Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | April 10, 2010

Perbaiki Kemasan Pesan Pendidikan

Perbaiki Kemasan Pesan Pendidikan

Oleh: Jalius HR.
Dosen FIP Univ. Negeri Padang

Jalius HR. Dosen FIP Univ. Negeri Padang

Pendidikan bukanlah ranah asing bagi Ibnu Miskawaih. Ia telah lama bergelut di bidang tersebut walaupun lebih dikenal sebagai filsuf dan lekat dengan bidang etika. Maka, berserak pula uraian konsep-konsepnya tentang pendidikan.

Dalam salah satu karyanya, Tahdhib al-Akhlaq , cendekiawan Muslim asal Ray, Persia, ini menyatakan, pendidikan menunjukkan tugas dan kewajiban yang harus dilakukan orang dewasa, terutama orang tua kepada anak-anaknya dan guru kepada muridnya.

Imam Ghazalie dan Syekh Nawawi menuliskan beberapa syarat atau adab dalam persahabatan atau memilih teman.  Al-Ghazalie mengatakan, bila engkau mencari seseorang untuk dijadikan teman dalam menuntut ilmu, serta urusan keagamaan dan duniawi, maka perhatikanlah lima hal.(dikutip dari republika) sebagai berikut :

Pertama, pintar. Berteman dengan orang yang pintar akan membawa kita menjadi makin pintar. Sebaliknya, berteman dengan orang yang bodoh, akan membuat diri kita menjadi bodoh. Dan kata al-Ghazalie, tidak ada manfaatnya berteman dengan orang bodoh. Ali bin Abi Thalib berkata,  “Janganlah berteman dengan orang bodoh, karena engkau akan celaka.”

Kedua, memiliki akhlak yang baik. Berteman dengan orang yang berakhlak baik, akan mengantarkan kita menjadi orang baik. Dia akan senantiasa memberikan nasihat yang baik dan melarang kita melakukan perbuatan maksiat. “Sahabat sejati adalah orang yang selalu bersama-mu. Ia rela berkorban untuk membantumu. Dan ketika engkau sedang ditimpa kesusahan, maka ia akan senantiasa memerhatikan dan menolongmu,” ujar Ali bin Abi Thalib.

Ketiga, bergaullah dengan orang saleh. Bergaul dengan orang saleh akan membawa kita pada kedamaian dan ketenangan. Sedangkan bergaul dengan orang yang fasik akan membuat dirimu susah dan jiwamu tidak tenang. Bergaul dengan orang fasik akan menghilangkan rasa bencimu pada kemaksiatan. “Hindarilah hal demikian,” tulis Syekh Nawawi.

Keempat, jangan tamak atau rakus. Berteman dengan orang yang tamak pada dunia, bagaikan racun yang membunuh. Dan kelima, bertemanlah dengan orang yang jujur. Jangan berteman dengan orang yang suka berdusta dan berlaku curang, karena dia akan membawa kita pada perbuatan menipu.

Apa yang telah diuraika oleh Imam gazali tersebut telah menjadi sebuah kemasan dalam dunia pendidika terutama menyampaikan pesan moral kepada siapa saja. Hampir semua orang menerima kemasan tersebut, menerima tampa syarat atau tampa komentar.

Tapi bagi saya kemasan tersebut mengusik perasaan sensitifitas saya. Apakah mungkin bila kemasan tersebut dilaksanakan akan cocok untuk dunia pendidikan ? Dalam hal ini saya harus menjelaskan bentuk imlementasinya dalam masyarakat, serta dampaknya yang akan timbul.

Untuk kepentingan analisa ini saya cukup memberikan satu contoh dari lima poin yang telah dikemukakan oleh para guru-guru kita tersebut diatas, yakni  “ Berteman dengan orang yang pintar akan membawa kita menjadi makin pintar.”……..  “Janganlah berteman dengan orang bodoh, karena engkau akan celaka.”

Kalau kita analisa pernyataan tersebut akan kita ketemukan hal-hal sebagai berikut. Misalkan ada dua orang yang saling berbeda yakni seorang disebut B (bodoh) dan seorang lagi disebut P (pintar). Kedua orang ini yakni B dan P sama sama diberi nasehat oleh orang tua atau gurunya. Dalam keseharian, B akan selalu berupaya mendekati P, dengan maksud  dia ingin menjadi orang atau bertambah kepintarannya. Tapi sebaliknya, dalam keseharian P berupaya selalu menghindar dari B katena dia tidak ingin menjadi orang celaka.

Peristiwa tersebut akan selalu berlansung dalam kesehariannya. Yang mana antara B dan P tidak akan pernah bergaul dengan baik. Proses sosialisasi akan mandeg. Yang satu mendekat dan yang satu lagi menghindar. Suasana apa yang akan terjadi ?

Sebaiknya kemasan pesan pendidikan di desain balam bentuk lain sehingga sesuai dengan ketentuan perintah Allah, bukan keinginan para pakar. Kita diperintahkan bersosialisai dengan semua orang, kita dilarang mengikuti “pekerjaan yang bernilai buruk” (program-program syetan). Kita perlu menyadari bahwa setiap orang ada sisi baiknya dan ada pula sisi jeleknya. Makanya setiap orang itu kita gauli sesuai dengan sisi baiknya dan kita tidak mengikuti kegiatan jeleknya, Kita harus mendengarkan semua informasi dari siapa saja dan hanya mengikuti (mengerjakan) yang terbaik di antaranya. Qs.39:18.

Demikian untuk sementara semoga dapat menjadi bahan analisa dalam berdiskusi.

Wassalam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: