Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | April 7, 2010

Plagiarisme, Guru Bisa Apa?

Plagiarisme, Guru Bisa Apa?

Oleh St Kartono

ST. Kartono, Guru SMA Kolese De Britto, Yogyakarta

Perilaku jiplak-menjiplak, mengambil karya orang lain lantas mengakui sebagai karya sendiri, entah untuk publikasi di media massa maupun untuk kepentingan tugas-tugas ilmiah, telah menjangkiti anak- anak kita sejak sekolah menengah. Apa yang bisa dilakukan oleh guru?

Sebagai guru, dinamika berpikir dalam pedagogi reflektif akan membawa saya pada alur pengalaman, refleksi, evaluasi, dan aksi. Pengalaman konkret perihal perilaku plagiarisme yang dilakukan siswa perlu direfleksikan, dicari asal muasal atau akar persoalan. Dalam konteks sebagai guru, melakukan refleksi dan evaluasi tidaklah cukup. Berbekal hasil refleksi dan evaluasi, guru mestinya melanjutkan aksi dan bertindak nyata.

Tulisan Mengajarkan Kejujuran, Senin (1/3), justru menempatkan posisi guru sebagai pendidik yang melekat pada peran pengubah keadaan. Ketika berbagai pihak asyik saling berbantah dan beradu argumen perihal plagiarisme, gurulah yang bisa memanfaatkan pengaruhnya untuk memperbaiki keadaan. Jika sekadar suka beropini atau mengeluh sana-sini tentang masalah jiplak-menjiplak, guru telah kehilangan jiwa pendidiknya, sekadar menjadi penonton di luar arena pendidikan.

Dalam konteks pendidikan karakter bangsa ini, gurulah yang mempunyai peran besar untuk terus-menerus mengasah dan menumbuhkan karakter siswa. Posisi guru memang contradictio in terminis (di dalam dirinya pun terjadi pertentangan, di dalam dirinya pun bermasalah). Mereka yang diharapkan menjadi penegak kejujuran justru acap kali terjebak perilaku yang sama. Namun, bukan berarti para guru lantas tidak berbuat apa-apa, lantas guru berkelit di balik berbagai persoalan yang menderanya.

Opini Fathorrahman Hasbul, Mencari Sumber Utama Ketidakjujuran, Sabtu (6/3), yang mencoba memberikan tanggapan terhadap tulisan Mengajarkan Kejujuran, Senin (1/3), justru memunculkan kesimpulan baru yang premis-premisnya tidak ada dalam tulisan yang ditanggapi, baik secara eksplisit maupun implisit. Tidak ada satu kalimat pun dalam tulisan Mengajarkan Kejujuran yang bisa memunculkan penyimpulan mengenai pemikiran penulisnya, “…Baginya, guru adalah salah satu sumber kelahiran tindakan tak wajar, seperti plagiarisme.” Kurang tepat juga menyebut pemikiran saya dengan frasa “mengambinghitamkan guru” sebagai akar perilaku menyimpang para siswanya.

Premis utama tulisan tersebut bukan mencari yang bisa dipersalahkan dalam plagiarisme, apalagi menyalahkan guru. Semangat konstruktivistik dalam pendidikan akan menempatkan siswa sebagai pribadi yang memiliki bawaan potensi, betapa pun serba sedikit. Pun membawa kecenderungan untuk berbagai perilaku yang negatif. Kebalikan cara berpikir demikian adalah siswa dianggap botol kosong yang serba tidak tahu, pasif, bahkan sekadar obyek percobaan bagi para guru. Peran guru tak lain memberikan pupuk penumbuh potensi bawaan setiap siswa. Biang ketidakjujuran tetaplah dalam diri setiap pribadi, sedangkan lingkungan atau guru sekadar pemberi kesempatan. Guru mesti bertindak

Saya menemukan satu keutamaan para guru, yakni tidak mengeluh dalam salah satu seri tayangan acara televisi Kick Andy yang menampilkan para guru di daerah pinggiran, bahkan terpencil. Bagi para guru tersebut, jarak rumah dengan sekolahan tempatnya mengajar bukanlah menjadi persoalan. Keterbatasan sarana dan kecerdasan siswa tidaklah menyurutkan semangatnya mengajar. Bagi mereka, kesekengan dana dan ketiadaan tempat bukanlah penghalang untuk memberikan sarana pencerdasan masyarakat di sekitarnya. Energi besar yang menggerakkan mereka adalah semangat yang menjauhi keluhan atau rengekan.

Semangat tanpa keluhan atau tidak melempar tanggung jawab persoalan kepada pihak lain itulah yang mestinya menggerakkan guru untuk mengambil bagian, misalnya, dalam menghentikan plagiarisme mulai dari siswanya sendiri. Akan tetapi, pernyataan yang tampaknya membela guru dengan menyebut bahwa seluruh ketidakberesan masyarakat tidak boleh ditimpakan kepada guru justru membuat guru berkelit tidak berbuat apa-apa. Guru pun diam-diam menikmati pemberangusan perannya sebagai pendidik menjadi sekadar penyampai ilmu pengetahuan sehingga bisa mengelak dari persoalan pendidikan karakter siswanya.

Plagiarisme tentu akan tumbuh subur kalau guru melakukan pembiaran, tidak mau memberikan teguran, atau tak mau memberikan pembimbingan. Betapa pembiaran terhadap kecurangan, artinya tidak pernah dikenai sanksi atau diperingatkan, memunculkan anggapan bahwa tindakan tersebut benar. Hanya dengan membaca setiap pekerjaan siswa, hanya dengan membekali diri dengan kekayaan bacaan, hanya dengan mengakrabi teknologi para guru mampu menegakkan kejujuran. Benarlah pepatah Latin, nemo dat quod non habet, tak seorang pun bisa memberi jika dirinya sendiri tidak memiliki.

Yang dibutuhkan oleh para guru bukanlah pembelaan agar tidak dibebani tanggung jawab berbagai persoalan yang diperbuat oleh para siswanya. Para guru justru butuh didorong untuk berani mengambil peran dalam persoalan plagiarisme. Namun, di sisi lain para guru butuh dipahami bahwa dirinya bukanlah yang serbabisa. Sejauh telah mendidik secara optimal, ternyata masih juga gagal, barulah pemakluman bisa diberikan kepada guru. ST KARTONO Guru SMA Kolese De Britto, Yogyakarta

Sumber : www.m.kompas.com

Iklan

Responses

  1. ————–
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    ——————————-

    Persoalan kejujuran, dan juga pelanggaran kenapa selalu saja menjadi isu yang sangat menarik. Banyak pakar telah mengemukakan pendapat, berbagai himbauan dan ajakan telah di jalankan berbagai bimbingan rohani telah dilaksanakan agar orang atau anggota masyarakat menjadi jujur dan patuh. Namun hasilnya tidakmenggembirakan.
    Sehubungan dengan itu ada dua hal yang pelu saya sampaikan;
    Pertama, untuk menghilangkan sikap tidak jujur dari dalam masyarakat memang tidak bisa, namun bisa diminimalisir. Untuk itu salah satu jalan yang wajib dijalankan adalah pemberian ” sangsi ” bagi para pelaku tidak jujur. Tentu saja sangsi berat agar mendatangkan efek jera dan efek psikologis.
    Kedua para pendidik seharusnya berfikir ulang terhadap konsep mendidik yang ” menyenangkan dan lemah lembut “. Praktek pendidikan yang menyenangkan dan lemah lembut sangat berpotensi menumbuhkan karakter hipokrit setelah anak jadi dewasa.

    Dan baca juga kembali apa yang telah pernah saya tulis tempo hari tentang ” Untuk itu di perlukan Sangsi “.

    Demikian sementara, semoga kita mendapatkan hidayah.

    Wassalam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: