Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Mei 5, 2010

Upaya Peningkatan Kualitas Hasil Belajar di Sekolah

Upaya Peningkatan Kualitas Hasil Belajar di Sekolah

Oleh: Drs. Marijan
Guru SMPN 5 Wates Kulon Progo Yogyakarta
dan Anggota KGI Kulon Progo DIY

Drs. Marijan Guru SMPN 5 Wates Kulon Progo Yogyakarta dan Anggota KGI Kulon Progo DIY

MARAKNYA lembaga bimbingan belajar di berbagai kota besar maupun kota kecil seiring dengan kesadaran anak akan pentingnya dunia pendidikan. Masyarakat telah berkesimpulan bahwa eksistensi lembaga bimbingan belajar ada korelasi positif terhadap peningkatan pemahaman siswa akan materi suatu mats pelajaran. Keyakinan ini mendorong para. siswa untuk mengikutinya dan orang tua pun rela menyisihkan uangnya demi anaknya ikut bimbingan belajar. Padahal di lembaga ini biaya lebih tinggi jika dibandingkan dengan biaya sekolah. Tidak heran lembaga bimbingan belajar makin lama menjadi dunia bisnis pendidikan.

Jika siswa ditanya mengapa ikut bimbingan belajar ? Mereka menjawab untuk memperdalam pemahaman terhadap materi pelajaran yang seabrek banyaknya itu.  Pertanyaan dilanjutkan, apakah di sekolah tidak dapat memperdalam pemahaman seperti di lembaga  bimbingan belajar ? Mereka pun menjawab, dapat akan tetapi hasilnya sering kalah dengan yang mengikuti bimbingan tes.

Di satu sisi jawaban siswa ini baik karena mereka ada kemauan sendiri untuk memperdalam pemahaman materi di luar jam sekolah walau resiko biaya tinggi. Tetapi di lain pihak bagai menampar telinga guru serta mencabik muka sekolah karena sekolah divonis oleh siswa sebagai lembaga pendidikan formal yang kalah dalam mempersiap-kan nilai Unas maupun tes pada UMPTN. Menghadapi anggapan seperti ini kita selaku praktisi pendidikan tak dapat bersitegang menyalahkan anggapan siswa. Fakta menjadi bukti dan nilai Unas menjadi saksi bahwa siswa yang ikut  bimbingan belajar akan lebih besar peluang untuk menang dalam kompetisi dengan mereka, yang tidak mengikutinya, walaupun hal ini tidak menjamin 100%.

Pertanyaannya sekarang mengapa sekolah kalah dalam meningkatkan pemahaman materi pelajaran bagi siswa jika dibandingkan dengan lembaga bimbingan belajar ? Inilah dilema sistem pendidikan kita. Banyak pengamat pendidikan menyorot bahwa produktivitas pendidikan nasional kurang memadai. Mengapa, dapat begitu ? Mari kita cermati dan telusuri tentang perilaku proses sistem belajar mengajar di sekolah – sekolah sebagai hal yang ikut andil dalam perolehan hasil belajar yang kurang berkualitas.

Pertama, membenahi sistem penilaian ( value) yang relatif murah. Selama nilai yang tertera pada rapor tak pernah dikuatirkan sebelumnya oleh seluruh siswa. Hal ini disebabkan para siswa memiliki estimati, tidak mungkin di rapor / ijasah ada angka nilai 4, 3 dan 2. Paling angka 5 sebagai angka terendah. Itu pun karena keterlaluan si siswa. Lebih-lebih kelas tertinggi yang nantinya ikut andil dalam perhitungan kelulusan. Tentu nilai kelas tertinggi dibuat sedemikian rupa, sehingga angka itu dapat mengatrol nilai rata-rata sebagai syarat minimal siswa dapat lulus..

Situasi demikian agaknya sudah menjadi budaya pendidikan kita , siswanya pun menjadi tenang-tenang saja. Oleh karena demikian tenangnya lantas terbiasa tidak mau belajar keras dan tekun. Apa akibatnya. ? Semua informasi selama beberapa tahun  dari kelas terendah sampai tertinggi, tertimbun. Bahkan ada yang mengalami aus, erosi, rusak dan lepas tanpa teratasi. Hal ini bukan salah guru dan kepala sekolah semata-mata akan tetapi karena tuntutan dari atas sehingga merebak menjadi budaya penilaian oleh sekolah. Dan ini yakin tidak akan membuat siswa termotivasi untuk belajar keras. Perlu disadari bahwa penilaian bukan sekedar memberi angka namun tanggung jawab moral pendidik terhadap masa depan peserta didik tak boleh diabaikan. Oleh karenanya sistem obral nilai perlu ditinjau kembali

Kedua, menghapus budaya pemangkasan kreativitas siswa. Seorang guru sering bersikap bak raja di atas tahta. Segala keputusannya termasuk pertanyaan dari siswa yang tak dijawab guru, siswa dipaksa harus menerima. Siswa bertanya ini dan itu, guru pun memangkasnya dengan dalih,” Kita tidak sedang membicarakan hal itu”. Kalau mau menyadari sebenarnya banyak siswa yang cukup potensial bila terpupuk oleh kearifan dan keprofesionalan guru.

Kenyataan di lapangan jika siswa bertanya ini dan itu, guru menjawab seenaknya. Bertanya tentang keuangan di pangkas kepala sekolah, bertanya tentang pustaka dipangkas petugas perpustakaan. Lebih lanjut setelah dewasa menjadi mahasiswa mau bertanya di depan DPR dipangkas oleh petugas keamanan. Celakanya, siswa yang demikian ini dikategorikan anak nakal yang tidak pernah menurut.

Sebenarnya keusilan (bila dianggap usil) sikap siswa tersebut adalah refleksi dari kekreativan nalarnya. Bukankah sikap kreatif adalah indikator kualitas SDM? Tetapi sayang budaya birokrasi kita sering tidak memandang segi positifnya dari siswa yang berlaku beda. Dari konteks itulah berarti guru menyenangi siswa penurut segala¬-galanya. Akhirnya siswa terbiasa diam. Sikap diam inilah tidak akan memunculkan siswa kreatif, aktif, sensitif dan inivatif.

Seharusnyalah budaya pemangkasan kreativitas siswa dihapus. Sebaliknya kreativitas perlu dipupuk sebaik-baiknya. Siswa diposisikan sebagai subjek belajar bukan objek belajar. Guru hendaknya menyadari bahwa siswa banyak yang lebih pintar daripada dirinya hanya tidak bersamaan waktunya.

Ketiga, menghindari jebakan target materi. Dalam proses belajar mengajar, guru memang selalu terpatri oleh silabus. Ini berarti guru diatur perangkat proses belajar mengajar ( PBM ) yang telah sesuai dengan silabusnya. Dalam silabus telah diatur muatan materi dan waktunya, guru tidak boleh mengurangi sedikit pun. Oleh karena demikian guru lupa atau sengaja menomorduakan ketuntasan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang diajarkan. Hal yang diingat adalah tujuan utama proses pembelajaran , merampungkan materi yang harus diberikan siswa, dalam waktu tertentu. Target materi adalah sesuatu yang memang harus disepakati dan kita taati. Tetapi penguasaan siswa terhadap materi tersebut adalah suatu keharusan. Inilah, agaknya merupakan tantangan bagi guru untuk menyeimbangkan antara ketuntasan materi dan ketuntasan penguasaannya.

Keempat, menghindari kebiasaan menggunakan soal model pilihan ganda. Sejak SD hingga Perguruan Tinggi penggunaan soal model pilihan ganda agaknya membudaya. Oleh karena terbiasa demikian siswa cenderung main untung-untungan. Soal-soal yang hanya didominasi ingatan dan pemahaman sangat tidak mendidik siswa, untuk belajar bernalar, berpikir, belajar secara benar dan gemar membaca. Sebaik apa pun soal model pilihan ganda, peluang menebak untuk memilih jawaban yang benar tetap besar. Bagi guru memang memudahkan dan mempercepat mengoreksi serta, menilainya. Akan tetapi bagi siswa jelas tidak akan mendorong untuk belajar memahami materi secara global.

Soal-soal ujian dalam bentuk pilihan ganda, agaknya perlu untuk ditinjau kembali karena biasanya hanya untuk mengetahui daya serap siswa terhadap bahan pelajaran. Soal ujian seharusnya mampu membimbing siswa belajar secara benar, bernalar, berargumentasi dan sekaligus meningkatkan budaya gemar membaca. Untuk itu soal ujian dalam bentuk essay perlu dikembalikan lagi.

Kelima, mengurangi multi beban guru. Guru selalu diharapkan berperan sebagai programer, administrator, fasilitator, motivator, evaluator dan stabilisator dalam lingkungan sekolah. Namun ketika datang supervisor dari pengawas bukan tatap guru dengan siswa yang diamati melainkan kelengkapan administrasi guru yang diutamakan

Di rumah yang sedianya untuk membaca guna menambah wawasan, guru justru disita waktunya, demi pemberesan administrasi tersebut. Jika demikian terus¬ menerus guru hanyalah pelaksana rutin yang tidak memiliki kesempatan meningkatkan kualitasnya. Keadaan ini akan mengimbas pada proses belajar mengajar dan berujung pada kurangnya mutu hasil belajar.

Sehubungan dengan beban tugas guru yang bersifat teknis administrasi kiranya perlu dikurangi dan sebaliknya mendorong guru untuk meningkatkan kemampuan penguasaan materi pelajaran. Apalah artinya penguasaan metode mengajar tanpa ditunjang penguasaan materi pelajaran secara memadai. Mengingat era globalisasi telah tiba saatnya maka perlu pembenahan persoalan yang terakhir. Penguasaan materi pelajaran oleh guru adalah paling vital dalam mengemban tugas keguruan yang selama ini sering terabaikan. Juga perlu disadari bahwa guru adalah orang yang paling bertanggung jawab menentukan arch masa depan anak-anak kita.

Sumber: Klub Guru Indonesia

Iklan

Responses

  1. Pada prinsipnya banyak guru yang mengeluh karena dibebani sebagai programer, administrator, fasilitator, motivator, evaluator dan stabilisator dalam lingkungan sekolah. Tapi yakinlah bahwa dengan menulis apa yang akan kita kerjakan, dan mengerjakan apa yang kita tulis akan dapat menghasilkan mutu pendidikan yang lebih baik.

  2. bahwa ternyata sertifkasi bagi guru belum berhasil mengatasi persoalan kualitaspendidikan kita yang belum beranjak dari titik nadzir. slah satu indikasinya, gru-gru yang telah memiliki sertikat sebagai guru profesional masih jauh dari yang diharapkan. tidak ada bedanya. yang berbeda hanya tunjangan profesinya. program tersebut selayaknya diperuntukkan bukan untuk peningkatan profesi guru, tatapi sekedar tanda jasa untuk guru yang telah bertahun-tahun mengabdi, itu baru saya setuju,tk


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: