Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Maret 5, 2010

Malthus Rupanya Tidak “Kolot”

Malthus Rupanya Tidak “Kolot”

Oleh: Jalius. Hr.

Jalius. Hr

Malthus (1766 – 1834) menguraikan pandangan-pandangannya dalam An Essay on the Principle of  Population. Malthus merumuskan suatu hukum populasi yang menyatakan bahwa “populasi bertambah menurut deret ukur, sementara kekayaan atau ekonomi bertambah menurut deret hitung”. Karena itu dia mempertahankan kontradiksi-kontradiksi dalam perkembangan sosial. Malthus yakin bahwa kontradiksi sosial hanya dapat diatasi dengan mencegah pertumbuhan populasi (membatasi perkawainan dan perkawinan anak) Pencegahan pertumbuhan populasi (penduduk) juga dapat terjadi karena kelaparan, wabah penyakit dan peperangan, dll.

Sekaitan dengan pendapat Malthus tersebut saya pernah berdialog dengan seorang pakar ekonomi (ilmuan, bukan praktisi) di Perguruan Tinggi kita. Dalam keyakinan saya dia termasuk pengagum Malthus. Topiknya tentang banyak anak, banyak rezeki, itu ungkapan masyarakat kita di timur. Sang pakar mengatakan pada saya ungkapan itu boleh-boleh saja. Tentu saya penasaran dengan pernyataanya itu. Lantas saya tanya maksudnya. Maka dia menjelaskannya, bahwa ungkapan tersebut memang berlaku, itu kan dulu, sekarang nggak lagi, karena situasi dan kondisinya sudah berubah. Masyarakat dunia sudah berkembang pesat. Sehingga berbagai kebutuhan  mengalami kesulitan untu dipenuhi.

Persoalannya sekarang adalah bahwa dua pakar tersebut tidak bersikap “kolot”. Kolot ini saya maksudkan adalah  sebagai kependekan dari kontrol dan lontar. Artinya bila ada ide atau pemikiran harus dilakukan kontrol terlebih dahulu, kontrol terhadap faktor-faktor atau variable yang mungkin sekali besar pengaruhnya  terhadap betul atau salahnya ide tadi. Setelah itu, kalau telah yakin  bahwa pemikira tersebut betul barulah ide tersebut di lontarkan ke ruang publik, atau dipublikasikan.

Terhadap ungkapan banyak anak banyak rezeki juga terkait dengan teori Malthus  di atas maka saya memberikan masukan kepada kawan diskusi tadi. Saya bilang sama dia salah satu alat untuk menganalisis bagi seorang ekonom adalah data statistik. Coba lihat data statistik tentang penduduk Indonesi sekitar tahun 1900-an. Pada sebuah sumber pernah say baca,tahun 1900 penduduk diperkirakan 36  juta jiwa. Dan juga data tentang produksi pangan pada tahun yang sama. Yang jelas saat itu siapa yang hidup ada rezekinya. Baik berupa sandang dan pangan. Kalau tidak ada datanya paling tidak kan bisa dikira. Kemudian bandingkan dengan data ststistik tentang jumlah penduduk  dan produksi pangan di Indonesia sekarang (waktu itu th 2002). Bapak pasti mendapatkan  angka yang sebanding.

Artinya bila bertambah jumlah anak (penduduk) maka betambah pula jumlah pangan (rezeki). Sampai hari ini semua penduduk Indonesia telah mendekati angka 250 juta jiwa tetap saja cukup  sandang dan pangannya. Dan tidak ada orang meninggal sebagai akibat persediaan makan tidak cukup. Kalau memang ada (tapi angkanya sangat kecil) warga Indonesi yang mati dan sakit karena kurang makan, penyebabnya adalah orang kaya atau kelompok “the have” tidak mau dan terlambat berbagi.

Oleh karena itu tidak wajar (logis) takut mati, ataupun mencegah pertumbuhan penduduk .hanya dengan alasan karena kekurangan sandang dan pangan. Karena sedikit anak juga tidak jaminan untuk sejahtera. Allah pun telah mengingatkan kita…… ”Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu?  Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka  atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan (melayani) sebahagian yang lain”…..Az-zukhruf 32

Lubuk Buaya. Februari 10

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: