Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Mei 19, 2010

Musyawarah

Musyawarah

Oleh : Jalius HR

Jalius HR, Dosen Univ. Negeri Padang

Musyawarah adalah salah satu unsur sosial yang ada dalam masyrakat. Di manapun manusia hidup mereka selalu bersikap suka bermusyawarah. Di Indonesia semua suku bangsa tetap menganut faham musyawarah. Biasanya musyawarah dilakukan bila ada permasalahan yang  akan dipecahkan atau mencari jalan keluar dari kesulitan.

Musyawarah dapat diartikan sebagai pengambilan keputusan didalam sebuah rapat. Keputusan diambil tidak berdasarkan suara terbanyak, keputusan diambil tidak berdasarkan pemikiran atau faham tertentu, melainkan oleh seluruh anggota rapat. Musyawarah ini bagaikan sebuah tubuh, bila ada sakit seluruhnya menolak dan bila ada senang semua senang.
Dalam hal ini orang yang moyoritas dan orang yang minoritas harus meleburkan diri menjadi satu, sehingga pemikiran dan keinginan relatif  menjadi sama. Di dalam proses rapat pihak mayoritas (kuat) harus mengurangi tuntutan dan demikian pula yang minoritas(lemah). Tidak boleh memberikan patokan maksimal, yang dihapkan dengan hal ini adalah proses saling mendekati, dan tercapai titik yang sama. Jangan ada jarak antra dua atau lebih orang yang bersepakat dalam rapat.
Proses musyawaah lebih sering dilakukan oleh masyarakat pedesaan ketimbang masyarakat kota. Dengan musyawarah berbagai persoalan kehidupan mudah dipecahkan. Sebab dengan musyawarah tersebut munculah ungkapan yang sering kita pakai yakni “ berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Apakah masalah dana atau uang, masalah kerja, pemakaian waktu dan sebagainya, semua dimudahkan pemecahannya dengan musyawarah.
Kalau ditinjau bentuknya musyawarah ini, maka kita dapat membedakannya menjadi dua  yaitu musyawarah sebagai metode rapat dan musyawarah sebagai semangat kehidupan. Sebagai metode rapat, maka didalam rapat harus ada seorang atau lebih tokoh yang berperan mendorong terjadinya proses  mencocokan dan mengidentifikasi pendpat-pendapat yang muncul dalam rapat. Mencocokan berarti ada upaya merubah sedikit atau banyak kehendak dari masing-masing pihak. Jika perlu melakukan modifikasi dari pendapat yang ada. Dengan jalan demikian sedikit demi sedikit atau berlahan masing-masing pihak mengarahkan pandangannya kepada sebuah bentuk dari hasil modifikasi tersebut. Berbagai penjelasan dan analisa sangat penting untuk meyakinkan pihak pihak yang berapat. Proses saling mendekat arus selalu dipandu sampai kepada berleburnya pendapat yang saling berbeda atau berjauhan. Akhirnya terjadi sebuah sintesa sebagai konsepsi baru. Inilah yang menjadi kesepakatan bersama, keinginan bersma dan itulah kebaikan untuk bersama.
Kemudian yang dimaksud dengan jiwa musyawarah artinya adalah internalisasi penyelesaian masalah secara bersama-sama. Biasanya inilah yang disebut dengan semangat gotong royong. Pemecahan masalah secara bersama-sama atau secara bergotong royong  bukan hanya dalam rapat saja tetapi meliputi hampir semua persoalan kehidupan sosial. Yang paling menonjol dalam persoalan ini adalah  “rela” mengurangi tuntutan atau pendapat, maksudnya adalah agar bisa  muncul kesesuaian atau kecocokan yang disebut dengan pendapat umum. Dengan demikian masing-masing pihak selalu menjaga agar tidak terjadi apa yang disebut dengan “ngotot” mempertahankan pendirian.
Di dalam banyak masyarakat di Indonesia lebih lagi di daerah pedesaan proses musyawarah sering dilakukan dalam rangka memecahkan masalah pertengakaran. Baik pertengkaran antar warga dalam desa maupun pertengkaran warga antar desa, baik pertengakaran kecil atau besar. Semua diselesaikan melelui musyawarah. Para tokoh Masyarakat memberikan berbagai pandangan, menjelaskan untung ruginya suatu permasalah, maka pihak-pihak yang bertikai merasa rugi bila tidak diikuti dan merasa beruntung bila mengikuti keputusan bersama.
Dengan musyawarah tersebut masyarakat desa uumumnya merasa memperoleh apa yang disebut dengan keadilan. Dengan melibatkan banyak orang tentu saling  mengontrol dalam rapat terjadi. Sehingga pihak yang bertikai tidak ada yang merasa dirugikan. Semua pokok persoalan diungkap secara gamblang, sehingga menjadi sangat jelas mana yang betul dan mana yang salah. Mana yang jujur dan mana khianat. Walau orang yang bertengkar itu adalah orang bodoh dalam rapat untuk bermusyawarah tidak dapat ditipu begitu saja dan sebaliknya yang cerdik tidak seenaknya saja mengelabui. Karena proses penyelesaian masalah melibatkan orang banyak yang pantas untuk hadir. Mereka selalu terlibat dalam saksi dan menyaksikan, selau saling ingat mengingatkan. Akibatnya keputusan dapat diambil suka-sama-suka, rela merelakan. Akhirnya dengan musyawarah keharmonisan sistem sosial selalu terjaga.
Demikian mudah-mudahan ada manfaatnya.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: