Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Februari 15, 2010

Tingkat Analisis Pelajar Indonesia

Tingkat Analisis Pelajar Indonesia

Oleh : Desmalinda
Guru R-SMA-BI Negeri 10 Padang

Desmalinda

Berdasarkan Laporan EDI yang di muat di Wikipedia dapat di simpulkan bahwa tinggkat analis sintesa pelajar indonesai saat ini sangatlah rendah. Pelajar Indonesia saat ini banyak berada pada tingkat aplikasi ( C3 ).

Setelah dicermati ternyata salah satu penyebabnya adalah terlalu banyaknya jumlah mata pelajaran yang harus di pelajari oleh siswa. Siswa mempelajari semua mata pelajaran yang di bebankan kepadanya, karena terlalu banyaknya beban mata pelajaran yang harus di pelajarinya sehingga tidak ada ruang di kepalanya untuk berfikir analis dan sintesis, mereka lebih cendrung menghafalkan semua pelajaran yang ada.

Dinegara maju yang tergabung dalam OECD jumlah mata pejaran yang di pelajari siswa setelah penjurusan hanya 6 mata pelajaran. Di negra kita saat ini di SMA jumlah mata pelajaran yang harus di pelajarri siswa 14 mata pelajaran setelah penjurusan, sebelum penjurusan jumlah mata pelajaran yang harus di pelajari 17 mata pelajaran.

Jadi siswa kita saat ini berat bebannya di jumlah mata pelajaran.
Menurut saya dan saya usulkan kalau bisa mata pelajaran yang di pelajari siswa dikurangi, umpamanya cukup mempelajari 8 mata pelajaran setelah penjurusan dan 10 mata pelajaran sebelum penjurusan. agar kita dapat memberi ruang berfikir pada otak anak,

Demikian tulisan singkat saya ini, saya berharap dapat menjadi pertimbangan bagi pembuat keputusan dan menjadi bahan diskusi bagi kita semuanya.

Iklan

Responses

  1. mohon dijelaskan juga tingkat sintesa dan tingkat aplikasi itu bagaimana :)

    terima kasih

  2. ————-
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    —————————–
    Ini adalah sebuah Inovasi.

    Tulisan ibuk Desmalinda ini sangat pantas untuk kita fikirkan bersama, kedepan sebaiknya ada perubahan. Apa yang diungkap BL itu sungguh persoalan utama bagi sebagian besar siswa.
    sebagai contoh saya sendiri waktu masih sekolah
    pelajaran olah raga dan kesenian tidak pernah mendapat nilai angka hijau atau biru atau pun hitam. Senyatanya memang demikian, sampai saat ini kedua mata pelajaran tersebut tidak ada gunanya. Saya tidak pernah menyanyi dipanggung dan tidak pula pernah ikut lomba olah raga.
    Semua nya itu apaartinya ?
    Mata pelajaran hanya efektif bila siswa memiliki dasar untuk itu. Dalam hal ini selalu merupakan siksaan atau beban yang tidak menyenangkan bagi siswa. Faktor ini pula yang menjadi pemicu banyaknya anak mogog belajar dan sebagainya.
    Di pihak lain mata pelajaran yang diminati dan memang siswa punya dasar yang baik tentang itu menjadi terganggu kelancaranya untuk mencapai kwalitas yang diinginkan. Apa yang sering diinginkan oleh banyak pakar penddikan yakni “belajar yang menyeangkan” tidak pernah terwujud, karena prasyaratnya tidak terpenuhi, yaitu keleluasan alias waktu yang memadai. Baik waktu disekolah ataupu waktu dirumah untuk mengerjakan PR sekolah dan PR kemasyarakatan. Saya banyak juga tahu, bahwa banyak juga anak-anak yang tergolong cerdas mogok belajar karena ada pelajaran yang tidak disukai, sehingga anak ini sering pindah sekolah demi sebuah kenyamanan.

    Barang kali untuk kedepanya saya sangat setuju dengan usulan Buk Linda tersebut.
    Untuk itu ada suatu hal yang perlu diperhatikan yakni, kita harus memperbanyak “jurusan”. sehingga berbagai potensi anak dapat dikembangkan dengan baik. Akibatnya siswa senang belajar dan guru juga nyaman mengajar. Pada gilirannya kita akan mendapatkan siswa yang mampu mengembangkan spesialiasi pada dirinya. Dan memang semakin spesifik spesialisasi anak (para ilmuan) kemajuan akan terakselerasi dengan sendrinya.
    Dalam ide Ibuk Desmalinda ini terkandung juga makna, bahwa sekolah “plus” juga termasuk mengekang kemajuan perkembangan potensi unggulan anak. Perlu juga mendapatkan perhatian.

    Ide ini paling tidak harus dicontohkan pada sekolah SBI dan SBN. Semoga ada kajian kearah itu.

    Wassalam
    Jalius.HR

  3. ——————-
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    —————————–
    Apa yang di tanya oleh Ajunkwees pada tanggapan terdahulau, maka secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut;

    Sintesis dapat berarti menyatukan gagasan yang terpisah-pisah atau ide yang berbeda-berbeda dalam saatu keseluruhan. Atau gabungan dari hal-hal (gagasan, konsep,sifat) kedalam keseluruhan yang lebih rumit dari hal-hal yang lebih sederhana.

    Secara fiklosofis sintesis menandakan penyatuan beberapa ide untuk menciptakan suatu struktur konseptual yang sempurna atau lengkap. Ini merupakan salah satu dari fungsi terpenting dari keasadran. Pembentukan kesadaran seperti inilah yang merupakan tanggung jawab dari sebuah pendidikan yang dianggap bermutu.

    Kedua, apa yang dimaksud dengan tingkat aplikasi adalah tingkat kemampuan menggunakan atau menerapkan ide atau konsep yang telah ada. Secara sederhana kemampun ini hanya menggantunkan diri pada pendapat atau ide orang lain. Sianak atau siswa tidak punya kemamapuan untuk melakukan “sintesis”. Hal ini disebabkan sianak tidak dilatih bagaimana meramu atau memodifikasi dan mendapatkan sesuatu yang baru dari sebuah proses yang telah dijalani.

    Sebagai contoh sampai sat ini masih banyak sarja yang tidak mampu membuat sebuah defenisi atau menyusun sebuah pengertian. Di Perguruan tinggi saja saya sering menemukan para sarjana kita masih saja gandrung mengambil pengertian dari luar negeri. Misanya mau menyampaikan “pengertian Pembangunan” eh nyatanya dicarinya bahasa inggeris “development”,apa yang pengertia development tersebut menurut pakar asing itulah yang dijadikan pengertian “pembangunan”

    Barang kali mungkin ini yang dimaksud oleh Ibuk Linda, tapi tentu perlu juga di konfirmasi.

    Wassalam
    Jalius HR

  4. Terimakasih banyak P’ Jalius udah menjelaskan pertanyan p’ Ajenkwee
    Memang beban mata pelajaran siswa kita saat ini sangat banyak, sehingga ndak ada waktu bagi mereka untuk pengembangan pemikirannya secara optimal. ini hendaknya menjadi pemikiran bersama kita semua.
    suatu hari ada siswa berkata sama saya, buk ndak cukup waktu 24 jam ini belajar, karena banyaknya tugas-tugas sekolah. Coba banyangkan yg udah penjurusan ada 14 mata pelajaran seminggu kalau tiap mata pelajaran memberikan tugas, apa yg terjadi sama anak di rumah? tentu mereka sibuk ngerjakan tugas mereka, belum beban les tambahannya, dan kapan mereka akan membantu orang tua di rumah, kapan merekan akan mengembangkan bakat seni, olah raga dan keterampilannya? karena tiap hari dah di bebani tugas sekolah. klau kelas X lebih parah lagi mereka belajar 17 mata pelajaran.
    mudah2 ini dapat menjadi perhatian kita semua

    wassalam

    Desmalinda

  5. Tulisan Buk Linda pantas jd PR Bpk2 kita
    pengambil keputusan di bidang pendidikan
    di Indonesia Ku…

    Apa saja yang diprogramkan di negara kita akan selalu sarat dengan berbagai kepentingan.mulai
    dari Undang-undang sampai dengan hal yg kecil.

    Dengan beban belajar siswa yang begitu banyak
    sehingga siswa seakan-akan tidak lagi dapat bernafas bila semua mata pelajaran di ikuti sesuai dengan tuntutan kurrikulumnya.

    pada kenyataannya sehari-hari siswa banyak yg belajar secara asal-asalan alias tidak serius
    pada akhirnya siswa hanya mendapatkan kulit-kulitnya saja pengaasan terhadap seluruh mata pelajaran yg wajib dipelajari siswa

    realita tersebut yang pada gilirannya akan berdampak terhadap kualitas /mutu lulusan

    Mata pelajaran yg sekian banyak mungkin dikurangi jumlahnya dan untuk lebih meningkatkan daya serap siswa di perlukan guru didepan kelas adalah guru guru yang profesional.

    mudah mudahan pendapat ini dijadikan sebagai masukkan.

    wassalam

    Alkabri

  6. Terima kasih p’ alkabri atas dukungannya,
    Mudah-mudahan kenyataan di lapangan ini menjadi perhatian para pengambil keputusan di negeri ini.
    Mudah-mudahan para pengambil keputusan mendengarkan suara dari bawah ini.

    wassalam

    Desmalinda

  7. Salam Bu Desmalinda,

    Dewasa ini beban-beban tersebut memang dirasa semakin banyak. Satu sisi memang terlihat baik, siswa mendapat multi pengetahuan, walaupun tidak semuanya mampu ditelaah tuntas. Beberapa mata pelajaran yang diterima secara berjenjang dari kelas I sampai kelas XII jika dicermati terdapat repetisi yang terkesan mubazir dan membuang energi, baik guru maupun siswa. Analisis materi ajar ini sebaiknya direformasi, tidak dilihat secara parsial melalui pengkotakan SD, SLTP dan SLTA, tapi betul-betul dilebur dan dicairkan dari kelas I, II, III, hingga kelas XII, sehingga tidak ada kupasan materi yang sama/mirip.

    Wassalam,
    Ariasdi

  8. Betul sekali P’ Ari, banyaknya beban mata pelajaran bagi siswa sudah saatnya perlu di tinjau ulang kembali, karena banyak mata pelajaran yang mubazir yang di pelajari siswa karena tidak semua siswa punya bakat dan kemampuan pada semua pada mata pelajaran yang di ajarkan tersebut.
    Mudah-mudahan yang kita alami di lapangan ini menjadi perhatian dan bahan kajian serius dan dapat di analisa sintesa bagi Bapak2 kita pembuat dan pengambil keputusan.
    Hal ini juga akan berdampak pada peningkatan mutu pendidikan kita.

    wassalam

  9. Buk Desmalinda, saya kasihan sekali pada anak saya yang masih sma kls 12, karena setiap hari dibebani sangat banyak tugas oleh gurunya, sehingga tidurnya kurang sekali. Dan sore hari baru pulang dari sekolah langsung terkapar tertidur sangat kelelahan.
    Dalam penetapan jumlah mata pelajaran untuk kls 12 (IA maupun IS) kelihatannya “pemerintah tidak punya kajian yang mendalam”. Sebaiknya pemerintah mengkaji hal ini lagi. kalu perlu mintalah pendapat guru-guru yang langsung menghadapi siswa setiap hari. Jangan dianggap spele saja pendapat guru-guru ini.
    Logikanya : kalau siswa sudah dijuruskan maka yang dipelajarinya adalah MP jurusannya. Sedangkan MP lainnya sudah cukup doipelajari di kelas 10 dan 11.
    terima kasih
    Semoga bermanfaat.

  10. Betul P’ Diwarman, Apa yang di alami anak bapak hampir rata2 siswa di Indonesia mengalaminya, sungguh kasihan kita pada siswa dengan banyaknya beban yang di pikulnya, Dengan adanya suara suara kita ini, kita berharap pemerintah pembuat keputusan dalam bidang pendidikan mengevalusai kebijakan tetang jumlah mata pelajaran yang harus di pelajari oleh siswa, dan kita berharap ada kajian lebih lanjut. sehingga siswa kita bisa berkembang dengan alam nya dan bisa punya ruang di otaknya untuk berfikir analisa dan sintesa.
    Kita sama berdoa P’ Diwarman

    Salam

    Desmalinda

  11. Saya sering juga kebingungan.
    Untuk itu saya perlu juga bertanya:
    Kenapa Para komentator kita tidak suka menampilkan Foto wajahnya, ada apa dibalik Topeng ?
    Wassalam
    Jalius. HR

  12. Pak Jalius Yth.

    Pembaca e-Newsletter yang tidak tampil fotonya dikarenakan mungkin mereka belum mempunyai akun di WordPress.com dan atau bagi yang telah mempunyai akun di wordpress.com tidak login terlebih dahulu melalui akunnya di wordpress.com untuk mengomentari berita yang di e-Newsletter Disdik.

    Selamat membaca posting e-Newsletter, wassalam

    Redaksi

  13. Kalau bisa guru- guru jangan terlalu serius dalam mengajar karena bila mengajarnya terlalu serius murid- murid akan cepat bosan dengan pelajaran, apalagi dengan pelajaran yang terlalu banyak di SMA kelas X, dan juga jangan terlalu banyak tugas yang membebani para siswa karena selain tugas – tugas dari mata pelajaran ini ada juga mata pelajaran lain.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: