Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Juli 11, 2010

Mengembalikan Pendidikan Kepribadian yang Hilang

Mengembalikan Pendidikan Kepribadian yang  Hilang

Oleh Drs. MARIJAN
(PRAKTISI PENDIDIKAN DI SMP N 5 WATES KULON PROGO)

Drs. Marijan Guru SMPN 5 Wates Kulon Progo Yogyakarta dan Anggota KGI Kulon Progo DIY

Ketika memperbincangkan keberhasilan pendidikan, populasi masyarakat terbelah menjadi dua kelompok yang berimbang jumlahnya. Kelompok pertama mendukung pernyataan bahwa keberhasilan  pendidikan identik dengan keberhasilan ujian nasional ( UN). Diyakini, semakin tinggi rata-rata nilai UN, satuan pendidikan yang mengampu dikatakan semakin tinggi keberhasilan pendidikan yang dicapainya. Senada pernyataan di atas semakin rendah rata-rata nilai UN, maka satuan pendidikan dimaksud memiliki keberhasilan pendidikan yang rendah.

Kelompok pertama  ini justru secara formal dikembangkan oleh sistem pendidikan yang dianut pemerintah.  Keikutsertaan pemerintah dalam menghakimi peserta didik yang ikut UN pada final kelulusan menunjukkan dukungannya terhadap kelompok pemuja UN.

Kelompok kedua lebih memandang aspek afektif sebagai indikator keberhasilan pendidikan . Sikap peserta didik dan out put pendidikan yang mencerminkan kepribadiannya dipakai sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan. Pandangan semacam ini dikembangkan oleh sekolah-sekolah yayasan keagamaan, dan sekolah-sekolah di kompleks pondok pesantren.  Sekolah-sekolah tersebut tidak mengutamakan target nilai UN yang tinggi, akan tetapi lebih mengedepankan penanaman kepribadian pada peserta didik. Pendidikan kepribadian mengembangkan latihan-latihan tentang kedisiplinan, ketaatan agama, moral, akhlak dan budi pekerti sejak dini. Dengan adanya landasan kepribadian yang kuat diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang memiliki kecerdasan akhlak dan budi pekerti baik. Harapan ini sangat mulia karena lulusan yang memiliki kecerdasan akhlak dan budi pekerti yang baik bisa menjadi tauladan bagi masyarakat  lain tanpa mudah dipengaruhi oleh tekanan atau iming-iming materi.

Mana yang lebih baik,  kelompok pertama  atau kedua ?   Tanpa memihak salah satu  kelompok,  sesungguhnya  diperlukan   menyatunya  pendidikan  akademik  dengan

pendidikan kepribadian. Apabila kita cermati pendidikan yang hanya mengejar keberhasilan nilai UN, proses pembelajarannya terjebak pada rutinitas penjejalan materi. Tak dapat dipungkiri , proses ini melalaikan  penanaman pendidikan kepribadian  pada peserta didik. Sekolah yang mestinya menjadi  ajang latihan menghadapi kehidupan di masa depan, berubah menjadi sebuah gladi pembahasan soal-soal prediksi UN yang jelas-jelas menuruti kebutuhan jangka pendek. Maka berkembanglah tradisi mencari strategi menembus keberhasilan UN  hingga pendidikan kepribadian dan budi pekerti terus tererosi tanpa henti.

Keadaan yang demikian ini berujung pada sistem pembelajaran didominir oleh satu kegiatan yang dikenal dengan delivery systems atau sistem penyampaian atau sistem suap. Sistem ini sebenarnya membelenggu semua sistem pendidikan dan pada gilirannya pendidikan kehilangan citranya atau  kehilangan hakikatnya. Hilangnya hakikat pendidikan  itu yang disalahkan adalah budi pekerti. Padahal budi pekerti cermin hasil dari “ learning to be ” yang merupakan salah satu pilar kegiatan pendidikan dari 4 pilar yang ditegaskan UNESCO ( Delors, 1999 ).

Pengukuran pengetahuan dengan NEM seperti yang didambakan sekarang ini tidak akan mampu membentuk kepribadian. Oleh karena itu pendidikan kita perlu menengok lagi indikator keberhasilannya. Profesor Djohar  menulis dalam bukunya berjudul Pendidikan Strategik Alternatif untuk Pendidikan Masa Depan (2003) bahwa ukuran NEM sebagai indikator keberhasilan pendidikan  , kenyataannya lebih banyak berakibat pada terbelenggunya penyelenggaraan pendidikan daripada membawa pendidikan ke arah hakikat pendidikan itu sendiri.

Secara ekstrim pembelajaran yang berorientasi drill soal sebagaimana yang dilakukan setiap jenjang sekolah dewasa ini menurut Ausuble dinyatakan sebagai pendidikan yang tidak bermakna . Mengapa ? Siswa tidak memperoleh pengalam belajar  apapun. Belajar untuk membentuk jati diri (learning to be) bagi siswa tidak pernah tersentuh oleh pendidikan secara formal di sekolah.

Dalam kondisi sistem pendidikan yang demikian ini dapat diramalkan  bahwa erosi akhlak, budi pekerti dan kepribadian generasi masa depan  pasti terjadi. Kesan yang muncul secara umum terhadap generasi hasil pendidikan bangsa ini  adalah belum dewasa, kurang beradap, kurang berpikir panjang, hanya ikut-ikutan, tidak mandiri, tidak bertanggung jawab, tidak jujur, dan lain-lain. Tidak mengherankan, karena para siswa berada dalam lingkungan sistem pendidikan yang diarahkan untuk mencapai keberhasilan nilai kognitif UN semata. Mereka berada dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat yang semuanya sudah terbius sistem pendidikan kita  yakni ketercapaian UN menjadi terminal pendidikan anak-anak negeri.

Kiranya, upaya yang perlu dilakukan untuk mengembalikan pendidikan kepribadian yang hilang  adalah pertama sekolah tidak harus menghabiskan waktu temu guru – siswa hanya untuk  membahas soal-soal prediksi UN  akan tetapi perlu meluangkan waktu 5 – 10 menit setiap guru mengajar untuk menanamkan akhlak, dan budi pekerti melalui cerita – cerita yang menarik. Melalui cerita-cerita tersebut akan tumbuh sikap dan perilaku siswa untuk meniru tokoh cerita yang disajikan.

Kedua, pemberian tauladan para tokoh masyarakat, guru, pejabat dan segenap sosok orang tua sendiri. Mereka dilihat langsung oleh siswa. Baik dan buruk perilaku mereka akan mengisi ruang memori dan pada gilirannya pengetahuan yang diperoleh ini akan menjadi konsep dalam bersikap dan berperilaku para generasi muda tersebut.

Ketiga, hendaknya ada evaluasi afektif yang bermakna dan berkesinambungan  dalam proses pendidikan di sekolah. Sejak SD hingga perguruan tinggi, evaluasi afektif ini hendaknya diterapkan baik tertulis maupun praktek keseharian. Penilaian afektif diterapkan seketat UN agar siswa benar-benar mempersiapkan  dan terlatih melakukan tindakan  yang mengarah pada akhlak dan budi pekerti luhur.

Dengan demikian  pendidikan di sekolah  benar-benar menjadi ajang latihan hidup bermasyarakat. Kecerdasan kognitif tumbuh terus dan kecerdasan afektif  akan berkembang. Pendidikan yang menyeimbangkan pertumbuhan kecerdasan akademik dan perkembangan kepribadian inilah sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat adanya. Apabila keseimbangan pendidikan seperti ini terjadi maka sistem pendidikan yang berlangsung  di sekolah  telah bermakna.

Iklan

Responses

  1. Para pengambil kebijakan lebih tertarik aduketip dari pada edukatif.
    Banyak waktu yang terlanjur musnah dengan banyak mempersiapkan tes untuk mengukur tingkat pencapaian hasil belajar (pendidikan) siswa.
    Saya sangat setuju dengan wacana ini. Guru-guru kita banyak disibukan oleh seremonial pendidikan dari pada substansinya. Banyak yang sukses dalam hidupnya dengan otodidak, yang bersekolah?

  2. Baru sempat mampir nih!
    Liat-liat dulu….
    Situsnya bagus nih!
    apalagi kalau disuguhi makan!
    hehehehehhehehe
    Kunjungan balik ya sob, ini blog saya
    http://artibelajarmengajar.blogspot.com
    Salam kenal….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: