk menerapkan program pendidikan berbasis kecakapan hidup. Oleh karena itu, maka diperlukan komitmen dan konsistensi serta kemauan dan kemampuan menerima konsekuensi dari semua program yang sudah disepakati. Jika kita mampu memposisikan diri sebagaimana seharusnya, maka tentunya program dapat dilaksanakan dan berhasil mencapai visi dan misi yang diusung bersama.

Mngelola sekolah plus untuk pendidikana berbasis kecakapan hidup merupakan bentuk kesadaran dan apresiasi positif kita kepada dunia pendidikan dan kehidupan pada umumnya. Hanya dengan menyelenggarakan sekolah plus, maka bekal anak didik dapat seutuhnya. Dan, dengan bekal seutuhnya ini, maka hal tersebut memungkinkan anak didik survive dalam kehidupannya. Selanjutnya hal tersebut mencegah terjadinya penambahan jumlah pengangguran terdidik secara signifikan. Sehingga kedepannya anak didik kita mampu bersaing dengan anak dari negara lainnya. Dan, anak didik kita menjadi sosok-sosok panutan bagi anak lainnya. Semoga.

Iklan

Responses

  1. اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا ت
    ————————
    Terima Kasih kita sampaikan pada pk Saroni, idenya cukup bagus.

    Ada suatu hal yang sangat penting diperhatikan yakni kalimat yang saya kutip dibawah ini;

    ….”Tetapi, pada dekade selanjutnya, ternyata ahsi pendidikan terasa begitu mengecewakan semua pihak………Pengetahuan tidak maksimal, sikap mengalami perubahan yang drastis, begitu juga keterampilan hilang dari diri anak. Ini meurpakan sebuah kenyataan yang tidak dapat kita pungkiri…”

    Tolong jelaskan dimana tempatnya atau sekolahnya dan tolong beri data yang valid.
    Sebab itu merupakan peristiwa luar biasa, Mungkin banyak orang sudah tertipu dengan pendidikan yang demikian. Ini pelanggaran yang amat serius. perlu perhatian semua pihak.

    wassalam.
    Jalius.HR

  2. Sebenarnya hal ini dapat kita lihat dari kenyataan dalam kehidupan kita, bahwa mereka yang mengikuti proses pendidikan memang mengalami kemunduran. Anak-anak terbawa pada kehidupan yang serba instan sehingga hasil proses pendidikan yang ‘diharapkan’ dapat memperbaiki kualitas, alih-alih tujuan tercapai, ternyata anak-anak cukup banyak yang jauh api dari pemanggangan, mereka tidak menguasai materi pemelajaran dengan sebaik-baiknya, bahkan untuk sikap saja kita dapat melihat bahwa mereka telah kehilangan nilai-nilai positif yang ditanamkan dalam proses pembelajaran, cukup banyak anak yang bersikap seperti bukan orang-orang berpendidikan, bahkan bukan hanya anak-anak, orang-orang dewasa saja, yang notabene hasil proses pendidikan terdahulu, tentunya kita sudah tahu hal tersebut. anak-anak tidak terampil padahal dalam proses pembelajaran diberikan pembelajaran keterampilan dan sebagainya. Tentunya jika kita memperhatikan, sebenarnya hal seperti ini terjadi hampir menyeluruh, pengaruh lingkungan lebih kuat tertanam dalam hidup anak didik daripada nilai-nilai positif yang ditanamkan dalam dunia pendidikan kepada mereka. Tentunya dalam hal ini perlu kesadaran semua pihak untuk mengkondisikannya. anak-anak lebih suka menunggu peluang pekerjaan daripada menciptakan pekerjaan dan sebagainya.
    Jika kita mau berbesar hati, khususnya di kota-kota besar, masih cukup banyak anak-anak, orang-orang produk pendidikan yang ternyata tidak mencerminkan kelompok berpendidikan, itulah dasar pemikiran tulisan ini. memang semua kembali pada ketatnya persaingan hidup sehingga mereka mengaami hal seperti itu, tetapi setidaknya idealisme konsep pendidikan jauh dari semua itu. bahkan, sampai-sampai sekarang diusulkan adanya pendidikan anti korupsi merupakan antisipasi hasil pendidikan yang tidak dirasa kurang sinkron dengan kebutuhan masyarakat.
    Begitu pak Jalius, dalam hal ini kita dapat melihat bahwa kondisi seperti ini hampir merata di penjuru negeri ini. Pendidikan sudah berusaha memberikan pembekalan terbaik bagi anak didik, tetapi semua kembali pada anak didik masing-masing.
    Tiga aspek atau konsep dasar pendidikan, kognitif, afektif dan psikomotor adalah matweri dasar yang diberikan kepada anak didik untuk mempersiapkan mereka sebagai manusia-manusia kompetens, tetapi yang kita dapatkan apa? Masih banyak anak-anak yang pengetahuannya lemah, sikapnya tidak mencerminkan sikap bangsa ini, apalagi psikomotornya, mereka tidak terampil sehingga, diakui atau tidak masih cukup banyak pengangguran terdidik/intelek di negeri ini. Kalaupun mereka kita kirim sebagai tenaga kerja, kelasnya cukup ‘pekerja kasar’ tidak ada keahlian khusus.
    Hal ini kita lihat dari kenyataan dalam kehidupan.

  3. Terima kasih P’ Saroni. Atas penjelasannya,
    Semoga P’Saroni panjang umur, sehat dan selalu mendapat hidayah.

    Ada satu lagi p’ Saroni isi pendidikan yakni “knowladge” . Mungkin faktor ini ada kaitannya dengan permasalahan yang di ungkapkan diatas.

    wassalam
    jalius,HR

  4. terima kasih pak jalius…. sebenarnya aspek knowledge sudah masuk dalam tiga aspek dasar pendidikan yaitu Kognitifnya adalah Knowledge, Attitude sebagai Afektif dan skill/kompetensi sebagai psikomotornya,
    Semoga Pak Jalius juga selalu sukses dan sukses

    wassalam
    M. Saroni

  5. P’ Saron syh

    mari kita belajar lagi, ok ?

    sebagai bahan untuk p’ Saroni adalah “apakah itik sama dengan ayam ?”
    Semoga Saya bisa ketemu P’ Saroni
    Wassalam

  6. Artikel Bapak telah banyak membantu saya, terimakasih….

  7. kira2 buku yang saya bisa gunakan sebagai bahan referensi untuk masalah pramuka apa saja ya pak?
    nama dan pengarang nya siapa?
    soalnya saya mau meneliti masalah pramuka

    sebelumnya makasih ya pak….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: