Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Februari 15, 2010

Mental Model Guru

Mental Model Guru

Oleh : Ahmad Baedowi

kick andyApa musuh terbesar seorang guru? Jika pertanyaan ini ditujukan kepada para guru di Indonesia, pastilah jawabannya sangat beragam. Sebagian ada yang menjawab masalah fasilitas sekolah yang kurang memadai, gaji yang tak layak, birokrasi yang menyebalkan, orangtua yang tak peduli pada anak-anaknya, dan sederet jawaban lainnya. Sedangkan sebagian lainnya akan menjawab bahwa musuh terbesar seorang guru adalah disiplin anak, kemalasan anak, dan ketidak pedulian anak terhadap proses belajar mengajar di kelas.

Musuh kedua ini selalu menjadi problem tak terselesaikan, jika seorang guru memiliki mental model yang sering memberikan labelling terhadap kondisi siswanya. Inilah sebenarnya musuh utama para guru kita. Karena itu sejalan dengan makin besarnya tantangan yang harus dihadapi oleh seorang guru, saat ini muncul sejumlah usaha untuk memperbaharui konsep atau gagasan tentang apa yang disebut sebagai guru berkualitas. Salah satu prasyarat yang dimemukakan oleh Peter Senge dalam The School That’s Learn (2003) perlu dipertimbangkan sebagai keterampilan yang perlu dimiliki oleh seorang. Keterampilan tersebut dinamai Peter Senge sebagai mental models, sebuah disiplin yang ingin menekankan sikap pengem¬bangan kepekaan dan persepsi baik dalam diri sendiri atau orang sekitarnya.

Bekerja dengan membentuk mental ini dapat membantu para guru kita untuk lebih jelas dan jujur dalam memandang kenyataan yang tampak dari keragaman alenta yang dimiliki oleh setiap siswa. Pembentukan mental dalam pendidikan seringkali tidak dapat didiskusikan, dan tersembunyi, maka kritik yang harus diperhatikan oleh seorang guru yang belajar adalah bagaimana mereka mampu mengembangkan kapasitas untuk berbicara secara produktif dan aman tentang hal-hal yang berbahaya dan tidak nyaman, baik bagi dirinya, siswa dan lingkungan belajarnya. Karena itu penting juga bagi para guru untuk senantiasa aktif memikirkan asumsi-asumsi tentang apa yang terjadi dalam kelas, tingkat perkembangan siswa, dan lingkungan rumah siswa.

Jika mental model para guru kita dapat memahami dengan baik bagaimana keterkaitan antara teori belajar semacam constructivism dan cara otak bekerja dalam belajar (brain based learning), maka guru akan dapat menyimpulkan bahwa proses belajar itu adalah semacam pencarian sebuah arti (kehidupan). Karena itu belajar harus dimulai di antaranya dengan isu-isu keseharian siswa dalam kehidupan sehari-hari mereka dalam rangka mencari pemaknaan yang lebih luas tenang suatu hal. Tetapi masalahnya jika guru kita memilii mental model yang selalu membuat labelling terhadap kondisi siswanya, jangan-jangan proses belajar mengajar hanya terbatas pada transfer ilmu sesaat tanpa menghiraukan kebutuhan siswa itu sendiri. Yang terjadi kemudian adalah adanya penanaman doktrin yang belum sepenuhnya sesuai dengan kondisi psikologis anak.

Ada baiknya jika para guru mencoba merenungkan kata-kata bijak dari Khahlil Gibran, bahwa tugas utama seorang guru di anaranya adalah mengantarkan anak agar bisa melakukan eksplorasi secara maksimal terhadap daya jelajah intelektual mereka (The teacher if he/she indeed wise does not bid you to enter the house of his/her wisdom but leads you to the treshold of your own mind). Dalam konteks ini tentu saja mental model guru harus seimbang dengan prinsip etika ketimuran yang agamis dan penuh tradisi kesantunan. Jika tidak, maka kejadian saling mengejek antar guru di salah satu sekolah di Medan bisa jadi terjadi pada banyak sekolah lainnya di Indonesia. Bagaimana ceritanya?

Suatu ketika seorang guru matematika di salah satu sekolah di Medan mengejek dua orang rekannya, guru agama Islam dan Katolik. Si guru matematika ini bilang bahwa kedua orang guru agama rekannya ini dalam mengajar agama laksana seorang calo angkutan kota. Sang calo angkutan selalu berteriak: ”Siantar. Siantar, Siantar.” kepada para calon penumpang. Namun ketika para penumpang masuk ke dalam mobil, si calo berbalik arah menuju warung untuk menyeruput kopi dan menghisap rokoknya. Tak perduli apakah penumpang itu sampai di Siantar atau tidak.

Apa yang terjadi kemudian? Kedua orang guru agama tersebut marah kepada guru matematika sambil berujar: ”Untung kau temanku, kalau tidak sudah kuberi kau ketupat Bengkulu”. Edu hanya mengurut dada, semoga mental model guru-guru kita tidak seperti ”calo” sebagaimana dimaksud dalam cerita di atas.

Sumber : Andy’s Friend

Iklan

Responses

  1. ——————-
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    ——————————
    Saya kadang juga bingung, mau mengucapkan terima kasih, pad siapa yang tepatnya. Pada penulis atau pada p’Zul atau kerabat di E -N.

    Tulisan MB tersebut perlu juga saya pertanyakan:
    Pertama, tulisan ini termasuk pengetahuan ilmiah atau pengetahuan populer.
    Masing-masingnya akan menentukan bentuk tanggapan yang akan diberikan. Hal ini mungkin sangat perlu bagi pembaca E-N untuk diketahui.
    sebab nanti tanggapan yang diberikan terkesan nyeleneh.

    Kedua, kalau tulisan MB digolongkan pengetahuan limiah, tentu tanggapan saya begini;
    Pada awal tulisan MB memulai dengan kalimat;
    ….Apa musuh terbesar seorang guru?…..
    Setahu saya musuh itu adalah sesuatu yang mengancam (misalnya kesehatan atau keselamatan). Kalau musuh guru maka saya menjawabnya bisa hanya dua; pertama dari sisi administrasi adalah “kalau SK nya dicabut”. Kedua dari sisi tanggung jawab adala”kebodohan”.

    Tapi kalau seperti yang diungkapkan MB tersebut diatas adalah persoalan tugas- tugas yang dihadapi sekaitan dengan tanggung jawabnya sebagai guru.
    Berikutnya ada pargraf yang diawali dengan kutipan berikut;
    …..”Jika mental model para…….dst….
    Pembaca budiman, jangan lupa makna kata “jika”

    Isi paragraf tersebut mencerminkan MB menerawang, dia lupa waktu dia masih di sekolah dulu. Saya tidak yakin MB bisa sepertinya sekarang kalau guru yang dipersoalkannya tidak tepat cara mendidiknya.

    Istilah boleh beda namun isinya udah lama juga.
    Bagi semua guru mungkin ungkapan ini akan berguna untuk memperkuat keyakinan;
    “The old wine in new bottle” Anggur tua dalam botol baru. Keberhasilan terletak juga pada kesungguhan kita bekerja, bukan pada modrnnya pemikiran.

    Banyak maaf
    wassalam
    Jalius.HR

  2. Tanggapan saya adalah guru tidak punya musuh Pak, tapi saya setuju kalau guru selalu memperbaiki diri agar menjadi guru berkualitas. Apapun tantangan yang ada di sekolah adalah tugas kita. kita sudah siap untuk menjalaninya. Contohlah Laskar Pelangi. terima kasih.

    • Guru jaman sekarang dengan dulu jelas lain hanya caranya aja yang berbeda hal itu sesuai dengan keadaan jaman dan situasinya.

  3. “Re-thinking”

    • Situasi sekarang memang dibutuhkan guru yang benar-benar panutan, beri contoh yang baik di mana saja berada

  4. awal paragaraf mestinya bukan “musuh terbesar seorang guru” mungkin yang pas adalah tantangan terbesar seorang guru


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: