Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Mei 31, 2010

Uswah, Shuhbah, dan Da’wah: Menemukan Makna-Pendidikan dengan Bantuan Kiai Idris Jauhari

Uswah, Shuhbah, dan Da’wah: Menemukan Makna-Pendidikan dengan Bantuan Kiai Idris Jauhari

Oleh: Hernowo

Saya beruntung sekali dapat bertemu dan mengobrol dengan seorang ahli pendidikan dari pesantren, Kiai Idris Jauhari. Kiai Idris saat ini menjadi orang nomor satu di Pesantren Al-Amien, Prenduan, Sumenep, Madura. Beliau adalah putra dari pendiri Pondok Pesantren Al-Amien, Kiai A. Jauhari.

Kesempatan langka mengobrol dengan Kiai Idris saya alami pada pagi hari sebelum saya memberikan materi “mengikat makna” untuk seluruh santri di Pesantren Al-Amien. Kebersyukuran saya perlu saya tambah karena, ternyata, Kiai Idris sendirilah yang membuka acara saya di depan para santri.

Ketika saya mengobrol dengan Kiai Idris, saya belum mendapatkan pemahaman (pemaknaan) apa-apa atas materi yang saya dan Kiai Idris obrolkan. Saya baru merasakan terhubung dengan sesuatu yang sangat penting dan berharga ”terkait dengan pendidikan” setelah tiba di Bandung dan merenungkannya selama dua hari.

Saya merasakan sekali bahwa inti dari sebuah kegiatan pendidikan adalah kesukarelaan alias tiadanya pemaksaan dalam segala bentuk. Kesimpulan ini saya ambil dari urat nadi seluruh kehidupan para guru beserta santrinya di Pesantren Al-Amien yang bertumpu pada tiga pilar: uswah (keteladanan), shuhbah (pendampingan), dan da’wah (ajakan).

Tiga pilar tersebut, dalam bayangan (imajinasi) saya, jika dimanfaatkan untuk menyelenggarakan kegiatan pendidikan, tidak ada yang bersifat memaksa. Ketiga hal tersebut benar-benar menjadikan sebuah kegiatan pendidikan berlangsung nyaman, damai, dan mengalir bak air. Ini tidak berarti membiarkan kegiatan pendidikan berjalan tanpa pengawasan (kendali), evaluasi, dan juga pencapaian prestasi.

Saya akan mencoba memaparkan pemahaman (pemaknaan) saya atas ketiga pilar pendidikan yang digunakan oleh Pesantren Al-Amien dalam kesehariannya. Agar lebih tampak cahayanya, saya akan mencoba membahas satu per satu secara detail dan baru kemudian, setelah itu, paduan dari ketiga pilar itu akan saya coba maknai.

Uswah.

Kata ini biasa diartikan sebagai keteladanan. Dalam Al-Quran, Surah Al-Ahzab (33), ayat 21, kata “uswah” disandingkan dengan pribadi-agung Nabi Muhammad Saw.: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Menurut Kiai Idris, “uswah” adalah menjadi. Dalam bayangan saya, seseorang yang benar-benar layak dijadikan teladan adalah orang yang memang ahli (mumpuni) di bidang tertentu sehingga keahliannya di bidang tertentu itu berhasil menarik perhatian (memesona) dan menakjubkan orang-orang yang berada di sekelilingnya.

Rasulullah Saw. adalah “uswatun hasanah” karena beliau memang telah menjadi manusia sempurna dalam konteks yang diinginkan oleh Allah Swt. Menurut saya, “hasanah” dalam istilah tersebut memang bisa merujuk ke sebuah keahlian puncak jika kata ini mau dikaitkan dengan kegiatan pendidikan.

Jika sebuah sistem pendidikan memiliki banyak “uswah”, terutama “uswah” itu ada di dalam diri para guru, pengelola, dan pimpinannya, insya Allah kegiatan pendidikan akan berlangsung sesuai sunnatullah. Kegiatan pendidikan akan mengalir bagaikan air jernih yang mengalir di sebuah sungai karena, pertama, para murid tinggal “meniru” keteladanan yang ada di sekitar mereka. Kedua, para “uswah” pun tidak harus menonjol-nonjolkan diri karena dia bagaikan cahaya yang mampu menarik perhatian (menerangi) si murid.

Saya juga ingin menunjukkan di sini bahwa kegiatan belajar dan, terutama, berlatih sesungguhnya adalah kegiatan “meniru”. Ketika kita lahir dan menjadi bayi, kita tidak dapat berbicara dan berjalan. Setelah kita berkali-kali meniru para teladan yang memang ahli (ayah, ibu, saudara, dll.), akhirnya kita bukan saja menjadi pandai berjalan dan berbicara tetapi juga jago dalam berlari dan bernyanyi “tentu” sesuai kadar diri kita.

Shuhbah.

Kata ini akan dapat kita pahami maknanya secara mendalam jika kita tahu akan makna sahabat. Oleh karena itu, di Pesantren Al-Amien, kata ini diartikan sebagai “pendampingan”. Seorang guru tak hanya mengajarkan sesuatu kepada muridnya, tetapi (yang lebih penting daripada itu) juga mendampingi para murid ” laiknya seorang sahabat-karib” sehingga semua murid dapat merasa nyaman dan aman dalam “meniru” apa yang dicontohkan si guru.

Da’wah.

Kata ini berarti “ajakan”. Dakwah, tentu, tidak bisa diartikan sebagai sebuah pemaksaan. Seorang guru memang tidak boleh memaksa anak didiknya untuk segera menguasai ilmu baru. Pemahaman “apalagi penguasaan” atas ilmu baru perlu waktu. Dakwah “dalam kegiatan pendidikan” adalah sebuah kegiatan yang semestinya tak kenal batas waktu. Di samping itu, penerapannya baru efektif jika didampingi oleh kesabaran yang sangat tinggi.

Itulah makna-makna yang saya pahami atas ketiaga kata “uswah, shuhbah, dan da’wah” yang menjadi pilar penyelenggaraan kegiatan pendidikan di Pesantren Al-Amien. Sekarang, bayangkan jika makna ketiga kata tersebut dipadukan apa yang akan terjadi? Pendidikan akan berjalan dalam bentuk terbaiknya. Anak didik yang “unik” ada yang lemah, ada yang kuat; ada yang berlatar industri, ada yang berlatar kehidupan pertanian; ada yang tinggi, ada yang kurang tinggi; dsb. akan mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan potensi (kadar)-nya

Sumber: Millist Klub Guru Indonesia

Iklan

Responses

  1. ——————–
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُهُ
    ———————————
    Pemikiran yang di tuangkan dalam tulisan tersebut cukup bagus. Dapat menabah khasanah pengetahuan.

    Sekaitan dengan metodologi dalam pendidikan saya akan memberikan beberapa komentar yakni:
    Konsep dasar dari hal yang diungkap di atas masih ada yang kurang Pas. yakni “Shuhbah.” Secara teknis memang berarti pendampingan (terjadi pendangkalan makna). tapi yang lebih penting lagi adalah kita jangan lari dari makna dasarnya, yaitu bersahabat, secara psikologis akan lebih dekat baik secara fisik maupun secara kejiwaan. Pendampingan jauh berbeda dengan konsep “bersahabat” (anda jangan ragu inilah yang diutamakan).

    Kedua; Konteksnya harus jelas, dalam mendidik ? atau dalam mengajar ?
    Ketiga, dalam mendidik kita tidak cukup dengan tiga metode itu saja.

    Keempat, di mana pun pendidikan terlaksana metodenya sangat tergantung pada situasi dan kondisi saat itu. Artinya apa, kata kuncinya adalah “pemilihan” metode yang cocok.
    Di mana tempatnya, apa mata peajaranya, siapa sasaran didiknya itu sangat menentukan pemilihan metoda. juga faktor pendukung dan faktor yang mempengaruhinya. Sehingga metoda dapat dipahami sebagai tepat guna dan berdaya guna. Misalnya usia tujuh tahun anak di suruh dan diajak untuk mau shalat. Tapi bila usianya sudah lewat sepuluh tahun boleh menggunakan rotan. Mengajar anak usia SD dalam baris berbaris tidak akan sama dengan anak yang mengikuti “Catam”.

    Makanya kalau mau menjelaskan metoda pendidikan atau juga metoda pendidikan, perlu penjelasan spesifikasinya. Kalau tidak demikian akan sering terjadi apa yang saya sebut sebagai “salah suai”.
    Demikian saja semoga dapat dijadikan penambah pengembanagan pemikiran kita.
    wassalam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: