Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Februari 27, 2010

Loper Koran Menggugat Perguruan Tinggi

Loper Koran Menggugat Perguruan Tinggi

Oleh: Teuku Kemal Fasya
Dosen Antropologi Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe.

Teuku Kemal Fasya

Bangsa ini terlalu sibuk dengan kisruh politik dan kurang apresiasi atas keberhasilan-keberhasilan individu anak bangsa. Keberhasilan seorang mantan loper koran menjadi doktor, status akademik tertinggi di perguruan tinggi, seharusnya membuat malu dunia civitas akademika. Agus Suparno (39), berhasil meraih doktor di bidang komunikasi dari Universitas Indonesia dengan judul disertasi “Kontestatasi Makna dan Dramatisme: Studi Komunikasi Politik tentang Reformasi Indonesia” dengan hasil sangat memuaskan pada bulan lalu.

Birokratisasi Kampus

Perjuangan Basuki Agus Suparno untuk meraih gelar doktor tentu tidak dengan mudah meski tidak mustahil. Dalam sejarah sebenarnya banyak pemikir dan filsuf yang merintis dunia penelitian dan akademis dari kondisi serba terbatas.

Karl Marx (5 Mei 1818) menjadi contoh terbaik. Hampir seumur hidup filsuf yang berdarah Yahudi-Jerman ini berada dalam kemiskinan. Kata-katanya dalam Communist Manifesto (1848) menjadi abadi, “sejarah pelbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya berangkat dari sejarah pertentangan kelas”. Saat ia meninggal 14 Maret 1883, acara pemakamannya hanya dihadiri delapan orang sahabat. Namun, hingga kini pemikirannya masih memesona banyak kalangan, terutama untuk kajian sosiologi, ekonomi-politik, sejarah, dan bahkan sastra.

Chairil Anwar menjadi contoh bangsa ini. Sastrawan pelopor angkatan 45 ini juga tak kurang miskinnya. Dalam sebuah kesaksian, HB Jassin, paus sastra Indonesia, pernah melihat Chairil mencuri beberapa lembar dari buku Friedrich Nietzsche, Also Sprach Zarathustra dari perpustakaannya. Jassin mengetahui pencurian itu dan membiarkan, karena ia tahu Chairil tak punya uang untuk membeli buku. Pembiaran itu menjadi tunas sejarah sastra, karena berhasil melahirkan pelopor sastra eksistensialis.

Sikap penuh gairah dan pembaktian diri pada ilmu seperti itu semakin langka. Dunia kampus semakin dekat dengan dunia politik: menjadi juru stempel pemerintah atau tim asistensi bupati. Kampus tidak menjadi blok historis (historical block) mendemokratisasi masyarakat melalui pengetahuan. Bahkan blok perubahan itu lebih banyak diambil oleh kelompok-kelompok kritis nonuniversitas, seperti komunitas seniman, aktivis LSM, media massa, atau pusat penelitian independen.

Padahal pengetahuan, seperti juga kekuasaan, perlu pembaharuan untuk penyegaran diri (self-restoration) dalam mencipta dan melahirkan jejak-jejak kreatif. Saat ini kampus semakin kehilangan semangat itu. Seorang dosen semakin jarang terlibat dalam isu-isu perubahan sosial, tidak bisa menulis di media massa, dan hanya nyaman dalam dunia birokrasi kampus, dan menulis di jurnal yang tidak pernah dibaca kecuali kalangan sendiri. Anggaran penelitian habis untuk penelitian ecek-ecek dan nasibnya berakhir sebagai tumpukan kertas. Dosen menerbitkan karya hanya untuk kepangkatan, tanpa kualitas narasi, apalagi akademis.

Sikap birokratis dan perasaan serba mapan ini melahirkan penyakit, yaitu tumbuhnya sikap introvert akibat proses eksklusi yang dilakukannya. Kampus bak menara gading tanpa semangat ingin tahu dan melibatkan diri dalam karya sosial. Efek lainnya adalah sikap narsis, sok hebat, tapi hanya di kandang.

Akibatnya mudah terduga. Memakai istilah Francois Lyotard (1993), kampus menjadi mucikari yang dengan segala cara mengomersialkan dirinya demi mencari nilai tambah. Semakin umum kampus membuka kelas nonreguler dan banyak dosen tertarik mengajar di kelas ini, karena dibayar mahal, dibandingkan kelas reguler. UU Badan Hukum Pendidikan (BHP) semakin meliatkan aspek komersialisasi kampus, karena seperti dunia pendidikan akhirnya menjadi “subyek hukum yang memiliki kewenangan akademik dan nonakademik”. Alhasil, pendidikan melupakan tujuan konstitutifnya untuk mecerdaskan warga negara secara murah dan mudah.

Mengubah Masyarakat

Amanat undang-undang tentang anggaran pendidikan minimal 20 persen dari APBN selama ini belum berhasil membangun peradaban intelektual. Pertama, orientasi anggaran pendidikan masih dipahami pada logika pembangunan infrastruktur. Kedua, seturut logika itu, anggaran pendidikan menjadi tidak terkonsentrasi, tapi tersebar ke banyak departemen, termasuk departemen tenaga kerja, transmigrasi, sosial, dan keuangan. Ketiga, adanya kontraksi negatif antara anggaran kesejahteraan guru/dosen dan pengembangan kualitas pendidikan. Guru/dosen tentu senang dengan perbaikan kesejahteraan, tapi jangan dilupa, komponen pengembangan kualitas belajar-mengajar peserta didik dan beasiswalah yang utama.

Hal ini akan menjadi sedikit mudah jika para pengelola perguruan tinggi punya gairah besar mengaktualisasi pendidikan di tengah kesempitan. Para akademisi harus menyadari berkecimpung di dunia pendidikan berarti berjihad untuk meningkatkan kualitas akademis dan tidak memperkaya diri. Kasus-kasus korupsi di dunia perguruan tinggi menunjukkan bahwa semangat untuk menghidupi dunia pendidikan masih lemah, lebih kuat suasana politik dan kronisme.

Menjadi rektor berarti menjadi teladan bagi lingkungan civitas akademika. Rektor harus menjadi pemikir yang kreatif, manajer yang amanah, fasilitator yang cerdas, dan penulis yang baik. Menjadi dosen berarti menyadari diri sebagai agen perubahan masyarakat. Ia harus mendorong lahirnya kesadaran kritis, berupaya mengubah struktur sosial yang tidak adil, dan melakukan kerja-kerja intelektual dengan riang-gembira: meneliti, mengajar, dan menulis dengan jujur, empatik, dan partisipatif.

Kebaikan inilah yang harus kita tiru dari Agus Suparno. Walaupun dengan segala kesempitan bisa meraih gelar doktor.

[Sumber: Catatan Teuku Kemal Fasya]

Artikel terkait : Intelektual Dalam Tempurung”

Iklan

Responses

  1. ————————
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    ——————————-
    Tulisan Teuku Kemal Fasya sangat bagus. Beliau mengusung Loper koran sebagai ikon dari ide yang akan beliau sampaikan, yakni tentang “kepedulian terhadap pendidikan” khususnya untuk orang atau masyarakat yang berkekurangan atau kurang mampu.

    Saya sering mengamati perkembangan masyarakat kita di Indonesia , dalam alam kesadaran saya selama tiga puluh tahun terkhir, perkembangan dan kemajauan yang telah di capai cukup menggembirakan, khususnya dalam bidang pendidikan . Apa yang saya lihat tidak sejelek apa yang diungkapkan oleh Teuku Kemal Fasya. Berbagai media saya baca dan berbagai bentuk pembangunan di berbagai daerah saya lihat sudah banyak yang bagus. Hanya saja belum semua bagus, seperti yang diharapkan oleh banyak orang. Ada pembangunan itu baru dimulai, tentu saja mungkin dengan kwalitas sederhana, ada juga peningkatan kwalitas terhadap apayang telah dibangun sebelumnya. Disamping itu juga bermunculan berbagai permasalahan, dan banyak juga permasalah yang telah terselesaikan. Maklum kita sedang membangun.

    Saya melihat perkembangan pendidikan di Indonesia baik secara kwantitas maupun kwalitas sudah banyak yang dicapai. Yang saya ingatkan pada para pengamat adalah jangan samapai hal-hal yang bersifat kasus, dijadikan alasan untuk mengaburkan kebaikan-kebaikan yang telah dicapai. Memahami pembangunan pendidikan jangan dilihat dari arena politik saja.

    Barang kali kutipan pernyataan Teuku Kemal Fasya ini ……..”jika para pengelola perguruan tinggi punya gairah besar mengaktualisasi pendidikan di tengah kesempitan”…..dibanyak daerah sudah tidak merupakan permasalahan lagi, karena ada kemudahan dan pilihan. Mungkin juga di daerah lain masih dalam perjuangan. Tapi bukan berarti tidak ada kepedulian.

    Saya juga mengharapkan Bpk Teuku Kemal Fasya kalau bisa melakukan studi banding ke daerah Sumatera Barat. Sebagai gambaran sederhana, dua puluh tahun yang lalu masyarakat Sumatera Barat banyak yang mengeluh dengan pendidikan tinggi. Hal ini disebabkan oleh sedikitnya daya tampung Perguruan Tinggi Negeri. Sementara animo masyarakat ingin melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi sngat tinggi. Kalau masuk ke Perguruan Tinggi Swasta biayanya cukup mahal juga.

    Tetapi beberapa tahu terkhir ini masyarakat Sumatera Barat tidak lagi merasakan sulitnya masuk ke Perguruan tinggi. Dengan dibukanya berbagai program non reguler di UNP dan UNAND menimbulkan gairah tersendiri dalam masyarakat. Masyarakat punya peluang yang lebih luas untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Dengan adanya program non reguler di dua Perguruan Tinggi tersebut juga menyebabkan “biaya pendidikan “ di Perguruan tinggi lebih terjangkau oleh masyarakat. Biaya pendidikan di Perguruan Tinggi swasta juga dapat ditekan menjadi lebih murah lagi. Tidak ada lagi istilah uang pembangunan dan lain sebagainya.

    Dengan kondisi yang seperti itu kedepannya angka partisipasi masyarakat untuk pendidikan tinggi juga akan meningkat. Sementara itu kwalitas keilmuannya akan tetap terjaga karena setiap perguruan tinggi dituntut agar “terakreditasi baik”. Loper koran, Garim Masjid, Tukang Jahit, Pedagang Kakilima sudah menjadi dosen di berbagai perguruan tinggi di Sumatera Barat.

    Demikian saja semoga dapat menjadi perbandingan oleh Bpk Teuku Kemal Fasya.
    Wassalam. Jalius HR.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: