Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | April 28, 2010

Ujian Nasional Menyesatkan

Ujian Nasional Menyesatkan

Oleh : Heru Widiatmo *)
(Peneliti di American College Testing, USA)

Kelulusan Ujian Naional (UN) tingkat SMA dan Aliyah telah diumumkan. Hasilnya, walaupun tingkat kelulusan turun tajam tapi rerata nilai tetap naik dari 7,25 menjadi 7,29 (Kompas, 26/4). Nilai ini diprediksi akan meroket setelah ujian ulangan selesai diselengarakan.

Peningkatan rerata UN setiap tahun yang mencapai sekitar 5% membuat bangga sejumlah kalangan di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas). Logika mereka, nilai UN meningkat berbanding lurus dan menjadi bukti mutu pendidikan meningkat. Berdasarkan logika ini, mereka simpulkan bahwa mutu pendidikan di Indonesia meningkat 5% pertahun. Luar biasa !

Kalau kesimpulan ini dapat dipercaya, boleh jadi para pakar pendidikan negara-negara lain (termasuk negara-negara maju) akan berbondong-bondong datang ke Indonesia dan belajar “keajaiban” kita mengelola pendidikan sehingga mutunya meningkat secara luar biasa. Sayangnya, kenyataannya itu tidak terjadi, tidak ada satupun dari mereka yang melirik apalagi datang dan belajar ke sini.

Masalah UN

Menyadari banyak manipulasi dalam pelaksanaannya yang mengakibatkan nilai UN naik di luar batas kewajaran, Badan Standarisasi Nasional Pendidikan yang mempunyai wewenang penuh dalam menentukan kebijakan UN, sejak tahun lalu lebih banyak melibatkan peran perguruan tinggi negeri (PTN) dalam kegiatan penulisan soal dan pelaksanaannya. Harapannya, jika kecurangan dapat dikurangi dan PTN telah menerima nilai UN sebagai salah satu pertimbangan seleksi mahasiswa baru, penolakan masyarakat terhadap UN menjadi berkurang dan UN dapat terus menjadi hajatan (mungkin juga bancakan) nasional setiap tahun.

Patut disayangkan, mereka kurang paham, permasalahan UN tidak hanya terletak pada tataran penyusunan soal dan pelaksanaan ujian tapi juga menyangkut persoalan paling fundamental dari suatu sistim ujian yaitu apa yang perlu dan harus diuji (what matter most to be assessed). Mencermati pola dan model soal-soalnya, UN lebih banyak menguji kemampuan siswa dalam menguasai materi hafalan (rote learning), yang pelaksanaannya sering dikerjakan dengan cara drilling, tryout, atau bimbingan tes. Karena itu, walaupun kecurangan dalam pelaksanaannya dapat dihilangkan, hasil UN masih kurang layak digunakan untuk mengetahui kompetensi siswa dan mutu pendidikan Indonesia. Skor perolehan siswa masih sangat sulit untuk diterjemahkan menjadi tingkat kompetensi siswa. Dengan kata lain, skor perolehan siswa pada UN, belum mampu menjelaskan pemahaman siswa pada mata pelajaran bersangkutan (test-wiseness).

Masalah lain, UN menerapkan skor yang dikenal di dunia testing sebagai raw score (skor mentah) yang diperoleh dari jumlah benar dibagi jumlah soal dikali 10. Skor seperti ini boleh diterapkan di classroom tests, tapi illegal digunakan di high-stake test (termasuk UN), karena akan menyesatkan (misleading). Harus ada konversi nilai dengan menggunakan metode statistik yang disebut equating.

Tes-Tes Berstandar Internasional

Ironis memang, sudah 65 tahun Indonesia merdeka Kemendiknas belum mampu membuat suatu sistem penilaian pendidikan nasional secara benar. Bagaimana mereka bisa mengetahui mutu dan meningkatkannya, kalau mereka sendiri tidak mampu membuat alat ukur yang bermutu. Untunglah, Indonesia beserta lebih dari 40 negara di dunia mengikuti tes-tes berstandar internasional, sehingga kita dapat memperoleh informasi mutu pendidikan kita lebih valid.

Selama tiga kali Indonesia ikut TIMSS (Trend in Mathematics and Science Study) yang diadakan setiap empat tahun yaitu tahun 1999, 2003, dan 2007, hasilnya menunjukan tidak ada peningkatan mutu. Selain itu, posisi Indonesia berada di bawah peserta negara-negara Asia Tenggara lainnya. Dari tiga periode tes siswa-siswa kita pada Mathematics memperoleh skor 403, 411, dan 405 (skala dari 0 s.d. 800). Sebagai pembanding, di tahun 2007 rekan-rekan mereka di Singapura, Malaysia, dan Thailand masing-masing memperoleh 593 dan 474, dan 441 (lihat www.timss.org). Hasil PISA (Program for International Assessment) juga menunjukkan keadaan serupa. Pada tahun 2006, kemampuan siswa kita di Mathematics, Science, dan Reading masing-masing 391, 393, dan 393 (skala 0-800), sedangkan skor rerata semua negara pada saat itu adalah 498, 500, dan 492 (www.pisa.oedc.org).

Mungkin sebagian dari kita akan berkelit dengan mengemukakan bahwa itu data usang, karena tes-tes tersebut dilaksanakan 3 dan 4 tahun lalu. Betul, data terbaru dari PISA periode tes 2009 akan dikeluarkan akhir tahun ini dan TIMSS periode berikutnya akan berlangsung tahun depan. Namun, jangan berharap hasilnya nanti akan melonjak luar biasa dibandingkan pencapaian-pencapaian sebelumnya.

Alternatif UN

Kita harus menyadari dan menerima kenyataan bahwa mutu pendidikan kita sampai saat ini memang masih rendah. Pelaksanaan UN terbukti tidak dapat meningkatkan mutu; sebaliknya, justru dengan UN mudaratnya lebih banyak. Siswa, guru, kepala sekolah, kepala dinas, dan juga orangtua siswa berlomba-lomba mengejar target kelulusan UN dengan pembelajaran model bimbingan tes, yang sangat merusak proses pembelajaran.

Ketimbang bersikukuh melaksanakan UN dengan biaya, tenaga, dan waktu yang dikeluarkan cukup besar, sebaiknya UN ditiadakan. Lebih baik uang yang satiap tahunnya bisa mencapai hampir satu triliun itu digunakan untuk tujuan yang hasilnya lebih nyata, seperti memperbaiki sarana-prasarana pendidikan, dan meningkatkan kemampuan dan kesejahteraan guru, khususnya di daerah terpencil. Sebagai ganti UN, penilaian kelulusan jenjang sekolah menjadi tanggungjawab daerah tingkat dua, dan ini sejalan dengan kebijakan otonomi daerah. Pengelola pendidikan di daerah dapat mengadakan ujian kelulusan pada tingkat daerah, rayon, atau sekolah.

Lantas bagaimana mutu pendidikan secara nasional dimonitor dan dikendalikan? Laporan hasil tes berstandar internasional yang selama ini diperoleh Kemendiknas digunakan sebagai bagian dari upaya pemetaan mutu dan sebagai basis untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Selain itu, sebagai pelengkap, setiap tiga tahun Kemendiknas perlu mengadakan survei tes tingkat nasional yang kredibel dengan melibatkan para pakar penilaian pendidikan. Bagi daerah (sekolah) yang masih rendah pemerintah perlu membantunya, dan yang sudah baik layak mendapat penghargaan dan menjadi percontohan. Setelah itu, kalau sampai tiga tahun atau sampai tes periode berikutnya daerah tertinggal tidak menunjukan peningkatan mutu, maka pemimpin institusi pendidikannya (seperti kepala sekolah dan kepala dinas) perlu lengser atau dilengserkan.

April 27, 2010

—————–
*) Heru Widiatmo, Ph.D. Measurement Research. ACT, Inc.500 ACT Drive, Iowa City, Iowa 52243
Email: heru.widiatmo@act.org
Phone (319) 337-1704Fax (319) 341-2248

Sumber : Kampasiana

Iklan

Responses

  1. —————-
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    ———————————-
    Menarik juga tulisan di atas untuk dibaca dan terus diberi komentar.

    Setelah saya membaca pemikiran “Heru Widiatmo, Ph.D.” sungguh luar dari kebiasaan. Saya ingin sekali tahu apa maksud “Ujian Nasional
    Menyesatkan”.
    Barang kali Pak Heru ini sedang emosi tingkat tinggi.
    Kenapa ?
    Pertama, ya judul tulisannya sangat tendensius.
    Kedua. Saya belum melihat baik dalam tulisan diatas maupun fakta dilapangan ada anak didik yang “sesat” setelah mangikuti UN.
    Ketiga, Untuk mengungkapkan fakta kesesatan siswa digunakan “tiga kali Indonesia ikut TIMSS” tidak sesuai dengan hukum logika.
    Keempat, Katanya pakar yang berasal dari luarnegeri “tidak ada satupun dari mereka yang melirik apalagi datang dan belajar ke sini”.
    Itupun hanya dugaan, silakan cek lansung kekemendiknas. anda akan mendapatkan datanya yang valid.

    Saya perlu memberikan saran kepada beliau, hati-hati juga memberikan komentar dan kontrolah telebih dahulu, mungkin ada fariabel pokok yang terlupakan. Yang jelas kemajuan pendidikan di Indonesia terus meningkat dari tahun ketahun. Alat ukurnya bukan Malaysia atau Singapura, akan tetapi adalah data dan fakta tahun sebelumnya. Perbanidingan dengan luar negeri bukan persoalan pokok. Tapi dapat dijadikan pemicu semangat. Sebab tujuan pendidikan yang utama bukan untuk menandingi negara lain. Tapi adalah untuk mencerdaskan kehidupan Bangsa dan……

    Saya sadar sekali memang Indoneia ini jauh tertinggal sainnya oleh Amerika, peradabannya tidak. Tapi tidak perlu berkecil hati. Indonesia sedang membangun, itu yang perlu kita sadari.

    Wassalam.

  2. Tulisan Oleh : Heru Widiatmo *)
    (Peneliti di American College Testing, USA)
    tampak seperti summary laporan umum, seperti uraian yg Bapak Heru tuliskan, secara singkatnya permaslahan tersebut banyak hal terjadi demikian, karena Bidang Pendidiak Dasar Menengah juga Tinggi, seringkali di Link-kan ke kepnetingan Politik Aplikatif, memang benar mau gak mau harus terkorelasi, hanya saja sejak periode Dikrit Presiden, hingga saat ini selalu di-dicoverikan utk hal hal bagaimana mendukung jalannya Pemangku Jabatan Politik Pemerintahan Kenegaraan.
    andai saja ………..

  3. Assalaam.
    Tulisan Bpk. Heru Widiatmo, Ph.D.
    tampak seperti summary laporan umum, seperti uraian yg Bapak Heru tuliskan, secara singkatnya permasalahan tersebut banyak hal terjadi demikian, karena Bidang Pendidiak Menengah, khusus dikaitkan dengan Ujian Nasional, seringkali diarahkan pada kepnetingan Politik Aplikatif, memang benar mau tidak mau harus terkorelasi, hanya saja sejak periode 1970-an hingga saat ini selalu mengarah pada hal yg mendukung jalannya Pemangku Jabatan Politik Pemerintahan Kenegaraan, tanpa mengenyampikan sisi mamfaat dan hasil postifnya, sebagaimanaTanggapan Bpk.Jalius.HR, kalau Dunia Pendidikan sedang berproses dan terus membangun, pertnyaan mendasarnya apakah selalu terulang setiap tahunnya seperti itu saja ?

  4. ——————–
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    ——————————–
    Terima kasih Yon , saya sangat setuju dengan apa yang Sdr, fahami. Saya menilai sdr. dpat memahami persoalan yang sangat krusial didalam dunia pendidikan kita. Pertanyaan Sdr. yang terkhir itu adalah pertanyaan untuk semua.
    Saya mengira dalam fikiran Sdr. ada terselip suatu pemikiran, tapi sayangnya didak diungkapkan kepermukaan. terutama berkaitan dengan politisasi dunia pendidikan. Saya berharap tolong ditulis dan publikasikan. Sangat penting. Sisi gelapnya ada di sana.

    Salam, semoga sdr. selalu dapat bimbingan oleh Allah swt.

  5. Saya setuju kalau UN dibilang menyesatkan (banyak mudoratnya daripada manfaatnya)… karena sy merasakan dan mengalami langsung

    Sy dan teman2 menyelenggrakan SMP Gratis (sekolah formal) utk anak2 marjinal yang kemampuaanya di bawah standar. Selama 3 tahun kami didik,bimbing dan bina dengan penuh kesabaran sehingga kemampuan akademik mereka meningkat. Kami juga mengajarkan kejujuran dan nilai2 kebaikan universal. Tapi itu semua dirusak ketika peserta didik kami mengikuti UN di sekolah lain (kami menginduk ke sebuah SMP Negeri jadi anak-anak mengikuti UN di sekolah lain). Mereka marah dan kecewa sekali ketika melihat teman2nya dari sekolah lain dibiarkan oleh pengawas membawa HP dan melakukan contek menyontek lewat HP dan kertas bocoran di kelas, disaksikan oleh pengawas yang malah menawarkan bantuan. Bisa bayangkan betapa kecewanya peserta didik kami yang telah berjuang keras selama 3 tahun (dengan kemampuan akademik mereka yg terbatas) dan melihat teman2nya yg mereka tahu tidak pernah seriu belajar tapi dapat bocoran.

    Tiap tahun sy laporkan kebocoran UN ini kepada sekolah induk dan pejabat2… tapi semuanya tidak mau mengusut bahkan meminta sy utk tidak meributkan soal bocoran.

    Alhamdulillah, tahun lalu 7 peserta didik kami lulus UN dengan angka yang sangat minim dan 6 anak melanjutkan ke SMK, 1 anak membantu jadi guru olahraga di sekolah kami dan 3 diantara 6 anak yang meneruskan ke SMK menjadi the best di SMK nya masing2…

    Menurut sy, kita belum siap untuk melakukan UN…. jadi UN malah menjadikan siswa/guru/pejabat berlomba-lomba dengan kecurangan dan lucunya mereka bangga sekali dengan dengan hasil UN yang bagus tapi tingkat kejujurannya tidak pernah diperhitugkan. Tentunya ada juga sekolah yang melaksanakan UN dengan JUJUR tapi jumlahnya berapa ?

    Yang lucunya ada SMP Terbuka (dikelola oleh pemerintah) , yang jam belajarnya hanya 2 jam sehari, kadang ada guru kadang tidak ada guru… anak-anaknya pun tidak rajin… tapi hasil UN nya ada yang 10, 9 (utk pelajaran IPA, Matematika dan bahasa Inggris). Bahkan ada anak yang tidak tahu bahasa Inggrisnya paman, keponakan, sendok, garpu tapi UN nya dapat 9.

    Sy orang awam, latar belakang pendidikan sy bukan pendidikan guru…. sy juga sebenarnya tidak terlalu anti UN tapi sy sungguh heran UN dijadikan syarat kelulusan. Aneh !

    Semoga Allah mengampuni kita semua dan memberika jalan keluar yg terbaik untuk bangsa kita, aaaamiiiin….

    Salaaaam..

    • “Saya setuju kalau UN dibilang menyesatkan (banyak mudoratnya daripada manfaatnya)… karena sy merasakan dan mengalami langsung”

      Itulah kalimat ade pujiati yang saya kutip. Sangat fatal sekali, perbandingannya luar biasa. Saya berharap tolong berikan bukti (hasil penelitian ) Ade untuk seluruh indonesia, berapa % yang tersesat setelah mengikuti ujian ? Sudah berapa orang anak-anak yan sesat setelah mengikuti ujian nasional. Tolong di pahami dengan baik, Ujian nasional itu belum terbukti (oleh saya) menyesatkan, dan tidak pula didesain untuk menyesatkan. Setahu saya “ada anak-anak” juga “ada guru ” menghadapi ujian nasonal melakukan kecurangan. Setahu saya, anak yang bersikap curang jumlahnya tidak sebanyak anak yang mau jujur.

      Tapi juga gurupun mungkin malu kalau ada anak didiknya yang tidak lulus ujian, tapi kenapa untuk menutup malu harus membiarkan anak berlaku curang?

      Apa yang telah Ade lakukan sudah bagus, yakni mendidik anak bersikap jujur. Kemudian ada siswa Ade yang terpengaruh melihat kecurangan orang lain, berarti siswa yang Ade didik belum sampai kepada “percaya diri”.

      Jangan lantaran melihat orang lain besikap curang, lantas ujiannya yang disalakan. Kita harus sadar bahwa dengan ujian itu dapat diukur kemampuan tiap diri siswa. Dengan ujian dapat diukur perolehan anak terhadap apa yang telah diberikan guru. Kita juga harus jujur, kalau memang materi pelajaran belum terkuasai oleh siswa, sungguh logis pelajaran harus diulang. Kami di Surau juga begitu. Jangan ujiannya yang disalahkan, kecuali ujian itu tidak ada kaitannya dengan materi ajar.

      Aneh juga jika tikus makan padi, lantas padinya yang dimusnahkan ?
      Kenapa kita tidak menuntut ada sangsi bagi “Pencurang” ?

  6. Tahun ini kami menerima murid baru yang hampir semuanya NEM nya lumayan bagus, tapi yang menyedihkan semuanya mengaku ketika ujian nasional SD mereka diberi bocoran oleh gurunya… bayangkan ?
    Ketika sy bertanya kepada mereka: masa sih diberi bocoran oleh guru kamu ? salah satu anak malah menjawab : kayaknya semua di Jakarta begitu kok bu…
    Dan yang lebih memprihatinkan, ada anak yang NEM nya hampir semuanya 9 dan 8 tapi tidak lancar membaca dan menulis. Anak ini lulusan SD Negeri loh.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: