Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Februari 25, 2010

RSBI vs Sekolah Jepang

RSBI vs Sekolah Jepang

Oleh: Murni Ramli
Dosen Politeknik Darul Fallah,
dan Guru Madrasah Al-Haitsam, Bogor

Selama seminggu saya harus mendampingi rombongan kepsek dari Jateng berkunjung ke sekolah-sekolah di Jepang sebaga translator.

Saya tidak sempat menulis banyak di blog ini dan banyak komentar yang terabaikan, mohon maaf sebesarnya.

Kedatangan kepsek yang sebagian besar adalah kepsek Rintisan SMA/SMP bertaraf internasional bertujuan untuk menjajagi kerjasama dengan sekolah-sekolah di Jepang dalam bentuk sister school.

Saya pribadi berpendapat bahwa sister school bukan milik RSBI atau SBI semata, tetapi sekolah dengan embel-embel nama apapun bebas untuk melakukannya.

Saya mendapat kesan bahwa Kepsek yang datang  memang agak terbebani dengan keharusan untuk membentuk sister school tersebut sebagai salah satu syarat RSBI.

Salah satu konsep RSBI yaitu mengacu kepada standar negara-negara OECD, termasuk Jepang dianggap oleh sebagian pemikir Jepang sebagai konsep yang tidak jelas. Apalagi dengan keinginan untuk mendapatkan akreditasi dari badan khusus di Jepang tentang  status keinternasioanalan RSBI tersebut mendapat tanggapan yang sangat kritis karena tidak ada Badan Akreditasi Sekolah di Jepang atau lembaga akreditasi-akrediatasian di level pendidikan dasar dan menengah, sebagaimana yg dikehendaki oleh pengelola RSBI. Pun tidak ada kurikulum universitas semacam Cambridge yang bisa diadopsi dan dibeli hak patennya lalu lulusan RSBI diakui setara dengan lulusan-lulusan sekolah yang menerapkan sistem Cambridge.

Jepang sama sekali tidak mengenal istilah sekolah internasional maupun nasional. Menurut pandangan pakar pendidikan di sini, pendidikan bukanlah barang elit yang harus diberikan hanya kepada sebagian anak yang pandai saja. Tetapi pendidikan adalah sebuah hak yang harus diterima oleh semua anak dengan kualitas yang sama. Memang mereka mengakui bahwa anak yang pandai perlu difasilitasi secara lebih baik, tapi bukan dengan mendirikan sekolah berstandar internasional mengikuti standar negara lain.

Seorang prof Jepang menceritakan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini sama dengan kondisi Jepang di tahun 60an-70an, saat itu APK SD dan SMP di Jepang telah mencapai 95-97%, sementara APK SMA masih 50%. Yang dilakukan pemerintah Jepang bukanlah mendirikan sekolah unggul tetapi membangun sekolah-sekolah dengan fasilitas yang sama yang bisa mendidik anak-anak tanpa ada perbedaan. Yang karenanya dapat disaksikan fasilitas sekolah Jepang hampir sama dengan kualitas yang memadai proses pembelajaran.

Prof tersebut kemudian menanyakan mengapa Indonesia tidak mencoba untuk mempersiapkan pendidikan untuk semua warganya dengan kualitas yang sama seperti halnya Jepang ? Seandainya dana negara sedikit, dana itu harus dinikmati bersama oleh rakyat. Barangkali itu akan lebih baik bagi rakyat Indonesia, daripada membuat sekolah internasional.

Saya pribadi yang meneliti RSBI ini dari aspek latar belakang hukum dan penerapannya di lapangan, sungguh sepakat dengan ide beliau. Dana yang disalurkan pemerintah untuk proyek ini sungguh besar semoga tidak menjadi sia-sia karena ketidakmatangan konsep yang kita punyai. Saya merasa agak sedih bahwa pada kenyataannya konsep RSBI hanya menjadi pembicaraan yang hanya dipahami oleh pembuat kebijakannya dan kepala sekolah di level pelaksana tidak memahami latar belakang pemikiran dan apa makna kata pendidikan berstandar bagi warga negara selain yang tertera di lembaran UU. Sedih sekali bahwa kepala sekolah ternyata belum diberi otonomi luas selain hanya menjadi pengikut kebijakan pusat.

Kunjungan ke sekolah-sekolah Jepang yang dilakukan oleh para kepsek mudah-mudahan menyadarkan kita bahwa sebuah sekolah yang menghasilkan lulusan yang baik di Jepang, ruang kelasnya masih berpapantuliskan papan tulis kayu, dengan alat tulis kapur, dan tidak dilengkapi dengan OHP.  Bahwa setiap siswa belum mengakses internet secara bebas di sekolah, dan setiap siswa tidak dapat membawa laptop sendiri-sendiri ke sekolah dan bebas mengakses internet. Di seantero Jepang belum ada sekolah semacam ini, sebagaimana yang menjadi kriteria RSBI.

Tetapi tidak berarti bahwa pendidikan anak-anak Jepang tidak menginternasional, dan teknologi serta kecanggihan IT tidak mereka pahami dengan baik. Dengan bangganya kita memamerkan bahwa RSBI di Indonesia sudah memiliki ruang lab canggih, lab bahasa, pelajaran berbahasa pengantar berbahasa Inggris, sementara guru-guru di Jepang dan pemikir di Jepang mengernyitkan dahi, seperti apa gerangan pendidikan ala internasional itu ? Sebab fasilitas sekolah di Jepang diadakan karena memang itu dibutuhkan, dan mereka beranggapan bahwa fasilitas internet yang bebas akses tidak dibutuhkan di sekolah, maka tidak diadakan.

Saya menangkap kesan guru-guru di Jepang dan pemikir pendidikannya yang mendengarkan uraian RSBI agak sulit memahami kelogisannya.

Para pemegang kebijakan di Indonesia barangkali dapat berpikir ulang tentang konsep RSBI ini. Saya yakin bukan pendidikan mercu suar dan bukan pendidikan untuk orang berkantong tebal yang kita usung lewat program RSBI (semoga keyakinan saya benar)

Perenungan mendalam dan rasa keberpihakan kepada anak-anak yang dididik harus kita lakukan. Bahwa pendidikan itu adalah untuk anak-anak, agar mereka menjadi manusia dewasa dan berakhlak di lingkungannya, bukan pendidikan agar negara diakui oleh negara lain sebagai negara maju, atau agar diakui sebagai anggota OECD. Juga bukan barang jualan yang harus dijual mahal kepada rakyat. Pendidikan adalah hak rakyat yang harus dipenuhi pemerintah yang didukung sepenuhnya oleh masyarakat.

Baca juga artikel terkait : “Perbandingan sistem pendidikan tradisional dengan modern”
Iklan

Responses

  1. ——————
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    ——————————
    “RSBI vs Sekolah Jepang” yang ditulis oleh: Murni Ramli Dosen Politeknik Darul Fallah, dan Guru Madrasah Al-Haitsam, Bogor diatas bagus juga untuk menambah wawasan kita tentang pendidikan. Kita mendapat informasi yang bagus dari negeri Jepang. Negeri yang pernah menjajah negara kita tempo doeloe.

    Sekaitan dengan laporan yang dibuat tersebut maka ada suatu hal yang sangat penting kita ingat, yakni apa yang terjadi di negeri Jepang sangat baik, untuk sistem jepang. Jika kita pergi Australia pengelolaan pendidikan disana juga sangat baik untuk sistem Australia, demikan pula kalau kita melakukan studi banding ke Amerika Serikat seperti yang dilaporkan Bapak Marjohan juga sangat baik untuk sistem yang berlaku di sana. Kalau ditanya pula kawan-kawan kita yang baru saja kembali dari Eropa mereka akan memberikan laporan sangat menakjubkan kita pula.

    Artinya apa, baiknya pengelolaan pendidikan di suatu negara, tergantung kepada sistem yang berlaku di negra tersebut. Pengelolaan pendidikan sangat erat kaitannya dengan sistem yang lebih luas, misalnya erat kaitannya dengan sistem ekonomi, undang-undang, sistem politik dan juga tidak dapat dilupakan adalah faktor sejarah.
    Dengan ringkas saya sampaikan, apa yang dirisaukan oleh Ibuk Murni Ramli itu kita harus berhati-hati menyikapinya. Lebih lagi tentang pernyataan beliau …” Para pemegang kebijakan di Indonesia barangkali dapat berpikir ulang tentang konsep RSBI ini.”…

    Yang namanya RSBI di Indonesia saat ini masih dalam proses awal, kita kan merintis, dan masih belum sampai kepada standar internasional. Barang kali beliau perlu tahu konsep dasar dari RSBI tersebut. Sehingga beliau tahu gambarannya bagai mana model pengelolaan pada tahap rintisan dan bagaimana pula model atau sistem pengelolaan setelah berada pada kondisi SBI. Kita tidak harus serta merta pada tahap awal kegiatan datang konsep pembanding lantas kita meninjau ulang utuk merobah konsep yang mulai berjalan. Kedepan kita lebih baik menyempurnakan sistem yang sedang berjalan dibandingkan dengan meninjau ulang untuk merobahnya. Yang pelu juga untuk diingat adalah bahwa negara yang telah maju tidak menginginkan negara yang sedang berkembang menjadi negara maju. Ini terkait dengan persaingan dibidang ekonomi.

    Kata kunci dari semuanya itu, tergantung juga kepada kesungguhan kita menjalankan sistem yang kita bangun. Apapun model yang kita yakini baik bila dikelola dengan baik atau sungguh-sungguh kita akan memperoleh hasil yang baik juga. Kita harus melengkapi komponen sistem, menerapkan sistem manajemen kondusif untuk itu. Saya yakin kita di Indonesia akan mampu membuat sekolah yang berstandar Internasional tampa berkiblat ke suatu negara maju didunia ini. Dewasa ini pembangunan kearah itu telah berjalan, yang sangat diperlukan adalah dukungan kita semua.

    Disamping itu karena tidak semua sekolah yang ada di-RSBI-kan, mungkin juga kita membangun sistem pengelolaan pendidikan model di Jepang tersebut, kita buat pula contohnya pada sekolah lain, misalnya 1 sekolah tiap daerah tingkat dua, Model pengelolaan pendidikan di Amerika, model di Jerman, masing-masingnya 1 sekolah tiap daerah tingkat dua. Dengan demikian negara kita akan bertambah kaya dengan ide dan model. Masyarakat kita bisa lebih banyak peluang untuk berkompetisi, baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat Internsional.Dengan alasan itu pula saya yakin juga nanti Indonesia akan tampil terdepan di dunia Internasional. Tentu saja kita tidak bisa lepas dari situasi dan kondisi yang sedang berjalan di Indonesia yang tercinta ini.

    Demikian saja untuk sementara, sebagai penutup saya kutip sebuah ungkapan “ karena harap burung terbang tinggi, punai ditangan dilepaskan”. Jangan seperti itu.

    Wassalam.
    Jalius.HR
    di Lubuk Buaya. Kota Padang

  2. informasi lab bahasa bisa kunjungi situs kami, terima kasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: