Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Maret 24, 2010

Video Hari ini: Pendidikan Indonesia Jaman Belanda

Video Hari Ini

Pendidikan Indonesia Jaman Belanda dan Kini, Apa Bedanya?

Oleh: Trimadona B. Wiratrisna

Dalam sebuah seminar beberapa saat yang lalu, yang diselenggarakan sebuah sekolah tinggi ilmu keguruan dan ilmu pendidikan swasta di Jakarta, saya dapatkan sebuah film berdurasi sekitar 4 menit tentang pendidikan. Menurut saya, film dan pertanyaan yang diajukan oleh pemateri sangat menarik. Film ini bisa dilihat (red: klik video diatas). Saya sangat menganjurkan anda untuk menonton film itu dahulu sebelum membaca tulisan saya selanjutnya.

Film ini sebenarnya memberikan gambaran sekilas tentang pendidikan di Indonesia di jaman kolonial Belanda. Filmnya pun hitam putih dan tanpa suara (lagu latar merupakan tambahan). Di awal film terlihat deretan siswa yang saya tebak kemungkinan siswa SD, duduk manis tersenyum dan mendengarkan guru yang berbicara didepan kelas. Mereka duduk dengan aturan mebel berbaris ke belakang, sama seperti aturan duduk yang sekarang bisa anda lihat dikebanyakan sekolah. Ada yang mencatat dengan semacam papan tulis (berukuran kecil) dan kapur, ada yang sudah menggunakan kertas dengan pena yang selalu harus diisi ulang tinta. Para siswa mengikuti semua yang diajarkan murid, meniru apa yang diajarkan guru. Guru juga terlihat menggunakan papan kecil kau sebagai penunjuk. Untuk siswa yang lebih besar, ada yang sedang belajar tentang peta, menggambar dan praktek teknik (saya menebak ini adalah sekolah yang setara dengan STM sekarang ini). Sungguh menarik menontonnya, karena selama ini saya hanya tahu dari apa yang tertulis dalam buku sejarah yang tidak terlalu detil.

Saat itu kami diminta untuk menonton film ini dengan seksama dan kemudian mencoba menjawab pertanyaan yang diajukan. Pertanyaannya adalah “apa perbedaan dan persamaan mengenai gambaran pendidikan Indonesia sekarang dengan yang ada di film tersebut”. Waktu itu saya berkesempatan untuk mendiskusikannya dengan beberapa teman saya. Kami jadi asyik berdiskusi untuk beberapa saat. Ketika kemudian film ini dibahas, ada beberapa orang yang menyatakan pendapatnya bahwa pendidikan sekarang ini sudah jauh berbeda dengan yang terlihat di film tersebut.
Hmmm…rasanya saya dan teman diskusi saya saat itu kurang setuju dengan pendapat tersebut. Entah bagaimana, kami merasa bahwa yang ada gambaran pendidikan jaman colonial tersebut masih lebih banyak kemiripannya dengan gambaran pendidikannya sekarang ini. Contohnya anak-anak yang meniru apa yang diajarkan guru, sama persis; siswa duduk manis di bangkunya dan guru dengan metode ceramah memberikan materi di depan kelas; sangat sedikit siswa (bahkan tidak ada) yang bertanya dalam kelas. Kalau saya meminjam istilah yang sering digunakan Indra Lesmana saat menjadi juri sebuah reality show, maka saya merasakan “feel” yang sama setelah menonton film dengan gambaran kondisi pendidikan Indonesia (kebanyakan) sekarang.

Mengenai perbedaannya, yang mungkin terlintas saat itu adalah bajunya yang berbeda. Sekarang siswa kebanyakan sudah memakai seragam sedangkan siswa jaman dulu belum. Setelah beberapa saat saya berpikir hal lain yang berbeda adalah tulisan siswanya. Jika kita amati dan ingat-ingat, tentu kita sadar bahwa tulisan kakek dan nenek kita sangat bagus dibandingkan dengan tulisan anak-anak jaman sekarang. Saya pikir hal ini berkaitan dengan bentuk pulpen jaman dulu yang memerlukan penulisan yang bersambung dan tidak putus. Tetapi, saya tidak akan membandingkan adanya perbedaan yang disebabkan oleh kemajuan teknologi, seperti misalnya sekarang siswa sudah menggunakan pulpen dibandingkan dengan dulu yang menggunakkan pena tinta isi ulang; pembelajaran di kelas sudah banyak menggunakan ICT. Alasan saya tidak ingin membandingkan hal yang berkaitan dengan kemajuan teknologi karena nantinya saya seperti membandingkan buah duku dengan durian, yang memang sama sekali 2 hal yang berbeda.

Kemudian pemateri memberikan pendapat tambahan persamaan film tersebut dengan gambaran pendidikan sekarang ini, yaitu bentuk mebel dan pengaturan tempat duduknya! Saat pemateri mengatakan hal tersebut, darah saya seperti berhenti mengalir. Bener banget!!! Sejak jaman kolonial sampai sekarang pengaturan posisi duduk siswa (bahkan sampai mahasiswa) juga masih seperti itu. Sebaris bangku, 4 deret ke samping. Lalu terlintaslah pertanyaan dikepala saya, ‘kenapa ya pembelajaran sekarang masih menggunakan pengaturan mebel seperti itu? Padahal hal yang seperti itu sangat mudah bagi guru untuk merubahnya’. Ini jadi pelajaran berharga buat saya, karena setelah saya renungi, saya juga masih jarang mengubah aturan mebel kelas saya dan membiarkannya seperti itu. Dan kebetulan saya diberikan kesempatan untuk mengajar beberapa kelas, dan saya mencoba mengubah aturan mebel tersebut. Yang terkejut dengan hasilnya ternyata bukan hanya saya, siswa saya pun bertanya-tanya mengapa saya melakukan hal tersebut. Saya merasa bahwa aturan mebel kelas ternyata bisa membuat siswa saya lebih aktif (saat itu saya mencoba dengan duduk melingkar untuk diskusi kelas). Kenyataan seperti ini telah membuat saya untuk berniat terus mencoba aturan mebel lainnya. Sesuatu yang sangat sederhana, yang sepertinya tidak memerlukan banyak biaya untuk mengubahnya, tetapi ternyata berdampak cukup berarti bagi siswa saya.

Persamaan yang cukup mengganggu saya juga adalah adanya kenyataan bahwa main stream pendidikan sekarang masih menggunakan metoda didactic learning, dengan guru banyak berceramah didepan kelas. Sama persis dengan keadaan pendidikan lebih dari 100 tahun yang lalu. Padahal sudah begitu banyak metoda yang berkembang dan paradigma pun sudah berpindah. Paradigma yang saya maksud disini adalah paradigma bahwa pendidikan seharusnya berfokus pada siswa atau student center, bukan lagi berfokus pada guru atau teacher center. Saya yakin paradigma ini juga diajarkan pada universitas pendidik calon guru. Tetapi, kenapa ya, pada kenyataannya prakteknya tidak dijalankan? Apakah metoda ceramah ini sangat efektif dalam pembelajaran dan mampu membuat siswa berpikir ataupun melakukan pembelajaran aktif. Kok,rasanya tidak ya. Jadi saya menarik kesimpulan bahwa ada sesuatu yang terjadi antara lembaga pendidik calon guru dengan praktek pembelajaran di dalam sekolah itu sendiri yang membuat guru menjadi kembali lagi ke metoda lama seperti ceramah dan didactic learning lainnya.

Jika kita menilik lebih jauh mengenai sejarah Indonesia, saya jadi bertanya-tanya, ‘apa sebenarnya esensi pendidikan jaman kolonial Belanda?’. Saya memang belum mendapatkan buku sejarah yang secara gamblang menyatakannya (mungkin karena buku yang saya baca tentang sejarah negeri sendiri masih kurang), tetapi sepertinya Belanda ingin ‘mendidik pribumi’ untuk dijadikan ‘buruh’ semata. Walaupun kita juga tidak boleh melupakan, bahwa Belanda membuka sekolah dan mengirim pribumi melalui beasiswa ke negeri mereka dalam rangka politik etika, atau politik balas budi. Tetapi sebenarnya mereka tidak benar-benar ingin penduduk jajahannya untuk berkembang dan menjadi ‘pintar dan bisa berpikir’. Sedangkan kita sudah bukan lagi di jaman kolonial. Tentu saja tujuan pendidikan Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Tetapi mengapa cara-cara pembelajarannya masih mirip dengan saat pembelajaran saat kolonial dulu?

Wow, ternyata dari hanya sebuah film hitam putih tanpa suara berdurasi sekitar 4 menit sudah bisa membuka diskusi yang sangat menarik. Dan saya yakin, sebenarnya jika film dan pertanyaan diatas benar-benar dijadikan topik diskusi maka obrolannya akan menjalar kemana-mana dan sangat bisa jadi tidak habis dibahas 3 hari 3 malam.

Tulisan ini adalah opini pribadi dan saya sangat senang jika anda yang membacanya mau berbagi pendapat dengan saya. Kita dapat melanjutkan diskusi yang menarik ini dengan mengirim surat elektronik pada saya di: dona.kuswoyo@gmail.com Atau dengan memberikan komentar pada catatan ini. lagipula ini pertama kali saya mencoba menuliskan sesuatu yang agak serius jadi sepertinya masih banyak sekali kekurangannya.

Demi kemajuan pendidikan Indonesia, kita harus mencoba berbuat sesuatu untuk merubahnya, dan perubahan tidak akan dimulai jika kita tidak memulainya dari diri kita sendiri.

Salam pendidikan,

Sumber: Millist “Klub Guru Indonesia”

Iklan

Responses

  1. Kita harus objektif membandingkan pendidikan di Indonesia antara yang zaman Belanda dengan hari ini, kenapa kita tidak menyebut kalau hari ini sudah banyak anak didik kita yang melek IT, bisa merakit komputer bahkan sudah ada yang bisa merakit mobil. Apakah itu tidak perlu diperbandingkan. Sementara kita menonjolkan kalau pola duduk belajar di sekolah zaman Belanda sampai hari ini tetap sama, sementara juga di sekolah hari ini sudah banyak juga yang pola pengaturan tempat duduknya yang sdh fleksibel. Kita perlu jugal memberi apresiasi terhadap keberhasilan, dan memang kita tidak mengingkari masih banyak yang perlu kita benahi. Mari kita tunjukkan pada masyarakat bahwa sudah ada perubahan dan masih perlu penyempurnaan, sehingga masyarakat mendapatkan gambaran yang sebenarnya.
    Wassalam

    • bukan cuma melek it, merakit komputer atau bahkan merakit mobil… anak bangsa pun sudah ada yang menjadi pengusaha-pengusaha komputer dan mobil, namun memandang sistem pendidikan nasional dengan pengumpulan fakta-fakta tersebut agak kurang tepat. menurut saya pendidikan memang tidak bebas dari nilai apa yang akan diberikan oleh sebuah sistem kekuasaan yang berkuasa…

      bukannya teknis-teknis tadi yang jadi panduan kita, sehingga kita bisa bilang bahwa kondisi pendidikan hari ini sudah mengalami perkembangan.
      saya sepakat bila nilai-nilai yang diberikan pada sistem pendidikan hari ini gak beda sama pada waktu penjajahan belanda…

      jadi inget sejahnya “stovia” salah satu produk dari politik etis-nya belanda dalam dunia pendidikan…

  2. Pak Burhasman Yth,
    Sebelumnya saya ingin berterimakasih atas tanggapan yang bapak berikan atas tulisan saya.
    Saya memang banyak mendengar mengenai banyak kemajuan luar biasa dalam pendidikan maupun sekolah tertentu di negeri ini. Dan saya pun sangat mengapresiasi guru-guru yang telah berusaha untuk bisa melakukan pembelajaran yang bermakna dan ‘berbeda’ dari biasanya sehingga kemajuan tersebut bisa tercapai. Walau demikian saya berniat memberikan masukan bagi para guru yang masih belum berani untuk melakukan perubahan kecil dalam kelasnya. Semoga tulisan saya setidaknya bisa dijadikan renungan dan kemudian menjadikannya perubahan kecil dalam lingkungannya.
    salam,
    Dona :)

  3. Ibu/ Bapak dona yang terhormat
    Rasanya terlalu Naif anda membandingkan Pendidikan zaman belanda dengan sekarang dengan sekarang tidak berbeda hanya dari tempat duduk dan metode ceramah monoton yang di pakai, Kenapa anda ndak mau melihat guru2 kita dah melek IT nya, dan dah banyak menggunakan media dan metode yang di pakainya,

  4. Ibu/Bapak dona yang terhormat
    Sungguh naif anda membandingkan pendidikan zaman Belanda dengan sekarang ndak ada bedanya, hanya melalui film berdurasi 4 menit, jika hanya melihat dari susunan tempat duduk dan metode yang di gunakan, Apakah anda ndak melihat perkembangan dunia pendidikan kita saat ini? Mengapa anda ndak mau membanding penggunaan ICT dalam pembelajaran? anda anggap itu suatu yang berbeda? bukankah itu kemajuan pesat oleh guru2 kita, Apakah anda ndak melihat guru2 sudah menggunakan teori bertanya yang bagus dalam pembelajaran? Apakah anda ndak melihat guru2 sudah menggunakan media dan metoda yang bervariasi dalam pembelajaran?
    Kenapa anda hanya melihat dari satu sisi saja pendidikan dulu dan sekarang
    Hendaknyalah kita memberikan porsi yang seimbang dalam dunia pendidikan.
    Beberkanlah kesamaannya dan beberkan juga kemajuan yang sudah di capai. dan juga perbedaan yang ada,

    wassalam

    desmalinda

  5. ———————–
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    —————————-
    Saya mengutip bagian dari kalimat terkhir tulisan sdr. Trimadona;

    ……..kita harus mencoba berbuat sesuatu untuk merubahnya…….

    Ajakannya terlambat……….

    Wassalam
    Jalius.HR

  6. Assalamu’alaikum. Wr.Wb. Perbedaan sudut pandang itu hal yang wajar bila kita mau jujur dan objektif melihat kenyataan pada ere sekarang. Kita tidak munafik karena dalam beberapa hal ada yang masih seperti pada zaman kolonial dalam melakukan KBMnya, namun ada pula yang mengalami perbaikan dari sudut medianya. Namun antara out put dan out cam antara dulu dengan sekarang berbeda karena berbeda maind stream dan kepentingan, buktinya konon yang katanya Malaysia belajar ke Indonesia jauh lebih maju dibanding gurunya Indonesia yang tidak mangalami kemajuan pesat, masih saja diam ditempat. Pokoknya kami menginginkan Pendidikan di Indonesia adanya perubahan yang siknifikan bagi pembangunan bangsa dan negara. Wassalam.

  7. artikel menarik,

    Saya sepakat bahwa kita tdk sedang membanding teknologi maupun sarana, kita sedang membandingkan metode dan tujuan.

    Kemajuan ICT saat ini bukan pertanda keberhasilan pendidikan, krn dengan sistem pendidikan yg ada, kita hanya jadi bangsa koeli pengguna ICT. Perangkat lunak, perangkat keras masih dominan dimiliki “orang luar”. Belum bicara manajemen informasi dan manjemen pengetahuan yg mengarah ke inovasi nasional, sungguh masih jauh.

    Tujuan pendidikan Belanda jelas menghasilkan kelas pekerja utk pabrik dan perkebunan, selain ini negeri jajahan, juga memang disiapkan menjadi skrup dan baut dalam sistem kolonialisme dan industrialisme.

    Karena itu metode yg digunakan memang tidak ingin memanusiakan manusia, apalagi mewacanakan perkembangan keunikan fitrah manusia berupa bakat dan karakter.

  8. As. Perlu kita ketahui bahwa pendidikan Belanda era modern ini banyak yang diadopsi oleh negara-negara lain di dunia termasuk Indonesia. Seperti pendidikan Matematika yang terkenal dengan Realistic Mathematics Education (RME)/Pendidikan Matematika Realistik(PMR) yang berasal dari Universitas Freudental (mohon dikoreksi kalau salah). Disamping itu Pendidikan Berkarakter yang sedang didengungkan sekarang ini konon katanya ide ini pertama sekali berasal dari Negeri Kincir Angin Belanda.

  9. Sy minta bantuan pencarian bukti2/arsip2 apapun yg ada sangkut pautnya dgn http://www.abdulmalikarasy.wordpress.com untuk kemenangan fatimah.no hp saya ada di web itu.trims


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: