Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Mei 13, 2010

Lebih Baik Menjawab Dengan Jujur Atau “Benar”?

Lebih Baik Menjawab Dengan Jujur Atau “Benar”?

Assalamu’alaikum wr.wb.,

(Bila gambar tidak kelihatan, isinya adalah ujian anak sekolah dengan pertanyaan: “Gambar di samping mewujudkan kasih sayang seorang: A.Pembantu, B.Ibu, C.Ayah.”

Di gambar tersebut, ada seorang ibu menggendong anak. Jawaban yang dipilih oleh siswa adalah “A.Pembantu”.)

Ada dua hal yang menarik dari gambar ini.

Yang pertama, dan yang paling jelas, adalah pilihan anak bahwa gambar itu mewujudkan kasih sayang seorang pembantu dan bukan kasih sayang dari seorang Ibu. Ternyata bagi anak ini, kasih sayang lebih didapatkan dari pembantu atau babysitter, ketimbang dari Ibu. Mungkin Ibunya kerja, pulang larut malam dalam keadaan cape, dan oleh karena itu, anak lebih terbiasa main dan merasa bahagia dengan pembantu.

Menyedihkan sekali, tetapi barangkali ini merupakan kenyataan bagi banyak anak di bangsa ini, terutama di kota besar seperti Jakarta.

Hal menarik yang kedua, adalah kenyataan bahwa pilihan si anak “A.Pembantu” disalahkan oleh sang guru. Artinya, anak sekolah tidak boleh berbeda pendapat dengan guru. Ternyata anak tidak boleh merasa kasih sayang dari orang tertentu (seperti pembantu) kecuali disetujui terlebih dahulu oleh gurunya. Bila anak merasa lebih disayangi pembantu, kenapa hal itu bisa dinyatakan salah oleh guru?

Saya jadi ingat komentar dari seorang bapak di milis SD Islam, bahwa anaknya bertanya kalau pada saat menjawab pertanyaan di dalam ujian, apakah lebih baik menjawab dengan “jujur” atau memberikan “jawaban yang benar”? Sangat memprihatin bahwa seorang anak SD bisa membedakan dan memisahkan antara jawaban yang “jujur” dan jawaban yang “benar”. Ini memang sesuatu yang nyata dalam sistem pendidikan Indonesia dari zaman dahulu, dan ternyata, belum berubah.

Bila anak SD ditanyakan dalam sebuah ujian “Bagaimana perasaan kita kalau orang tua cerai?” maka anak diwajibkan guru menjawab “Sedih” karena jawaban “Bahagia” akan disalahkan. Tetapi bagi anak tertentu, yang orang tuanya sering ribut dengan KDRT juga, bisa jadi jawaban “bahagia” adalah jawaban yang jujur, tetapi di sekolah menjadi salah. Ini merupakan indoktrinasi kultural yang tidak tepat dan tidak dibutuhkan.

Tetapi tidak terbatas pada indoktrinasi kultur saja. Jawaban yang lain juga seenaknya disalahkan oleh sang guru. Saya pernah lihat hasil ujian anak SD dengan pertanyaan “Burung hantu tinggal di mana?” Anak menjawab “Pohon”. Ternyata salah. Menurut guru, burung hantu tinggal di HUTAN. Berarti anak SD harus main tebak-tebakan pada saat ujian. Mereka harus berfikir “Hmmmm… menurut guruku, jawaban yang mana yang boleh benar?” Soalnya, kalau anak itu berfikir sendiri dan memberikan jawaban yang dia anggap benar, yang sesuai dengan fakta yang dia miliki, sesuai dengan logika, dan sesuai dengan argumentasi dia, maka dia akan disalahkan oleh si guru dan nilainya akan rendah. Berarti lebih baik kalau anak TIDAK berfikir sendiri dan hanya sebatas nurut dengan kemauan guru kalau mau lulus.

Kita tidak perlu heran bahwa penemuan terbaik di dunia ini tidak pernah muncul dari Indonesia. Yang ada justru tingkat korupsi yang “terbaik” di dunia. Ini semua merupakan hasil dari sistem pendidikan yang rusak berat, dan belum ada usaha dari pemerintah atau dari orang tua untuk melakukan perbaikan nyata.

Sampai kapan sistem pendidikan di Indonesia akan seperti ini terus?

Bagi yang inginkan perubahan, mohon berusaha secara kecil dengan mememberikan tanda tangan pada petisi pendidikan ini.

Sumber : Gene Netto

Iklan

Responses

  1. Pada dasarnya saya kurang setuju menggunakan tes multiple choice utk alat menguji kemampuan siswa.Karena kemampuannya tuk mengembangkan pendapatnya menjadi terhambat dan lambat laun akan mati krn ndak dilatih kembangkan.Apalagi bagi siswa yg kritis. Bisa2 kita dicap sbg pembunuh karakter mrk. Na’uzubillahi mindzalik…

  2. yo pak Guru, kadang-kadang antara kebenaran dan kejujuran saling tabrakan tapi itulah yang sering terjadi, kalau begitu pak Guru dalam lembaran Ujian seperti yang dicontohkan ini, perlu judulnya dilengkapi dengan “….. Ujian Kebenaran ……… atau judulnya ujian kejujuran…… jadi jelas yang akan dinilai itu apanya ya kan ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: