Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Mei 19, 2010

RSBI: Persaingan Tinggi, Peluang Kian Terbagi

RSBI: Persaingan Tinggi, Peluang Kian Terbagi

KOMPAS.com - Sebuah tulisan “Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI)” akan terlihat saat mengunjungi SMA Negeri 2 Semarang, yang berada tak jauh dari pusat Kota Semarang, Jawa Tengah. Sekolah ini memang termasuk salah satu dari tiga Rintisan Sekolah Berstandar Indonesia (RSBI) yang ada di Kota Semarang, selain SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 3 Semarang.

Dibandingkan dua pesaingnya, SMAN 2 Semarang termasuk “pemain baru”, karena belum genap satu tahun sekolah itu ditetapkan pemerintah sebagai RSBI. Dalam penerimaan peserta didik (PPD) SMA RSBI di Kota Semarang 2010, persaingan antar-SMA RSBI dalam mendapatkan murid tentunya semakin ketat dengan bertambahnya kompetitor.

Menyadari sudah ada dua pemain lawas yang “berkuasa” di tengah kota, sekolah itu memilih mencari murid dari luar Kota Semarang seperti Demak, Purwodadi, dan Grobogan.

“Kami melihat para siswa dari daerah-daerah itu cukup potensial dan selama ini siswa SMA Negeri 2 Semarang banyak berasal dari situ,” kata Kepala SMAN 2 Suprihadi.

Terlebih lagi, pihaknya menyadari sudah ada dua SMA RSBI lain di Kota Semarang yang sama-sama bersaing menjaring siswa dalam penyelenggaraan PPD SMA RSBI 2010. Mantan Kepala SMA Negeri 1 Semarang itu mengakuI, sekolah RSBI tidak akan kesulitan menjaring siswa dari mana saja, sebab sekolah RSBI tidak terkena sistem rayonisasi.

“Kalau rayonisasi, sekolah harus memprioritaskan siswa-siswa yang tinggal di sekitar daerah itu dan ada pembatasan kuota untuk memasukkan siswa luar daerah,” katanya.

Terbukti, kata dia, SMAN 2 Semarang mampu menjaring pendaftar sebanyak 690 orang dari kuota yang tersedia sebanyak 384 siswa dalam penyelenggaraan PPD SMA RSBI tahap pertama. Bahkan, pendaftar dari luar Kota Semarang mencapai sekitar 150 orang, suatu jumlah yang cukup fantastis mengingat SMA “pemain baru”.

“Namun, kami hanya akan memilih siswa-siswa yang berprestasi dan berpotensi, salah satunya dengan perolehan peringkat 1-3 selama menjalani studi SMP,” katanya.

Selain itu, pendaftar SMA RSBI juga harus memiliki nilai kumulatif untuk lima pelajaran, yakni matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, IPA, dan IPS minimal 73.

“Kalau mereka memiliki nilai di bawah itu langsung dianggap gugur, sebab dikhawatirkan siswa tidak bisa mengikuti kurikulum RSBI dengan baik,” kata pria ramah itu.

Persaingan SMA RSBI yang semakin ketat ternyata dirasakan juga oleh SMA Negeri 1 Semarang yang mengaku jumlah pendaftar dalam PPD SMA RSBI tahun ini merosot dibandingkan tahun lalu. “Jumlah pendaftar dalam PPD SMA RSBI 2010 hanya berjumlah 588 orang dari kuota yang disediakan sebanyak 436 siswa,” kata Wakil Kepala SMA Negeri 1 Semarang, Sulistiyoso.

Padahal, kata dia, jumlah pendaftar PPD SMA 1 tahun lalu mencapai 700 orang, dengan kuota sama yang disediakan untuk sebanyak 436 siswa. Dia mengakui, berkurangnya pendaftar tersebut kemungkinan karena saat ini SMA RSBI sudah semakin bertambah, sehingga tingkat persaingan semakin ketat.

Sama seperti SMAN 2 Semarang, SMAN 1 Semarang juga berupaya menjaring siswa dari luar kota, antara lain Kendal, Pati, dan Temanggung. “Kami telah melakukan sosialisasi dan penjaringan siswa berprestasi dari sejumlah SMP di Pati dan Temanggung, terutama mencari siswa yang pernah menjuarai olimpiade,” katanya.

Persiapan matang

SMAN 3 Semarang yang juga menjaring siswa baru dalam PPD SMA RSBI, justru membantah penambahan SMA RSBI di Kota Semarang mengurangi jumlah pendaftar. Hari Waluyo, Kepala SMAN 3 Semarang mengatakan, jumlah pendaftar dalam PPD SMA RSBI tahun ini melonjak dibandingkan penyelenggaraan PPD SMA RSBI tahun lalu.

“Jumlah tahun ini mencapai sekitar 1.500 orang dari kuota sebanyak 436 siswa, sedangkan pendaftar pada PPD tahun lalu hanya sekitar 900 orang,” katanya.

Menyikapi penambahan jumlah itu, Dinas Pendidikan Kota Semarang telah mempersiapkan berbagai hal terkait penyelenggaraan PPD SMA RSBI 2010 secara matang. Sepertinya, pihak dinas pendidikan tidak ingin ada kendala seperti pada penyelenggaraan PPD tahun lalu, terutama soal akses internet untuk mendaftar.

“Pada PPD 2009 banyak keluhan tidak adanya akses internet, terutama di daerah pinggiran,” kata Kepala Bidang Monitoring dan Pengembangan Disdik Kota Semarang, Nana Storada.

Padahal, kata dia, pendaftaran siswa dilakukan secara online melalui situs Disdik Kota Semarang, sehingga banyak siswa yang kesulitan mendaftarkan diri. “Karena itu, pada PPD RSBI tahun ini disediakan dua titik layanan pendaftaran di SD Tambangan Mijen dan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendidikan Kecamatan Gunungpati,” katanya.

Pemilihan dua lokasi itu didasarkan pada banyaknya laporan atau keluhan dari masyarakat dalam penyelenggaraan PPD tahun lalu, sehingga fasilitas itu lebih mengena. Di setiap titik layanan pendaftaran disediakan dua perangkat komputer yang terhubung dengan jaringan internet, mesin printer, dan operator untuk membantu pendaftar.

Nana mengakui, biaya akses internet cukup mahal, padahal lokasi warung internet (warnet) cukup jauh dari tempat tinggal mereka, sehingga akan menyulitkan pendaftaran. “Banyak yang mengeluhkan kalau sekali akses biayanya bisa sampai Rp10.000. Bayangkan jika mereka harus berkali-kali ke warnet untuk mengakses situs pendaftaran,” katanya.

Belum lagi, kata dia, dalam penyelenggaraan PPD RSBI tahun lalu juga sempat terjadi kemacetan situs pendaftaran. Padahal, saat itu adalah pengumuman hasil seleksi siswa.

Namun, Nana berjanji kendala-kendala tersebut tidak akan terjadi lagi tahun ini, apalagi pihaknya saat ini bekerja sama dengan PT Telkom untuk menangani hal itu.

Jumlah SMA RSBI di Kota Semarang bertambah satu pada tahun ini, yakni SMA Negeri 2 Semarang, sedangkan SMP tetap tiga, SMP Negeri 2, SMP Negeri 5, dan SMP Negeri 21 Semarang.

“Sebenarnya, ada dua SMP lagi yang diproyeksikan mendapatkan status RSBI, yakni SMP Negeri 9 yang tinggal menunggu surat keputusan (SK) dan SMP Negeri 18 Semarang,” katanya.

Nana mengatakan, SMPN 9 Semarang akan segera ditetapkan menjadi RSBI dalam waktu dekat. Sementara itu, SMP Negeri 18 masih menunggu hasil evaluasi dan monitoring dari pusat.

Kini, dengan bertambahnya sekolah-sekolah berstatus RSBI di Kota Semarang itu, peluang besar SMP dan SMA RSBI dalam menjaring siswa baru tentunya akan semakin terbagi. Ditanya tentang persaingan antarsekolah berlabel RSBI dalam menjaring siswa baru, Nana mengatakan persaingan adalah hal wajar dan harus disikapi secara positif.

“Boleh saja bersaing, apalagi kalau persaingan itu dilakukan dengan cara memamerkan keunggulan yang dimiliki, bukan bersaing dengan menggunakan hal-hal negatif,” katanya.

TERKAIT:
About these ads

Responses

  1. kenapa ya..!, pendaftaran siswa online hanya dapat dilakukan di warnet tertentu..???. Apakah ini suatu bentuk kerjasama yang baik antara warnet dengan pihak sekolah atau dinas pendidikan dalam meraup keuntungan?, ya sambil nyelam minum sirup gitu lho..!

    Sebetulnya pendaftaran PSB online dapat diprogram dengan mengakses internet dimana saja yaa kan ???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 70 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: