Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Juli 15, 2010

Ah, RSBI Hanya Mengubah Budaya Belajar!

Ah, RSBI Hanya Mengubah Budaya Belajar!

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Ikatan Guru Indonesia Satria Dharma mendesak Menteri Pendidikan Nasional menghentikan program rintisan sekolah bertaraf internasional atau RSBI. RSBI merupakan budaya belajar yang diubah dari sistem belajar reguler menjadi belajar dengan kurikulum yang bertaraf internasional.

Satria mengatakan, RSBI hanya dipersiapkan bagi siswa yang ingin melanjutkan studinya di luar negeri. Untuk itu, sejauh ini IGI sudah melakukan langkah-langkah untuk mendesak Mendiknas menghentikan program tersebut.

“Kami sudah mengumpulkan dokumen dan akan kami ajukan kepada Komisi X, Mendiknas, dan jika perlu kepada Mahkamah Konstitusi,” ujar Satria kepada Kompas.com di Jakarta, Kamis (15/7/2010).

Menurutnya, pihak IGI sangat menentang adanya RSBI dan tengah mengumpulkan banyak bukti. Pasal-pasal yang menentang RSBI juga akan dilampirkan dalam dokumen tersebut.

Disinggung mengenai pihak pemerintah yang sudah mengevaluasi RSBI tetapi hingga sekarang belum ada hasilnya, Satria mengatakan bahwa Mendiknas seharusnya melakukan evaluasi secara independen.

“Jangan hanya melakukan evaluasi internal. Kami tidak puas jika hanya dilakukan evaluasi internal. Independen itu biasa siapa saja,” ujarnya.

TERKAIT:
Iklan

Responses

  1. Setuju…. RSBI ah…. seerti mimpi

  2. Pak Satria Dharma mestinya ditanya juga soal: bagaimana caranya memulai meningkatkan mutu pelayanan sekolah yang ada di Indonesia, yang massif jumlahnya dengan mutu yang sangat beragam — Sabang Merauke, dan mutu proses pembelajaran terkait dengan Undang-undang Sisdiknas, nomor 20 thn 2003. Bukankah RSBI itu hadir karena undang-undang itu?

    Kemendiknas harus berani mengungkap hasil evaluasi, sebenarnya, terhadap RSBI dalam suatu seminar yang melibatkan semua pakar pendidikan; baik dari kalangan praktisi, pengamat, dan kelompok ‘pengguna’ jasa persekolahan langsung dan tidak langsung.

    Ungkapan-ungkapan paradoks dari berbagai kalangan tentang RSBI sampai taraf tertentu malah mengakibatkan berbagai kerisauan baru, di tengah masyarakat, yang belum tentu berguna bagi dunia pendidikan.

    Ayo berseminar nasional tentang RSBI.
    Mungkin banyak yang mau melihat hasilnya…!

    Fekrynur
    Pengawas Sekolah Prov. Sumbar

  3. terimaksih ya kiriman pesannya…informasi berikut saya tunggu…oya kutipan qur’an masyaallah!!sekali lagi terimaksih.

  4. Kalau tanya pada saya maka saya jawab : Yang jelas bukan dengan program RSBI! Program RSBI adalah program yang subject to failure, alias PASTI GAGAL.
    Kalau Pak Fekrynur BENAR-BENAR mau tahu mengapa saya katakan demikian maka saya berharap Pak Fekrynur mau mengadakan SEMINAR atau DISKUSI atau DEBAT tentang Sekolah RSBI ini dan undang saya untuk menjadi narasumber.
    Dengan senang hati saya akan datang dan menjelaskannya.
    Salam
    Satria

  5. Pak Fekry dan Pak Satria,

    Saya sangat setuju kalau ide RSBI uni ditinjau ulang. Sebagai sebuah usaha mencari jalan keluar dan atau meningkatkan mutu pendidikan nasional, ides SBI dan sejenisnya sah-sah saja. Namun poin saya adalah jangan sampai alam bawah sadar kita mengatakan bahwa RSBI ini adalah cara terbaik, sehingga kemudian berhenti mengkritisinya.

    Evaluasi besar2an keberadaan RSBI oleh berbagai pakar pendidikan urgen dan penting dilakukan. Kalau pak Fekry mau memfasilitasi seminar nasional mengenai ini, wah pasti seru nih. Saya tertarik untuk datang.

    Salam,

    Anto

  6. اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُهُ
    ——————————
    Ada suatu hal yang perlu di sadari. yakni pembangunan pendidikan (disekolah) jangan berharap hari ini kita mendidik, besok anda akan melihat hasilnya dengan baik.
    Pendidikan itu hasilnya sifatnya sangat relatif. Boleh jadi kita sekarang mendidik anak-anak (misalnya di RSBI) lima atau sepuluh tahun yang akan datang belum tentu akan memperlihatkan hasil yang kita inginkan.
    Hasil pendidikan secara keseluruhan itu akan kelihatan bila sudah terintegrasi dengan faktor-faktor lain.
    Misalnya tahun 2000 UNP meluluskan sekian banyak Sarjana. Tapi sampai hari ini mereka masih saja ada yang belum mengajar di sekolah-sekolah.
    Apakah berarti UNP gagal mendidik mahasiswa ?
    Tentua saja tidak. Karena mereka bisa mengajar disekolah-sekolah berkaitan dengan kebutuhan guru dan pengangkatan oleh pemerintah atau swasta.
    Makanya pengangguran bukan berarti jeleknya mutu pendidikan. Harap maklum.
    Demikian pula Soal RSBI. Saya selalu mengikuti perkembangan polemik soal ini, sering yang tidak gatal yang garuk. Sistem apa pun yang akan dipakai
    dalam membangun pendidikan, akan tetap saja ada
    bagian-bagian tertentu yang “telah” dan “belum” berjalan dengan baik. Tetapi sering hal yang “belum” ini yang dianggap suatu “kesalahan”. Persoalan ini seharusnya menjadi perhatian yang lebih serius. Jangan diambil sebagai alasan untuk meruntuh sistem.
    Di lain sisi, mungkin atau memang ada suatu kesalahan, tindakannya juga harus diperbaiki, yang salah secara hukum harus diberi sangsi.

    Bagaimana kita membangun, ya tentu saja harus melakukan pengawasan, yang telah baik dilanjutkan yang kurang disempurnakan yang salah diperbaiki dan seterusnya. Pada saat tertentu kesempurnaan akan tercapai.
    Makanya kita harus bersabar untuk itu.

    Wassalam.

  7. Keberadaan memberikan nama RSBI juga sangat membingungkan kita, seharusnya RSBI itu adalah sekolah secara keseluruhan telah memenuhi SNP (SSN ) setelah itu baru mereka dibolehkan berlebel RSBI, klukita lihat sekolah yg telah RSBI itu masih belum memenuhi standar Nasional Pendidikan yang telah ditetapkan , dari segi kurikulum yang mereka dan manajemen sekolahnyapun tidak jauh beberbeda dari sekolah sekolah yg biasa.
    secara pembinaan RSBI inisebenarnya juga tidakjelas tanggung jawab siapa ,pusatkah,provinsikah atau kab.kota kah, dan kenyataannya yang banyakberkibrah adalah pusat, sedang secara otonomi sebenarnya adalah kewenangan kab/kota…. yang berkooordinasi dengan provinsi. Kemudian apapula tanggung jawab dari Lembaga penjaminan mutu ( LPMP ) yang ada di setiapprovinsi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: