Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Juli 17, 2010

Pakem, Sebuah Solusi Pembelajaran Masa Kini

Pakem, Sebuah Solusi Pembelajaran Masa Kini

Oleh Drs. MARIJAN
(Guru SMPN 5 Wates Kulon Progo Yogyakarta)

Drs. Marijan Guru SMPN 5 Wates Kulon Progo Yogyakarta dan Anggota KGI Kulon Progo DIY

Pembelajaran merupakan aktu­alisasi kurikulum yang menuntut aktivitas, kreativitas dan kearifan guru dalam menciptakan dan me­numbuhkan kegiatan peserta didik sesuai dengan rencana yang telah diprogramkam secara efektif dan menyenangkan. Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru harus menguasai prinsip-prinsipnya, pemilihan dan penggunaan media pembelajaran, pemilihan dan penggunaan metode mengajar, keterampilan menilai hasil belajar, serta memilih dan meng­gunakan strategi dan pendekatan pembelajaran. Kompetensi-kompe­tensi tersebut merupakan bagian in­tegral bagi seorang guru sebagai tenaga profesional, yang hanya dapat dikuasai dengan baik melalui pengalaman secara intensif.

Konsep-konsep yang harus dikuasai dan dikembangkan telah ditetapkan dalam standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang indikatornya harus dikem­bangkan oleh guru dan dikemas dalam program pembelajaran. Peters dalam buku Kurikulum Yang Disem­purnakan (E. Mulayasa : 2006) mengemukakan bahwa proses dan hasil belajar peserta didik bergantung kepada kompetensi guru dan kete­rampilan mengajarnya. Oleh kare­nanya guru harus mampu mengak­tualisasikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang tengah berdengung ini dengan menciptakan pembelajaran yang produktif,  aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM)

Guru harus menyadari bahwa pembelajaran memiliki sifat yang sangat kompleks karena melibatkan aspek pedagogis, psikologis, dan didaktis secara bersamaan. Aspek pedagogis menunjuk pada kenyataan bahwa pembelajaran berlangsung dalam suatu lingkungan pendidikan. Oleh karenanya guru harus men­dampingi peserta didik menuju kesuksesan belajar atau penguasaan sejumlah kompetensi tertentu. Aspek psikologis menunjuk pada kenyataan bahwa peserta didik pada umumnya memiliki taraf perkembangan yang berbeda, yang menuntut materi yang berbeda pula. Aspek psikologi juga menunjuk pada kenyataan bahwa proses belajar itu mengandung variasi. Aspek didaktis menunjuk pada pengaturan belajar peserta didik oleh guru. Dalam hal ini guru harus menentukan jenis pembelajaran tertentu dengan mengingat kompe­tensi dasar yang harus dicapai. Kondisi eksternal yang harus dicip­takan oleh guru menunjuk variasi juga dan tidak sama antar jenis belajar yang satu dengan yang lain. Untuk kepentingan ini guru harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai jenis-jenis belajar, kondisi internal dan eksternal peserta didik serta mampu menciptakan pembelajaran yang produktif, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. (PA­KEM).

1. Pembelajaran Aktif

Pembelajaran aktif merupakan pendekatan pembelajaran yang banyak melibatkan aktivitas peserta didik. Namun bukan sekedar siswa aktif akan tetapi lebih member­dayakan siswa, sarana dan prasa­rana, guru dan situasi pembelajaran yang memadai dan menarik bagi segenap komponen pendidikan. Pembelajaran aktif memungkinkan pemberian kesempatan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat seperti menganalisis dan mensistensis serta melakukan penilaian terhadap berbagai peristiwa belajar dan menerapkan dalam kehi­dupan sehari-hari.

Pembelajaran aktif memiliki persamaan dengan model pembe­lajaran “self discovery learning“, yakni pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik untuk menemukan kesimpulan sendiri sehingga dapat dijadikan sebagai nilai baru yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sahari-hari (Mulyasa: 2006).

Dalam model pembelajaran aktif, guru berperan sebagai fasilitator yang senantiasa memberikan arahan, pembimbingan serta mengatur jalannya proses pembelajaran. Tu­gasnya adalah memberikan kemu­dahan belajar (to facilitate of learn­ing). Peserta didiklah yang banyak berperan aktif dalam proses pembe­lajaran tersebut.

2. Pembelajaran Kreatif

Pembelajaran kreatif merupa­kan proses pembelajaran yang mengharuskan guru untuk dapat memotivasi siswa serta memunculkan kreativitas peserta didik selama pembelajaran berlangsung, dengan menggunakan beberapa metode dan strategi yang bervariasi. Berpikir kritis merupakan modal dasar munculnya kreativitas. Kreativitas siswa diha­rapkan muncul dalam setiap proses pembelajaran. Kreativitas dalam berpikir maupun dalam tindakan siswa menjadi garapan dan tanggung jawab guru yang berpikir dan bertin­dak kreatif pula.

Menurut E Mulyasa (2006) berpikir kreatif memiliki 4 tahapan. Pertama, tahap persiapan, yaitu proses pengumpulan berbagai infor­masi untuk diuji. Kedua, tahap inkubasi, yaitu suatu rentang waktu untuk merenungkan hipotesis infor­masi tersebut sampai diperoleh keyakinan bahwa hipotesis tersebut rassisonal. Ketiga, tahap iluminasi, yaitu suatu kondisi untuk menemukan keyakinan bahwa hipotesis tersebut benar, tepat dan rasional. Keempat, tahap verifikasi, yaitu pengujian kembali hipotesis untuk dijadikan sebuah rekomendasi, konsep atau teori.

Siswa dikatakan kreatif apabila mampu melakukan sesuatu yang menghasilkan sebuah kegiatan baru yang diperoleh dari hasil berpikir kreatif dengan mewujudkannya dalam bentuk sebuah hasil karya baru.

3. Pembelajaran Efektif

Pembelajaran dikatakan efektif apabila mampu memberikan penga­laman baru, dan membentuk kom­petensi peserta didik serta mengan­tarkan mereka ke tujuan yang ingin dicapai secara optimal. Pembelajaran efektif dapat dicapai dengan meli­batkan peserta didik dalam peren­canaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran.

Dalam pelaksanaannya, guru memang harus selalu siap membawa bahan / informasi mentah dan tak henti-hentinya mendorong peserta didik untuk menafsirkannya hingga dapat diterima akal sehat. Untuk itu pertukaran pikiran melalui diskusi, debat terarah agar pemahaman terhadap materi standar dapat ter­capai perlu digalakkan. Untuk men­capai pembelajaran yang benar-benar efektif tidaklah semudah yang dikatakan akan tetapi memerlukan kesiapan guru yang memadai. Me­ngelola tempat belajar, mengelola peserta didik, mengelola kegiatan pembelajaran, mengelola isi materi pembelajaran dan mengelola sumber-­sumber belajar adalah sederetan kegiatan yang harus dikuasai guru untuk mencapai pembelajaran secara efektif

4. Pembelajaran Menyenangkan

Pembelajaran yang menye­nangkan merupakan suatu proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat sebuah kohesi yang kuat antara pendidik dan peserta didik, tanpa ada perasaan terpaksa maupun tertekan. Di dalam hubungan yang menyenangkan ini tidak ada rasa dendam, rasa benci, maupun rasa acuh dari kedua belah pihak. Seba­liknya, suasana demokratis, segar, nyaman dan rasa tidak membosankan selalu menyertai suasana proses pembelajaran.

Tidak mudah untuk mencip­takan pembelajaran yang menye­nangkan. Guru dituntut menyiapkan dan mengembangkan strategi yang dapat melibatkan semua peserta didik, memilih materi secara tepat dan merancangnya dengan matang. Ada pun prosedur yang dapat dilakukan adalah:

Pertama, Pemanasan dan Apersepsi. Kegiatan ini bertujuan untuk menjajagi pengetahuan, memo­tivasi, dan mendorong peserta didik untuk belajar pada materi yang akan disampaikan. Kedua, Eksplorasi. Tahap eksplorasi merupakan kegi­atan pembelajaran untuk menge­nalkan bahan dan mengkaitkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik. Ketiga, Konso­lidasi Pembelajaran. Konsolidasi merupakan kegiatan untuk meng­aktifkan peserta didik dalam pem­bentukan kompetensi, da me­pat mengatkan kompetensi dengan kehi­dupan peserta didik.

Keempat, Pembentukan Kompetensi, Sikap dan Perilaku. Pembentukan kompetensi, sikap dan perilaku peserta didik dapat dialkukan dengan cara a) mendorong untuk menerapkan konsep, pengertian yang dipelajari ke dalam kehidupan sehar-­hari, b) mempraktekkan pembela­jaran secara langsung dan c) meng­gunakan metode yang tepat.

Kelima, Penilaian. Penilaian dapat dilakukan guru maupun antar siswa. Penilaian ini untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi tertentu maupun untuk memberi motivasi peserta didik pada materi berikutnya.

Pembelajaran yang menye­nangkan akan membuat kerasan peserta didik mengikuti proses tersebut. Sebaliknya pembelajaran yang menegangkan dan menye­ramkan bagi peserta didik dapat dimungkinkan sebagai penyebab ketidakaktivan peserta didik mengi­kutinya. Oleh karenanya pembelajaran yang menyenangkan memang harus diupayakan dan dilaksanakan dalam pembelajaran. Menjadikan pelajaran itu menyenangkan, menarik, mengesankan dan terasa mudah harus diupayakan semaksimal mung­kin. Tugas berat inilah menjadi tanggung jawab sepenuhnya guru itu sendiri. Mari kita coba!

Apabila guru mampu mene­rapkan strategi pembelajaran dengan konsep PAKEM maka diharapkan mutu pembelajaran niscaya akan meningkat sebagai stretegi dalam upaya peningkatan kualitas pendi­dikan kita. Sebuah proses pembe­lajaran PAKEM apabila sekurang-­kurangnya meliputi hal-hal seperti di bawah ini yakni : (a) guru tidak menganggap anak sebagai botol kosong atau pun kertas putih yang tak berkarakter; (b) hubungan guru dengan peserta didik berlangsung dalam kekerabatan tanpa jarak yang menegangkan (c) guru terus-mene­rus menggali dan menghargai pen­dapat anak, mengembangkan yang benar dan meluruskan yang kurang tepat bukan menghukum terus-­menerus terhadapnya; (d) guru memanfaatkan pengalaman langsung anak ; (e) pembelajaran selalu berupa proses pemecahan masalah secara praktis sehingga anak tahu cara menyelesaikan kesulitan sesuai dengan umurnya ; (f) guru meman­faatkan semua sarana dan prasarana yang ada, tidak hanya menceramahi saja ; dan (g) guru bersama anak  setiap kali membuat, mengem­bangkan dan memanfaatkan alat peraga sederhana, mudah dan murah (Taruna, T/2002).

Pembelajaran yang berbasis PAKEM benar-benar mengajak siswa maupun guru untuk inovatif menumbuhkan ide-ide baru yang menyenangkan dalam upaya pengu­asaan informasi tentang suatu objek sains. Guru tidak bisa hanya menyu­ruh siswa untuk mencatat materi dan menyuruh menghafal semata-mata. Akan tetapi, guru harus memberi kesempatan anak bertanya, berdis­kusi, mengamati, bereksprimen, menyelidiki dan lain-lain. Pendek kata guru harus berusaha menumbuhkan sikap dan perilaku ilmiah dengan cara memberikan latihan kepada siswa melakukan kegiatan ilmiah yang dilandasi rasa senang.

Artikel terkait: PEMBELAJARAN AKTIF, KREATIF, EFEKTIF DAN MENYENANGKAN (PAKem)

Iklan

Responses

  1. Congratulations Sumatera Barat!

    Kelihatannya Sumatera Barat akan termasuk propinsi yang akan paling cepat maju kalau PAKEM diimplementasikan secara standar metodologi untuk semua guru, maupun dosen.
    http://pendidikan.net/pakem.html

    Isu yang juga penting adalah guru-guru belajar caranya memaksimalkan teknologi yang sudah ada di sekolah-sekolah (Appropriate Technology).
    http://teknologipendidikan.com/kebijakan-ict.html

    Semoga Sukses Sumatera Barat!
    http://Pendidikan.Net

  2. pemikiran baru dalam dunia pendidikan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: