Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Mei 21, 2010

Menjemput Medali Sampai Ke Azerbaijan

Menjemput Medali Sampai Ke Azerbaijan

Oleh: Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar
marjohanusman@yahoo.com

Marjohan, M.Pd

Dalam tahun 2009 Kota Batusangkar sempat menjadi kota yang terkenal di kalangan akademis guru dan pelajar Sumatera Barat. Itu bukan karena di sana ada Istano Pagaruyung atau karena alamnya indah, tetapi karena prestasi yang sempat diukir oleh Elza Hidayati, pelajar SMP Negeri 5 Batusangkar dalam memperoleh medali IJSO (International Junior Science Olimpide). Elza Hidayati bisa menjadi gadis yang fenomenal, di saat sebagian remaja lain menghabiskan waktu dengan berhura-hura, bermanja-manja, maka Elza melakukan terobosan-bekerja dan belajar dengan bersungguh-sungguh untuk menyonsong masa depan, memajukan diri dan sekaligus memajukan bangsa ini.

Elza lahir dari pasangan Laili Syofiaturahmah dan Edi Purwanto, karyawan dari perusahaan Global Mapindo di Pakan Baru. Ia anak pertama. Sebagaimana lazimnya anak pertama, diharapkan menjadi anak teladan buat adik-adiknya. Elza beruntung dibesarkan oleh orang tua yang terdidik dan punya wawasan ke depan. Ibunya adalah sarjana lulusan IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta dan ayahnya sarjana lulusan Universitas Malang.

“Bagaimana masa kecilmu, Elza ?”. Ia dilahirkan tanggal 16 Desember 1995, di Pematang Siantar, Sumatra Utara. Kemudian karena tuntutan karir, orang tuanya hijrah ke Batusangkar dan Elza kecil belajar di TK Aisyiyah Batusangkar dan setelah itu di SD Negeri 06 Kampung Baru, Batusangkar. Pendidikan lanjutannya adalah di SMPN 5 Batusangkar, prestasi yang ia peroleh pada IJSO memberi berkah beasiswa baginya untuk melanjutkan studi ke SMA Kharisma Bangsa internasional, boarding school dengan program bilingual, yang berlokasi di Tanggerang. .

“Bagaimana karaktermu saat masih kecil ?”. Saat masih kecil, Elza adalah anak yang baik dan suka membaca. Minat membaca tumbuh karena ibu dan ayahnya sendiri juga suka membaca majalah dan buku-buku untuk menambah wawasan. Elza membaca majalah Gatra dan Femina, dan juga membaca buku cerita anak-anak. Orang tua kalau menginginkan keluarga yang cerdas juga harus memiliki perpustakaan keluarga, membaca majalah dan buku bersama dengan anak-anak.

Sukses Elza dalam memperoleh prestasi akademik di sekolah adalah karena peran mama, karena papanya bekerja jauh di Provinsi Riau. Peran mamanya adalah dalam bentuk pemberian motivasi, menemaninya dalam belajar, mencari bahan literature dan jadi teman berdiskusi. Mamanya adalah wanita penyabar, jarang marah dan tidak cerewet. Orang tua yang cerewet, mengomel tiap saat, membuat anak bosan dan menutup telinganya setiap kali mengomel.

“Bagaimana pengalaman mu saat di Sekolah Dasar ?”. Ketika di SD Elza jadi anak yang biasa-biasa saja, ia juga nakal, suka berantem atau menganggu adiknya. ia juga menyukai permainan PS (play station) di rumah. Saat bersekolah di SD, Elza mulai menunjukan minat belajar yang tinggi. Sekolahnya pernah mengutusnya untuk mengikuti OSN (Olimpiade Sains Nasional) untuk tingkat Kabupaten, namun gagal untuk tingkat propinsi, “wah Elza sempat sedih dan menangis, namun bangkit lagi”.

Mata pelajaran sains meliputi “kimia, fisika dan biologi”. Elza belum mengerti cabang ilmu mana yang ia sukai lebih banyak. Ketika kelas 7, di SMP, tidak sengaja Elza mengikuti lomba bidang studi Biologi di Universitas Negeri Padang (UNP). Namun ia hanya bisa masuk ke peringkat semi final, “mungkit saat itu saya masih kecil dan masih kelas 7”, kata Elza membela diri. Elza juga pernah mengikuti lomba bidang studi Fisika dan Matematika di UNP, malah hasilnya lebih jelek lagi. Sehingga Elza tahu bahwa bakatnya adalah pada bidang Biologi, dan memutuskan untuk lebih menekuni Biologi.

“Bagaimana kiat belajarmu, Elza ?”. Elza belajar seperti anak anak lain, belajar jadi enak kalau suasana hati (mood) cukup bagus dan ia juga suka menonton TV. Namun kemudian TV rusak dan tidak diperbaiki, “kita tidak usah pakai TV lagi”, kata mama Elza, sehingga Elza punya waktu lebih banyak untuk belajar. Ia juga menyukai internet untuk chatting atau mengontak teman lewat friendster, facebook atau membaca kartun. Internetannya hanya di rumah saja lewat modem pada laptop.

“Jadi bidang studi favoritmu adalah Biologi..!”. Elza semakin menekuni Biologi. Ia memperoleh respond dan dukungan dari orang-orang seputar hidupnya. Mamanya memberi motivasi, menemani saat belajar dan menyediakan fasilitas buku yang dibutuhkan. Guru-gurunya di SMPN 5 Batusangkar memberi dukungan (motivasi) dan melatihnya dalam menguasai materi. Juga dosen UNP dan UNAND dalam melatih materi sekama training.

Perjalanan prestasi dalam bidang studi Biologi, saat kelas 7 di SMP, Elza mengikuti lomba Biologi di UNP dan ia masuk peringkat semi final. Ia juga mengikutim lomba OSN tingkat Kabupaten Tanah Datar. Selanjutnya Elza mengikuti OSN tingkat propinsi dan ia mengetahui peringkat passing grade– nya, yaitu peringkat 17 untuk propinsi Sumatra Barat dan peringkat 52 untuk tingkat nasional. Ada satu peningkatan, saat Elza di kelas 8 SMP, ia mengikuti OSN di Makasar dan Elza memperoleh peringkat 4 secara nasional.

Tip dan trick Elza sehingga bisa memperoleh peringkat OSN yang bagus yaitu “memiliki motivasi yang tinggi dan memahami materi pelajaran”. Kemudian strategi Elza agar tidak menjadi orang yang sombong atas prestasi yang diraih “lupakan prestasi yang sudah diraih”.

Ternyata dalam menguasai ilmu dan meraih sukses maka bahasa Inggris sangat membantu. “Bagaima strategi kamu dalam belajar Bahasa Inggris ?”. Elza mengenal kata-kata Bahasa Inggris sejak usia 4 tahun. Papanya memperkenalkan bahasa Inggris dan membelikan kamus dan buku bahasa Inggris untuk anak-anak. Mereka juga menonton bareng film kartun dan film lain dalam bahasa Inggris lewat TV atau VCD player.

Setelah mengenal banyak kata-kata dan tata bahasa Inggris di SD dan SMP, maka Elza membaca novel atau cerita ringan dalam bahasa Inggris, ia menggunakan kamus untuk memahami kata-kata yang sulit. Sementara untuk meningkatkan listening bahasa Inggris, ia mendengar lagu-lagu / kaset bahasa Inggris.

“Bagaimana karaktermu dalam belajar di sekolah ?”. Elza terbiasa belajar serius tapi juga agak santai, maksudnya ia belajar dengan suasana rileks namun selalu menjaga perhatian pada guru. Ia mengulang-ulang pelajaran/ latihan  agar selalu ingat dengan konsep. Resep dalam berteman, Elza lebih dulu memulai persahabatan (tidak menunggu) dan suka beradaptasi lebih dulu dari pada menunggu.

Untuk bacaan, ia menyukai novel detektif, komik dan buku agama/filsafat. Untuk game, ia menyukai game strategi seperti emperor, dan petualangan. Ia juga belajar gitar, menguasai kunci dasar dengan ayahnya. Lagu dasar untuk belajar gitar adalah seperti naik-naik kepuncak gunung, juga “welcome to my life” dari album Zombie.

Berprestasi dalam bidang akademi bukan berarti harus kuper atau kurang pergaulan dan tidak bisa mengurus rumah. Ternyata Elza punya banyak teman, teman perempuan dan teman laki-laki. Dari teman laki-laki ia cenderung memperoleh solusi dan dari teman perempuan ia memperoleh simpati, ia curhat (sharing)  dengan orang tua. Ia juga jago dalam memasak. Ia bisa mencuci pakaian, merapikan rumah dan memasak hal-hal sederhana: seperti memasak nasi goreng, menggoreng telur dan memasak sayur. Keterampilan ini cukup membantu bila ada aktifitas berkemah atau camping.

Saat Elza mengikuti OSN di Makasar dan memperoleh peringkat 4 untuk tingkat Indonesia, ia melihat bahwa pendidikan di Sumatra Barat sedikit tertinggal dari Propinsi yang lebih maju di pulau Jawa yaitu dari segi semangat, dan motivasi belajar siswanya, juga  pelatihan yang kurang intensive.

Elza juga menceritakan perjalanan akademis menuju IJSO (Internastional Junior Science Olimpiade) di Azerbaijan. Mula-mula ia mengikuti seleksi IJSO tingkat kabupaten yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten. Kemudian ia terus mengikuti seleksi tingkat nasional, utusan dari  propinsi Sumatra Barat.

Untuk seleksi tahap pertama di Bandung yang diikuti oleh 45 orang , ia terpilih satu dari 6 orang untuk tingkat nasional. Ia (Elza Hidayati, dari Batusangkar), Dewi Surya (Pontianak), Yahya (Malang), Maria (Malang), Pertina (Wonogiri) dan Ivan (purwokerto). Untuk tahap dua, seleksi atau pemantapan penguasaan materi dilakukan di ruko Alamanda (Bandung). Di sana ada enam orang siswa yang terpilih, mereka diberi pelatihan intensive tentang IJSO yang materinya tidak hanya biologi, tetapi juga materi fisika, kimia dan biologi. Mereka dilatih selama 6 bulan, mereka berteman dan sekaligus juga berkompetisi. Dan setelah mengikuti pelatihan selama 6 bulan maka mereka bersiap-siap menuju IJSO di Azerbaijan. Selama di base-camp (Alamanda) mereka juga mendalami Bahasa Inggris, khusus untuk percakapan bahasa In ggris,  setiap hari Minggu. Mereka bersiap-siap menuju kota Baku, ibu kota, Azerbaijan. Menyiapkan passport, visa, baju winter, dan souvenir yang praktis untuk dibawa termasuk coin dan uang Indonesia.

Azerbaijan adalah Negara yang baru merdeka (1995). Ibu kotanya Baku, kotanya kecil seperti Bukittinggi. Kotanya sejuk, bersih dan terawatt. Untuk kompetisi IJSO tingkat dunia, Elza sangat waspada dengan peserta dari Taiwan, Hongkong, Rusia, Thailand, Korea Selatan dan Jerman, karena siswanya lebih semangat dan cerdas. Elza terbang dengan pesawat Lufthansa dari Jakarta, transit di Singapura dan terus menuju Frankfurt, terbang selama 10 jam. Transit lagi di Frankfurt dan bergabung dengan tim dari Brazil, Argentina dan Zimbabwe, kemudian terbang lagi menuju Azerbaijan.

Di hotel Crescence, Elza bertemu dengan utusan dari berbagai Negara dengan berbagai karakter. Karakter anak Indonesia di mata Elza adalah ceria dan anak dari negara lain berkarakter serius. Anak-anak dari negara maju punya hobi membaca, tas mereka penuh dengan buku dan kemana-mana selalu membawa buku. Di akhir seleksi IJSO di Azerbaijan, Elza pun ikut memperoleh medali.

Liku-liku perjalanan Elza menuju Azerbaijan untuk memperoleh medali perlu diteladani (ditiru). Setiap remaja yang ingin meraih sukses, tidak hanya dalam bidang OSN atau IJSO, tapi juga dalam bidang lain perlu memiliki kepintaran berganda, mereka harus senang belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Gemar membaca dan mendalami materi pelajaran. Memiliki banyak teman dan bisa membantu diri- pintar mengurus rumah. Mereka juga senang olah raga, beribadah dan senang dengan musik. Belajar dan bekerja dengan tekun adalah strategi yang tepat untuk menghadapi masa depan. Sungguh pengalaman adalah guru yang terbaik dan pengalaman orang pun bisa jadi guru bagi kita.

Iklan

Responses

  1. ————————–
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُهُ
    ——————————–

    Ada sebuah saran untuk kita semua.

    Kita perlu hati-hati mengambil makna dari cerita kesuksesan seseorang. Terutama dalam rangka menjadikannya sebagai “Teladan”. Di antara faktor yang perlu mendapatkan perhatian kita adalah:

    Pertama, kemampuan dasar dari si anak, misalnya kecerdasan atau bakatnya.

    Kedua, lingkungan kesehariannya yang mendukung.

    Ketiga, pembina atau pembimbing lansung kesehariannya dalam belajar.

    Pencapaian prestasi oleh Elza tersebut di atas, termasuk juga obama dan soekarno misalnya,mau di “Teladani” akan sulit dilakukan karena tiap orang berbeda faktor yang mempengaruhinya. Tambahan lagi telah dipisahkan oleh ruang dan aktu. Saya fikir soal keteladanan seperti itu hanya “isapan jempol” belaka.
    Dalam cerita Elza diatas, ada suatu hal yang kurang bagus, tapi teladan untuk siapa : “Peran mamanya adalah dalam bentuk pemberian motivasi, menemaninya dalam belajar, mencari bahan literature dan jadi teman berdiskusi.” Sulit memang bagi mayoritas ibu ibu. Jadinya mamanya yang jadi teladan ??

    Yang baiknya bagaimana ?
    Ya, dalam proses pengajaran untuk mencapai atau memperoleh sebuah prestasi selalu saja sangat tergantung kepada penyesuaian diri dengan metodologi.
    Sementara soal “keteladanan” lebih ditekankan kepada sikap-sikap sosial dalam komunitas.

    Wassalam

  2. Pertama tama saya ucapkan terima kasih pada bapak marjohan yang telah menulis artikel tentang anak saya Elza (nama sebenarnya Elza Firdiani shopia)
    Kepada Bapak Jalius mohon maaf sebenarnya, memang tidak setiap orang sama dalam mendidik anak nya, tetapi kami selaku orang tua elza memang membuat sitematis dalam membentuk karakter anak, di mulai sejak dini dan harus terus konsekwen, keteladan atau tidak tergantung sudut pandang masing masing orang dalam memandang
    kritik bapak sangat membantu kami orang tua elza untuk lebih memacu semangat anak kami lebih baik lagi
    terima kasih sebelumnya kepada semua pihak yang telah membantu anak kami, mudah mudahan lebih baik lagi di masa yang akan datang

  3. Pak Marjohan yth

    Kabar gembira dari Elza bahwa pada bulan juni 2011 akan mengikuti karya ilmiah tentang energi terbarukan, dan berhasil mengalahkan 1450 peserta dari 100 negara, dan terpilih diantara 30 peserta terseleksi, untuk lebih lengkapnya dapat bapak buka di situs >> http://www.technologyacademy.fi/index.php?mact=News,cntnt01,detail,0&cntnt01articleid=219&cntnt01detailtemplate=Uutiset_en&cntnt01returnid=167 atau di sini >> http://www.myscience.fi/index.php?id=191
    mohon doa dan restunya semoga dapat mengharumkan nama bangsa dan negara.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: