Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Juli 15, 2010

Awas, LKS jadi Ajang Pungli di Sekolah

Awas, LKS jadi Ajang Pungli di Sekolah

JAKARTA – (JPNN.COM) Direktur Pembinaan SD Kemdiknas, Mudjito mengatakan, penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS) dalam proses belajar mengajar di sekolah dinilai sangat tidak efektif dan tidak mendorong kreativitas siswa. LKS juga menunjukkan betapa rendahnya kreativitas guru

“Dengan penggunaan LKS, daya pikir siswa dipolakan dengan pertanyaan yang sudah terstruktur sehingga nantinya siswa tidak berkembang dan hanya terpaku pada pertanyaan seputar itu-itu saja,” jelas Mudjito ketika ditemui di Gedung Kemdiknas, Jakarta, Kamis (15/7).

Mudjito menjelaskan, soal-soal yang terdapat di dalam LKS sebenarnya juga tidak terlalu memberikan manfaat bagi para siswa. Menurutnya, para guru pun sebenarnya mampu membuat soal-soal serupa layaknya di dalam LKS tersebut. “Kalau sampai guru memaksa para siswa untuk membeli atau memiliki LKS, itu sudah pertanda bahwa gurunya malas,” jelasnya.

Selain itu, Mudjito juga mengkhawatirkan jika guru mewajibkan para siswa untuk membeli LKS di sekolah. ini bisa menjadi salah satu bentuk pungutan liar yang dilakukan oleh sekolah. “Saya khawatir kewajiban LKS itu sebagai alasan untuk melakukan pungli. Akhirnyan LKS digunakan sebagai ajang bisnis sekolah,” tandasnya.

Kasus mewajibkan para siswa untuk membeli LKS di sekolah sudah terjadi di mana-mana. Contohnya, SDN Semplak 2  Bogor. Di sekolah tersebut, para orang tua diwajibkan untuk membayar LKS di sekolah dengan biaya sebesar Rp 145 ribu per siswa. Menurut sumber JPNN, sekolah tidak mau memberikan kwitansi dan bahkan para guru atau wali kelas mengatakan kewajiban LKS itu tidak termasuk di dalam anggaran BOS. (cha/jpnn)

RELATED NEWS


Iklan

Responses

  1. terimakasih kiriman pesannya dan yang lainnya kami tunggu…kutipan Qur’annya menarik….

  2. LKS membantu pembelajaran siswa dalam pemberian tugas terstruktur untuk mengejar target kurikulum yang begitu padat… Pungli? ah terlalu negative thingking.. keuntungan paling Rp100/200 rupiah kok… itupun kalo ada siswa yang tak mampu membayar.. tidak tega untuk menagih.. (kadang dikembalikan ke siswa)

  3. LKS membantu pembelajaran siswa dalam pemberian tugas terstruktur untuk mengejar target kurikulum yang begitu padat… Pungli? ah terlalu negative thingking.. keuntungan paling Rp100/200 rupiah kok… itupun kalo ada siswa yang tak mampu membayar.. tidak tega untuk menagih.. (kadang dikembalikan ke siswa)… harga buku jauh lebih mahal tidak semua siswa mampu membeli… (Cik Gu)

  4. LKS menurut saya dapat membantu bagi seorang pendidik dalam membantu tugas yang telah diberikan dari pendidik yang untuk diselesaikan di rumah tanpa ada paksaaan bahkan dilihat dari tingkat ekonomi peserta didik yang tidak memungkinkan,LKS menurut saya masih merupakan alat praktis yang dapat menunjang keberhasilan proses belajar mengajar dengan harga yang terjangkau atau masih bisa dibeli oleh peserta didik.semoga dengan adanya LKS orangtua tidak perlu risau melihat mahalnya harga buku.

  5. benar jga dan saya setuju dengan opini bahwa LKS mematikan kreativitas siswa. namaun demikian kita tidak bisa menyalahkan keberadaan LKS begitu saja. semuanya kan butuh variasi dalam pembelajaran. pada tahap penanaman konsep setidaknya guru dan murid bisa mengeksplor semua daya pikir dan kreativitas. LKS saya kira cuma sarana pengembangan wawasan siwa dan guru. trims

  6. Lebih baik LKS dibuat sendiri oelh guru. Guru berkreasi menyesuaikan dengan lingkungan tempat mengajar

  7. Ah mana mungkin LKS dapat dijadikan ladang pungli, wong sudah diatur dari Tk. Kadispen sampe ka UPT kok.

    Pemegang kebijakan di daerah kan lebih kreatif. pasti guru-guru di daerah juga makin kreatif.

    go aduketip!

  8. Segala sesuatu harus diliat plus minusnya, kalau kita lihat negatifnya saja, semuanya jadi jelek. Seberapa banyak sih guru yang mampu membuat modul atau LKS sendiri? belum lagi ketentuan percetakan yang meminta oplah sekian exemplar baru bisa dicetak. Rabat? tidak sebanding dengan waktu dan tenaga untuk mengoreksinya. Serahkanlah ke sekolah masing2, mereka lebih tahu apa yang harus mereka lakukan. Sekolah dan orang tua perlu bersinergi untuk kemajuan bangsa ini. Betul……betul……betul?

  9. sebaiknya LKS dihapus, kembalikan sistem seperti dulu, buku bisa dipake turun temurun, LKS hanya membebani ortu murid dan menjadi momok yg jelek bagi seorang GURU, banyak komentar bahwa LKS adalah ajang bisnis GURU & SEKOLAH. maukah seorang guru di CAP seperti itu???….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: